
Derap langkah pemuda itu cukup menggema di selasar rumah sakit yang tampak sepi di jam segini. Harusnya memang tak sesepi ini. Mungkin akibat hujan seharian membuat sebagian orang lebih memilih menunggu si sakit di dalam kamar ketimbang keluar.
Hanya tampak satu dua orang berseragam yang melintas di selasar. Langkah mereka tak kalah cepat dengan derap kaki si pemuda.
Di ujung koridor, pemuda itu berbolak ke arah kanan. Mengamati setiap nomor yang tertempel di dinding rumah sakit dekat pintu kamar inap pasien. Langkahnya berhenti di ruang nomor VIP IIA yang terdengar cukup berisik dari luar.
Pemuda itu segera mendorong pintu kamar dan mendapati beberapa anak muda lainnya memenuhi ruangan. Sebagian besar terdiri dari anggota Andromeda ditambah beberapa anggota lainnya.
"Udah sampai?" tanya Bastian ketika Mizar melongokkan kepala dari luar pintu.
Ia bergegas masuk dan merangsek di antara Bastian dan Jerome yang berdiri berdampingan. Berseberangan dengan Raka yang duduk di sebuah kursi sambil memegang sepiring buah potong yang tinggal sebagian.
Sepertinya bukan untuk si pasien, tapi untuk dirinya sendiri. Mizar yakin itu karena melihat bekas air dari buah molen yang masih menempel di ujung bibir Raka.
"Gimana kondisi lo, De?" tanya Mizar sambil menelisik si pasien yang terbaring di tempat tidur rumah sakit.
"Udah lebih baik. Kata dokter nggak perlu khawatir. Besok juga boleh pulang."
"Lo istirahat di sini aja dulu," cegah Sky dengan cepat. Sebagai anak pemilik dari rumah sakit ini tentu ia ingin memberikan yang terbaik bagi si pasien.
"Buat apa lama-lama? Gue nggak sanggup bayarnya, Bos," ucap Ade dengan menahan kekehan di wajahnya.
Kondisi ekonomi keluarga Ade memang tak sebagus yang lain. Pemuda itu pun merupakan mahasiswa yang mendapat beasiswa dari kampus karena memang dirinya berprestasi. Ade bisa terjebak dalam lingkungan Andromeda karena Raka yang mengajaknya.
Pemuda itulah yang selalu menyeretnya hingga Ade betah berada di lingkungan pertemanan Mizar dan yang lain.
Lagipula Andromeda terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dengan mereka. Tanpa peduli bagaimanapun kondisi latar belakang mereka.
Anak-anak muda itu pun tak membeda-bedakan dalam berteman. Jadi, mau Ade ataupun Mizar (yang orang tuanya dianggap paling kaya se-tongkrongan) tetap memiliki derajat dan kedudukan yang sama.
"Lo nggak perlu khawatir soal biaya. Gue bisa bilang sama bokap."
Itulah bagusnya Sky. Meski keluarganya mengelola bisnis rumah sakit, tapi tetap tak mengabaikan orang-orang seperti Ade. Pemuda itu bahkan ditempatkan di ruang VIP dengan segala fasilitas mewahnya.
__ADS_1
Tak hanya Ade, siapa pun di antara mereka yang terluka, pasti bakal mendapatkan perlakuan istimewa.
Satu hal yang membuat Mizar tak paham sampai sekarang, bagaimana Sky menjelaskan kepada orang tuanya hingga mereka bisa menerima keinginan sang anak yang kadang tak masuk.
Bagi sebagian besar orang, bisnis tetaplah bisnis. Tak peduli hal itu berkaitan dengan nilai kemanusiaan ataupun bukan. Namun, keluarga Sky bisa mementingkan nilai kemanusiaan di atas bisnis.
Buktinya rumah sakit ini masih baik-baik saja dan justru semakin jauh berkembang. Bahkan menjadi salah satu rujukan rumah sakit terbaik di Jakarta.
Sungguh, Mizar mengagumi orang-orang seperti orang tua Sky. Yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan orang yang mengaku papa, tapi tak pernah bersikap selayaknya seorang ayah.
Diam-diam Mizar tersenyum sinis. Membuang perasaan yang membebani hatinya dan kembali fokus pada yang lain.
