
Setelah mendapat pukulan yang cukup kencang di kepalanya dari Jerome dan Arlan, pemuda itu akhirnya memutuskan untuk turun dari mobil. Bertepatan dengan remaja lelaki berpakaian seragam sekolah yang terlihat sudah rapi.
Benar, itu Kenzo. Sepupu Maura itu baru saja keluar dari dalam rumah dan berniat menyebrang jalan.
Sebenarnya, ia sengaja melakukan hal itu ketika melihat sebuah mobil Pajero yang tampak hitam mengilap berhenti di depan rumah sang paman - kakak dari papanya. Tak lama kemudian, menyusul Bang Agil yang keluar dari rumah dan terlihat bercakap-cakap sesaat dengan pengendara mobil Pajero sebelum pergi ke firma hukum milik keluarga mereka.
Itu Mizar. Dan, didorong rasa penasaran, remaja lelaki itu keluar dari rumah tepat ketika Mizar turun dari mobil. Jadilah, mereka hampir bersamaan ketika sama-sama bertemu untuk saling sapa.
"Ternyata beneran Kak Mizar? Gue sedikit ragu waktu liat Kak Mizar, turun dari mobil. Ternyata emang bener," ucap remaja lelaki berseragam SMA itu sambil berjalan ke arah Mizar. Lantas keduanya saling mengangkat tangan untuk high five.
"Ken? Makin gede aja lo. Gimana kabar lo? Lama juga kita nggak ketemu."
"Ya kali Kak, gue bakal jadi bocil mulu. Baik gue. Masuklah. Gue juga mau minta bekal sama Bi Darmi."
"Lah, gimana ceritanya Bi Darmi yang siapin bekal lo?"
Kenzo merapatkan tubuhnya ke arah Mizar. Remaja lelaki itu berbisik dengan suara pelan.
"Sstt, si Mama nggak enak kalau masak. Enakan juga masakan Bi Darmi. Yang makan masakan si Mama sih cuma Papa doang. Demi cinta katanya."
"Oh, jadi itu alasan lo lebih sering makan di rumah Pakde lo ketimbang makan di rumah?"
Kenzo nyengir sebagai jawaban. "Ya lagian, si Mama nggak bisa masak masih aja maksa buat masak," sambung remaja lelaki itu.
"Yuklah, Kak. Masuk dulu." Kenzo kembali dengan tujuan awal.
Ucapan sang remaja mendorong keduanya untuk masuk ke dalam rumah dua lantai yang tampak besar dan megah dari balik pagar.
Sementara di dalam mobil yang masih terparkir di pinggir jalan perumahan, kedua pemuda yang masih tertinggal saling berbisik dengan suara pelan. Meski tak akan ada orang lain yang bisa mendengar obrolan mereka.
"Sedekat itu Mizar sama keluarga, Ara?"
"Ya, begitulah."
"Tapi kenapa mereka bisa musuhan?"
"Rumit. Bakal panjang kalau diceritain. Bahkan perjalan Jakarta-Bandung nggak akan cukup buat ceritain kisah mereka."
"Ck. Ribet. Tinggal cerita aja apa susahnya sih."
"Lo mau denger?"
"Iyalah."
__ADS_1
"Nanti, lo tanya aja sama Mizar. Gue setia kawan orangnya. Nggak mungkin cerita gitu aja kalau Mizar-nya nggak mau cerita."
"Anjirlah si Monyet! Ngapain lo tanya kalau gitu endingnya?" Jerome berteriak sebal.
Sementara di bangku belakang Arlan tertawa terpingkal. Sebelum akhirnya sebuah kulit kacang melayang.
***
Permintaan izin pada sang kepala keluarga Barata tak berlangsung lama. Pria itu sudah cukup percaya pada sang pemuda untuk membawa putrinya. Meski Maura menanggapi hanya dengan gumaman singkat tanpa minat.
Bahkan rasanya, ia ingin membatalkan perjalanan hari ini hanya karena tak ingin terlibat dengan si pemuda. Namun, betapa tak bertanggung jawabnya ia jika membatalkan janji begitu saja.
Baik Barata ataupun Sekar tak pernah mengajarkan sifat ingkar ataupun pengecut kepada dirinya. Jelas, Maura harus menghadapi kenyataan yang ada di depan mata.
Toh ini adalah hasil dari pilihan yang ia putuskan. Mana mungkin gadis itu bakal mengingkarinya. Maura tak bisa mundur begitu saja.
Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang akan membawa mereka ke Bandung. Dengan posisi duduk Mizar di belakang kemudi, Jerome di bangku penumpang depan, dan Arlan serta Maura di bangku belakang.
Awalnya gadis itu mengerutkan kening. Heran dengan keberadaan kedua orang lainnya. Namun, ia merasa bersyukur kemudian. Dengan begitu Maura tak perlu terjebak dalam suasana canggung bersama Mizar.
Ia bahkan tak bisa membayangkan bagaimana bosannya apabila harus terjebak berdua bersama pemuda itu.
