My Fate Husband

My Fate Husband
Chapter 04


__ADS_3

Ima tau bahwa ayahnya adalah seorang pekerja keras.


Jadi jika sang ayah tidak bisa mengantarnya ke kampus itu berarti ayahnya besok pagi akan sangat sibuk.


“ Tidak apa – apa yah, besok pagi aku bisa naik bus. ayah tidak perlu khawatir, jika ada pria mesum..aku bisa melindungi diri sendiri dan juga tidak akan ada pria yang mengganguku dengan wajahku yang seperti ini bukan ? He..he..he..” jawab ima sambil meledek ayahnya.


“ Jika bukan karena untuk melindungimu, tentu ayah tidak akan setuju jika anak perempuan ayah yang sangat cantik menjadi buruk rupa seperti ini. gen ayah yang tampan dan gen cantik ibumu benar – benar mubazir jika melihatmu seperti ini. maafkan ayah sayang.. “ suara sang ayah seperti terasa sedikit sedih dan menyesal.


“ Ayah, walaupun ini adalah ide ibu tapi aku menerimanya dengan bahagia. aku tidak memerlukan pacar karena aku sudah punya ayah dan aku tidak memerlukan banyak teman karena aku memiliki ibu dan yaser. bahkan tanpa pacar bukankah minggu depan aku akan menikah ? ” jelas ima sambil tersenyum.


Sang ayah tersenyum dan melanjutkan perjalanan.


Sesampainya dipintu gerbang kampus, ima segera turun dari mobil dan langsung menuju ruang kelas, sementara sang ayah langsung menuju kantor.


“ Imaaaaaaa..!!! "


Suara ino membuat ima terkejut dan langsung mencari sumber kedatangan suara tersebut.


Dari belakang terlihat ino berlari dan memeluk ima.


Ino adalah sahabat ima sejak pertama kali masuk universitas.


Dia adalah satu – satunya orang yang tidak mempersoalkan wajah ima yang jelek untuk menjadi teman bahkan sekarang sudah menjadi sahabat.


Ino adalah perempuan lugu berambut hitam panjang dan sangat imut, itu karena dia adalah anak tunggal sehingga orang tuanya membentuk ino menjadi seperti princess imut dengan rambut hitam panjangnya.


“ kemarin kamu tidak masuk kuliah kenapa ? ” tanya ino serius.


Ima pun tersenyum kepada sahabatnya itu, lalu bercerita tentang pengalamannya kemarin.


Mata ino seketika terbelalak lebar dan tanpa sengaja berteriak.


“ MENIKAH ??!!!! ”


Dengan cepat ima menutup mulut sahabatnya dengan kedua tangannya.


“ Bukankah aku sudah bilang ini rahasia !? ” ucap ima sambil menatap mata sahabatnya.


Ino pun menganggukkan kepalanya.


“ Maaf , aku sungguh terkejut...“ ucap ino.


Sebelum mereka melanjutkan obrolan mereka, dosen pun masuk kedalam ruangan kelas.


....


Setelah kuliah selesai ima dan ino menuju kantin untuk makan siang.


Mereka bertemu fatih, tetangga ima.


Ino pun mulai salah tingkah melihat fatih mendekati meja mereka berdua.


Ino sudah lama memendam perasaan kepada fatih, tapi tidak berani mengungkapkannya.


“ ima..! fatih.. Itu fatih ke arah sini. ” ucap ino yang mulai panik.


Ima yang mengetahui situasi hanya diam cuek menanggapi tingkah ino.


Ima sudah terbiasa dengan ino yang mudah salah tingkah didepan fatih, hal itu karena ino jatuh cinta sejak pertama kali melihat fatih yang saat itu masuk hari pertama kuliah bersama dengan ima.


Tidak lama kemudian fatih bergabung dengan meja ima dan ino.


“ Ima..kenapa kamu kemarin tidak masuk kuliah ? aku datang kerumahmu tapi tidak ada orang satu pun. tanganku sampai lelah menekan bel pintu rumahmu, belum lagi suara ku hampir habis karena berteriak memanggil kamu. ” ucap fatih kesal dengan suaranya yang sedikit serak karena kemarin kelelahan berteriak.


