My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Lelaki di Tepi Jalan


__ADS_3

Panggilan telepon dari sang kakak sulung menyadarkan Maura sudah berapa lama ia berada di apartemen Andara. Perempuan itu berseru ketika melirik jam di ruang tengah apartemen Andara yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.


"Gila, cepet banget udah malam!" Maura berseru sambil menatap layar ponsel yang menampilkan nama sang kakak.


Ia mengatur napas. Menarik lalu mengembuskannya perlahan. Barulah perempuan itu menggeser tombol hijau di layar ponsel.


"Ya, Bang," sapa Maura dengan suara pelan. Membuat Andara yang berada di samping perempuan itu tertawan tertahan.


Memang apa yang sudah mereka lakukan hingga membuat Maura begitu ketakutan?


"Di mana aja, Dek? Ini udah jam berapa?" Suara Abigail terdengar dari ujung panggilan.


"Di apart Andara, Bang. Tadi abis jalan, nonton, terus ngerjain tugas di apartemen Andara. Nggak tahu kalau udah jam segini aja. Hehe ...." Maura berdalih dan mengakhirinya dengan terkekeh.


Ia tak sepenuhnya berbohong. Kecuali tentu saja bagian mengerjakan tugas sampai lupa waktu.


Bagian itu jelas hanya karangan. Yang ada, kedua perempuan itu asyik mengobrol hingga melupakan segalanya. Mana ada mengerjakan tugas yang menjadi alasan? Maura hanya mencoba lepas dari hukuman.


"Yakin sama Andara? Bukan sama Sagara?" tanya Abigail dari ujung telepon dengan nada curiga.


"Kenapa tiba-tiba jadi Sagara? Ara nggak ada jalan sama cowok itu kok, Bang."


"Kali aja. Tadi Bang Noah sempat ketemu Sagara di kampus. Jadi Bang Agil pikir kamu keluar sama dia. Bang Noah juga nggak tahu kamu ke mana. Bahkan jam segini masih belum pulang."


Maura menelan saliva begitu mendengar ucapan sang kakak sulung. Setelah diingat-ingat, ia memang tidak izin kepada kedua kakaknya itu jika bakal pulang terlambat hari ini. Maura hanya mengirimkan pesan pada sang papa setelah ia pulang dari pemakaman siang tadi. Sedangkan sang papa harus keluar kota dan dapat dipastikan baru pulang besok malam.


Perempuan itu menepuk keningnya masih dengan ponsel menempel di telinga kanan. Bisa-bisanya ia melupakan hal penting ini begitu saja. Pantas Abigail sampai mencarinya.


"Sorry, Bang. Tadi Ara lupa ngabarin Abang dan cuma kasih tahu Papa, doang." Suara Maura benar-benar menyesal, meskipun wajah perempuan itu terlihat datar.


Andara yang memperhatikan ekspresi wajah sahabatnya hanya mendengus geli. Perempuan yang duduk di depannya itu paling pandai berakting.


"Alesan kamu tuh. Ya udah pulang sekarang. Apa perlu Bang Agil jemput?"


"Nggak usah, Bang. Kan Ara juga bawa mobil."


"Ya udah, pulang sekarang. Jangan banyak alesan!"

__ADS_1


"Iya." Maura menjawab singkat sebelum mengakhiri panggilan. Sedangkan Andara sudah siap dengan berbagai macam sindiran.


"Enak ya, jadi sang putri. Ke mana-mana ada yang khawatirin. Satu raja, satu putra mahkota, dan juga satu pangeran. Bahkan langsung dijemput sang raja begitu ketahuan kabur dari rumah." Ucapan Andara cukup tajam, tapi Maura hanya tertawa sebagai tanggapan.


Ia sudah kebal. Lagian Andara mengucapkan kalimat tersebut bukan tanpa alasan. Sejak SMA perempuan itu sudah terbiasa hidup sendirian. Kedua orang tuanya berpisah saat Andara masih SMP. Memasuki masa SMA mama dan papanya memutuskan untuk menikah lagi dan hidup dengan keluarga masing-masing.


Dengan alasan tak mau menjadi pengganggu, Andara memilih tinggal sendirian. Tak masalah katanya. Yang penting uang kiriman dari sang mama ataupun papa tetap lancar mengalir.


"Lo bisa punya sodara kayak gue sama Bang Agil kalau mau. Tapi syaratnya cuma satu, lo harus nikah sama Bang Noah." Maura memberikan tawaran.


Andara mendecih. Perempuan itu melirik Maura dengan sebal.


"Cih, nggaklah. Sadar diri gue. Si Asdos yang jadi kebanggaan semua orang, gimana bisa menjatuhkan pilihan ke cewek kayak gue. Ketimbang sakit hati ditolak, mending sakit hati gara-gara sadar diri," keluh Andara dibalas jitakan di kepala gadis itu.


