My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Pelan-Pelan Saja


__ADS_3

Maura mengurungkan niat. Semula ia hendak bercerita pada Mizar bahwa dirinya pernah memiliki pengalaman buruk ketika hujan. Pengalaman yang jauh mengerikan ketimbang kematian Raisa.


Ia sendiri tak ingat pasti, apa yang terjadi pada hari itu. Sepanjang ingatan Maura yang terhapus sebagian tentang kejadian itu, ada masa di mana ia hampir tak pernah menyukai hujan.


Ingatannya boleh samar, tapi tubuhnya merespon dengan baik setiap kali hujan turun. Perempuan itu bahkan bisa mendekam dalam ruangan seharian apabila hujan mengguyur bumi. Atau tiba-tiba menjerit, tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Beruntung untuk kasus yang terakhir, tak pernah terjadi ketika ia berada di luar rumah. Hanya beberapa kali saja ketika ia berada di rumah dan itu terjadi cukup parah.


Itu pula salah satu alasan mengapa Maura selalu menghindari hujan. Hingga saat mereka berdua duduk berhadapan di sebuah kedai ice cream dan membuat Maura berpikir bahwa hujan ternyata tak semenakutkan yang ia pikirkan.


Maura bahkan tak tahu pasti, bagaimana ia mendefinisikan tentang hujan. Apakah itu rasa takut, benci, atau justru yang lain? Hanya saja ada saat-saat di mana ia begitu membencinya atau sangat ketakutan.


Mungkin yang tak pernah lupa dari ingatan adalah darah yang menggenang. Juga suara teriakan. Darah dan juga teriakan yang tak pernah ia tahu milik siapa.


"Ra, kenapa jadi bengong?" Suara Mizar membuyarkan lamunan.


Perempuan itu menoleh dan mendapati raut muka Mizar yang terlihat cemas.


"Beneran kamu nggak papa? Kamu keliatan pucet, Ra," imbuh si pemuda ingin memastikan bahwa Maura benar baik-baik saja.


"Eh?" Refleks Maura menyentuh wajahnya. Lantas menggeleng cepat.


"Nggak, gue nggak papa." Maura mengelak sebagai jawaban.


Bagaimana mungkin ia merasa baik-baik saja, ketika pikiran buruk itu kembali menyerangnya secara tiba-tiba? Pikiran buruk serupa hantu yang tak pernah ia tahu dari mana asal muasalnya dan bagaimana bisa pikiran buruk itu mengurungnya dalam labirin panjang yang menyesatkan.


Maura menghela napas panjang. Ia menoleh ke arah Mizar dan memaksakan senyuman. Sepertinya, pemuda itu tak percaya dengan ucapan Maura ketika ia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Yakin?" Mizar bertanya sekali lagi untuk memastikan keadaan Maura.


"Iya. Gue nggak papa. Mungkin hawanya mulai dingin."


Jelas, itu hanya alasan agar Mizar tak banyak bertanya, tapi sepertinya si pemuda tak juga percaya.


"Ra, kamu nggak perlu bohong kalau emang nggak baik-baik aja," ucap Mizar dengan suara lembut. Membujuk Maura agar mengatakan yang sebenarnya.


"Serius, gue beneran nggak papa, Zar."


Pemuda itu menghela napas panjang. Menyerah dengan kekeraskepalaan Maura.


"Oke. Aku percaya sama kamu," ucap Mizar setengah tak rela. Padahal ia yakin bahwa Maura hanya berpura-pura.


Di sampingnya si perempuan hanya menahan senyum paksa.

__ADS_1


"Kalau gitu, apa yang mau ceritakan padaku? Tentang dongeng yang baru saja kamu bicarakan?"


Raut muka Maura menegang. Begitu juga dengan punggung si perempuan. Ia tersenyum canggung sebelum akhirnya mengatakan,"Gue bakal cerita lain kali. Sepertinya nggak bisa sekarang."


Mizar hanya menahan senyum sebagai tanggapan. Tak ingin memaksa Maura yang memang tak ingin bercerita sekarang.


"Oke, pelan-pelan saja. Aku pasti tungguin kok selama apa pun waktu yang kamu butuhkan."


Maura balas menahan senyum di ujung bibirnya. Lantas membuang muka ke arah lain.


"Kayaknya kita mesti pulang. Hari udah semakin petang."


"Eh? Ah, bukan gitu maksud gue." Ralat Maura cepat-cepat.


"Balikin aja kunci mobil gue. Gue bisa pulang sendiri. Kita nggak perlu pulang bareng," sambung Maura. Nada bicaranya cepat.


"Ra, barusan itu apa?" Mizar justru bertanya dengan tampang seolah tak berdosa.


"Hah?"


