
Setelah berjalan beberapa saat, bara dan ima sampai dimakam yori.
Ima duduk dan meletakkan seikat bunga lili diatas makam yang bertuliskan ‘ YORI LANG ‘ itu.
“ yori.. aku datang. bagaimana keadaanmu disana ? apakah kau bahagia atau justru sebaliknya ? “ ucap ima yang masih menahan air matanya.
“ saat anak kita lahir, aku akan membawanya kesini untuk menemuimu.. jadi, kau tidak boleh sedih saat berada disana.. “ ucap ima mulai menitikkan air mata.
“ apa kau sudah bertemu orang tuamu.. ? setelah menemuimu aku akan segera menyapa mereka dan memperkenalkan diri... “ ucap ima sambil mengusap air matanya.
“ yori, banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu. setiap akhir pekan aku akan menemuimu untuk bercerita banyak hal sehingga kau tidak akan merasa kesepian. “ ucap ima sambil mulai berdiri.
Ima tidak bisa berlama – lama dimakam yori, jika dia berada disana lebih lama lagi maka dia bisa menangis sejadi – jadinya dan membuat perutnya sakit.
ima hanya akan fokus kepada kesehatan bayi didalam perutnya saat ini dan menerima kematian yori sebisa mungkin agar mampu melanjutkan hidup.
“ anak ini adalah hal terindah yang kau berikan untukku. terima kasih yori.. dan satu hal lagi, jangan merasa bersalah lagi kepadaku karena aku sudah memaafkan semua kesalahanmu. aku akan menjaga dan merawat anak kita dengan baik.” gumam ima dalam hati seraya pergi dari tempat itu.
“ bara, bisakah kau mengantarku kemakam orang tuamu sekarang ? “ tanya ima dengan senyumnya yang hampir pudar dari wajah cantiknya itu.
Bara berdiri dari duduknya dan mulai memegang tangan ima untuk berjalan lagi menuju makam orang tuanya.
Dengan hati – hati bara menggandeng tangan ima dan menopang pinggang ima dengan tangan kirinya.
Terlihat dua buah makam yang telah dihiasi dua ikat bunga lili yang sudah layu.
Bara berhenti dan mulai meletakkan bunga lili dimasing – masing makam orang tuanya.
“ ini adalah makam orang tuaku, ima. “ ucap bara.
Ima pun duduk dan menyapa mereka berdua.
“ ayah dan ibu mertua, salam kenal. namaku ima halim, saat menikah dengan yori aku belum sempat menyapa kalian berdua. maafkan menantumu ini ayah dan ibu mertua. “ ucap ima sambil menyentuh batu nisan mereka berdua.
Melihat ima memperkenalkan diri sebagai istri yori, hati bara sekali lagi sakit.
“ ayah, ibu, sekarang aku telah menjadi istri bara. ada beberapa hal yang mengharuskan kami menikah. apakah kalian mau merestui kami berdua ? “ ucap ima sambil menatap kedua makam itu.
Mendengar ucapan ima kali ini hati bara sangatlah bahagia, setidaknya ima mengakuinya sebagai suami didepan kedua orang tuanya.
“ ima, bolehkah aku menciummu didepan makam kedua orang tuaku sebagai bukti bahwa kita telah menikah ? “ tanya bara dengan wajah memohon.
“ tapi, kita.. bagaimana mungkin aku bisa... “ ucapan ima dipotong oleh bara.
“ aku hanya ingin orang tuaku tau bahwa kita telah menikah dan membuat mereka bahagia dialam sana. “ ucap bara dengan wajahnya yang tampak sangat sedih.
Dengan alasan yang disebutkan oleh bara, mana mungkin ima bisa menolak.
Mereka memang sudah menikah walaupun pernikahan tersebut hanyalah langkah untuk menyelamatkan perusahaan.
Ima sadar bahwa bara sudah berbuat banyak baik untuk ima maupun yori dan setidaknya ima bisa menjaga harga diri bara didepan kedua orang tuanya.
Ima tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Wajah bara seketika menjadi ceria tapi tidak lama kemudian jadi memerah.
Ima yang melihat hal itu jadi salah tingkah, bagaimanapun selain yori tidak ada pria lain yang pernah diciumnya.
