My Fate Husband

My Fate Husband
Chapter 41


__ADS_3

“ silahkan masuk nyonya.” sapa manajer bank.


Ima tersenyum dan duduk dikursi terdekat dengan pintu masuk.


“ apakah benar bahwa anda akan menarik uang sebanyak ini nyonya ?” tanya sang manajer bank.


“ iya pak, saya akan membeli kapal dan pemilik kapal hanya menerima uang tunai.” jawab ima dengan aktingnya ditemani risa yang selalu mengawasi setiap gerak geriknya.


“ oh, jadi seperti itu. maafkan saya karena penarikan uang tunai sebanyak ini sering menimbulkan masalah mengingat segala hal sekarang dilakukan melalui transfer. kalau begitu tolong tunggu sebentar, kami akan segera menyiapkan uangnya.” jawab sang manajer bank.


sang manajer bank menelepon suami dari nasabahnya tersebut untuk meminta persetujuan penarikan tunai.


“ selamat siang, apakah saya berbicara dengan tuan bara ?” tanya sang manajer bank.


“ iya benar dengan saya sendiri. saya berbicara dengan siapa ?” tanya bara.


“ saya adalah manajer bank tempat anda menyimpan beberapa aset dan uang tunai. Istri anda saat ini mengajukan penarikan tunai senilai 5 milyar, apakah anda menyetujuinya ?” tanya sang manajer bank memastikan persetujuan suami dari nasabahnya.


“berikan berapapun yang dia minta.” ucap bara sambil memutus teleponnya dan melaju semakin kencang.


“ ima sudah mulai menarik uang tunai ke bank. Berarti sebentar lagi mereka akan menemui bram agar dapat segera pergi keluar negri.” gumam bara dalam hati.


...


Di bank, ima dan risa menunggu uang yang sedang dihitung dihadapan mereka. Risa masih mengamati gerak gerik ima.


Dengan tenang ima duduk memperhatikan pegawai bank menghitung uang, didalam kepalanya banyak terpikir hal – hal mengerikan jika ima tidak segera melarikan diri.


Tapi melihat perutnya yang mulai besar membuat ima hanya berusaha tenang dan menunggu adanya kesempatan.


Setelah uang selesai dihitung, risa memasukkannya kedalam tas besar lalu meletakkannya di kursi belakang mobil.


“ ima, cepat masuk kedalam mobil.” ucap risa sambil mendekatkan pisaunya ke arah perut ima.


Ima hanya mengangguk dan masuk kedalam mobil putih kecil yang disewa oleh risa.


Selama perjalanan ima masih memikirkan cara untuk melarikan diri, tapi semua itu sia – sia mengingat keselamatan anak didalam perutnya adalah taruhannya.


“ risa, sebenarnya kau akan membawaku kemana ?” tanya ima yang merasa lelah karena belum makan apapun sejak pagi.


“ kau tidak perlu tau, ikuti saja aku dan anakmu akan tetap selamat.” ucap risa.


Saat itu ima hanya bisa pasrah dan tidak lagi memikirkan ide apapun selain keselamatan anaknya.


Tidak lama kemudian risa sampai dirumah bram.


“ ima, kau tetap dimobil. jangan berusaha kabur atau kau tau apa resikonya.” ucap risa sambil membawa tas besar berisi uang kedalam rumah tersebut.


“ bram, aku datang membawakan uangnya.” teriak risa. Bram yang mendengar teriakan risa segera keluar dari rumah.


“ apakah uangnya sudah cukup ? masuklah dulu.. mana temanmu yang akan ikut bersamamu ke luar negri ?” tanya bram.


“ dia berada didalam mobil, dia takut bertemu dengan orang asing.” jawab risa sambil meletakkan tas besar berisi uang.


“ ini adalah uang jasamu. apakah aku bisa pergi sekarang juga ?” tanya risa yang sudah tidak sabar ingin segera pergi dari negri itu.


" jangan buru – buru. ada beberapa hal yang belum siap. tunggulah disini hingga sore, ajak temanmu masuk. diluar panas sekali siang – siang begini, apa kau tidak kasihan didalam mobil dia bisa kepanasan ?” ucap bram yang berusaha menahan risa disana.


