
Tak ada yang menduga, jika tubuh Maura tiba-tiba ambruk di atas pangkuan Jerome. Begitu juga dengan cowok itu yang terkejut luar biasa ketika tubuh Maura tiba-tiba jatuh menimpa dirinya.
"Astaga, Ara!" seru cowok itu kaget. Membuat Mizar yang semula bersitegang dengan Raka, sigap memburu tubuh Maura yang hampir terjatuh dari pangkuan Jerome.
Begitu juga dengan Arlan dan juga Sky yang sigap membantu Mizar menggotong tubuh si perempuan ke tempat yang lebih lapang.
Meski begitu tetap saja orang lain yang masih memandang nyinyir ketika cowok itu berusaha merawat Maura yang tengah pingsan. Siapa lagi kalau bukan Riandra dan Kikan serta Raka yang masih menahan geram.
"Cih, bucin!" komentar Raka jelas menyulut emosi. Namun, tak sempat Mizar memberikan tanggapan seseorang sudah memukul Raka hingga membuat cowok itu tersungkur di atas lantai.
Jerome pelakunya. Ia mengibaskan tangan, sebelum berusaha membantu Raka yang baru dipukulnya untuk bangun.
"Bangun lo! Kalau mau, pukul gue sampai lo puas biar kita impas! Sumpah, muak banget gue sama lo hari ini. Mulut lo udah kayak cewek. Persis banget kayak Riandra!" ucap Jerome dengan raut muka datar hampir tanpa ekspresi.
Riandra tak terima. Perempuan itu menegakkan punggung dan menatap Jerome dengan raut muka kesal.
"Kenapa jadi gue dibawa-bawa?" sengit perempuan itu tak terima.
Jerome tak memberikan tanggapan. Fokus pemuda itu masih tertuju kepada Raka yang tak juga bergerak dari posisinya.
"Bangun!" perintah Jerome sekali lagi.
"Heh, hebat banget tuh cewek. Bisa bikin kalian berantem kayak gini!" Riandra kembali berkomentar.
"Nah kan, apa gue bilang. Mulut lo persis banget kayak Riandra, kalau lo mau tahu!"
"Bangsat, Jerome! Lo sengaja bikin gue emosi?"
"Nggak, gue cuma ngomongin fakta!"
"Omongan lo nggak nyebutin fakta, tapi lo sengaja mau bikin gue emosi."
"Sssttt ... Andra, suara lo berisik! Ganggu, Ara!" Bastian menyela sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya.
Wajah Riandra tampak sebal seketika. Bibir perempuan itu manyun sambil menekuk muka. Tampak jelas ia jengkel luar biasa.
Bahkan tatapannya tak lepas dari Maura yang kini dikerubungi tiga cowok tampan. Di mana salah satu dari mereka sudah ia incar sejak lama.
"Berengsek!" umpatnya pelan dengan tangan mengepal.
Sementara Raka yang tak siap mendapatkan pukulan, masih tertegun di tempat. Tak sanggup membalas dengan perbuatan ataupun kata-kata. Ia bahkan yang juga menyambut uluran tangan dari Jerome.
"Lo pikir tangan ini pajangan?" imbuh Jerome ketika Raka tak juga menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
Itu menandakan bahwa Raka masih meredam kesal dan tak menyadari di mana letak kesalahannya.
"Oke, kalau gitu gue bakal pukul lo sekali lagi biar sadar, di mana letak kesalahan yang udah lo perbuat!" tandas Jerome. Namun, Raka lebih dulu menyambut tangan pemuda itu dan melayangkan pukulan balasan.
Bugh!
Pukulan Raka cukup keras hingga membuat Jerome terhuyung. Meski begitu tak sampai membuat Jerome tersungkur di atas lantai, sebab kuda-kudanya cukup kuat.
Bastian terkekeh pelan. Berbeda dengan Riandra dan Kikan yang berteriak kencang akibat pertengkaran kedua cowok itu. Yang notabene mereka merupakan teman setongkrongan.
"Nggak usah lebay. Kami punya cara sendiri buat nyelesain masalah ini. Lo nggak usah ikut-ikutan kalau nggak tahu kondisi!" Bastian memperingatkan. Hingga membuat kedua perempuan itu diam tak berkutik.
"Gimana, masih kurang?" Jerome bertanya sekali lagi.
Tangan Raka mengepal. Untuk kedua kali, pemuda itu memukul Jerome. Namun, kali ini tak sampai terhuyung, apalagi tumbang.
Lantas keduanya berpelukan. Raut muka Raka pun berlahan mulai pulih. Tak lagi menahan geram seperti sebelumnya.
Sementara Mizar dan yang lain - yang masih membantu Maura agar segera sadar - hanya menahan senyuman. Bersyukur Raka lebih cepat mengambil sikap ketimbang yang mereka pikirkan.
Begitulah Andromeda, cepat tersulut emosi, cepat juga meredamkannya. Meski harus menggunakan cara sepertinya halnya Jerome untuk mengingatkan si teman yang sudah kelewatan.
"Gue minta maaf, Rak. Nggak langsung respon begitu Riandra telepon." Di tempat yang bersebrangan, Mizar mengucapkan kata maaf setelah Raka bisa mengendalikan emosinya.
