
Netra perempuan itu masih tak percaya dengan apa yang ia saksikan sekarang. Tubuh Mizar benar-benar memprihatinkan.
Lebam terlihat di sekujur tubuhnya dengan darah yang masih basah dan hampir mengering di beberapa bagian. Terutama di ujung bibir dan pelipis lelaki itu.
"Apa yang terjadi?"
Di saat seperti ini, Maura berharap pertanyaannya mendapatkan jawaban. Ia berharap sosok yang selalu berhasil membuatnya naik pitam itu memberikan jawaban yang diharapkan. Dengan begitu Maura tahu bahwa Mizar dalam keadaan baik-baik saja meski tubuhnya terluka.
Sayangnya, harapan itu tinggal menjadi harapan sebab tubuh Mizar sama sekali tak bergerak. Bahkan bibirnya tampak pucat dan seluruh badan lelaki itu terasa dingin di ujung tangan Maura. Hanya embusan napas yang begitu pelan yang menandakan bahwa lelaki itu masih bernyawa.
"Gue mesti gimana?" bisik Maura seorang diri.
Perempuan itu diliputi perasaan panik. Sekalipun ia menaruh dendam pada Mizar, tetap saja dirinya tak bisa membiarkan lelaki itu sekarat di tengah jalan. Maura tak setega itu untuk membiarkan orang yang masih bernapas tak segera mendapatkan pertolongan.
Maura masih berusaha meminta pertolongan. Perempuan itu sesekali berdiri hanya untuk mengecek keadaan sekitar. Sialnya tak ada kendaraan yang melewati kawasan ini sama sekali.
"Ponsel!"
Dengan panik, Maura meraba tubuh Mizar untuk mencari keberadaan ponsel milik pemuda itu. Harusnya ada seseorang yang bisa dimintai pertolongan. Sky, Arlan, atau siapa pun itu di antara teman-teman Mizar.
Namun, sepertinya dewi keberuntungan sedang tak berpihak pada Maura malam ini. Ponsel lelaki itu mati. Sekalipun Maura berusaha menyalakannya, hasilnya tetap saja sia-sia. Mungkin kehabisan daya.
"Ayo berpikir, Ra. Berpikir. Jangan panik!" Maura berusaha menenangkan dirinya sendiri, tapi hal itu justru membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Ia mondar-mandir di dekat tubuh Mizar terbaring sambil menggigit ujung kuku. Wajah Maura benar-benar terlihat buruk. Bahkan rambut gadis itu mulai acak-acakan karena terlalu sering dicengkeram.
"Bodoh, kenapa nggak kepikiran dari tadi!"
Maura segera berlari ke arah mobilnya dan merampas ponsel di atas dasbor dengan panik. Tangannya gemetar saat menelepon sederet nomor.
***
Kelima pemuda itu berlarian di sepanjang lorong rumah sakit. Wajah mereka panik. Langkahnya pun tergesa.
Beberapa saat lalu, ponsel Sky berdering. Memunculkan sebuah nama yang bahkan tak pernah ia pikirkan bakal menghubunginya setelah sekian lama.
Pemuda itu bahkan sempat-sempatnya menggoda si penelepon sebelum akhirnya gadis itu memberikan kabar yang cukup mengejutkan.
"Mizar dilarikan ke rumah sakit. Gue lagi di ambulan bawa dia."
__ADS_1
Suara Maura terdengar bergetar ketika mengucapkan kalimat itu. Bahkan susunan kalimat yang diucapkan perempuan itu saat memberikan kabar tersebut, terdengar tak runtut. Jelas jika teman SMA-nya itu tak bermaksud bercanda apalagi berbohong.
Lebih dari itu, Maura pasti diliputi perasaan panik. Memang separah apa luka yang diterima Mizar hingga membuat cewek berhati dingin seperti Maura sampai dibuat panik?
"Apa yang terjadi?"
"Gue nggak tahu. Dia tergeletak gitu aja di Jalan Cakrawala. Motor sama mobil gue masih di sana."
"Oke, gue ngerti. Lo temenin Mizar dulu. Biar gue sama yang lain yang urus sisanya. Gue bakal minta bantuan Bang Noah. Nggak papa kan?"
"Iya."
Perbincangan itu terputus begitu saja setelah Maura memberikan jawaban. Tanpa membuang waktu, Sky langsung mengabarkan pada yang lain untuk segera membereskan persoalan tersebut.
Barulah setelah urusan motor dan mobil Maura rampung, mereka bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi temannya itu.
"Mizar Sirius Rigel, dia dirawat di ruang mana, Mbak?" tanya pemuda itu panik kepada seorang penjaga di bagian layanan informasi.