"Kamu barusan ngajak aku pulang? Itu artinya kamu mau aku anterin pulang?"


"Nggak! Bukan gitu!" Maura terlihat panik. Lantas mengubah ekspresi wajahnya menjadi mode jutek seperti biasa.


"Nggak, nggak. Aku nggak mau denger. Aku bakal anterin kamu pulang."


"Nggak perlu, Zar. Gue bisa sendiri. Lagipula lo mesti di sini dulu sama yang lain kan? Gimana temen lo yang ketusuk? Udah dapat kabarnya?" Pertanyaan Maura memang terdengar cemas. Namun, lebih dari itu, Mizar tahu jika si perempuan berusaha untuk menghindar.


Segaris lengkungan membingkai wajah Mizar yang terlihat jenaka. Pemuda itu berusaha menggoda si perempuan yang makin ngamuk-ngamuk tak karuan.


"Udah, nggak usah sungkan. Yok, aku anterin pulang!" ucap si pemuda lantas berdiri dari samping Maura dan membimbing perempuan itu masuk ke dalam ruangan.


"Sky, gue antar Ara balik. Lo sama yang lain ke rumah sakit aja dulu. Gue bakal susul ke sana begitu dari rumah, Ara."


"Yoi. Gue sama yang lain bakal berangkat lepas ini."


"Oke."


Percakapan antara kedua pemuda itu menjadikan Maura tergemap di tempatnya. Perempuan itu bahkan tak beranjak cukup lama meski Mizar telah menarik tangannya dengan lembut.


Ia tetap saja bersikukuh dan tak bergerak sama sekali.


"Kenapa, Ra?" tanya Mizar dengan kening berkerut. Ia bersiap mendapat penolakan yang kesekian kali dari perempuan yang berdiri di depannya.

__ADS_1


"Gue beneran bisa pulang sendiri, Zar. Lo nggak perlu repot-repot."


"Aku yang mau, Ra. Dan aku sama sekali nggak merasa repot. Apalagi direpotkan. Oke?"


Senyum Mizar mengembang. Untuk kali ini Maura tak bisa melawan. Ia hanya mengangguk pasrah sebagai tanggapan.


***


Perjalanan di antara mereka kembali diliputi suasana sunyi. Kali ini benar-benar tak ada suara apa pun. Selain embusan napas mereka yang begitu lambat dan teratur.


Maura lebih memilih menikmati pemandangan selepas hujan yang sesekali masih membawa gerimis membasahi bumi. Juga orang-orang yang berlalu-lalang demi menghindari keroyokan gerimis yang tak henti-henti.


Cuaca memang terkadang tak menentu. Kadang panas, kadang hujan. Cepat berganti hingga membuat manusia tak menyadari, musim apa yang sedang mereka hadapi saat ini. Mungkin usia bumi yang makin tua, menjadi salah satu penyebabnya.


Anggapan Maura pun tak pasti tentang hal ini. Ia hanya beranggapan demikian di waktu senggang dalam perjalanan pulang.


Tak ada hal yang harus ia bicarakan dengan Mizar. Menjadikan perempuan itu mengutuki musim yang cepat sekali berubah-ubah akhir-akhir ini.


"Ra, makasih ya buat hari ini." Di sampingnya tiba-tiba Mizar mengajak perempuan itu bicara.


Ia menoleh dan mendapati Mizar sedang menatapnya dengan senyuman.


"Makasih buat?" Perempuan itu balas bertanya ketimbang memberikan tanggapan.


"Karena kamu udah mau kuajak ke basecamp anak-anak."


"Artinya?"


"Nggak ada artinya apa-apa. Aku cuma mau bilang makasih aja." Mizar berkelit. Padahal dalam hati sebenarnya ia bersorak tak terkira.


Diam-diam pemuda itu tak menyesali tindakannya yang bersifat impulsif ketika mendekati Maura dengan cara yang berbeda. Kalau saja ia tahu rencananya kali ini bakal berhasil, Mizar tentu akan menggunakannya sejak dulu.


Alih-alih mendekati Maura dengan meminta maaf, Mizar justru bersikap seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka.


Bingo, pelan-pelan cara yang ia gunakan bisa meluluhkan kekerasan hati Maura. Meski belum sepenuhnya membuahkan hasil.


"Aneh. Nggak jelas banget sih!" komentar Maura menjadikan pemuda itu tertawa.


"Apa yang aneh, Ra?"


"Lo! Semua tentang lo bener-bener aneh!" pungkasa Maura sama sekali tak tertarik dengan obrolan si pemuda.


Mizar hanya menahan tawa. Diam-diam pemuda itu membatin dalam hati.

__ADS_1


'Nggak papa, Ra. Aku selalu punya banyak waktu buat kamu. Pelan-pelan saja!'


__ADS_2