My Fate Husband

My Fate Husband
Chapter 03


__ADS_3

Yori yang sedang duduk ditempat tidur seketika berbaring untuk menghindari kemarahan kakaknya karena tertawa kecilnya barusan.


“ apa kau sebahagia itu melihat kakakmu yang tampan ini diabaikan oleh wanita jelek itu ? hmm ? ” ucap bara sambil mendekatkan dirinya ke arah adiknya yang sudah berbaring.


“ kak, bukankah wanita itu unik ? walaupun dia berwajah jelek, tapi dia tidak mudah ditindas seperti wanita pada umumnya.


bahkan wanita yang lemah seperti kucing bisa berubah menjadi singa saat terdesak. bukankah dia membuat rumah ini menjadi tidak membosankan ? ” ucap yori dengan senang.


Bara menyeringai lebar kepada adiknya.


“ apakah kau tidak merasa sedih jika kelak istrimu akan kakak tindas setiap hari ? ” tanya bara.


“ Jika dia mudah ditindas maka dia tidak pantas menjadi istriku dan dia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi risa dihatiku. ” jawab yori.


Yori teringat lagi kepada wanita yang sangat dicintainya itu.


Tidak sadar air mata yori pun jatuh perlahan.


Jika saja yori tidak mengalami kecelakaan 1 tahun yang lalu yang mengakibatkan dia cacat, tentu saat ini dia sudah menikah dengan wanita pujaan hatinya itu.


“ lupakan wanita tidak tahu diri itu, dia hanya mencintai hartamu. saat dia tahu bahwa kau cacat dan tidak bisa membantu mengelola perusahaan, tanpa berpikir panjang dia langsung memutuskan pergi meninggalkanmu ! wanita seperti itu tidak pantas untukmu. ” jelas bara menenangkan hati adiknya.


Yori terdiam, dia tidak bisa menjawab perkataan kakaknya yang memang ada benarnya.


Tapi apalah daya yori yang sudah terlalu mencintai wanita itu.


Meskipun hanya karena harta yori pun rela, asalkan wanita itu mau bersamanya.


Bara memeluk adiknya yang terdiam seperti patung.


Yori pun merasakan kehangatan dari tubuh kakaknya itu dan membuatnya sedikit melupakan kesedihannya.


Setelah yori sedikit tenang, bara melepaskan pelukannya dan melangkah keluar kamar.


“ aku akan kembali keruang tengah untuk melihat keluarga calon istrimu, siapa tahu aku bisa membully calon istrimu agar dia mau membatalkan pernikahan ini. ” ucap bara.


“ jangan kak ! " teriak yori.


Bara terkejut dengan ucapan yori.


wajah bara menunjukkan rasa heran dan penasaran, lalu dia kembali melangkah menghampiri adiknya.


“ apa maksudmu ? ” tanya bara heran.


“ dia adalah perempuan yang baik, tidak ada salahnya pernikahan ini dilanjutkan. jika memang dia tidak pantas untuk menjadi nyonya Lang, aku sendiri yang akan menceraikannya. ” jawab yori.


Mendengar penjelasan adiknya tidak membuat bara langsung menghentikan niatnya untuk membully ima.


“ baiklah .. akan ku ikuti kemauanmu, tapi jangan salahkan aku jika istrimu menjadi sasaran bully ku dirumah ini..ha..ha..ha..” ucap bara sambil tertawa.


Yori yang mendengar ucapan kakaknya hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum.


Lalu yori kembali berbaring dan sekilas memandang keluar jendela kamar lalu memejamkan mata.


Bara pun melangkah keluar dan menutup pintu kamar yori dengan pelan.


“ Aku akan mencari wanita yang telah membuat yori tidak mau berjalan lagi. tunggu saja, aku akan membayar rasa sakit yori berlipat ganda jika aku menemukanmu. ” ucap bara dalam hati.


Di ruang tengah terdengar suara tawa kakeknya dan para tamu.


Entah apa yang mereka bicarakan sehingga suara tawanya terdengar hingga kelantai atas.


Bara memperhatikan dari lantai atas dan matanya tertuju kepada ima yang sedang tertawa lepas.


Rasa tegang di hati ima telah lenyap karena perjanjian yang dia lakukan dengan yori telah berhasil sehingga membuatnya sangat bahagia.