“ biarkan saja dia, dia akan baik – baik saja.” ucap risa dengan ketusnya.


“aku hanya takut temanmu akan mati kepanasan sehingga kau akan pergi sendirian. Bukankah kau akan kesepian ?” tanya bram santai.


risa tentu bukan tandingan bram yang sudah lama berada didunia hitam.


Risa pun mulai khawatir dengan keadaan ima, karena saat ima mati tidak ada lagi asuransi dan jaminan untuk kelangsungan hidup risa.


Sumber uang dan jaminan risa untuk hidup adalah ima.


risa segera berlari keluar rumah bram untuk melihat kondisi ima.


risa melihat ima didalam mobil , tubuh ima sudah bermandikan keringat.


tidak hanya panas, tapi juga karena kehamilan ima yang mulai membesar dan rasa lapar membuat ima lemas tak berdaya, risa membuka kunci mobil dan menghampiri ima.


“ ima, masuklah ke dalam rumah ini. Nanti sore kita akan pergi dari tempat ini.” ucap risa. Ima mengangguk dan perlahan keluar mobil.


Dengan tubuhnya yang berat ima berjalan perlahan masuk kedalam rumah itu.

__ADS_1


bram yang melihat ima segera membantu ima berjalan.


“ istirahatlah didalam kamar adikku. Nanti sore kalian akan segera pergi dari sini.” ucap bram sambil membantu ima berbaring ditempat tidur.


“ terima kasih tuan..” ucap ima pelan sambil tersenyum.


“wanita secantik ini dibiarkan mengalami hal seperti ini. Jika saja kau bukan istri dari sahabat fio, tentu aku akan tetap menyelamatkanmu dan membuatmu selalu berada disisiku. Aku akan selalu menjagamu dan tidak akan membiarkan wanita seperti risa melakukan semua ini padamu.” gumam bram dalam hati.


Bram mengagumi kecantikan ima yang semakin cantik dengan aura keibuannya itu.


Setelah melihat ima memejamkan mata, bram keluar dan menutup pintu.


Setelah pintu ditutup, ima segera membuka matanya. Dilihatnya sekeliling kamar itu dengan teliti.


“ aku bisa kabur lewat jendela ini, tapi dengan pria itu dan risa disini aku tidak yakin bisa berlari jauh. Perutku tidak memungkinkanku untuk terus berlari.oh Tuhan, apakah aku tidak bisa lari dari risa hingga anakku lahir ?” gumam ima dalam hati dengan air matanya yang mengalir.


Diruang tamu, risa sedang santai menikmati minumannya.


Bram menghampirinya untuk mengajaknya berbincang.


“ risa, kenapa temanmu mau pergi keluar negri dengan kondisinya yang seperti itu ?” tanya bram mencoba menahan risa.


“ itu kemauannya sendiri, aku tidak tau apa alasannya.” jawab risa dengan cepat.


Tidak lama kemudian suara ponsel bram terdengar berkali – kali. mata risa seketika terfokus pada ponsel bram yang terletak diatas meja.


“ telepon dari siapa itu ?” tanya risa curiga.


“ ini adalah orang yang menyelamatkan adikku dipasar gelap. Saat itu hutangku sangat banyak dan para penagih hutang menculik adikku dan menjualnya. Orang ini lah yang membeli adikku dan memberinya pekerjaan. Untuk orang satu ini aku akan melakukan apapun bahkan tanpa dibayar sekalipun.” ucap bram sambil menerima telepon dari fio.


“ ada apa ? ikannya sudah berada dirumahku dan berlian sudah aman.” ucap bram.


“ bara sudah sampai disana, dia akan lewat pintu belakang. Segera kunci pintu depan dan jendela agar wanita itu tidak bisa kabur.” ucap fio meneruskan perkataan bara.


Bara yang mengemudi siang dan malam tanpa tidur dan makan membuatnya sampai ditempat itu lebih cepat, dia sudah memerintahkan shane untuk mengurus risa sementara dia menyelamatkan ima.


