My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Basecamp


__ADS_3

Suasana semua orang terlihat tegang ketika Mizar datang sambil tetap menggandeng tangan Maura. Meski begitu, fokus mereka tak lepas dari si pemuda yang baru datang.


Selain anggota inti Andromeda yang terdiri dari enam orang, masih ada beberapa lainnya. Termasuk juga Riandra dan Kikan yang langsung menunjukkan wajah tak sukanya secara terang-terangan.


Mereka bahkan membuang muka seakan tak menginginkan kehadiran gadis yang masih berada dalam genggaman tangan Mizar. Bahkan ia sekarang merapat badan, sebab tahu bahwa kehadirannya tak diinginkan.


"Jadi lo sama dia?" komentar Riandra dengan nada tak suka. Jelas perempuan itu cemburu.


Membuat suasana yang semula tegang menjadi kian terasa tak nyaman.


Di tempat duduknya, Raka yang terlihat paling geram. Cowok itu bersiap memuntahkan kekesalan ketika sosok Mizar muncul bersama Maura di tengah-tengah mereka.


Sky yang menyadari hal itu dengan cepat menahannya agar Raka tak mengucapkan hal yang tak perlu. Kondisi mereka sudah cukup rumit untuk mendapat sebuah masalah lain yang tak penting.


"Lo udah ditunggu sama yang lain," ucap Sky sambil menahan Raka agar tak bangkit dari tempat duduknya.


Sementara Bastian yang duduk paling dekat dengan kedua anak muda itu, memberikan tempat agar Maura bisa duduk di kursinya. Bersebelahan dengan Jerome yang tampak lebih pendiam dibanding saat mereka bertemu terakhir kali.


"Duduk, Ra," pinta Mizar dengan suara tenang. Sama sekali tak merasa terintimidasi dengan semua mata yang tertuju padanya.


"Sorry. Gue nggak langsung sadar begitu kalian kirim pesan."


"Cih, seenggaknya kalau pacaran, nggak perlu matiin HP. Lo tahu kan gimana akibat dari ulah lo barusan?" Riandra yang paling tajam mengkritik Mizar. Namun, pemuda itu memilih tak peduli.


Mizar tahu, ucapan Riandra bukan hanya untuk mengkritik dirinya. Melainkan lebih ditujukan kepada Maura agar perempuan itu merasa bertekan.


Pemuda itu juga tahu, bahwa ucapan Riandra didasari oleh perasaan iri dan cemburu. Bagaimanapun Mizar tak bisa menutup mata jika perempuan itu tertarik untuk menjadikannya sebagai kekasih.


Toh ia sudah biasa mengabaikan Riandra dengan segala ucapan tajamnya. Kini ia justru memikirkan keadaan Maura.


Diam-diam Mizar melirik ke arah si perempuan yang untungnya tak merasa terganggu oleh ucapan Riandra. Pemuda itu menghela napas pelan. Lantas kembali bertatapan dengan Sky yang masih terlihat tegang.


"Gimana kronologinya?" tanya Mizar tanpa basa-basi.


Lagi-lagi, Raka hendak menyela. Namun, kini Arlan turun tangan dan menahan pemuda itu agar tak melampiaskan kekesalannya pada Mizar.

__ADS_1


"Lo bisa tenang dulu kan? Mizar tanya sama Sky."


Pemuda itu semakin geram dan menyingkirkan tangan Arlan yang menghalangi dirinya. Ia sama sekali tak tertarik menatap Mizar yang bahkan tak memiliki rasa bersalah sedikit pun.


Padahal buntut dari persoalan ini adalah Mizar.


"Cih!" Raka mendecih sambil membuang pandangan. Tampak tak peduli ketika Sky mulai menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi.


"Anak-anak lagi di tongkrongan belakang kampus. Ada gue, Ade, Dimas, Kikan, Andra, Bastian, sama Raka. Tiba-tiba Sagara datang sama gerombolannya." Sky menjelaskan kronologi peristiwa yang baru saja mereka alami.


"Dia cariin lo. Gue bilang kalau lo nggak ada di sana. Lo tahu Sagara, dia nggak bakal percaya gitu aja."


"Lalu dia dan antek-anteknya bikin kerusuhan. Gue sama sekali nggak ngerti kalau dia bawa senjata tajam. Sialnya, Ade jadiin punggungnya tameng waktu Sagara mau serang gue," sambung Sky dengan suara hampir tenggelam.


"Lebih sialnya lagi, tusukan Sagara melesat dan mengenai perut bagian kanan Ade cukup dalam." Bastian menambahkan.


Barulah saat itu, Mizar menyadari jika tak ada Ade di antara mereka. Itu artinya kondisinya cukup parah dan mengharuskan si pemuda dirawat di rumah sakit.


"Gimana kata dokter?" tanya Mizar tak menunggu lama.