"Sebentar ya, Mas."
Dengan cekatan sang resepsionis mencari Mizar dari bank data milik rumah sakit. Lantas mengarahkan Sky untuk ke ruang gawat darurat. Kelima pemuda itu langsung pergi dari sana setelah mengucapkan terima kasih.
"Itu, Ara!" tunjuk Arlan pada seorang perempuan yang terlihat lesu di kursi tunggu depan ruangan gawat darurat.
Tangannya masih terlihat gemetar. Ia bahkan hanya menjawab seperlunya ketika orang-orang berseragam putih itu menanyakan apa yang terjadi pada si pemuda.
Maura tak sanggup menjelaskan selain memberikan jawaban tidak tahu. Sebab ia memang benar-benar tak tahu apa yang telah terjadi pada cowok itu.
Sesekali, Maura melirik ponsel yang masih berada dalam genggaman. Masih tak ada pesan ataupun panggilan setelah ia menghubungi Sky - untuk pertama kali setelah sekian lama. Entah apa yang ingin dipastikan.
Maura bahkan tak menyadari sama sekali jika orang yang sedang dipikirkan, kini sedang mendekatinya dengan langkah tergesa.
"Ara!" panggilan seseorang membuat Maura menoleh ke sumber suara.
Perempuan itu tampak terkejut. Lalu menipiskan bibir begitu menyadari Sky dan yang lain baru saja datang.
"Gimana kondisi, Mizar?" Sky bertanya mewakili yang lain.
"Belum tahu. Dokter lagi melakukan pemeriksaan. Luka yang kelihatan udah ditangani, tapi masih belum ada hasil laporan tentang kondisinya sekarang."
__ADS_1
"Berengsek, ini pasti ulah Sagara!" dengus Raka menahan kesal. Cowok itu terlihat menyesal.
Sementara Maura bereaksi lain ketika mendengar umpatan teman sekelasnya di mata kuliah yang diajarkan oleh Noah itu.
"Sagara? Apa hubungannya Mizar sama cowok itu?" Maura bertanya dengan kening berkerut. Ia benar-benar tak pernah tahu jika kedua cowok itu saling kenal.
"Panjang kalau diceritakan. Tapi yang jelas, malam ini Mizar ketemu Sagara. Bisa jadi memang cowok itu yang melakukan hal ini pada Mizar."
Tangan Maura mengepal. Ia memang tahu jika Sagara memiliki sisi yang tak pernah bisa dipahami. Namun, Maura tak pernah menyangka jika cowok itu tega melakukan hal seperti apa yang dilakukan terhadap Mizar.
Dilihat dari luka yang dialami Mizar pun, tidak mungkin jika mereka saling baku hantam. Ketimbang begitu, lebih masuk akal jika Mizar dikeroyok bersamaan.
"Kalian udah memastikan hal ini ke Sagara?"
"Nanti kami urus. Oh ya, lo gimana? Masih mau di sini?" Sky terlihat khawatir saat menyadari keadaan perempuan itu.
"Gue ... kayaknya nggak bisa lama-lama di sini," ucap perempuan itu dengan suara rendah.
Sky dan Arlan bisa mengerti. Pasti kejadian di masa lalu masih membekas dalam ingatan perempuan itu dan membuat keadaannya tampak buruk sekarang.
"Nggak papa, lo pulang aja. Biar kami yang urus setelah ini." Arlan menepuk pundak Maura.
Gadis itu menipiskan bibir. "Makasih, ya."
"Kami yang harusnya makasih sama lo, Ra. Makasih karena lo masih bisa peduli sama Mizar dalam kondisi kayak gini," ucap Sky dengan tulus.
"Gue masih punya hati kok. Mana mungkin bakal ninggalin orang sekarat gitu aja di tengah jalan."
"Iya, gue ngerti. Makasih sekali lagi ya, Ra."
Maura hanya mengangguk sebagai jawaban. Sungguh ia tak bisa berada di tempat ini lebih lama lagi.
Benar, rumah sakit selalu membangkitkan kenangan yang menyakitkan. Oleh sebab itu, Maura tak ingin berada di tempat ini lagi. Tempat yang membuatnya hampir menjadi gila.
"Perlu gue anter ke depan?" Arlan menawarkan bantuan.
"Nggak perlu. Gue bisa sendiri."
"Oke, hati-hati, Ra. Oh ya, Bang Agil yang tadi ambil mobil lo. Dia pasti udah di depan sekarang."
__ADS_1
"Thanks, Sky. Lan, gue duluan."
Setelah berpamitan Maura meninggalkan ruangan yang membuat hatinya begitu redam. Sebentar saja, air mata rebas membasahi pipinya.