My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Tak Ada Pilihan Lain


__ADS_3

Netra perempuan itu melebar. Fokus Maura hanya tertuju pada seorang pemuda yang baru saja datang. Perasaannya mendadak tak tenang.


Entah mengapa, semesta seakan mempermainkan dirinya hari ini. Pertemuannya dengan Mizar benar-benar mengembalikan kenangan buruk dalam benak Maura.


Apa harus ia selalu dipertemukan dengan sosok yang dibenci?


Ingin rasanya ia segera menghilang dari tempat ini sekarang juga. Pikiran perempuan itu tak sanggup menerima peristiwa yang terjadi begitu saja. Semua ini begitu tiba-tiba.


Maura bahkan tak sanggup menangkap suara Rendra yang mendadak terdengar sangat jauh. Hingga lelaki itu melambaikan tangan di depan helm Maura untuk menarik perhatian si perempuan.


"Lo kenapa mendadak aneh gitu? Ngerasa nggak enak badan kah?" tanya Rendra hanya dibalas gelengan.


"Ini gue boleh telepon bentar dulu nggak sih?" Maura bertanya pada sang penyelenggara balapan yang kini tampak berkerut heran.


"Nggak bakal lama. Semenit doang. Janji!" imbuh Maura meyakinkan.


"Oke deh. Jangan lama-lama ya!" Rendra menegaskan setelah mengizinkan perempuan itu menelepon seseorang.


"Iya!" Maura menjawab singkat. Lantas menjauh dari area untuk menghubungi Andara.


"Lo kenapa nggak bilang kalau musuhnya Mizar?!" seru perempuan itu begitu sambungan telepon terhubung.


"Hah?" Andara yang tak tahu apa-apa mengapa sahabatnya itu marah-marah di telepon hanya menjawab sekenanya.


"Ck, lo tahu kan kalau lawan lo malam ini Mizar? Anak teknik? Kenapa nggak bilang sebelumnya?"


"Lo kenal?" Andara justru balik bertanya. Tidak memberikan jawaban.


Perempuan itu menghela napas panjang. Barulah Maura menyadari betapa bodoh dirinya. Ya, benar. Andara tak tahu apa pun tentang hubungannya dengan Mizar di masa lalu.


"Sial! Gue nggak mau gantiin lo!" tegas Maura dengan nada kesal.


Di ujung panggilan Andara cepat-cepat memohon pada sang teman.

__ADS_1


"Ra, jangan gitulah plis! Malah makin panjang urusannya kalau lo mundur sekarang!"


"Bodo amat! Gue nggak peduli!" putus Maura sambil mengakhiri panggilan telepon tersebut. Lantas kembali ke area hanya untuk melarikan diri dari sana. Namun, teguran seseorang urung membuatnya melakukan tindakan nekat tersebut.


"Lo yang bakal jadi lawan gue?" Mizar berdiri di depan Maura dengan senyum meremehkan.


Gadis itu balas tersenyum kecut. Tak berniat menunjukkannya di hadapan Mizar. Cowok itu bahkan tak bisa mengenali dirinya yang tersembunyi di balik.


"Nggak jawab, Non? Lo takut apa gimana?"


Sebagai jawaban, Maura menyalakan mesin motor dan menstarter tak lama kemudian. Ia sengaja menarik tuas gas dalam posisi netral hanya demi menimbulkan deru yang meraung. Sebagai bentuk tantangan kepada Mizar.


Ia bahkan tak peduli bahwa sudah sejak lama dirinya tak lagi main kebut-kebutan di jalanan. Maura hanya berambisi untuk memberi cowok itu pelajaran setimpal.


"Oh, lo nantangin gue? Suka nih. Jangan mentang-mentang lo cewek, gue bakal ngalah gitu aja!" ucap cowok itu sebelum kembali ke motornya.


Padahal niat awal Mizar ingin mencari tahu identitas orang yang bakal menjadi lawannya. Siapa yang menyangka jika ia justru mendapat tantangan.


Sudah lama ia tak pernah mendapat lawan setimpal. Sikap si cewek yang tak ia ketahui identitasnya itu, tentu saja membuat Mizar kian tertantang. Diam-diam Mizar berharap cewek itu tak cukup mengecewakan.


