My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Thank You, Ara


__ADS_3

"Ra, tungguin elah! Cepet banget jalan lo! Mizar udah nggak ada ngejar!" seruan Andara melambatkan langkah kaki Maura yang tergesa menuju tempat parkir.


Perempuan itu menoleh. Ia tampak mengembuskan napas lega begitu tak melihat Mizar di belakang mereka.


Begitu juga dengan Andara yang tiba-tiba terseret dalam permasalahan mereka. Tak bisa dimungkiri, gadis itu sedikit was-was ketika berhadapan dengan Mizar. Sekalipun Andara dikenal kelaki-lakian alias tomboy dan tak takut menghadapi preman kampus mana pun.


Beda kasus dengan Mizar. Biar bagaimanapun cowok itu bukanlah tandingannya. Hanya dengan tatapan matanya saja, sudah membuat Andara takut setengah mati.


Apalagi jika cowok itu benar-benar melaporkannya pada Joshua - sang presiden BEM yang dikenal kejam sekaligus tak punya hati itu. Bisa mampus Andara hanya dengan membayangkannya saja.


"Sumpah ya, gue nggak mau lagi punya urusan sama tuh cowok. Denger ini baik-baik, Ra. Gue nggak peduli lo teman baik gue, tapi kalau udah urusan sama Mizar, tolong jangan libatkan gue!" ucap Andara sambil membuka pintu mobil. Diikuti Maura dari sisi sebelah kiri.


Begitu Maura berencana mampir ke apartemennya setelah pulang kuliah sekaligus mengatakan bahwa dirinya tak membawa mobil, Andara berinisiatif berganti kendaraan. Setidaknya dengan membawa mobil, akan memudahkan mobilisasi mereka seperti sekarang.


"Sorry, gue nggak bermaksud ngelibatin lo, Dar." Maura tampak menyesal. Meski begitu ia tak bisa berbuat apa pun untuk membantu temannya itu.


Jangankan membantu Andara, membantu dirinya sendiri untuk menghadapi Mizar saja, Maura tak mampu.


Huft! Perempuan itu mengembuskan napas lelah. Rencananya kabur ke apartemen Andara selain untuk mengerjakan tugas, juga untuk menghilang sesak yang menghimpit dada. Namun, hal itu justru menjadikan beban.


Mizar memang sialan! Maura mengumpat akibat kesal.


"Tapi Ra, lo yakin hubungan lo sama Mizar cuma sebatas ini?  Nggak ada sesuatu gitu di antara kalian?"


Maura menyerongkan badannya hingga setengah berhadapan dengan Andara. Kening perempuan itu berkerut. Ia tak memahami apa yang diucapkan perempuan itu.


Lebih tepatnya, Maura tak memahami ke arah mana pembicaraan mereka. Lagipula apa yang dipikirkan Andara hingga muncul pengakuan seperti itu?


"Gue ngak ngerti. Emang lo pikir hubungan kami kayak gimana?"


Andara terlihat ragu-ragu. Namun, tak kuasa menahan dirinya terlalu lama. Sikap Mizar memperlakukan Maura sama sekali terlihat berbeda. Itulah mengapa ia nekat mengatakan hal ini pada temannya itu. Bahwa ada kemungkinan bahwa Mizar menyukai perempuan itu.


"Gila! Mana ada kayak gitu? Dari dulu yang dia deketin itu Raisa. Kenapa jadi gue?"


Kini fokus Andara sepenuhnya tertuju pada Maura. Perempuan itu berusaha memberikan pemahaman pada sang teman.


"Lo yakin kedekatan mereka kayak orang lagi PDKT? Maksud gue, apa perlakuan Mizar ke Raisa sama kayak perlakuan dia ke cewek lain?"


Maura tampak memikirkan pertanyaan gadis itu. Membongkar kenangan lama yang selama ini sudah terkubur jauh di kedalaman benaknya yang paling kelam. Hingga ia menyadari fakta yang membuat gadis itu tercengang.


Perempuan itu bahkan kehilangan kalimat yang rumpang dalam ingatannya. Ingin menyangkal hal yang selama ini tak pernah ia pikirkan.


Gara-gara Andara, Maura jadi berpikir ulang dan itu sama sekali membuatnya merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Mungkin memang benar ucapan Andara, sejauh ini Mizar memperlakukan semua cewek yang mendekatinya dengan cara yang sama. Dingin dan tak tersentuh. Bahkan kepada Raisa.


Dan, hal itu baru ia sadari dari pengakuan Andara. Baru saja.


Mana ada orang yang PDKT, tapi tidak menunjukkan kesan PDKT sama sekali? Apa itu mungkin?


Menurut hemat Maura, Mizar bahkan tak pernah sekalipun bersikap manis kepada Raisa. Bahkan jika boleh jujur, Mizar justru sering kali menunjukkan sisi-sisi absurd-nya di hadapan Maura. Ya, di depan dirinya, Mizar bisa menjadi apa pun yang tak pernah ditunjukkan kepada orang lain.


'Apa ini sebenarnya?' gumam Maura dalam hati.


Perempuan itu seperti tertampar sebuah fakta. Kalau saja Andara tak mengatakannya mungkin ia selamanya akan menutup mata. Terlebih dengan dendam yang selama ini memenjarakan dirinya.


"Ra, lo baik-baik?" Pertanyaan Andara membuyarkan lamunan perempuan itu.