Merasa malu membuat wajah ima ikut memerah, entah bagaimana mereka bisa berada disituasi canggung seperti itu.
Bara yang biasanya aktif dan play boy berubah menjadi siswa sma yang gugup karena akan melakukan ciuman pertamanya.
Ima sendiri sedang bingung berfikir bagaimana bersikap terhadap bara setelah mereka berciuman nantinya.
Bara mulai mendekatkan wajahnya dan menyentuh wajah ima, dengan wajah yang sama – sama merah mereka berdua saling memandang satu sama lain.
Perlahan tapi pasti bara mulai mencium bibir ima, dari ciuman biasa menjadi ciuman yang makin dalam.
Bara yang memang sejak lahir adalah penakluk wanita serta ditambah 3 tahun tanpa menyentuh wanita sama sekali membuat bakat alaminya muncul didepan ima.
Ima yang selama 5 bulan ini tidak pernah disentuh pria mulai menikmati ciuman bara yang mampu melelehkan hati setiap wanita yang diciumnya.
Saat bara asyik memainkan lidahnya didalam mulut ima, kesadaran ima kembali karena dia mulai kesulitan bernafas.
“ ba.. bara. Berhenti ! “ teriak ima menghentikan bara.
Seketika bara terkejut dan kesadarannya kembali.
bara melihat mulut mungil ima sudah seperti ikan koi yang berusaha mencari udara.
Bara tertawa kecil dan melepaskan ima.
__ADS_1
“ maafkan aku ima. untuk sesaat aku lepas kendali. “ ucap bara yang masih malu dengan tindakannya itu.
Ima mengatur nafas perlahan dan mencoba menenangkan diri.
setelah tenang dan bisa bernafas dengan normal, ima menatap bara dengan tajam.
“ apa kau lupa aku sedang hamil ? jika aku kesulitan bernafas begitu juga bayi didalam kandunganku. “ ucap ima sedikit kesal.
“ bukankah kau tau cara berciuman ? kau tidak seharusnya menahan nafasmu. “ jawab bara yang mulai menundukkan kepalanya untuk menghindari tatapan tajam dari ima.
Ima tidak bisa menjawab pertanyaan bara, tidak mungkin dia mengatakan bahwa dia menikmati ciuman bara sampai lupa bernafas bukan ? ima segera berdiri dan hendak pergi dari tempat itu karena malunya.
“ ima, apakah kau marah kepadaku ? “ tanya bara yang mulai cemas melihat ima hendak pergi dari tempat itu.
“ aku tidak mau menjawabmu, aku ingin segera pulang dan beristirahat. “ jawab ima.
“ jika kau tidak marah, kenapa kau tiba – tiba ingin pergi dari sini ? “ tanya bara yang masih cemas dengan sikap ima.
“ bara, kita sudah cukup lama berada disini. tidakkah kau kasihan kepada paman sam yang menunggu kita dipintu masuk pemakaman ? “ tanya ima.
Bara mengangguk dan mulai berdiri, dia mengantarkan ima menuju mobil. paman sam yang setia menunggu segera menghampiri bara dan ima.
“ paman, tolong bawa ima kedalam mobil. aku akan masuk kedalam pemakaman sekali lagi. aku tidak akan lama. “ pinta bara.
“ ima, tunggulah didalam mobil. aku harus mengatakan sesuatu kepada orang tuaku sebelum kita kembali ke villa. “ ucap bara.
Ima mengangguk dan masuk kedalam mobil. bara segera berlari masuk ke pemakaman untuk menemui kedua orang tuanya sekali lagi .
dengan nafas terengah – engah bara menemui makam yori terlebih dahulu.
“ yori, aku mohon maafkan kakakmu ini. “ ucap bara sambil mengatur nafasnya.
“ aku tidak mampu lagi menahan perasaanku kepada ima. aku terlalu mencintainya.. “ ucap bara yang mulai menitikkan air mata.
“ izinkan aku mencintainya dan merawatnya untuk menggantikanmu yori. aku akan melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. jika kau mengizinkanku, aku tau bahwa ima akan membuka pintu hatinya untukku. “ ucap bara yang sudah menangis didepan makam adiknya itu.