“ *heeehh…?? ternyata perempuan ini bisa tertawa juga, bukankah dia lebih cantik saat tertawa ? lesung pipinya sangat menggemaskan bukan ? badannya bagus, kakinya ramping, hidungnya mancung, bibirnya mungil dan juga sensual, jika bukan karena kaca mata dan flek hitamnya tentu sempurnalah wanita ini.


jika dia sempurna seperti itu aku tidak akan menolak untuk menjadikannya sebagai istriku*.. ! " gumam bara dalam hati mengagumi senyuman ima.


“ Hah ! ! apa yang aku pikirkan?!! apa aku sudah kekurangan wanita sehingga melihat wanita jelek seperti itu menjadi cantik saat tertawa ! " gumam bara lagi dalam hati.


Bara memukul kedua pipinya agar dia segera sadar.


Sang kakek melihat bara yang sedang melamun dilantai atas dan segera memanggil bara untuk turun.


“ Bara, turunlah ! temani kakek berbincang dengan para tamu. ” perintah kakek jimo.


Bara pun menuruni tangga menuju ruang tengah sambil menghindari kontak mata dengan ima.


Ima melihat ke arah bara, tetapi bara langsung memalingkan wajahnya.

__ADS_1


“ *Nah, rencana apa lagi yang dimiliki oleh si tukang bully ini ? tiba – tiba aku merasa dia menghindari pandangan mataku! apa karena dia tidak mau melihat wajahku ? nah ! itu lebih baik bagiku.


Tapi jika ada rencana lain yang dia sembunyikan maka aku harus lebih waspada, tukang bully ini sungguh licik dan dia bukan lawan yang bisa diremehkan*. ” gumam ima dalam hati memperingatkan dirinya sendiri.


Ima pun semakin waspada kepada bara yang mungkin akan mengintimidasinya lagi.


Tapi setelah obrolan selesai dan keluarganya pamit pulang, tidak ada tanda – tanda bully atau intimidasi dari bara.


“Apa aku berpikir berlebihan ? mungkin bara tidak sejahat itu atau yori sudah memperingatkannya agar tidak membully aku lagi ? ” tanya ima dalam hati.


“ Kami pamit pulang tuan jimo, sampai bertemu minggu depan saat acara pernikahan dilaksanakan. ” ayah reno mewakili keluarga undur diri untuk segera pulang.


“ baiklah.. jangan sungkan..sebentar lagi aku akan menjadi keluargamu, panggil aku ayah saat ima sudah resmi menjadi istri dari cucuku yori. ” jawab kakek jimo.


Sepanjang perjalanan pulang , kepala ima masih sibuk berpikir tentang bagaimana cara menghadapi calon musuh bebuyutannya, Bara Lang.


Didalam mobil, ima hanya diam.


Sang ibu melirik anak perempuan kesayangannya itu.


“ Ada apa denganmu ima ? apakah kamu


menyesal dengan pernikahan ini ? ” tanya sang ibu dengan cemas.


“ Sama sekali tidak bu, aku sangat bahagia, walaupun calon suamiku cacat, tetapi dia sangat baik sekali dan sangat sopan terhadapku, berbeda dengan kakaknya ! “ jelas ima kepada ibunya.


Ima sangat paham dengan sikap sang ibu, jika ima tidak membuatnya tenang maka sang ibu akan gelisah semalaman dan tidak bisa tidur.


“ Syukurlah, ibu sudah hampir menangis dan akan membatalkan pernikahanmu saat mendengar bahwa calon suamimu bukanlah bos ayahmu melainkan adiknya yang cacat.


Ibu hampir tidak bisa bernafas membayangkan masa depanmu sayang...” tambah sang ibu sambil mengusap air matanya yang jatuh sedikit demi sedikit di wajahnya yang sudah mulai memiliki keriput itu.


Air mata sang ibu membuat ima berguncang sekali lagi.


“Jika ibu tahu bahwa calon suamiku yang selain cacat juga bisa bermulut tajam, maka dia akan membuat keributan dirumah itu agar pernikahan ini dibatalkan. jika ayah dipecat, bagaimana keadaan keluargaku ? tentu sulit untuk mencari pekerjaan baru di umur ayah yang sudah hampir 50 tahun itu. ” ucap ima dalam hatinya.


