My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Harus Bagaimana?!


__ADS_3

Abigail terlihat bingung ketika melihat sang adik tiba-tiba menangis begitu masuk ke dalam mobil. Tadi, lelaki itu belum sempat memarkir mobil ketika melihat Maura berjalan keluar dari bangunan rumah sakit di belakangnya.


Ia lantas membawa mobil yang dikendarai hingga berhenti tepat di depan lobby. Menunggu Maura yang tampak mengusap air mata. Namun, begitu masuk ke dalam mobil, tangis Maura justru semakin menjadi.


"Ra, kamu kenapa? Gimana kondisi Mizar?" Abigail yang penasaran mencoba bertanya kepada sang adik.


Perempuan itu bungkam. Sama sekali tak tertarik untuk memberikan jawaban. Bahkan ketika mereka sampai rumah pun tak sepatah kata pun yang ia ucapkan, selain terima kasih kepada sang kakak.


Si sulung tiga bersaudara itu hanya sanggup menghela napas panjang. Ia memilih tak banyak bicara dan segera menyusul Maura setelah memarkir mobil di garasi.


Justru Noah yang menyambutnya dengan heboh begitu Abigail masuk ke dalam rumah. Wajah sang anak tengah tampak terperangah sambil menatap si bungsu yang baru saja menghilang di anak tangga terakhir sebelum masuk ke dalam kamar.


"Bang, itu si Adek kenapa? Nggak kesurupan atau kenapa-napa kan? Mizar gimana?" Noah memberondong sang kakak dengan pertanyaan.


Sekali lagi, Abigail menghela napas panjang. Ia seakan kehabisan energi hanya dengan menghadapi Noah ataupun Maura malam ini.


"Bang?" Noah memanggil sang kakak hanya demi mendapatkan tanggapan.


Sedangkan pemuda yang terpaut tiga tahun lebih tua darinya itu, sama sekali tak tergerak untuk memberikan jawaban. Ia justru menegak air dalam gelas hingga tandas.


Selebihnya, Abigail tampak menatap ke satu fokus dengan sorot mata terlihat hampa.


Noah yang melihat hal itu mulai kesal dan duduk tepat di hadapan sang kakak. Ia menggerak-gerakkan tangan hanya demi mencari perhatian sang abang.


"Ck, Bang. Jangan bikin khawatir dong!" Noah mulai panik.


Pasalnya Maura juga berperilaku yang sama begitu masuk ke dalam rumah. Perempuan itu sama sekali tak memberikan jawaban yang memuaskan. Justru lebih cenderung diam dan hanya sedikit memberikan tanggapan. Namun, bekas air mata di wajah sang adik sama sekali tak bisa disembunyikan.


Dan, Noah tak akan mudah dibohongi. Pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Apalagi kini sang kakak pun melakukan hal yang sama. Memilih diam dan bungkam.


Ini bukan candaan. Noah mengerti tentang hal itu. Namun, sikap kedua saudaranya mulai membuat lelaki itu kesal.


"Bang, please-lah. Jawab, kasih jawaban apa gitu kek." Noah kembali merengek.


Abigail bereaksi. Kini tatapannya tertuju pada sang adik yang menatapnya penuh harap.


"Gue nggak ngerti. Keluar dari rumah sakit Ara udah kayak gitu. Dia sama sekali nggak mau cerita. Tunggu aja besok pagi, kali aja dia mau cerita."

__ADS_1


Noah semakin tak tenang begitu mendengar jawaban si abang. Meski begitu ia tak bisa berbuat apa pun jika sang kakak sudah mengambil keputusan.


Sementara di kamarnya, Maura tak langsung melepaskan baju yang terasa lengket oleh keringat di tubuhnya. Padahal jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Perempuan itu tak berminat segera mandi dan justru merebahkan badan di atas kasur sambil menatap kosong langit-langit kamar.


Air mata kembali rebas. Ada sesak hingga membuatnya malas bergerak.


Tak bisa dimungkiri, Maura benar-benar bingung dengan dirinya sendiri. Baru tadi siang ia ke pergi ke makam Raisa untuk menumpahkan kegundahan hatinya. Harusnya sudah lebih lega. Sampai kejadian malam ini membuat Maura kembali merasakan luka.


Bahkan ia tak sanggup memahami dirinya, apa yang sebenarnya dirasakan.


"Gue mesti gimana, Sa? Gue nggak ngerti lagi mesti gimana?" bisik Maura pada dirinya sendiri.


Saat itu tatapan jatuh pada sebuah pigura yang terletak di atas meja belajarnya. Bingkai foto yang membuat Maura bergerak dari tempat tidurnya.


Perempuan itu menghela napas panjang. Lantas mengusap sisa-sisa air mata yang menganak sungai di pipinya.


Dengan sebelah tangan yang lain, Maura mengusap bingkai foto di depannya. Benaknya tenggelam dalam lamunan.


