
Perempuan itu mendengus kesal. Ia baru saja mencuci muka dan mengganti baju dengan pakaian yang lebih nyaman. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah, tapi kemunculan sang papa menyita perhatiannya.
"Kita masih bisa ngobrol sebentar kan?" ucap pria paruh baya itu sambil bersandar di bingkai pintu kamar sang anak gadis semata wayang.
"Iya." Maura menjawab singkat. Urung merebahkan badannya yang hampir terbaring di atas tempat tidur.
Sementara Barata menatap sang anak dengan wajah teduh. Sorot mata pria itu terlihat sangat hangat, hingga membuat Maura melupakan kekesalannya. Perempuan itu langsung mendekap tubuh sang ayah begitu Barata duduk di tepi tempat tidur.
Mereka tak banyak bicara. Sengaja memberikan ruang di antara mereka untuk sama-sama menetralkan kekesalan masing-masing. Dengan cara berpelukan.
Tak bisa dimungkiri, Barata memang kecewa dengan sikap sang anak yang sudah melanggar perjanjian di antara mereka. Lebih dari dua tahun yang lalu.
Meski begitu, Barata bisa memahami jika Maura pasti memiliki alasannya sendiri, mengapa sang anak gadis sampai mengambil keputusan untuk melanggar perjanjian di antara mereka. Pria itu mau mendengarkan. Tak akan langsung mengambil kesimpulan dan menyalahkan sang anak tanpa mau mendengarkan lebih dulu alasan Maura.
Sedangkan, Maura kesal dengan sikap sang papa yang tiba-tiba mengajak Mizar untuk bertemu meski hari sudah menjelang tengah malam. Setelah mengacau pertandingan yang seharusnya ia tuntaskan, pria paruh baya itu justru melakukan hal yang sama sekali tak terpikirkan.
"Ara minta maaf, Pa," ucap perempuan itu masih dalam dekapan sang papa.
Barata mengukir senyum. Terlihat begitu hangat dan sabar.
"Apa yang bikin Ara melanggar janji yang udah kita sepakati?" Barata bertanya tanpa meninggikan suaranya.
"Andara yang seharusnya punya janji. Tapi dia tiba-tiba sakit perut dan minta Ara buat gantiin dia." Gadis itu memberikan penjelasan. Ia sudah menguraikan pelukan sang ayah dan kini saling bertatapan.
"Kenapa Ara mau gantiin Andara? Ara kan harusnya tahu konsekuensi dari perbuatan kamu?"
Perempuan itu menghela napas panjang.
"Awalnya Ara juga nggak mau kok, Pa. Tapi Ara kasihan sama Andara. Dia juga pasti bakal dapet sanksi kalau nggak muncul di arena. Apalagi ini yang pertama kali." Maura memberikan penjelasan tanpa terlihat kesal sebagaimana pertama kali Barata memasuki kamarnya.
"Hem ... Papa ngerti pengorbanan kamu buat nolongin sesama teman, Ra. Tapi, kamu juga punya aturan yang nggak boleh dilanggar kan? Lain kali, lebih bijak ketika mengambil keputusan ya, Nak?" Barata mengusap kepala sang anak gadis sambil tersenyum hangat.
"Iya, Pa."
"Beneran deh, Papa nggak keberatan siapa pun itu ikutan balap liar atau semacamnya. Papa juga nggak keberatan kalau kamu berteman sama mereka.
Bukan berarti Papa ngedukung perbuatan ilegal itu juga. Tapi Papa bisa ngerti kalau itu gejolak masa muda.
Cuma ...."
__ADS_1
"Papa nggak mau kalau sampai anak-anak Papa, terlibat," sela Maura dengan senyum membingkai wajahnya. Hafal dengan nasihat yang dulu sering kali diberikan sang papa sebelum pria itu mengambil keputusan tegas.
"Nah, tuh kamu nggak lupa. Bisa kan pegang janji kamu lagi?"
Maura mengangguk. Membuat sang papa menepuk pelan pundak anak perempuannya itu.
"Ya udah, sekarang kamu istirahat. Pasti capek banget kan? Maafin Papa ya, udah bikin kamu nggak nyaman. Apalagi maksa kamu buat ketemu sama Mizar."
Sekali lagi, Maura mengangguk singkat. Tak ingin memperpanjang obrolannya dengan Barata. Biarlah ia membicarakan hal itu lain kali dengan sang papa. Hari ini ia hanya ingin segera tidur setelah semua yang dilewati.