“ bu, aku akan bahagia dengan yori. bukankah baik jika aku bisa berbakti sebagai istri dengan merawatnya ? bukankah Tuhan akan semakin sayang padaku ? dan saat Tuhan sayang kepadaku, bukankah dia akan memberi kebahagiaan kepadaku ? jadi berhentilah cemas bu. ” jelas ima menenangkan ibunya.


Melihat ibunya belum bisa ditenangkan, ima pun meyakinkan ibunya sekali lagi.


“ Jika aku diperlakukan tidak adil dan aku merasa tidak bahagia, maka anak perempuan kesayanganmu ini akan segera melaporkannya padamu bu, agar mereka ikut merasakan bagaimana rasanya memiliki pantat rata ! Ha..ha..ha ! “ tambah ima sambil tertawa terbahak – bahak didepan ibunya.


“ Oh Tuhan, aku sudah membela-Mu didepan ibuku. jadi tolong berikan kebahagiaan kepadaku ya..! jika nanti aku masih juga tidak bahagia, tolong pikirkan cara lain agar aku bahagia ya... ! ” ima curhat lagi didalam hatinya.


Sang ibu pun tidak menginterogasi anak perempuan kesayangannya itu lebih jauh lagi dan fokus memeluk yaser yang sedang tertidur pulas.


Ima melirik adik laki – laki kesayangannya itu.


Wajah polos adiknya yang belum mengerti persoalan orang dewasa, dunia anak – anak nya yang masih indah.


Ima tersenyum dan bertekad akan melindungi kebahagiaan semua anggota keluarga yang sangat menyayanginya itu.


“ Istriku, kita langsung pulang kerumah atau mampir ke restoran untuk makan siang ? ” tanya sang ayah yang sedang menyetir mobil dengan serius.


“ Langsung pulang saja suamiku, masakanku jauh lebih enak dan sehat dan yang paling penting kita bisa B.E.R.H.E.M.A.T!! ” jawab sang ibu dengan percaya diri.


Melihat ibunya berkata demikian, ima tidak bisa diam, mulutnya pun gatal ingin mengucapkan sesuatu.


“ Tentu saja masakan ibu enak dan sangat menyehatkan, jika tidak mana mungkin aku bertahan selama 20 tahun dibawah didikan militer ibu.. belum lagi pantatku yang malang, selalu jadi sasaran ibu selama ini bukan ? ” ucap ima sambil menggerutu.


“ Apa kamu sebegitu inginnya dipukul ? akan ibu ratakan pantatmu itu jika kamu masih menggerutu. ” jawab sang ibu sambil bercanda.


Sang ayah yang sedang menyetir pun tidak sanggup menahan tawa lebih lama lagi.


Ima dan ibunya hanya terdiam malu dihadapan ayahnya.


Sedangkan yaser yang tertidur pulas tidak tahu apa – apa hingga mereka sampai dirumah.


“ *s*ungguh keluarga yang harmonis, aku akan menjaganya semampuku ! ” gumam sang ayah dalam hati.


Ayah reno sudah berencana untuk resign dan akan mencari pekerjaan baru jika memang anak perempuannya menolak pernikahan itu.


Sesulit apapun ayah reno akan tetap memperjuangkan pendidikan ima dan yaser tanpa harus ada yang dikorbankan.


Tetapi melihat ima yang bahagia, sang ayah pun hanya bisa bersyukur memiliki anak perempuan yang sangat pintar dan pengertian.


” tidak sia – sia istriku mendidik anaknya dengan keras. ” gumam sang ayah dengan pelan sambil meletakkan tangan kanan didadanya pertanda bersyukur.


Setelah itu ayah reno langsung menginjak gas mobil agar melaju lebih cepat dan meluncur menuju rumahnya.


Sesampainya dirumah, ima turun dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk ibunya yang sedang menggendong yaser.

__ADS_1


Sang ayah pergi ke garasi untuk memarkirkan mobil.


Setelah memastikan bahwa mobil sudah terkunci, sang ayah pun segera bergegas kedalam rumah untuk berkumpul dengan keluarganya.


“ kreeekk... “


ima membuka pintu kamar adiknya.


“ Letakkan yaser di tempat tidur bu, aku akan menyiapkan makan siang. ” ucap ima.