“ yori, saat kita bertemu disana kelak, kau boleh menghukumku sesuka hatimu. tapi untuk sekarang, aku mohon biarkan aku menggantikanmu mulai saat ini. “ ucap bara sambil mulai mengusap air matanya.
“ maafkan aku yori, hatiku tidak bisa berbohong lebih lama lagi. siapkanlah hukuman untukku saat kita bertemu disana kelak. “ ucap bara sembari pergi dari makam yori.
Bara kembali berlari menuju makam kedua orang tuanya.
sesampainya disana bara langsung berlutut didepan makam orang tuanya.
“ ima adalah nafasku, dia adalah hidupku. tanpanya aku tidak akan bisa hidup, jadi aku mohon restuilah kami dan sekali lagi sampaikan permintaan maaf ku kepada yori yang sudah lebih dulu bergabung bersama kalian. “ ucap bara sambil mulai berdiri.
“ ayah, ibu. aku akan berjuang keras untuk meraih cintaku dan kami akan hidup bahagia demi kalian berdua. aku pamit dulu ayah, ibu. “ ucap bara sambil bergegas keluar area pemakaman.
Sesampainya didepan mobil langkah bara terhenti karena melihat sosok wanita cantik dengan perutnya yang mulai membesar sedang duduk disamping pintu mobil yang terbuka dan menatap ke arah bara.
“ ima, aku akan berjuang dan mendapatkan cintamu. tunggu aku, aku akan membuatmu bahagia dan melupakan semua kesedihanmu selama ini. “ gumam bara dalam hati dengan semangat membara.
Bara melanjutkan langkahnya menuju wanita pujaan hatinya yang tepat berada dihadapannya.
langkah demi langkah membuat dunia bara berubah menjadi semakin indah.
Ima tersenyum dan mulai berbicara kepada bara.
“ bara, celanamu kotor pada bagian lutut. ada apa sebenarnya ? “ tanya ima heran.
“ aku terjatuh karena kurang hati – hati saat berjalan menuju makam orang tuaku. “ jawab bara.
“ tampaknya banyak hal yang kau bicarakan dengan orang tuamu. “ ucap ima.
“ aku hanya meminta restu mereka atas pernikahan kita. “ jawab bara sambil duduk didalam mobil.
Paman sam segera menyalakan mesin dan melaju pulang menuju villa.
sepanjang perjalanan ima hanya diam memikirkan dirinya sendiri.
“ oh Tuhan, apa yang telah aku lakukan ? bagaimana bisa aku menikmati ciuman dari pria lain selain yori ! kesepian dan kesendirian ini telah merubahku menjadi wanita yang sangat buruk. Maafkan aku yori.. “ gumam ima dalam hati.
Bara memperhatikan ima dengan seksama, dia tidak lagi menahan perasaannya.
bara membiarkan perasaannya mengalir dengan sendirinya dan bertekad mendapatkan hati ima mulai hari itu.
“ ima, jika ada pria yang mencintaimu dengan sungguh – sungguh. apakah kau mau menerima cinta pria seperti itu ? “ tanya bara.
Ima menoleh ke arah bara, sesaat kemudian ima melihat ke arah luar jendela mobil.
“ bara, aku sedang tidak ingin membicarakan tentang pria saat ini. anak dalam perutku adalah prioritasku. “ jawab ima yang terlihat sedikit lelah.
__ADS_1
...
Sesampainya di villa, bara dan ima segera masuk kedalam kamar.
Mereka berdua sama – sama ingin segera mandi dan mengganti pakaian karena berada diluar rumah seharian.
Saat mereka berdua berada didalam kamar, tampak wajah gugup dari wajah keduanya.
“ kau gantilah terlebih dahulu, aku akan keluar dan menunggu.“ ucap bara sambil melangkah meninggalkan kamar.
“ bara ! kau duluan, tidakkah kau lihat pakaianmu lebih kotor dari pakaianku ? “ ucap ima menghentikan bara.
“ tapi kau sedang hamil, kau tentu tidak nyaman dengan semua keringat yang ada ditubuhmu. “ ucap bara sambil melanjutkan langkahnya keluar kamar dan menutup pintu dari luar.
Dengan sabar bara berdiri didepan pintu menunggu istrinya selesai mandi dan mengganti baju.