"Gimana, lo bersyukur karena gue ikut kan?" bisik Arlan sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Maura. Meminta pengakuan si gadis jika keberadaannya diperlukan.
"Buset, si Eneng. Jangan galak-galak napa sih?! Ngeri juga gue lama-lama."
"Kalau gitu sana jauh-jauh!"
"Yakin lo? Gue sama Jerome bisa aja turun di sini. Terus lo bakal berduaan doang sama Mizar sampai Bandung. Mau lo?"
Gadis itu mendengus sebal dengan bibir manyun seketika. Arlan memang paling bisa membuat gadis itu mati kutu. Dulu juga, pemuda itu sering kali membuat Maura tak bisa lagi bertingkah.
Diam-diam Arlan menahan tawa. Lantas menurunkan punggung kursi agar membuatnya merasa lebih nyaman. Selebihnya tak ada lagi percakapan kecuali obrolan random yang terucap begitu saja.
Seperti di mana mereka bakal berhenti untuk sarapan atau hal random lain yang tak perlu mendapatkan jawaban cukup panjang.
Satu-satunya sumber suara hanyalah berasal dari radio yang diputar secara random juga oleh Jerome.
Jangan tanya Maura, ketimbang terlibat interaksi dengan ketiga makhluk Adam di sekitarnya, ia lebih memilih bungkam dan menyumpal telinga dengan airbuds. Memilih lagu dengan irama kencang agar tak mendengar suara dari luar.
Setidaknya itu cukup efisien sampai seseorang mencabut salah satu airbuds dari telinganya. Lantas memasangnya ke telinganya sendiri.
"Astaga! Lo denger musik sekenceng ini apa nggak budek, Ra?" jerit Arlan sambil menjauhkan benda kecil itu dari telinganya.
__ADS_1
"Apaan sih? Heboh banget?" Jerome yang merasa terganggu akibat teriakan Arlan menoleh ke bangku belakang.
"Nih, denger tuh! Si Ara mah muter lagu udah kayak di diskotik. Kenceng bener."
"Lo berisik. Makanya dia dengerin musik biar nggak denger ocehan lo."
Arlan melirik ke arah perempuan yang duduk di sampingnya.
"Elah, kita dari tadi nggak ada ngobrol apa pun ya, njir. Bosen gue diem mulu dari tadi. Ngomong apa gitu. Cerita. Yakin lo pada bisu gini selama perjalanan sampai Bandung?"
"Berisik!"
Maura memberikan tanggapan paling cepat. Disambut senyuman yang membingkai wajah Mizar. Sedangkan Jerome memilih untuk tidak peduli.
"Sumpah deh, Ra. Lo jujur aja sama gue, aslinya lo bosen juga kan diem mulu kayak gini? Gue kenal lo ya. Mana bisa lo diem selama perjalanan gini?"
"Ck, bisa diem nggak sih lo, Ar. Pusing gue denger lo ngomong mulu dari tadi."
"Astaga, Ra. Fitnah apalagi ini? Gue dari tadi diem aja, anjir. Baru juga ngomong."
"Ya, ya, ya. Lo baru aja ngomong, tapi udah cukup bikin kepala pusing. Puas?"
"Elah, Ra. Mumpung ada gue nih, cerita apa gitu kek. Lo kan paling suka cerita, Ra. Kalau nggak lo cerita soal Salma deh. Gimana kabar tuh anak?"
Sumpah ya, di saat seperti ini Maura sama sekali tak berminat banyak bicara. Namun, permintaan Arlan cukup menuntut hingga membuatnya tak berdaya. Pemuda itu akan terus memaksa dirinya hingga ia mau bercerita.
Pada akhirnya, Maura mengalah. Gadis itu mematikan pemutar musik di ponselnya dan merebut airbuds dari tangan Arlan. Sialnya, di saat yang bersamaan, Mizar menginjak tuas rem untuk menghindari sebuah motor yang nyelonong memotong jalan.
Bruk!
Maura terhuyung ke depan hingga membuatnya tersungkur di dada Arlan. Pemuda itu refleks menahan bahu Maura sebelum sempat menyentuh dadanya.
Pada faktanya tetap saja hidung Maura menyentuh dada si pemuda.
"Lo nggak papa?" tanya Arlan ketika Maura berhasil memperbaiki posisi duduknya. Pemuda itu mengecek hidung Maura yang terlihat merah akibat membentur dadanya.
"Lo pakai perisai apa gimana sih? Sakit banget hidung gue."
"Sorry," ucap Arlan dengan raut muka menyesal. Tangannya refleks menyentuh hidung Maura untuk memastikan keadaannya.
Waktu seakan membeku. Itulah yang dirasakan Mizar. Ia menoleh ke belakang hanya demi memastikan keadaan Maura baik-baik saja. Tapi yang ada, ia justru melihat pemandangan yang sama sekali tak menyenangkan.
'Berengsek!' Mizar hanya bisa mengumpat sebal dalam hati.
__ADS_1
Diam-diam pemuda itu melirik dengan sorot tajam ke arah sang teman.