My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Suasana Canggung


__ADS_3

Meja makan yang seharusnya hangat, justru diselimuti suasana canggung. Kedua cowok itu terpaksa menuruti kemauan sang tuan rumah yang meminta mereka untuk tetap tinggal. Mizar tak kuasa menolak. Terlebih ketika makanan yang dipesan perempuan itu datang tak lama kemudian.


Bahkan Andara seakan sama sekali tak peduli dengan raut muka Maura yang terlihat keberatan. Mereka sempat berdebat dan keputusan Andara sudah final. Tak bisa terbantahkan.


Cewek itu justru memaksa kedua tamunya untuk tetap tinggal, sementara dirinya sendiri fokus terhadap kedua pemuda yang tampak canggung di kursi masing-masing.


Maura? Perempuan itu memilih menyendiri di depan TV. Tak mau terlibat dengan ketiga orang yang bersitegang di meja makan.


Harusnya, Mizar menghindar saja. Sedikit memaksakan diri untuk mendekati Maura. Namun, perempuan itu seakan sudah memberi jarak sejak Andara tetap mengundang mereka.


"Kenapa lo nggak bilang kalau mau ke sini?" Andara mengawali perbincangan. Mengajukan pertanyaan kepada Jerome.


Andara dan Jerome memang saling kenal. Pemuda itu sempat menceritakan pertemuan keduanya kepada Mizar ketika dalam perjalanan.


Mereka tak sengaja berpapasan di lift suatu malam. Lantas menjadi akrab setelah tahu berkuliah di tempat yang sama. Terlebih mereka tinggal di lantai apartemen yang sama. Kemudian bertukar nomor hanya untuk saling bertukar pesan ala kadarnya.


Jerome juga mengakui, jika hubungan mereka belum sejauh itu hingga membuatnya saling mengunjungi unit apartemen masing-masing. Padahal tak lebih dari enam unit apartemen yang ada di lantai mereka. Namun, Mizar memilih tidak peduli dan tetap memaksa temannya untuk berkunjung ke tempat Andara.


Pemuda itu baru merasakan suasananya ketika mereka duduk bersama. Perempuan itu sedikit terkejut ketika Jerome tiba-tiba muncul di apartemennya dengan membawa seorang teman yang sama sekali tak akrab dengannya.


Tentu saja Andara kaget. Mizar juga pasti melakukan hal yang sama. Parahnya lagi, Jerome bersikap seolah unit apartemen ini seperti rumahnya sendiri.


Meski kemudian merasa canggung dengan perlakuan Andara yang memperlakukannya sebagai tamu. Bukan teman seperti yang seharusnya.


Bahkan, pemuda itu tak sanggup menjawab pertanyaan Andara dengan benar. Mungkin dia menyesali dalam hati, kenapa harus bersikap seenaknya di rumah orang yang baru pertama kali dikunjungi?


"Sorry, lain kali gue konfirmasi dulu sama lo. Dia ... katanya ada yang mau dibicarakan sama lo." Jerome mencari alasan agar dirinya aman.


Andara dan Mizar saling berhadapan.

__ADS_1


"Hah, gue? Bukannya, Ara?!" Jelas perempuan itu terlihat bingung.


Begitu juga dengan Mizar yang tampak gugup. Tiba-tiba saja Jerome mengatakan hal yang seharusnya tidak boleh dikatakan. Apalagi di dekat Maura.


Pemuda itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang seharusnya memang tidak gatal. Ia sengaja melakukan hal itu hanya untuk mengurangi rasa gugup saja.


"Lo ada perlu apa cariin gue dan bukannya, Ara?" Pertanyaan Andara kembali membuat pemuda itu kehilangan kata-kata.


Sepasang mata milik Mizar mengerjap cepat. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. Hingga bibir pemuda itu dengan lancar mengucapkan alasan yang sebelumnya tak terpikirkan.


"Oh, itu. Gue harusnya memang mau ketemu, Ara. Tapi ...." Kalimat Mizar tak rampung. Ia melirik ke arah Maura yang sedang fokus ke arah layar datar di hadapannya.


Meski Mizar tak sepenuhnya yakin, apakah perempuan itu benar-benar menyaksikan siaran TV tersebut.