Bram kembali ke ruang tamu, dikuncinya pintu rumahnya dan dikunci juga jendela – jendelanya.


risa yang melihat tingkah aneh bram akhirnya mulai curiga.


“ kau tau diluar sangat panas bukan ? aku hanya ingin membuat ruangan ini sedikit lebih dingin. aku tidak suka suasana panas.” ucap bram santai.


Tiba – tiba shane sudah berada diruang tamu.


Risa yang melihat pria asing lain menjadi ketakutan.


“ siapa kau ? siapa dia bram ?” tanya risa yang sangat panik dan takut.


“ aku juga tidak tau siapa dia ! yang aku tau , suami dari wanita yang sangat cantik tadi telah datang untuk menjemput istrinya.” jawab bram santai sambil berlalu pergi dari ruang tamu.


“ kau ! bagaimana bisa kau mengkhianatiku ! aku sudah membawakan uang yang kau minta ! beraninya kau!” teriak risa yang semakin ketakutan saat mendengar nama bara.


Didalam kamar, bara memandangi istrinya yang sedang tidur dengan jejak air mata dipipinya.


“ ima.. bangunlah..! suamimu sudah datang menyelamatkanmu..” bisik bara pelan ditelinga ima.


Seketika ima membuka matanya, dilihatnya bara didepannya.


tanpa sadar ima segera memeluknya saat itu juga.


“ bara ! benarkah ini kau ?” tanya ima sambil menangis tersedu – sedu.


“ iya, ini aku. aku akan membawamu pulang sekarang juga. berhentilah menangis !” ucap bara sambil membelai rambut ima dan menenangkannya.


Ima mengangguk dan mengikuti bara keluar dari rumah itu, mereka bertemu bram.


" tuan, lain kali jaga istrimu dengan baik. bagaimana bisa kau membiarkan wanita secantik itu di sandera hingga selama ini. " ucap bram.


" kau tidak perlu tau. " jawab bara.


" hei..hei.. aku yang membantumu menyelamatkan istrimu. kau bahkan tidak mengucapkan terima kasih. " ucap bram sedikit kesal dengan sikap dingin bara.


bara yang tidak ingin berdebat hanya menuruti kemauan bram.


" bram, terima kasih banyak. kau sudah membantu menyelamatkan istriku. " ucap bara.


" jika aku bertemu dengan istrimu lagi dalam keadaan yang sama, aku tidak akan ragu membawanya pergi bersamaku. " ucap bram sejujurnya.

__ADS_1


wajah tampan bara tiba - tiba merah karena marah, tangannya bergetar mendengar ucapan bram.


" bram, karena kau telah menolong istriku maka kali ini aku akan melepaskanmu." ucap bara sambil melangkah menuju mobil.


bram hanya menatap mereka berdua dan kembali masuk kedalam rumah untuk menyaksikan pertunjukan berikutnya.


ima naik kedalam mobil bara dan melihat mobil putih yang disewa oleh risa.


“ bagaimana dengan risa ?” tanya ima penasaran.


“ shane akan mengurusnya.” jawab bara.


“shane ? siapa itu shane ?” tanya ima.


“ shane adalah nama baru shadow. aku membelinya dan mengangkatnya menjadi adikku agar dapat menjagamu setiap saat. Aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi kepadamu dan anakmu.” jawab bara santai.


Bara sangat bahagia dengan kembalinya ima disisinya. dia tidak lagi perduli dengan risa yang akan dibereskan oleh shane.


“ apa kau akan membunuh risa ? bukankah itu tindakan kriminal ?” tanya ima yang mulai penasaran dengan nasib risa.


“dengan semua kejahatannya dan saksi sebanyak itu didepan kantor, maka kita tidak perlu membunuhnya. pengadilan sendiri yang akan menjatuhkan hukuman mati untuknya karena kesalahannya.” ucap bara.


“ bagaimana mungkin risa dihukum mati karena menusuk seseorang ? bukankah itu berlebihan ?” tanya ima yang terheran dengan pola pikir bara.


“ aku akan menjelaskannya saat kita sampai dirumah.” ucap bara sambil mulai menjalankan mesin mobilnya dan melaju pulang kerumahnya dengan hati senang dan juga sedih.