Ibunya mengangguk dan menemani yaser yang sedang tertidur.


Setelah menutup pintu kamar, ima segera pergi ke dapur untuk memasak.


Tidak lama kemudian dia mendengar suara langkah kaki ayahnya.


“ Mana ibumu ima ? ” tanya sang ayah sambil duduk disofa.


“ Sedang menemani yaser tidur yah , nanti saat makan siang sudah siap ibu akan turun untuk makan siang bersama kita. ” jawab ima sopan.


Tidak lama kemudian masakan sudah siap, ima pun segera memanggil ibunya.


“ Ibuku tersayang yang paling cantik dirumah ini..!! makan siang sudah siap nyonya besar.. !! mari kita makan siang bersama..!!” teriak ima sambil menggoda ibunya.


Beberapa saat kemudian sang ibu turun dan bergabung dimeja makan.


“ Apakah pantatmu sangat sehat ima ? sehingga sekarang kamu bisa menggoda ibumu ? Hmm ? ” ucap sang ibu sambil melirik ke arah ima.


Ima menghindari tatapan ibunya dan langsung mengambil makanan dimeja.


Sang ibu pun tersenyum melihat anak perempuan kesayangannya menjadi salah tingkah didepannya.


Mereka makan siang bersama dengan bahagia.


...


Malam harinya..


Malam ini ima tidak bisa tidur dengan nyenyak, dia membolak balikkan badannya, kekanan, kekiri, kekanan lagi, kekiri lagi sambil memejamkan matanya berharap bisa segera tertidur.


Tapi badannya berkehendak lain, saat tahu bahwa dia tidak bisa tertidur, ima pun duduk disamping jendela memandangi langit malam yang dihiasi bintang – bintang yang membuat siapapun yang memandang ke langit malam itu menjadi bahagia.


Tapi keindahan langit malam itu tidak membuat ima bahagia, khususnya malam ini.


“ Kenapa suasana langit malam ini ceria sekali, mereka benar – benar tidak mengerti hatiku yang sedang mengalami badai. cuaca cerah tadi pagi, suasana langit yang indah malam ini, apakah cuaca dan bintang juga ingin mencari masalah denganku ? ”gumam ima dalam hati.


Ima menghembuskan nafas pelan, mencoba melepaskan beban berat yang melekat kuat dipunggungnya sejak tadi pagi.


Ima kembali lagi ke tempat tidurnya, mencoba memejamkan matanya sambil berpikir tentang semua kejadian hari ini dan bagaimana cara bertahan dirumah suaminya kelak.


“ Jika bukan karena si bully bermulut tajam itu, tentu hidupku akan sedikit lebih mudah dirumah itu nantinya. aahhh ! otak ku bisa overload jika harus memikirkan banyak hal begini. ” gumam ima dalam hati dengan kesal.


Ima pun berpikir dan berpikir terus untuk menemukan cara menghadapi musuh bebuyutannya dan tanpa sadar dia pun tertidur karena kelelahan berpikir.


....


Keesokan paginya..


Pagi ini, ima sudah bersiap – siap untuk berangkat kuliah.


“ Kacamata ON, make up flek hitam ON..oke! aku siap ke kampus. ” ucap ima sambil berjalan kelantai bawah.


Ayah sudah berada didepan rumah menunggu ima didalam mobil.


“ Bu, aku berangkat dulu ya. ” teriak ima sambil berjalan keluar.


“ Hati – hati dijalan, ingatkan ayah untuk mengemudi dengan aman ! ” pesan sang ibu sambil menyiapkan bekal untuk makan siang yaser disekolah.


Dengan mengangkat tangan ke pelipisnya ( posisi hormat pada bendera negara ), ima membalikkan badannya dan mengucapkan sesuatu kepada ibunya.


“ Siap nyonya halim, dilaksanakan ! ”


Setelah mengatakan hal itu ima segera berlari menuju mobil ayahnya.


Sang ibu hanya tersenyum melihat sikap anak perempuan kesayangannya itu dan bersiap untuk mengantar yaser ke sekolah.


Ima dan ayahnya langsung menuju kampus.


“ ima, besok ayah tidak bisa mengantar kamu kuliah karena ada meeting di pagi hari, jadi ayah akan berangkat lebih pagi. ” ucap sang ayah sambil fokus menyetir mobil.


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2