"Nggak usah peduli sama gue. Anggep aja gue nggak ada," ucap Maura membuat Mizar tersentak.


Ternyata Maura tak benar-benar sedang menonton siaran televisi.


"Nggak perlu cari alesan juga kan? Lagian gue nggak peduli!" Maura memotong ucapan Mizar yang tak rampung.


Lelaki itu menelan saliva dengan susah payah. Ada sesuatu yang tersekat di kerongkongan hingga membuatnya tak sanggup membalas ucapan Maura.


Padahal, meski hanya sebentar, Mizar bisa melihat perubahan raut muka Maura ketika ia mengucapkan terima kasih. Ekspresi wajah yang terlihat lega. Atau mungkin hanya perasaannya saja?


Pada faktanya Maura tetap bersikap dingin kepada pemuda itu. Namun, tak mungkin Mizar keliru menangkap ekspresi wajah itu.


"Sorry, Ra."


Maura tak memberikan tanggapan. Berbeda dengan Andara yang merespon di luar dugaan. Senyuman gadis itu mengembang. Melenyapkan raut muka serius yang sebelumnya membingkai wajahnya.

__ADS_1


Jelas saja, perubahan sikap Andara yang begitu tiba-tiba membuat Mizar semakin bingung. Lantas atensinya teralihkan ketika notifikasi ponselnya berbunyi. Sebuah undangan grup disusul isi percakapan yang cukup panjang. Dari nomor tidak dikenal.


+628213490**** : Gue tahu persoalan lo sama Ara. Sengaja gue atur skenario biar lo sama dia bisa ngobrol santai.


+628213490**** : Gue juga tahu lo nemuin gue buat minta bantuan kan? Gue berubah pikiran. Kali ini, gue bakal bantuin lo. Kalau lo gagal, gue nggak bakal bantuin buat kedua kalinya.


+628213490**** :*Sana gih, ajak dia ngobrol. Gue yakin, sekarang dia nggak bakal bisa nolak*.


+628213490**** : Dia nggak bawa mobil. Jadi dia nggak mungkin kabur. Yakin seratus persen, dia nggak bakal nekat naik kendaraan umum. Hidupnya bakal bergantung sama gue atau nggak sama Bang Noah dan Bang Agil.


+628213490**** : Lo tenang aja, gue udah kirim pesan ke mereka supaya jangan jemput Ara dulu. Ambil kesempatan ini buat ngobrol sama dia.


Jerome: Bilang makasih lo sama gue. Gue sampai harus capek-capek akting demi memperlancar rencana Andara.


Mizar tak sanggup berkata-kata. Pemuda itu hanya menatap ke arah Andara dengan tatapan tulus mengucapkan terima kasih sekalipun tak mengatakan apa-apa.


"Jadi, lo ke sini mau cariin gue atau Ara?" Suara Andara kembali terdengar setelah menyisakan sunyi yang cukup mencekam.


Meski begitu, ia mengedipkan sebelah mata kepada Mizar untuk mengikuti skenarionya.


"Gue mau ketemu lo. Tapi itu ada kaitannya sama Ara. Gue nggak nyangka aja, kalau bakal ketemu Ara di sini. Lagipula gue cuma mau bilang makasih sama dia. Jadi, gue nggak perlu lagi bantuan lo buat bujuk Ara mau ngobrol sama gue."


"Oh, jadi lo mau bilang makasih ke Ara lewat perantara gue? Terus, kenapa nggak langsung bilang aja waktu ketemu di kampus?"


"Kalau Ara kasih kesempatan, gue juga maunya ngomong langsung sama dia. Tapi nggak papa, gue udah sampaikan langsung ke dia."


"Terus mau lo sekarang apa?"


Kali ini, Mizar kembali membulat tekad. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Andara.

__ADS_1


"Gue, cuma mau dia kasih kesempatan buat jelasin yang pernah terjadi di masa lalu. Gue nggak mengelak kalau gue udah berbuat salah. Tapi, ada hal yang perlu gue jelasin sama dia."


"Nggak perlu!" Jawaban itu terucap dari mulut Maura. Singkat dan tegas. Membuat suasana yang sudah mencair di meja makan kembali mencekam.


__ADS_2