Fatih memang sudah lama menyatakan perasaanya kepada ima, tetapi ima menolaknya karena fatih sudah seperti kakaknya sendiri.


Fatih pun tidak lagi mengejar ima karena dia sadar bahwa ima tidak akan pernah bisa menerimanya.


Bagi fatih bisa bersama seperti ini saja sudah cukup menyenangkan, masalah cinta nomor kedua.


Fatih mengagumi sikap ima yang disiplin , mandiri dan terlebih lagi kebaikan hatinya yang luar biasa.


Meskipun sering dibilang jelek, ima tidak pernah membenci mereka dan hanya cuek.


Tapi saat dibully, ima akan berdiri dengan tegak dan menyatakan perang.


Hal itu membuat banyak teman ima hanya berani mengejeknya tanpa berani mengambil tindakan lebih jauh seperti membully fisiknya, itu lah yang membuat fatih terpesona oleh inner beauty yang dimiliki oleh ima.


Pesona ima bukanlah milik fatih, sehingga fatih hanya bisa memandangnya saja tanpa bisa memiliki, dia hanya berusaha melindungi ima kapanpun ima membutuhkan bantuannya.


“ Aku kemarin ada urusan keluarga, makanya aku izin kuliah 1 hari. ada urusan apalagi kamu kerumahku ? ” tanya ima.


Disamping ima, ino hanya diam seribu bahasa dan tidak berani mengeluarkan suara apapun.


Menahan kerasnya detak jantung saja ino sudah sangat kesulitan apalagi untuk berbicara.

__ADS_1


“ kamu kan tahu, ibuku itu paling heboh tentang masakan, kemarin dia menyuruhku bertanya tentang salah satu resep masakan ibumu. sebagai anak yang baik, tentu dengan senang hati aku menuju rumahmu. ” jawab fatih santai.


“ Bukankah karena kamu ingin menggangu adikku bermain game ? kamu sudah menjadi mahasiswa tapi tidak bisa mengalah kepada anak sekolah dasar ?? Wah..wah.. sungguh keterlaluan..!! ” jawab ima mengejek fatih.


Fatih terdiam tersipu malu mendengar perkataan ima.


Fatih sadar bahwa tujuan utamanya kerumah ima sudah terbaca dengan jelas oleh ima.


Ino yang menyaksikan sikap mereka hanya tersenyum kecil.


Ino menahan dada dengan tangan kanannya dan berusaha menenangkan hatinya yang hampir berlari menuju fatih.


Ino sangat mencintai pria yang duduk dihadapannya itu.


“ ino, ada apa denganmu ? kenapa kamu tidak menyentuh makananmu ? ” tanya fatih sambil menatap mata ino yang sedari tadi hanya menunduk.


Dengan memberanikan diri, ino melepas tangan kanan dari dadanya yang sudah mulai tenang.


Ino pun berusaha menatap fatih dan..


“ BADUMP.. ! ”


“ Oh Tuhan, jantungku benar – benar tidak bisa tenang dengan adanya fatih didepanku. ” gumam ino dalam hati.


Sekali lagi ino menatap fatih dengan seksama, pria berkaca mata didepannya adalah pujaan hatinya.


Ino pun menyiapkan hatinya dan mulai berbicara.


“ ba..baik kak fatih aku akan mulai makan, aku hanya sedikit lelah jadi tidak begitu nafsu makan..” jawab ino sedikit gugup.


Lalu mereka bertiga makan bersama.


Setelah selesai makan siang, ino pulang bersama ima dan fatih.


Didalam bus mereka bercerita tentang galaknya dosen baru yang mengajar mata kuliah bahasa inggris.


Mereka tertawa bersama bahkan ino pun sudah mulai bisa berbicara kepada fatih dengan normal didalam bus.


“ ima.. aku akan ikut turun dirumahmu hari ini. aku ingin mendengar kelanjutan cerita tadi pagi. " ucap ino perlahan sambil berbisik ditelinga ima.


Fatih yang kebetulan sedang sibuk dengan ponsel nya itu tidak tahu apa yang ima dan ino bicarakan.


.....


“ Permisi..” ucap ino sebelum memasuki rumah ima.


Ino menyapa ibu rose dengan senyuman, ibu rose yang sedang sibuk menyetrika pakaian langsung menyambut dan mempersilahkan ino masuk.