Bara senang karena ima selamat, tapi dia sedih jika harus memberitahukan tentang kematian yori kepada ima.


Ima sudah mengorbankan dirinya dan mengalami hari – hari yang menyedihkan hanya demi menyelamatkan yori, tapi yori tetap tidak terselamatkan.


Bara hanya melaju secepatnya menuju rumahnya. shane segera memukul risa dan mengikatnya dengan tali.


“ tuan bram, terima kasih atas kerjasamanya. sekarang saya akan membawa wanita ini ke kepolisian di kota jaya untuk menerima hukuman mati. tuan bara mengatakan bahwa uang yang dibawa risa bisa anda simpan sebagai ucapan terima kasih.” ucap shane sambil menghilang dari hadapan bram. Bram hanya tersenyum dan menarik nafas dalam – dalam.


“ sayang sekali aku hanya bisa bertemu satu kali dengan wanita secantik itu. Tapi setidaknya aku mendapatkan uang banyak tanpa harus melakukan apapun.”gumam bram dalam hati.


Sesampainya dirumah, ima disambut dengan bahagia oleh paman sam dan bibi ana. Ima sangat bahagia karena bisa kembali pulang kerumah itu dengan selamat.


“ paman, bibi ,dimana yori ? apakah dia masih dirumah sakit ? bagaimana kondisinya saat ini ?” tanya ima dengan antusias.


Paman sam dan bibi ana hanya menunduk dengan wajah sangat sedih.


“ paman, bibi.. ada apa ? kenapa kalian sedih ? apakah luka yori separah itu ?” tanya ima mulai panik.


Bara yang melihat ima panik tidak mampu menahan kebenaran lebih lama lagi.


“ yori telah meninggal dunia. saat aku membawanya kerumah sakit, dia sudah tidak tertolong lagi.” ucap bara.


Seketika suasana hening, ima tidak percaya bahwa yori sudah meninggal.


“ Tidak mungkin ! aku melihatnya masih hidup saat aku pergi bersama risa. itu tidak mungkin !!! “ teriak ima histeris. Bara segera menghampiri ima.


“ tenanglah ima, kau harus menerima bahwa yori telah meninggal. jangan seperti ini, pikirkan anakmu.” ucap bara menenangkan ima.


“ bara, bagaimana mungkin yori bisa mati ? Bagaimana bisa dia membiarkan anakku lahir tanpa ayah ? Bagaimana mungkin dia tega melakukan ini kepada anaknya sendiri ? aku rela menahan semua perlakuan risa demi yori, bagaimana mungkin dia bisa menyerah dan meninggal !!” teriak ima yang dengan histerisnya menangis tersedu – sedu.


“ ima, jika yori tidak ada lagi. biarkan aku yang menjadi ayah anak ini. aku akan berusaha sebaik mungkin untuk merawatnya dan memberinya kasih sayang seorang ayah. Tenangkan dirimu ima !” ucap bara sambil menangis.


“ izinkan aku menjadi ayah dari anakmu. biarkan aku menjadi ayahnya. Dengan begitu dia tidak akan lahir sebagai anak tanpa ayah..aku mohon kepadamu .. “ ucap bara sambil berlutut dihadapan ima.


ima masih syok dengan berita kematian yori dan tidak berkata apa - apa lagi. kepala ima terasa berat dan akhirnya dia pingsan.


" ima..!! " teriak bara.


" paman sam, segera panggil dokter helda." teriak bara kepada paman sam.


bara mengangkat tubuh ima kekamarnya diikuti oleh bibi ana, paman sam segera menghubungi dokter.


sesaat kemudian dokter helda datang dan segera memeriksa kondisi ima dan bayi didalam perutnya.


" tuan, istri anda mengalami syok berat dan stress. jika ini dibiarkan maka anak didalam perutnya bisa terkena dampak dari stress yang dialami sang ibu." ucap dokter helda.


bara panik dan kebingungan mendengar ucapan dokter helda.


" apa yang harus saya lakukan dokter ? " tanya bara yang sedang panik dan cemas.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2