"Kalau lo nggak sibuk sama cewek itu dan nggak abaikan panggilan Riandra, Ade nggak mungkin bakal kayak gini!"


"Raka!"


Teguran Sky sama sekali tak membuat Raka peduli. Ia justru menumpahkan segala kekesalan yang sudah menumpuk sejak awal.


"Urusan lo sama Sagara gara-gara cewek itu ya, Zar! Tapi justru orang lain yang jadi korban! Lo masih bisa tanya gimana keadaan Ade, sekarang?!" ucapan Raka semakin tak bisa dikendalikan.


Semua orang juga tahu jika Ade dan Raka memiliki hubungan yang sangat dekat. Bagi Raka, Ade adalah sosok yang harus ia lindungi bagaimanapun keadaannya.


Itu karena Raka merasa berutang nyawa kepada Ade. Sejak SMA Ade menjadi sosok lemah dan selalu ditindas oleh orang lain. Raka yang selalu membela cowok itu setiap kali Ade dirundung oleh kakak kelas.


Akibat terlalu ikut campur, Raka menjadi incaran nomor satu bagi para pengganggu. Cowok itu mulai mendapat teror ataupun gangguan yang lain.


Sampai suatu ketika, para perundung melakukan hal yang keji kepada Raka. Ia ditangkap, disekap, dipukuli, dan disiksa hingga hampir mati.

__ADS_1


Seorang Ade yang sebelumnya dikenal penakut dan pengecut, justru menjadi orang pertama yang menolong Raka sebelum cowok itu mati kehabisan napas.


Sejak saat itu, Raka berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan melindungi Ade apa pun yang terjadi. Faktanya cowok itu justru melemparkan dirinya untuk melindungi Sky dan amukan Sagara yang sebenarnya mengincar Mizar.


Ya, Mizar bisa memahami perasaan Raka. Cowok itu pasti kecewa. Ia tak bisa diandalkan pada saat paling dibutuhkan. Namun, ia juga harus tetap mengetahui kondisi Ade untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Sagara.


Untuk itulah, ia kini menatap Raka yang masih memandangnya dengan sorot mata penuh dendam.


"Jadi, lo mau balas dendam sama gue?" tanya Mizar dengan suara tetap tenang.


Sementara yang lain menatap kedua cowok itu bergantian dengan wajah gusar. Mereka tahu pasti apa yang bakal Mizar lakukan jika pertanyaan itu sudah meluncur dari bibirnya.


Mizar akan membuat perhitungan dan itu artinya ia menantang untuk duel.


Ya, begitulah cara Mizar menunjukkan kekuatan, jika merasa bahwa dirinya tak bersalah. Dalam hal ini, Sagara-lah yang patut diberi pelajaran. Bukan justru dirinya yang abai menjawab telepon Riandra karena ponselnya tak sengaja dalam kondisi disenyapkan.


"Oh, jadi lo bener-bener nggak ngerasa salah sedikit pun?!" Raka justru memperkeruh keadaan dan bukannya meredam kesal.


"Kenapa gue mesti merasa bersalah? Lo yang paling tahu, siapa yang pantas dapat hukuman dari lo karena lo ada di sana. Bukan semata-mata karena gue nggak angkat panggilan telepon Riandra!"


"Dari sini lo paham ucapan gue kan?" tandas Mizar di akhir ucapannya.


Wajah pemuda itu mengeras. Raut mukanya terlihat lebih seram dibandingkan sebelumnya.


Inikah wajah Mizar ketika marah? Setidaknya itu yang ada dalam benak Maura.


Perempuan itu sudah menciut di tempat duduknya. Ia paling tidak suka dan tidak bisa menerima kekerasan dalam bentuk apa pun. Sedikit saja suara keras sudah membuat tubuhnya gemetar. Apalagi dihadapkan dengan Raka dan Mizar yang sama-sama meninggikan suaranya ketika berbicara.


Ia lebih tak bisa menerima ketika menyadari betapa dingin sikap pemuda yang masih berdiri tak jauh dari tempat duduknya. Bahkan sesekali masih memastikan bahwa dirinya tetap aman.


Orang yang seperti itu, siapa yang mengira jika memiliki sifat yang begitu dingin dan kejam. Kejam karena ia tak memiliki sedikit pun rasa bersalah karena sudah meninggalkan teman-temannya dalam kondisi susah.


Ini yang seharusnya dinamakan setia kawan. Setidak Mizar harus merasakan sedikit yang dirasakan oleh Raka. Namun, cowok itu benar-benar bersikap sebaliknya.


Maura mendadak seperti orang linglung. Di tempat duduknya, wajah perempuan itu memucat. Sebelum akhirnya tubuh Maura ambruk dalam pangkuan Jerome.

__ADS_1


__ADS_2