My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Pantang Menyerah


__ADS_3

Mizar tak pernah membayangkan apa yang bakal terjadi pada dirinya setelah mengalami kejadian semalam. Lelaki itu benar-benar kehabisan tenaga setelah tak sanggup menerima pukulan dari Sagara dan anak buahnya. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi setelah meraih ponsel untuk menghubungi salah satu temannya.


Ia hanya merasakan tubuhnya semakin ringan sebelum akhirnya kehilangan kesadaran. Tanpa pernah tahu apakah ia berhasil menghubungi salah satu dari kawannya.


Meski begitu, sayup-sayup ia masih menangkap suara seorang perempuan. Juga isak tangis yang tertahan. Sekalipun ia tak pernah benar-benar tahu, siapa perempuan yang menangis untuknya dengan suara pilu.


Mizar hanya sanggup membatin dalam hati. Meminta agar perempuan itu tak menangis untuknya.


Ia teringat Maura. Namun, segera membantah dirinya sendiri ketika pikiran itu muncul dalam benaknya. Tidak mungkin Maura rela menitikkan air mata untuknya.


Kalau saja hal itu terjadi, Mizar pasti akan mengabulkan apa pun keinginan si gadis. Sebab dengan begitu menjadi sebuah pertanda apabila Maura peduli kepadanya.


Selebihnya Mizar tak ingat apa pun. Lelaki itu baru mendapatkan kembali kesadarannya saat berada di rumah sakit dengan slang infus menancap di tangannya. Didampingi Sky dan Bastian yang tampak cemas sekaligus panik.


Dari mereka Mizar akhirnya tahu, siapa orang yang sudah menolongnya.


"Ara?" ulang pemuda itu saat Sky mengatakan bahwa Maura-lah yang menemukan Mizar tergeletak di tepi jalan, lantas memanggil ambulan untuk membawanya ke rumah sakit.


"Dia juga ke sini nemenin gue?" tanya Mizar seakan tak memercayai pendengarannya sendiri.


"Iya. Ngapain gue ngarang cerita? Gue juga sampai syok begitu dia telepon gue setelah sekian lama. Lo sendiri juga tahu kan, gimana traumanya dia sama rumah sakit setelah kejadian malam itu?"


Benar, Mizar tak akan pernah lupa. Memang, setelah peristiwa yang merenggut nyawa Raisa, Mizar memutuskan mengikuti kemauan orang tuanya untuk pindah sekolah. Namun, bukan berarti hal itu menutup informasinya tentang kabar Maura.


Sky dan Arlan sering kali memberikan kabar yang menguntungkan. Sekalipun pada saat itu, semua bentuk pendekatan Mizar mendapatkan penolakan. Seperti sekarang.


Meski begitu Mizar masih cukup akrab Noah - yang sempat menjadi kakak kelas sekaligus kapten tim basket di Bina Nusantara. Pada suatu ketika, Noah mengalami kecelakaan dan mengharuskan pemuda itu dirawat di rumah sakit.


Dari sana Mizar tahu, jika setelah kejadian di malam Raisa pergi untuk selamanya, Maura memiliki trauma dengan hal yang berhubungan dengan rumah sakit.


"Dia sekarang di mana?" tanya Mizar dengan suara lirih hampir tak terdengar.


"Gue suruh pulang. Kasihan anak orang. Lagian apa yang lo harepin? Dia tiba-tiba jadi baik sama lo?" Arlan yang muncul tanpa permisi menjawab pertanyaan sang teman dengan cukup tajam.

__ADS_1


Pemuda itu masih kesal dengan sikap keras kepala Mizar yang berujung menyusahkan semua orang. Kalau saja Mizar tidak cosplay jadi batu, mungkin kejadian seperti ini tak akan terjadi.


Setidaknya kalaupun terjadi, tak akan membuat kondisinya parah seperti saat ini.


"Namanya juga usaha."


"Ck, nggak sadar juga kalau usaha lo selama ini sia-sia?"


"Bakal berbeda kali ini. Dia pasti bakal maafin gue."


Ucapan Mizar hanya dibalas helaan napas panjang oleh Arlan. Sejujurnya pemuda itu lelah terlibat dalam hubungan tanpa ujung antara Maura dengan Mizar.


Mungkin, sedikit banyak alasan mengapa kedua orang yang sedang bermusuhan itu tak pernah bertemu meskipun berkuliah di kampus yang sama adalah campur tangan Arlan.