Maura tak banyak kata. Ia hanya bergumam untuk menandakan bahwa dirinya sedang tak baik-baik saja. Namun, hal itu cukup bagi Andara untuk memberikan ruang kepada temannya.


***


Perempuan itu masih diliputi perasaan aneh ketika sampai di apartemen Andara. Ia bahkan tak banyak berkomentar ketika temannya itu menawarkan untuk pesan antar. Maura hanya menjawab seperlunya dan memasrahkan menu makan siang mereka kepada Andara.


Lama berselang hingga Maura kembali tenggelam dalam lamunan.


Mengingat masa-masa putih abu-abu yang sering kali ia lewatkan bersama Mizar. Lebih tepatnya bagaimana cara lelaki itu untuk selalu membuat Maura kesal dengan segala perilakunya.


"Ra, satu lawan satu yuk! Yang kalah traktir kopi."


"Males." Seperti biasa juga, Maura selalu bersikap antipati kepada pemuda itu.


"Itung-itung pemanasan, Ra. Ya, ya, ya," rengek Mizar memperlihatkan sisi bocahnya.


Hal yang tak pernah Mizar tunjukkan, sebab ia selalu dikenal sebagai gunung es berjalan di kalangan para murid Bina Nusantara.


"Main aja sendiri!"


Maura masih bersikap tak acuh. Lantas meraih bola basketnya dan bermain di sisi lapangan yang lain. Meninggalkan Mizar yang bergeming di tempatnya.


"Mana seru. Ayolah, Ra. Kalau kamu menang, aku bakal traktir apa pun yang kamu."


Perempuan itu tiba-tiba tersentak oleh ingatannya sendiri. Menyadari fakta yang selama ini luput dari perhatiannya. Mizar sejak awal tak pernah menggunakan istilah 'lo-gue' pada cewek itu.


Kepada Raisa pun, Mizar selalu menggunakan istilah 'gue-elo', sama seperti yang ia lakukan pada cewek lain. Apa sebagai gebetan hal itu wajar? Bukannya di depan gebetan selalu ingin menunjukkan sisi dirinya yang terbaik?


"Serius amat, Non. Lo lagi mikirin apa sih?"

__ADS_1


"Heh?" Maura menoleh akibat terlalu terkejut dengan pertanyaan Andara.


"Lo mikirin apa? Masih butuh waktu sendiri?" Andara mengulang pertanyaan. Menatap Maura yang terlihat makin memprihatinkan.


"Oh, nggak ada."


"Buset, apanya yang nggak ada, Non? Gue tanya apa sih barusan? Nggak nyambung banget deh kayaknya."


Terpaksa, Maura menipiskan bibir. Ia hanya sedang berusaha menyangkal kemungkinan-kemungkinan yang sedang dipikirkan.


Pernyataan Andara selama di mobil, tak ayal membuat perempuan itu merasa kacau. Menerbitkan pemikiran-pemikiran konyol yang tak sanggup ia terjemahkan.


Hal yang paling mendasar, Mizar adalah orang yang sudah membuat Raisa meninggal. Apalagi yang perlu diragukan soal itu? Tak ada.


Lantas mengapa ia sekarang terganggu dengan pernyataan Andara dan memikirkan sampai begininya?


Maura mendengus kesal. Perhatian perempuan itu teralihkan ketika bel apartemen Andara ditekan dari luar.


"Ra, boleh minta tolong bukain? Gue lagi di kamar mandi nih!" seruan gadis itu membawa Maura kembali pada kenyataan. Ia bahkan tak menyadari jika Andara sudah berpindah tempat.


"Iya!" Ia menjawab malas.


Dengan setengah hati, Maura berjalan ke depan dan membuka pintu apartemen Andara. Bukannya kurir, Maura justru mendapati Mizar dengan seorang pemuda yang lain.


Refleks gadis itu hendak menutup kembali pintu di depannya. Namun, Mizar lebih dulu berhasil menahannya.


"Aku beneran bakal sebentar." Mizar memohon kesempatan.


"Gimana Ra, udah?"


Pertanyaan Andara yang tiba-tiba membuat Maura lengah. Kesempatan itu digunakan oleh teman Mizar untuk masuk ke dalam apartemen dengan paksa. Diikuti oleh Mizar yang terlihat canggung.


"Lo ngapain di sini?" Seruan Andara pula yang membuat Maura tersadar atas keberadaan dua orang pemuda yang muncul tiba-tiba.


"Gue nganterin dia doang." Cowok itu memberikan tanggapan sambil duduk di salah satu sofa. Lantas menunjuk dengan dagu ke arah Mizar.


"Hai," sapa Mizar sebatas basa-basi. Sepenuhnya atensi pemuda itu tertuju kepada Maura.


Sementara Maura benar-benar terpaku di tempatnya sekarang. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Tubuhnya seakan beku. Bahkan ketika Mizar meminta perempuan itu untuk berhadapan dengannya.


"Aku beneran cuma butuh waktu kamu sebentar aja, Ra. Nggak sampai lima menit. Ah nggak, bahkan nggak sampai tiga menit.


Aku ke sini cuma mau bilang makasih. Karena kamu udah bawa aku ke rumah sakit semalam."

__ADS_1


"Thank you, Ra." Ulang Mizar sekali lagi.


Ucapan Mizar tak begitu panjang. Bahkan cukup singkat. Namun, justru itu yang berhasil memporak-porandakan pertahanan Maura.


__ADS_2