“ apakah kamu sudah makan siang ino ? ” tanya ibu rose sambil menyiapkan meja makan.


“ Sudah bu, tadi ino makan siang bersama dengan ima dan fatih dikantin kampus. ” jawab ino sopan.


Mendengar hal itu ibu rose tersenyum dan meninggalkan ino untuk kembali melanjutkan setrikaan sang ibu, yaser sedang sibuk main game diruang tengah.


Ino dan ima langsung menuju kamar dilantai dua, setelah masuk kedalam kamar mereka melanjutkan cerita yang bersambung tadi pagi dengan antusias.


“ Ding..dong..”


Suara bel rumah ima berbunyi.


Ima bergegas melihat melalui jendela kamarnya.


Terlihat dari kejauhan fatih sedang berdiri didepan pintu rumahnya sambil memegang sesuatu.


Ibu rose langsung membukakan pintu dan melihat fatih berdiri sambil membawa sebuah kotak kecil ditangan kanannya.


“ Eh, nak fatih..! ada apa ? “ tanya ibu rose.


“ Ibuku mencoba resep kue dan dia ingin tetangganya yang baik ini mencicipinya. ” jawab fatih dengan senyuman lebar dibibirnya.


“ Wah, kamu bisa saja menggoda perempuan tua ini .” ibu rose tersenyum malu dan menerima kotak kecil yang diberikan oleh fatih.


“ Sampaikan ucapan terima kasihku kepada ibumu ya nak fatih..” tambah ibu rose.


“ iya tante, akan fatih sampaikan kepada ibu. kalau begitu fatih pamit dulu ya tante. " ucap fatih sambil melangkah pulang kerumahnya yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah ima.


Disamping jendela, ima dan ino menyaksikan kejadian tersebut dari lantai dua.


“ Bagaimana bisa kamu jatuh cinta dengan pria anak mama seperti itu ? ” tanya ima kepada ino yang belum berpindah dari sisi jendela melihat fatih berjalan dan akhirnya hilang dari pandangan ino.


“ Aku pun tidak tau mengapa, saat hari pertama masuk kuliah dia adalah orang pertama yang membantuku mencari ruang kelas, jika bukan karena pertolongannya mungkin aku hanya akan berdiri dipintu kampus tanpa berani kemana – mana. Saat itu aku sadar bahwa aku sudah jatuh cinta padanya. ” ucap ino menjelaskan sambil tersipu malu.


“ Baiklah, aku mengerti. ” jawab ima mengalah.


“ lugu sekali ino ini, untung saja dia jatuh cinta kepada fatih. jika dia bertemu pria seperti bara tentu menyedihkan sekali akhir cerita cintanya. ” gumam ima dalam hati.

__ADS_1


“ lalu bagaimana kelanjutan ceritamu tadi pagi ? ” tanya ino dengan mata berbinar – binar menanti ima melanjutkan cerita tentang pengalaman ima kemarin.


Ima bercerita dari awal kakeknya meninggal hingga dia setuju menikah lalu bertemu tukang bully dan mengajukan syarat kepada calon suaminya tanpa terlewat satu kata pun.


Dua perempuan muda saling bercerita tentang kehidupan dan cinta mereka hingga menjelang malam.


“ aku tahu kamu bisa ima, karena kamu adalah wanita yang pintar dan kuat. kamu pasti sudah memikirkan ribuan ide dikepalamu yang pintar itu bukan ? ” ucap ino sambil tersenyum lebar kepada ima.


.....


Melihat keadaan luar yang sudah mulai gelap, ino pun teringat akan ibunya.


Ino menelepon ibunya untuk memberi kabar bahwa dia akan bermalam dirumah ima malam itu.


Ino sudah sering bermain ke rumah ima tapi untuk menginap, ini baru pertama kalinya.


“ Aku akan menelepon ibuku dulu. ” ucap ino sambil membuka ponselnya.


Terdengar suara dari ujung telepon “ Halo ino, ada apa ? ” jawab ibu tia.


“ Malam ini aku tidur dirumah ima bu, kami bercerita hingga lupa waktu..” jelas ino, lalu ima mengambil ponsel ino dan berbicara kepada ibu tia.


