
Wajah Mizar tertekuk sebal. Kedua anak muda beda jenis itu tampak begitu akrab berbincang di teras samping rumah sambil menatap ke arah kolam yang masih menyisakan rintik hujan.
Bahkan mereka sama sekali tak menyadari keberadaan Mizar yang dari tadi sengaja berdiri tak jauh dari kolam, hanya untuk menyaksikan keduanya bercengkrama.
Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas raut muka Maura ketika tersenyum di depan Arlan membuat dada Mizar berdenyut nyeri. Kalau saja Maura juga menunjukkan ekspresi wajah serupa ketika bersamanya.
Huft!
Ia mendengus kesal. Bahkan ketika menunggu hujan di gazebo bersama Baruna sore tadi, Maura bisa tertawa begitu lepas. Menjadikan dada pemuda itu semakin bergemuruh dan terhantam rasa pilu.
Bagaimana bisa begitu banyak lelaki yang berkeliaran di sekitar perempuan yang ia sukai? Apa tak cukup Sagara seorang yang sudah berubah menjadi bajingan hanya demi merebut perempuan itu dari tangannya?
'Cih, Sagara memang bajingan dari dulu!' Mizar meralat dalam benaknya. Sebelum memutuskan untuk mendekat ke arah Maura dan Arlan yang masih tampak berbincang.
"Sebagai teman, sampai kapan pun." Ucapan Arlan membuat pemuda itu menatapnya dengan raut curiga.
Apa yang mereka obrolkan sebelumnya hingga Arlan mengucapkan kalimat demikian? Terlebih dengan raut muka tegang dan senyum kikuk yang membingkai wajah Arlan.
Mizar tak bisa menutup mata, jika di masa lalu, Arlan pernah memiliki ketertarikan sebagai lawan jenis kepada Maura. Lebih tepatnya, saat mereka baru saja menginjak bangku SMA.
Sejak awal Arlan sudah mendeklarasikan bahwa Maura adalah gebetannya. Hari saat pertama kali ketiga pemuda yang masih remaja itu memutuskan untuk bergabung dengan ekskul basket.
Ia tak pernah tertarik dengan urusan cewek sebelumnya. Sebelum Mizar benar-benar tahu, siapa Maura yang menjadi incaran Arlan. Atau bahkan sebagian besar para siswa Bina Nusantara.
Lantas ia merasa tak boleh tinggal diam dan mengatakan pada Arlan jika dirinya memiliki ketertarikan yang sama. Namun, Arlan tak mau mengalah apalagi menyerah begitu saja. Ia menggunakan segala cara untuk mendekati Maura. Begitu juga dengan Arlan dengan segala tingkah kocak dan kelicikannya.
Benar, itulah sumber rasa cemburu yang mendorong Mizar bersikap impulsif kemarin. Bahkan bertindak sedikit nekat cenderung bodoh yang bisa berakibat fatal bagi keselamatan mereka. Tapi ia seakan menutup mata hanya karena adegan yang sama sekali tak disengaja.
Apa Arlan juga beranggapan yang sama? Bagaimana jika pemuda itu justru menjadikan momen tersebut sebagai kesempatan?
Itulah pikiran busuk yang sebelumnya tak pernah Mizar ungkapkan. Dan, ketika melihat mereka berbisik-bisik serta memisahkan diri dari kerumunan hanya untuk bicara berdua saja, membuat pikiran busuk itu kembali memengaruhinya.
Siapa yang tak semakin kesal jika menghadapi situasi demikian?
"Thanks ya, Ra. Udah mau dengerin obrolan gue. Kalau gitu, gue masuk ke dalam dulu," ucap Arlan buru-buru pergi begitu Mizar kian mendekati keduanya.
"Titip, Ara," sambungnya kemudian sambil menepuk pundak Mizar ketika mereka berpapasan.
"Ngomong apa lo barusan sama dia?" tanya Mizar sama sekali tak terdengar santai. Meski ia menahan suaranya agar tak sampai terdengar oleh si perempuan.
"Ehm, ngobrolin apa yang harusnya kami obrolin dari dulu?" jawab Arlan terdengar tak yakin dan itu berhasil memancing emosi Mizar yang memang tak mudah terkendali.
Apalagi saat melihat senyum jenaka yang membingkai wajah Arlan. Mizar semakin dipengaruhi oleh pikiran liar.
__ADS_1
'Apa mungkin dia ungkapin perasaannya pada Ara?' bisik pemuda itu dalam benaknya. Timbul perasaan sedikit tak rela. Namun, sebelum Mizar bertanya lebih lanjut, Arlan lebih dulu menghilang.
Jelas saja, pemuda itu tak bisa mengabaikan tangan Mizar yang terkepal. Mana mungkin ia menyerahkan tubuhnya begitu saja hanya untuk menerima pukulan Mizar begitu saja? Tidak, itu tak akan terjadi.
"Kalau lo penasaran, tanya aja sendiri!" ucapan Arlan masih sempat terdengar sebelum ia benar-benar pergi.
Meninggalkan Mizar yang menghadiahinya dengan umpatan kasar.
"Biasa banget ya, ngumpat kasar kayak gitu?" Pertanyaan Maura mengalihkan perhatian.