Cowok itu hanya mendecih. Meski begitu tak ayal tetap berjalan ke arah Mizar dan merangkul si pemuda.
"Udah tahu salah lo di mana?" Sky yang tak juga beranjak dari sisi Maura pertanyaan pada Raka.
"Iya, gue ngerti. Ini yang sebenarnya diinginkan sama Sagara. Ngancurin kita dari dalam."
"Nah, udah sadar juga lo sekarang kalau ini cuma provokasi Sagara buat mecah belah kita," ujar Sky sambil mengeusap bekas pukulan Raka yang masih terlihat basah.
"Sorry. Gue salah. Gue menyesal kali ini."
"Baguslah kalau lo sadar lebih cepat. Gue nggak tahu harus gimana nyelametin lo kalau nggak keburu sadar." Arlan ikut berkomentar. Meski ia sama sekali tak beranjak dari sisi Maura.
"Iya, gue benar-benar nyesel. Gue minta maaf sekali lagi." Raka mengungkapkan penyesalan dengan sedikit ekspresi sebal akibat teman-temannya itu terus memojokkan dirinya.
Sungguh, sekalipun mereka terkadang berantem untuk urusan sepele, bersitegang, hingga berdebat sampai hampir putus urat syaraf, tetap tak ada yang bisa menghancurkan kesolidan Andromeda.
Tak akan mudah menghancurkan mereka dari dalam selama masih ada Jerome yang memilih untuk menjadi apa adanya dengan mulut setajam pisau. Bastian si perhatian meski terkadang terlihat sangat dingin. Sky yang bijaksana. Arlan yang bisa mengendalikan diri. Raka yang mudah tersulut, tapi paling mudah memaafkan, juga Mizar yang memiliki paket komplit dari kelima temannya yang lain.
Terlepas dari itu, Mizar hanya mengambil sikap agar mereka tak mudah goyah hanya karena urusan sepele yang ia sudah jelas-jelas tahu apa keinginan si musuh.
__ADS_1
Benar kata Raka, bahwa Sagara berusaha menghancurkan Andromeda dari dalam. Sebab, lelaki itu tak bisa menyerangnya dari luar.
Satu-satunya cara yang bisa dilakukan hanyalah menggunakan strategi kampungan yang segera terbaca oleh Mizar. Sayangnya, tak semua anggota inti Andromeda langsung menangkap cara murahan yang digunakan Sagara.
Seperti halnya Raka yang memilih menyerang Mizar ketimbang memikirkan lebih dulu bagaimana cara membalas dendam orang yang sudah membuat Ade celaka.
"Zar, Ara siuman," bisik Sky mengalihkan perhatian.
Cowok itu menoleh ke arah Maura dan gegas berjongkok di samping sofa tempat perempuan itu dibaringkan.
Mizar menggenggam tangan Maura dan mengusapnya dengan lembut. Sepasang netra si pemuda mencari fokus Maura hingga keduanya saling bertatapan.
"Udah merasa lebih baik?" tanya Mizar dengan suara lembut ketika Maura sudah tersadar sepenuhnya.
"Gue kenapa?" Maura balik bertanya. Seakan tak menyadari kalau ia baru saja pingsan.
"Lo pingsan. Di pangkuan Jerome," komentar Arlan sengaja menggoda. Mizar menoleh dan mendelik ke arah pemuda itu.
"Mesti gitu ya kasih tahunya?" ucap Mizar menjadikan Arlan tertawa. Seakan tak peduli dengan raut muka Mizar yang hendak menelannya hidup-hidup.
"Gue cuma ngomongin fakta, Zar."
"Ck, suka banget sih usilin anak orang." Sky turun sebagai penengah.
Sedangkan di tempatnya Maura berusaha untuk bangkit dari posisi berbaring. Dibantu Mizar yang menahan punggungnya dengan cekatan.
Lantas tatapan perempuan itu mengedar. Menemukan Raka yang berdiri tak jauh dari Arlan.
Sorot mata keduanya saling bertemu. Lantas Raka yang memutuskan untuk minta maaf lebih dulu.
"Sorry, gue udah bikin lo pingsan," ucap Raka dengan raut muka menyesal.
"Kenapa lo minta maaf? Gue pingsan nggak ada kaitannya sama lo kok. Tenang aja."
"Udah, maafin aja, Ra. Dia udah ngakuin kesalahannya." Di sampingnya, Mizar mengucapkan kalimat tersebut dengan sangat lembut.
Maura menatapnya dengan raut muka curiga. Apalagi saat menyadari ada bekas pukulan di wajah Raka yang masih terlihat baru.
"Lo pukul dia buat belain gue?" sengit Maura dengan suara pelan, tapi terdengar sangat tajam.
"Eh? Ke- ...."
Kalimat Mizar tak tuntas karena Maura menyelanya lebih dulu.
__ADS_1
"Terus siapa yang bikin muka dia luka kayak gitu?" pungkasnya dengan sorot mata tajam tak lepas dari Mizar.
"Gue mau pulang!" tandasnya kemudian. Sebelum ia benar-benar pergi dari ruangan itu.