Ya, dalam beberapa kesempatan, pemuda itu memang menghalangi Mizar untuk bertemu dengan Maura. Ia sengaja memutar arah setiap kali hampir berpapasan dengan Maura. Atau selalu ada cara yang digunakan Arlan setiap kali Mizar memaksa untuk melihat pertunjukan teater Maura.


Juga hal-hal lain yang bisa ia gunakan agar kedua manusia itu tak perlu bertemu. Siapa yang menyangka jika semesta memiliki cara yang tak pernah ia sangka?


Arlan tak ingin menambah beban bagi Maura yang sangat membenci Mizar. Dan ia pun tak ingin membuat sang teman semakin terluka hanya karena usahanya sia-sia.


Bagaimanapun kejadian di masa lalu tak akan berubah. Raisa tetap pergi dan menyisakan luka yang tak mudah terlupakan. Setidaknya Arlan tak ingin kedua manusia itu saling melukai satu sama lain.


"Dahlah, rehat lo. Nih, obat jangan lupa minum. Dokter bilang lo nggak perlu rawat inap. Begitu infus habis, lo bisa pulang."


Wajah Mizar tampak berbinar.


"Berarti besok gue bisa ke kampus?"


"Ngapain?"


"Nemuin, Ara."


Arlan hendak membantah. Namun, Sky lebih dulu memberikan tanda agar saudara sepupunya itu tak perlu lagi ikut campur saat ini.

__ADS_1


"Serah! Jangan cari gue kalau luka lo makin parah!" tandas Arlan sebelum melempar kantong plastik berisi obat yang baru saja ia tebus dari apotek rumah sakit.


Mizar hanya meringis. Lemparan Arlan mengenai bagian tubuhnya yang terluka. Namun, wajah pemuda itu sama sekali tak menunjukkan ekspresi kesal. Mungkin fakta yang ia dengar lebih menyenangkan ketimbang yang dibayangkan.


***


Mata kuliah yang diikuti Maura masih belum selesai ketika Mizar menunggu gadis itu di depan kelas. Wajahnya masih berbalut perban. Bahkan beberapa mahasiswa kejuruan yang mengenal lelaki itu tampak menatapnya dengan raut heran.


Apa gerangan yang membuat mahasiswa teknik seperti dirinya nyasar hingga ke gedung FIB. Terlebih ke kejuruan Sastra Indonesia yang sebelumnya tak pernah menarik perhatian Mizar.


Apalagi kondisi pemuda itu terlihat sangat menyedihkan dengan luka yang belum sepenuhnya kering dan masih diperban.


"Ini nggak salah lo ke sini? Mau ngapain?" sapa salah seorang mahasiswa Sastra Indonesia yang mengenal Mizar. Vika - cewek salah satu anggota Venus - tampak terkejut saat mendapati makhluk itu berada di gedung kejuruannya.


Terlebih dengan kondisi Mizar yang tampak sangat memprihatinkan. Meski bagi lelaki itu merupakan hal biasa apabila dirinya memiliki satu atau dua luka bekas pukulan.


"Mau ketemu adik kelas lo," jawab Mizar basa-basi. Bahkan ia sama sekali tak menunjukkan raut ramah di wajahnya.


"Siapa?"


"Gue kira itu bukan urusan lo sih."


Vika tertawa sebagai tanggapan. Mereka memang pernah berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Namun, ia tidak percaya jika cowok itu masih menyimpan dendam. Padahal Vika sudah meminta maaf dengan menelan rasa malunya sendiri.


Dengan menghadapi perilaku Mizar yang seperti saat ini, tentu membuat gadis itu semakin malu.


"Sial, masih aja dendam lo sama gue. Gue udah milik Duta sekarang. Lo nggak perlu khawatir gue bakal nembak lo lagi buat jadi pacar gue." Kepalang malu, Vika mengucapkan saja apa yang menjadi beban pikiran.


Mizar hanya tertawa hambar sebagai tanggapan. Lantas menunjuk ke arah seorang perempuan yang baru saja keluar dari kelas.


"Gue duluan," ucapnya pada Vika tanpa menoleh lagi.


Sekarang, ia mengejar Maura hanya demi mendapatkan kesempatan mengucapkan terima kasih. Apa pun yang terjadi, Mizar bertekad tak akan menyerah kali ini.

__ADS_1


__ADS_2