Pemuda itu menoleh ke arah Maura yang sedang menatapnya.
"Eh?" Mizar bahkan kehilangan kata.
"A-aku ...."
Hening. Tak ada lagi obrolan di antara mereka. Mizar terlalu syok akibat Maura berkomentar tiba-tiba.
"Ada yang mau lo obrolin juga?" tanya Maura disambut gelengan kepala.
"Kalau gitu, lo mau ajak gue pulang? Ah, ya kenapa gue mesti nungguin lo kalau mau pulang? Gue bisa pulang sendiri. Lagian itu kan mobil gue. Kenapa gue mesti ...."
"Ra." Panggilan pemuda itu menghentikan kalimat Maura seketika.
Sejujurnya ia sengaja banyak bicara hanya untuk meredam rasa gugup ketika Mizar tiba-tiba duduk di sampingnya. Cih, padahal Maura begitu membenci cowok itu sebelumnya. Kenapa sekarang pertahanannya bisa melemah begini?!
Maura mencibir dirinya sendiri. Lantas diam-diam menggeser duduknya agar tak terlalu dekat dengan Mizar.
"Kamu nggak usah khawatir. Nggak masalah kalau kamu mau di sini dulu. Nanti aku bakal anterin kamu pulang."
"Atau kamu mau pulang sekarang?"
Maura menggeleng sebagai jawaban. Lantas mengutuk kebodohannya sendiri. Kenapa ia tak menjawab iya saja? Memang apa yang bakal ia lakukan di sini?
Pemuda di sampingnya menahan senyum.
"Oke, kalau gitu kita di sini dulu."
Suasana di antara mereka kembali sunyi. Keduanya seakan sibuk dengan pikiran masing-masing. Lantas sangat kompak ketika bicara.
"Kamu ...."
"Gue ...."
__ADS_1
Mereka bertukar senyum. Meski terlihat canggung. Lalu membuang pandangan ke arah kolam renang di mana masih menampung sisa hujan yang turun sejak sore.
"Ngomong aja dulu, Ra. Ladies first," ujar Mizar mempersilakan. Padahal aslinya ia belum siap dengan kalimat yang hendak diucapkan.
Dalam artian Mizar masih ragu apakah ia perlu mengungkapkan pertanyaan itu atau tidak.
"Oh, gue ... minta maaf soal kejadian tadi. Gue udah asal tuduh gitu aja. Sebelumnya, gue lihat lo sempat bersitegang sama Raka. Jadi, gue pikir ... lo ...."
Senyum Mizar mengembang ketika Maura tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Nggak papa. Aku bisa ngerti kok. Btw, gimana kondisi kamu? Udah lebih baik? Apa kamu pingsan karena belum makan?" tanya Mizar memilih menanyakan hal lain ketimbang mengungkapkan apa yang ia pikirkan sebelumnya.
Wajah Maura tampak tak nyaman. Perempuan itu lebih memilih menganggukkan kepala ketimbang harus mengatakan apa yang membuatnya pingsan.
"Gue nggak papa," ucap perempuan itu sengaja untuk menegaskan. Dengan begitu, membuat Mizar cukup paham dan tak lagi menanyakan kondisi si perempuan.
"Oh ya, lo ada apa cariin gue?" sambung Maura ketika mereka kembali terdiam.
"Nggak ada. Aku cuma mau ngobrol sama kamu. Harusnya, ada hal-hal yang bisa diceritakan setelah hujan. Iya nggak sih?" Mizar menambahkan pertanyaan di akhir kalimatnya sebelum menoleh ke arah Maura.
"Memang apa yang perlu diceritakan?" Perempuan itu balik bertanya.
Dari nada bicaranya, Mizar bisa paham jika perempuan itu kembali ke sikap defensif-nya seperti biasa.
"Ehm ... apa pun yang mau kamu ketahui barangkali. Tentang ... aku?"
Maura menahan senyum di ujung bibirnya.
"Gue nggak sepenasaran itu sih sama hidup lo."
Bibir Mizar mencebik kesal. Maura memang paling bisa mengempaskan harapannya. Bahkan Mizar tak pernah dibuatnya melambung ke langit ke tujuh. Ia masih menapak tanah, tapi begitu kalimat terucap dari bibir Maura, pemuda itu merasa di empaskan ke dasar bumi.
Sakit, tapi itu justru menjadi candu. Sungguh, Mizar tak akan menyerah begitu saja sebelum mendapatkan Maura. Tak peduli jika saingan terberatnya adalah Baruna.
Huft!
Pemuda itu menghela napas panjang ketika lagi-lagi tertampar kenyataan. Ya, Mizar tak bisa mengabaikan keberadaan Baruna begitu saja setelah pertemuan mereka.
"Zar, lo tahu nggak, ada dongeng tentang hujan yang gue nggak pernah lupa?"
Punggung Mizar menegang. Meski Maura belum sempat bicara, tapi entah mengapa pemuda itu bisa merasakannya. Betapa putus asa suara Maura ketika mengucapkan pernyataan (?) tersebut.
Sementara wajah perempuan di sampingnya mendadak menjadi sendu.
__ADS_1