Maura sama sekali tak memberikan tanggapan. Cewek itu hanya bisa mengumpat pelan. Ia benar-benar tak bisa lari kali ini.


Tak ada pilihan lain. Maura tak bisa mundur sekarang. Ia sudah terjebak dalam lingkungan yang tak bisa ditinggalkan begitu saja.


Mundur berarti kabur. Dengan begitu Andara bakal dicap pengecut dan dipastikan dia akan menjadi incaran yang lain. Tidak hanya segerombolan anak muda yang saat ini menyesaki area.


Meski kesal karena harus terlibat dalam permainan ini, mana mungkin Maura tega membuat sang kawan berada dalam kesusahan. Maka satu-satunya cara adalah tetap bertahan dan mengakhiri pertandingan ini sampai akhir.


"Sial!" Perempuan itu terus mengumpat dalam gumam. Berusaha untuk tetap fokus ke depan.


Ketika bendara sudah dikibarkan oleh salah satu cewek berpakaian seksi di tengah lintasan, Maura menarik tuas gas lebih dulu dan meninggalkan Mizar di belakang.


Sorakan terdengar kencang sepanjang jalan. Mendukung jagoan masing-masing agar tetap bertahan.

__ADS_1


Maura cukup menarik perhatian. Perempuan itu menjadi obrolan tepat saat ia menarik tuas gas dan memimpin di depan.


Faktanya, apa yang dilihat orang lain justru bertolak belakang dengan apa yang Maura rasakan. Perempuan itu sama sekali tak tenang. Hanya ada satu sosok yang terus ia pikirkan.


Mizar. Sosok pemuda itu begitu menganggu hingga membuat Maura cukup kesusahan. Apalagi saat Mizar berhasil memangkas jarak di antara mereka.


Maura kian kuwalahan. Sekalipun ia berusaha tetap tenang. Sebisa mungkin Maura tak ingin memikirkan Mizar dan hanya fokus ke depan.


Apa yang Maura harapkan? Bisa mengalahkan cowok itu begitu saja? Tentu saja itu masih begitu awal. Setelah sekian lama tak turun ke jalanan, tentu performanya berkurang. Bagaimana mungkin Maura bisa menang dari orang yang hobi kebut-kebutan di jalanan.


Meski begitu, Maura tetap tak kehabisan akal. Ia menggunakan trik yang dulu sering kali digunakan. Sekalipun sebagian besar sudah menguap dari ingatan.


Setidaknya dengan menjaga jarak aman ia masih bisa memimpin di depan. Itulah yang berusaha ia lakukan sekarang.


"Lo nggak bakal semudah itu gue biarin menang, Nona!" seruan Mizar di antara deruan angin yang mendesau.


"Sial!" Maura memaki ketika Mizar berhasil melampaui gadis itu.


Bahkan Maura bisa yakin, pemuda itu sedang jumawa karena berhasil mendahuluinya.


"Heh, lo pikir bisa menang?" Maura kian tertantang.


Sudah lama ia tak merasakan atmosfer persaingan yang ketat. Dan, Maura akan menuntaskan malam ini. Setidaknya ia harus mengalahkan Mizar dan membuat malu cowok itu.


"Lo harus fokus, Ra!"


Gadis itu melonggarkan cengkraman tangan dari tuas gas yang sebelumnya ia tekan cukup kencang. Hal itu membuat tangannya yang belum terbiasa terasa kram. Tapi kini ia merasa lebih baik dan mulai terbiasa menguasai keadaan.


Setelah menggerakkan jari-jari tangan, Maura kembali menekan tuas gas dan menambah kecepatan. Ia hampir mengejar ekor motor Mizar ketika tiba-tiba sebuah motor lain menyalip dari sebelah kanan. Jaraknya cukup dekat hingga menjadikan Maura terpaksa melambatkan laju kendaraan.


Kalau saja gadis itu tak mengenali si pengendara, tentu Maura akan mengumpatnya. Padahal sedikit lagi, ia berhasil mengejar Mizar.


Sayangnya ia tahu betul siapa pengendara motor yang kini berdiri menjulang di hadapannya.

__ADS_1


"Siapa yang kasih izin kamu buat balapan?" Pertanyaan singkat itu cukup membuat Maura diam di tempat.


__ADS_2