"Dahlah, pulang dulu gue. Sebelum Bang Agil beneran jemput gue ke sini," pamit Maura sambil membereskan barang-barangnya.


"Iya, hati-hati lo di jalan. Udah jam sepuluh lebih ini. Lewat jalan besar aja biar rame. Nggak perlu lewat jalan pintas." Andara memberikan petuah yang hanya dibalas sekadarnya saja oleh Maura. Secepat yang ia bisa perempuan itu segera pergi dari sana.


Sebelum malam semakin tua dan sang kakak makin khawatir dengan keberadaannya.


***


Bahkan, semakin ia jauh berjalan kawasan tersebut semakin jarang dilewati kendaraan. Tidak hanya itu, perumahan pun semakin jarang dan satu atau dua rumah di kawasan perkampungan tersebut.


Maura sendiri bahkan heran, di Jakarta yang penuh sesak dengan bangunan dan manusia ini, bagaimana bisa masih ada lahan kosong yang cukup luas?


"Ck, apa gue balik aja ya?" gumam Maura pada dirinya sendiri.


Ia mulai melambatkan mobil dan bersiap berbalik arah sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Namun, sebelum benar-benar menghentikan mobil, netra perempuan itu menangkap sebuah motor yang terparkir di tepi jalan.


Tak ada pemiliknya. Hanya ada motor tanpa pengendara yang tertangkap oleh netra Maura.


Perempuan itu nekat mendekat ke arah motor yang berada beberapa meter di depan sana. Benaknya mulai dipenuhi pikiran buruk.


"Apa mungkin perampokan?" bisik perempuan itu dengan suara pelan.


"Mana mungkin. Kalau rampok, pasti motornya nggak bakal ditinggal!" Maura menyangkal pikirannya sendiri.

__ADS_1


Lagian begal mana yang bakal meninggalkan CBR 250cc itu di tepi jalan?


Maura tersenyum sinis memikirkan kekonyolannya. Hingga mobil yang ia kendarai semakin mendekati objek yang menarik perhatiannya sejak awal.


"Astaga!"


Ia berseru lantang saat menyadari ada seseorang tergeletak di tengah jalan. Beruntung perempuan itu berhasil menginjak tuas rem tepat pada waktunya.


Maura tak bisa membayangkan, apa yang bakal terjadi jika dirinya terlambat menyadari bahwa ada seseorang yang terkapar di tengah jalan.


"Apa dia mati?" tanya Maura pada dirinya sendiri. Namun, tentu saja perempuan itu tak menemukan jawabannya.


Ia mulai panik. Di satu sisi bimbang dengan apa yang harus dilakukan.


"Bagaimana kalau ternyata cuma jebakan?" bisik gadis itu.


Pikiran Maura semakin penuh sesak dengan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Korban tabrak lari, pembunuhan, atau mungkin jenis kejahatan lain yang sengaja dilakukan. Namun, dari sekian banyak kemungkinan yang Maura pikirkan, tetap saja kemungkinan terakhirlah yang ia takutkan.


Maura benar-benar tak yakin harus berbuat apa sekarang ketika benaknya dipenuhi oleh kecurigaan bahwa semua ini hanya tipuan. Modus baru untuk menjerat para korban.


Pandangan Maura kian tajam. Ia sama sekali tak mengalihkan fokus dari seonggok tubuh yang tergeletak di tengah jalan. Perempuan itu makin bimbang.


Hingga entah apa yang ia pikirkan, perempuan itu menepikan mobil dan tergesa keluar. Memburu si korban yang tak bergerak sejak pertama kali ia melihatnya. Mungkin, perempuan itu didorong rasa bersalah jika kemungkinan yang dipikirkan tak seburuk tentang apa yang terjadi sebenarnya.


Maura berjongkok tak jauh dari badan korban. Perempuan itu menepuk pundak si korban untuk memastikan apakah dalam keadaan pingsan atau sadar.


"Mas, Mas. Bangun, Mas." Panggilan Maura tak mendapat jawaban.


Perempuan itu berdiri. Melihat ke sekitar apakah ada orang yang bisa dimintai bantuan.


Nihil. Kawasan ini benar-benar sepi dan seakan tak berpenghuni.


Terpaksa perempuan itu berjongkok sekali lagi dan meneliti badan korban. Tak ada luka yang cukup serius. Kemungkinan bukan korban kecelakaan.


Dengan begitu, Maura lebih berusaha sekuat tenaga untuk membalikkan posisi korban yang tertelungkup di atas jalan.


"Astaga, Mizar!"

__ADS_1


Betapa kagetnya Maura saat mendapati wajah Mizar yang penuh lebam.


__ADS_2