"Ra, gue bakal kencan sama Mizar."


"Serius?"


"Eh? Oh, nggak. Perasaan lo aja kali. Gue nggak ngerasa kayak gitu."


"Sumpah? Serius Ra, wajah lo ngeri banget. Asli."


Itu percakapan terakhir antara Maura dengan Raisa. Sore hari sebelum gadis itu memutuskan pergi untuk menghabiskan malam minggu bersama sang gebetan. Menyusul kabar tak lama kemudian jika Raisa mengalami kecelakaan.


Kalau saja tahu akan berakhir seperti itu, Maura pasti akan mencegah dengan berbagai macam cara agar Raisa gagal berkencan dengan Mizar. Kalau saja ia tahu, gadis itu pasti akan mengatakan bahwa dirinya memang tak senang. Apa pun agar Maura lakukan supaya Raisa tetap tinggal.


Seperti orang gila, Maura langsung menuju rumah sakit tanpa berpikir panjang. Ia bahkan tak menyadari jika sandal yang digunakan berbeda kiri dan kanan.


Maura begitu panik. Pikiran buruk terus menghantui sepanjang jalan. Dengan mulut yang tak berhenti merapalkan doa meminta agar Raisa diselamatkan.


Pikiran Maura sama sekali tak tenang. Ia gelisah di depan pintu ruang gawat darurat. Di sana sudah ada Sky dan Arlan - teman akrab Mizar sekaligus teman sekelas Maura dan Raisa.


"Gimana keadaan, Raisa?" tanya Maura dengan raut muka panik yang tak tertahankan.

__ADS_1


"Dokter masih menangani, Raisa."


"Mizar?"


Pertanyaan Maura dijawab anggukan oleh Arlan yang menunjukkan tempat duduk Mizar. Sorot mata gadis itu berubah tajam ketika menyadari tak ada luka sedikit pun di tubuh lelaki yang seharusnya mengalami kecelakaan bersama sang teman.


"Kenapa bisa lo baik-baik aja sementara Raisa luka parah?" jerit Maura dengan sorot tajam tak lepas dari Mizar.


Pemuda itu tak memberikan tanggapan. Ia hanya bisa pasrah ketika Maura mendorong tubuhnya hingga membentur tiang penyangga koridor rumah sakit. Dorongan yang cukup keras hingga membuatnya tak sanggup untuk bangkit.


"Sorry, Ra." Hanya sepatah kata itu yang diucapkan oleh Mizar. Tak ada kalimat lain sebagai pembelaan.


"Kalau sampai terjadi hal buruk sama Raisa, gue nggak bakal maafin lo!" tandas Maura dengan suara keras.


Kalau saja tak dihalangi oleh Sky ataupun Arlan, Maura tak yakin apakah Mizar masih selamat malam itu.


Tepat saat orang tua Raisa tiba, pintu ruang gawat darurat terbuka. Seorang dokter mengabarkan pada mereka dengan wajah tanpa harapan. Raisa tak bisa diselamatkan.


"Lo pembunuh! LO UDAH BUNAH RAISA!" teriak Maura tak bisa dikendalikan. Sebelum akhirnya tubuh gadis itu tersungkur di atas lantai. Menangis pilu.


Sejak awal Maura memang tidak pernah setuju jika Raisa memiliki kedekatan dengan Mizar. Cowok itu dikenal sebagai pembuat ulah. Bahkan catatannya menumpuk di ruang BK. Mulai ketahuan bolos, merokok, sampai terlibat tawuran.


Kalau saja mau mencari catatan kriminalnya di kantor polisi, pasti bakal ditemukan bahwa ia pernah terlibat dalam berbagai macam kekacauan. Hanya saja Raisa terlalu buta jika menyangkut soal Mizar.


"Lo cuma belum tahu aja kebaikan Mizar." Itulah yang diucapkan Raisa setiap kali Maura memberikan peringatan.


Padahal, sebelum Raisa menjadi dekat dengan Mizar, Maura lebih dulu tahu bagaimana perilaku cowok itu. Mereka tergabung dalam ekskul basket yang memungkinkan tim putra dan putri berlatih bersama.


Dari sana Maura tahu bagaimana kelakuan Mizar yang justru menarik perhatian para siswa perempuan Bina Nusantara. Termasuk juga Raisa.


Huft!


Maura mengembuskan napas kasar. Membawa serta kesadaran yang sebelumnya tenggelam dalam lamunan.


Tangan gadis itu kembali mengepal. Sebelum akhirnya melepaskan emosi dengan pukulan.


Setitik air mata kembali rebas di ujung netranya. Ia terisak pelan.

__ADS_1


"Kalau saja lo mau denger kata gue, lo sekarang pasti masih di sini, Sa." Maura bergumam dengan penuh penyesalan.


__ADS_2