"Lo kenapa? Kepikiran, Ara?" tanya Bastian yang berdiri di samping kiri Mizar. Lebih dekat dengan posisi Ade berbaring.
"Eh? Nggak. Bukan. Gue nggak mikir apa-apa," elak Mizar sambil menipiskan bibir meski justru terlihat dingin.
"Ck, serem anjir! Lo ketawa, tapi kayak mau bunuh orang!" Arlan yang duduk menyendiri dari gerombolan temannya yang lain berkomentar ketika melihat senyum Mizar.
"Sial, lo kira gue apaan dikit-dikit mau bunuh orang?!" balas Mizar terlihat tak santai. Ada dendam yang belum terselesaikan pada Arlan.
"Itu karena lo udah main rahasia-rahasiaan ya, Njir! Ngomong apa lo tadi sama Ara?"
Arlan tak bisa menahan tawa saat mendengar pertanyaan Mizar. Pemuda itu hampir tergelak, tapi segera disumpal mulutnya oleh Sky.
"Kita di sini bukan mau bahas urusan kalian ya, Nyet! Sana di luar kalo mau baku hantam. Siap terima pasien gue kalo ada yang babak belur. Lumayan juga kalau pasien lo, Zar. Udah pasti bakal laku tuh kamar VVIP yang barusan dibangun!"
"Astaga, bisanya malah promosi nih bocah!" Raka yang paling dekat dengan Sky menonyor kepala lelaki muda itu.
"Sakit, elah. Raka!"
"Udah, udah. Fokus. Inget tujuan awal kita ada di sini." Sosok anak muda lain yang lebih banyak diam dari tadi, menengahi dengan sedikit penekanan. Dia Dimas. Anggota Andromeda yang mendampingi Ade dari awal.
"Ngomong-ngomong soal Ara, gue jadi penasaran. Gimana sih tuh cewek sampai bisa bikin Sagara makin bar-bar gitu? Asli, pengen gue mutalasi tuh cowok kalau ketemu lagi," amuk si Ade membuat Raka dengan sigap menyuapkan potongan melon ke mulutnya.
__ADS_1
"Makin lama makin ngasal aja tuh mulut. Siapa sih yang ngajarin?" ucap Raka berlagak seperti seorang kakak.
"Yah, pura-pura bego!" komentar Jerome yang memang bermulut pedas itu.
"Lah, salah apalagi gue?"
"De, menurut lo siapa yang bikin lo jadi ngasal ngomong gitu?" Jerome menambahkan pertanyaan.
"Raka!" jawaban singkat si pasien refleks membuat Raka hendak memiting leher Ade. Namun, segera ditahan Sky yang dengan sigap menarik kerah bajunya dari belakang.
"Inget woi, dia pasien! Jangan macem-macem lo di sini!" tegas Sky membuat yang lain menahan tawa. Lebih tepatnya menertawakan Raka yang tak bisa lagi berkutik setelah mendapat ultimatum dari Sky.
"Galak banget perasaan. Makan apa sih lo? Apa ketularan si cewek galak?!"
"Heh, Raka!" sentakan Mizar benar-benar membuat pemuda itu bungkam kali ini.
"Mampus, macem-macem lo sama peliharaan si pawang."
Mereka baru benar-benar bisa diam setelah Sky meminta semua orang untuk diam sekali lagi. Ada hal penting yang harus mereka bicarakan dan itu tak sekadar guyonan yang saling mereka lemparkan.
Sungguh, perbuatan Sagara sudah benar-benar meresahkan. Setelah menghajar Mizar hingga babak belur, kini pemuda itu kembali membuat ulah dengan menyerang mereka dengan membabi buta. Bahkan hingga jatuh korban luka.
Jelas saja, hal ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Mereka harus bertindak tegas untuk menghentikan perbuatan Sagara.
"Lo punya ide, Zar?"
"Kalau membunuh legal, gue bakal pakai cara Ade!"
"Udah gila!" seru Raka refleks melempar garpu di tangannya.
"Nggak ada yang bisa ngehentiin Sagara kecuali yang satu itu!"
"Terus, lo mau kita semua jadi kriminal?"
__ADS_1
Tentu saja, Mizar tak sanggup menjawab pertanyaan dari Arlan. Jelas bukan itu yang ia harapkan.