Ima yang berada didalam kamar merasa bersalah kepada bara.
“ sepertinya aku harus pindah kamar agar tidak menggangu aktifitas bara. “ gumam ima dalam hati.
Setelah selesai mandi dan mengganti pakaian, ima melangkah keluar kamar agar bara bisa segera mandi dan mengganti baju.
Saat ima membuka pintu, bara hampir terjatuh karena menyandarkan tubuhnya dipintu kamar.
“ oh.. “ teriak ima.
“ maaf bara, aku benar – benar tidak tau jika kau bersandar didepan pintu. “ ucap ima dengan panik.
“ apakah kau tidak apa – apa ? “ tanya ima sambil memegang bahu, tangan, punggung dan bagian tubuh bara yang lain.
“ aku tidak apa – apa. “ ucap bara sambil tertawa kecil melihat ekspresi panik ima.
“ syukurlah.. “ ucap ima sambil meletakkan kedua tangannya ke dadanya.
“ kenapa kau ada didepan pintu, bara ? “ tanya ima.
“ aku menunggumu selesai mandi. “ jawab bara.
“ kau bisa menunggu diruang tengah dan duduk. kau tidak perlu berdiri disini selama itu. “ ucap ima.
“ aku tidak mungkin membiarkanmu sendirian. aku berdiri disini untuk menjagamu, jika terjadi apa – apa padamu aku bisa segera masuk ke dalam kamar dan menolongmu.” jawab bara apa adanya.
Ima terdiam tak mampu mengatakan apapun kepada bara.
wajah ima menunjukkan rasa bersalah yang amat sangat kepada bara.
“ bara, aku rasa kita harus hidup dikamar yang terpisah. aku tidak mau mengganggu aktifitasmu setiap hari. aku bisa pindah ke kamar yori yang sudah kosong. “ ucap ima.
Mendengar ucapan ima, bara mulai marah dan menegur ima.
“ ima, jika kau tidak satu kamar denganku, bagaimana aku bisa melindungimu dan anakmu ? “ tanya bara dengan nada marah.
“ jangan pernah berfikir tentang hal sepeti itu lagi. aku tidak merasa terganggu sedikitpun, justru aku sangat bahagia bisa membantumu dalam segala hal. “ tambah bara.
“ baiklah, sekarang aku mau mandi dan mengganti pakaian. kau boleh menungguku didalam kamar atau diruang tengah, aku tidak keberatan kau melihat tubuhku yang indah ini. “ ucap bara sambil berlalu masuk kamar dan mulai melepas pakaiannya.
Seketika ima malu dan segera keluar kamar. Ima menuju ruang tengah dan duduk untuk menenangkan diri.
“ apa bara sudah gila ? Bagaimana bisa dia tidak memiliki rasa malu sedikitpun ? “ gumam ima dalam hati dengan kesal.
Melihat tingkah ima yang menggemaskan, bara hanya tertawa kecil.
“ aku tidak akan melepaskanmu dengan alasan apapun.” gumam bara dalam hati sambil mulai masuk kedalam kamar mandi.
...
Setelah beberapa saat, bara turun keruang tengah dengan membawa bantal untuk menemani ima diruang tengah.
Ima yang melihat bara datang membawa bantal menjadi heran.
“ kenapa kau membawa bantal ke ruang tengah ? untuk apa bantal itu ? apa kau mau tidur disini ? “ tanya ima heran.
Bara hanya diam dan mulai mendekati ima, digesernya meja menjauhi sofa ima lalu bara duduk dengan posisi berlutut didepan ima.
“ bisakah kau maju sedikit ? “ pinta bara.
Ima yang tidak tau apa maksud bara hanya menuruti perintah bara.
Saat ima sudah maju sedikit ke arah bara, bara segera meletakkan bantal yang dibawanya kebelakang pinggang ima.
“ bantal ini aku siapkan untuk sandaran istri dan anakku agar nyaman duduk disofa ini. “ ucap bara sambil memeluk ima dan perutnya.
__ADS_1
Pipi bara menyentuh perut ima, itu adalah pertama kalinya ima merasakan betapa nyamannya pelukan seorang pria bagi wanita yang sedang mengandung .
Bersambung..