"Night, Girl. Have a nice dream."
Barata mencium kening sang anak gadis sebelum keluar dari kamar.
***
Gadis berambut panjang dengan setelan celana jeans putih dipadu kaus oversized hitam di balik jaket kulitnya itu, langsung menyerbu Maura begitu turun dari mobil.
Hari ini, Maura berangkat ke kampus seorang diri. Tak bisa mengandalkan salah satu dari kedua kakaknya.
Noah tak ada kelas pagi dan membuat pemuda itu ingin berangkat lebih siang. Sementara Abigail bahkan sudah berangkat ke kantor sejak pukul lima pagi. Katanya ada persidangan penting yang harus ia hadiri hari ini.
"Andara? Tumben lo berangkat pagi?" Maura justru balik bertanya saat mendapati teman satu kelasnya itu.
"Ck, gue panik bego. Semalem gue langsung tidur begitu minum obat. Baru liat chat lo pagi tadi."
"Lo panik gara-gara mikirin nasib lo atau nasib gue?"
"Ra, serius deh. Lo tanya gitu ke gue?"
Maura memutar bola matanya. Memang salah mengharapkan keajaiban dari Andara. Temannya itu, mana mungkin peduli dengan orang lain selain dirinya sendiri.
"Jadi gimana, aman nggak? Mereka nggak bakal kasih hukuman gue atau semacamnya kan?"
Maura diam. Sengaja tak memberikan jawaban.
"Ara, ih. Jawab dong!" Kan, Andara memang hanya peduli sama dirinya sendiri.
Maura menghela napas panjang. Bisa-bisanya ia berteman dengan manusia ajaib seperti Andara. Mungkin dibandingkan Andara, Mauralah yang lebih ajaib karena bisa tahan berteman dengan perempuan itu.
__ADS_1
"Ck, aman. Mereka bisa ngerti. Dari awal mereka juga bakal paham kalau lo mau bilang. Seenggaknya mereka bisa jadwalkan ulang."
"Lo percaya?"
Maura mengendikkan bahu. Tak acuh dengan pertanyaan Andara.
Bagaimanapun perempuan itu paham dengan dunia yang digeluti oleh sang teman. Maura pernah terlibat di dalamnya dan bisa melihat sendiri bagaimana kejamnya lingkaran tersebut.
Papa mungkin benar dengan satu hal, pergaulan itu terlalu keras bagi Maura yang sebenarnya sangat tak menyukai kekerasan.
Dan, pertanyaan Andara membuat perempuan itu sadar, bahwa sangat sulit untuk percaya jika mereka akan melepaskan keduanya begitu saja.
"Seenggaknya itu yang mereka katakan di depan bokap gue. Jadi, gue rasa lo bakal aman. Kalaupun nggak aman, bokap pasti bisa urus. Kecuali, lo ngelakuin hal yang sama buat kedua kali."
"Sorry, Ra. Gue udah bikin lo repot." Wajah perempuan itu tampak menyesal. Namun, kembali cerah tak lama kemudian.
"Eh, lo seriusan kenal Mizar?" desak Andara tiba-tiba begitu mengingat obrolan mereka tadi malam.
"Nggak!" Maura menjawab singkat. Lantas berjalan lebih cepat. Menghindari Andara yang mengejar di belakangnya.
"Serius? Terus kenapa lo ngamuk-ngamuk semalam?" Perempuan itu masih saja bertanya ketika langkah kaki mereka kembali sejajar.
"Bukan urusan penting."
"Kalau gitu, kenapa Mizar ngikutin kita sekarang?"
"Hah?" Pertanyaan Andara sukses membuat perempuan itu berhenti mendadak.
"Yups. Mizar ngikutin kita dari tadi. Tuh!"
Andara menunjuk seorang pemuda yang tengah berjalan ke arah mereka. Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah saja.
"Hei, Ra. Boleh ngobrol sebentar?" Mizar bertanya dengan suara datar.
Tangan Maura mengepal. Sedangkan Andara seolah tak percaya dengan pendengarannya.
Seorang Mizar Sirius Rigel yang dikenal dingin dan cenderung kejam pada perempuan, bisa menunjukkan sisi lembutnya juga?
Sangat bertolak belakang dengan sang teman yang menatap pemuda itu dengan sorot tajam.
__ADS_1
"Mau apalagi sekarang?!"