” Dia terlalu penasaran dengan kehidupan cintaku hingga lupa waktu tante tia...ha..ha..ha..” ima tertawa melihat ino yang wajahnya mulai memerah karena malu.


Tante tia pun mengizinkan ino bermalam dirumah ima.


Setelah menutup telepon, ima mengajak ino untuk bersiap - siap tidur mengingat besok mereka harus menunggu bus untuk berangkat kekampus dikarenakan ayah ima tidak bisa mengantar mereka.


“ Tidurlah terlebih dahulu ino, aku mau cuci muka dan menyusulmu. ” ucap ima sambil berjalan menuju kamar mandi, setelah itu mereka tidur bersama.


Pada tengah malam ino merasa ingin buang air kecil, dia pun menuju kamar mandi.


Betapa kagetnya ino saat dia kembali ketempat tidur.


“ Aaaahhh...!! "


Teriakan ino membangunkan seisi rumah keluarga halim.


“ ka..ka..kamu siapa ? di..dimana ima ??!!! ” tanya ino ketakutan dengan wanita yang sangat cantik yang tidur ditempat tidur ima.


Belum selesai ino panik, perempuan didepannya mengusap – usap matanya pertanda rohnya belum benar – benar terkumpul semua.


“ cklek..”


Suara pintu kamar dibuka oleh ayah reno.


“ ada apa ino ? apakah ada pencuri ? ” tanya ayah ima sambil memegang tongkat bisbol ditangan kanannya.


Ino segera berlari menuju ayah reno dan berlindung dibelakangnya.


Sang ibu hanya berjalan santai dan malas menuju kamar ima, padahal sang ayah sudah berlari dan berada dikamar ima sejak 5 menit yang lalu.


“ jika ada pencuri maka yang akan babak belur bukanlah ima, melainkan si pencuri dan jika ada yang dicuri tentu bukan benda milik ima, melainkan hati si pencuri jika pencurinya adalah seorang laki – laki. siapa yang tidak akan jatuh cinta melihat kecantikan anak perempuan kesayanganku ? ” gumam sang ibu sambil berjalan santai menuju kamar ima.


“ ada apa ini ayah ? itu kenapa tongkat bisbol sampai keluar ? ” tanya ima yang sudah mulai sadar sepenuhnya.


Tongkat bisbol adalah tongkat keramat yang selalu disimpan ayah reno jika tiba – tiba ada pencuri masuk kedalam rumah mereka.


Tanpa ayah reno sadari bahwa dua perempuan dirumah itu adalah ahli karate.


“ ino berteriak..ayah kira ada pencuri, ayah langsung kekamarmu untuk membereskannya. ” jawab sang ayah apa adanya sambil mengangkat tongkat bisbol sebagai tanda siap memukul.


“ hah ?! dimana ?! berani –beraninya dia masuk kekamarku ! " ucap ima bangun dari tempat tidur sambil memasang jurus karate yang diajarkan ibunya.


Ino hanya kebingungan dengan situasi membingungkan didepannya.


“ om, perempuan itu adalah pencurinya. ima menghilang dan perempuan itu tiba – tiba berada ditempat tidur ima. ” ucap ino dengan polosnya.


Ayah reno dan ima saling memandang, lalu sang ibu yang baru saja sampai hanya ikut terlibat dalam situasi memandang satu sama lain.


Suasana hening sejenak, tidak lama kemudian suara tawa memecah keheningan dirumah itu.


“ hua..ha..ha...ha...”


Suara tawa trio halim ( ayah, ibu dan ima ) membuat ino semakin kebingungan.


Trio halim yang melihat ekspresi ino pun langsung terdiam dan menjelaskan perlahan.


“ ino sayang, perempuan ini adalah ima. ini adalah wajah aslinya. ” ucap sang ayah sambil memeluk pundak anak perempuan kesayangannya itu.


Ino yang baru mengetahui rahasia ima matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar seakan tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua matanya malam itu.


“ maaf ino.. sejak SMA.. saat siang hari dan berada diluar rumah aku menggunakan make up untuk memberi efek flek hitam diwajahku serta menggunakan kaca mata. jadi tidak ada yang tahu wajah asliku..hehe.." jawab ima.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2