
Senyum masih membingkai wajah Mizar ketika cowok itu sampai di sebuah bangunan megah yang tak lebih dari sekadar rumah hantu. Seiring debaran dari balik tulang rusuk Mizar yang tak juga redam meski tak lagi berada di dekat Maura.
Bahkan hanya dengan mengulang adegan yang terjadi malam ini dalam benaknya saja, sudah berhasil membuat pemuda itu salah tingkah. Mizar seperti halnya anak remaja yang baru mengenal cinta.
Cinta?
Pemuda itu termangu ketika kata tersebut diam-diam menyusup dalam benak. Rasanya sudah begitu lama Mizar melupakan kata tersebut.
Tidak salah, Mizar memang menyimpan perasaan itu untuk Maura. Sejak bertahun-tahun lalu. Namun, pemuda itu tak memiliki kesempatan untuk mengungkapkan pada si gadis hingga membuat hubungan mereka berakhir dengan salah paham dan menjadikan Mizar kian memendam perasaan.
Setelah malam ini, Mizar seakan kembali berani berharap jika hubungan mereka akan memiliki awal yang baik. Mengingat hal itu, senyum kian rekah membingkai wajah Mizar.
Ia sama sekali tak peduli, jika senyum itu berhasil memancing emosi Anggara yang bertepatan sedang mengambil air minum di dapur.
"Tumben lo udah pulang jam segini? Biasanya juga nggak peduli kalau masih ada bangunan yang disebut rumah!" sapaan remaja lelaki itu sama sekali tak dipedulikan oleh Mizar. Ia terus berjalan ke lantai dua di mana letak kamarnya berada.
Di belakangnya, Anggara mengeram kesal. Cowok itu merasa jengkel akibat diabaikan oleh Mizar.
"Lo sengaja cuekin gue!" seruan Anggara sama sekali tak menghentikan langkah pemuda itu.
Buat apa? Tak ada gunanya. Justru bisa menjadikan perasaan Mizar berantakan. Lagipula keberadaan Anggara sejak awal memang tak dibutuhkan dalam rumah ini.
Cowok itu hanya penting bagi sang papa. Selebihnya tak ada yang menganggap keberadaan Anggara, termasuk Hana. Justru bagi wanita itu, keberadaan Anggara hanyalah menjadi sumber luka yang mencabik jiwa.
Lantas apa mungkin Mizar bisa menganggap keberadaan manusia yang hanya bisa memberikan luka pada mamanya? Jelas tidak.
Kalau saja sang mama memutuskan berpisah dengan Galang sejak kemunculan anak lelaki pria itu dengan wanita lain - Mizar akan menjadi orang pertama yang mendukungnya. Sayangnya, sampai detik ini, Hana sama sekali tak miliki keinginan untuk membuang Galang yang tak berguna itu.
Entah apa yang menjadi pertimbangan sang mama. Hanya saja wanita itu selalu memberikan alasan yang tak sanggup Mizar terima.
__ADS_1
"Berengsek! Gue bakal aduin lo ke Papa!" ancam Anggara membuat langkah Mizar berhenti di anak tangga kali ini.
Ia menoleh dan mendapati raut muka Anggara terlihat geram.
"Coba aja! Lo cuma bisa ngadu ke pria itu kan? Yang sok paling anak, Papa. Oh ya, gue lupa, kan lo emang cuma punya pria itu!"
Tangan Anggara seketika mengepal. Remaja itu tampak sangat kesal sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk dalam kamar. Tak lagi memperpanjang perdebatannya dengan Mizar.
Untuk sesaat, pemuda itu tergemap. Sejujurnya Mizar tak ingin mengatakan kalimat tajam yang baru saja terucap dari mulutnya. Bagaimanapun ia merasa menyesal akibat mengucapkan kalimat tersebut. Itu karena wanita yang melahirkan Anggara lebih dulu kembali dalam pelukan bumi.
Sekalipun wanita itu yang menyebabkan ia tak memiliki sosok papa dalam hidupnya, setidaknya Mizar tak bisa memusuhi orang yang sudah meninggal. Dan, pemuda itu merasa jika ucapannya cukup menyakitkan. Namun, faktanya itu hanya bertahan beberapa saat saja. Sebab, rasa menyesal dalam diri Mizar dibalas secara instan oleh Anggara.
Dari arah kamar yang berada di lantai satu, Anggara menghampiri Mizar dan menyiram pemuda itu dengan seember air dingin. Jelas saja, Mizar yang tak siap dengan serangan mendadak itu terlihat gelagapan. Tak menyangka apabila ia akan mendapat serangan balasan dari Anggara.
"Anggara! Apa yang kamu lakukan pada Mizar?!" serangan itu disusul seruan seorang wanita dari arah berlawanan.
Anggara hanya mendecih sebagai tanggapan. Tanpa mengatakan apa pun, remaja lelaki itu segera berbalik dan masuk ke dalam kamar. Meninggalkan ibu dan anak yang kian membuatnya semakin geram.
"Kamu nggak papa, Cal?" tanya Hana kepada sang anak yang hanya ditanggapi oleh gelengan.
Senyum membingkai wajah pemuda itu. Meluruhkan rasa lelah yang menggantung di pundak Hana.
"Aku nggak papa, Ma. Mama pulang?" Pemuda itu balik bertanya pada sang ibu.
Setahu Mizar, wanita itu tak pulang ke rumah setelah insiden yang terjadi beberapa waktu lalu. Mizar pun hanya pulang untuk mengambil motor dan beberapa potong pakaian pada hari yang sama. Selebihnya ia tinggal di rumah Sky ataupun di basecamp Andromeda.
Baru malam ini Mizar memutuskan untuk pulang hanya demi mengambil beberapa potong pakaian yang masih bersih. Untuk kemudian kembali ke basecamp Andromeda.
Wanita di depannya tersenyum sumir. Lantas mendekat ke arah sang anak semata wayang dan mengiringnya ke kamar masing-masing yang terletak di lantai dua.
__ADS_1
"Iya. Rasanya cuma jadi pengecut kalau Mama, melarikan diri," ucap wanita sambil merangkul pundak Mizar yang basah kuyup.
"Mama bisa basah kalau rangkul aku." Pemuda itu refleks menghindar. Namun, sang mama justru mengeratkan pelukannya.
"Kenapa emang kalau basah? Kamu nggak mau dipeluk, Mama? Mentang-mentang udah ada cewek yang dipeluk?" goda Hana membuat pemuda di sampingnya tampak salah tingkah.
Wanita itu tertawa. Terdengar renyah di telinga Mizar yang diam-diam merasa lega. Meski ia tak menyadari bahwa sang mama tak menyangka jika sang anak yang selalu menunjukkan raut muka dingin hampir tanpa ekspresi itu, bisa menunjukkan sisi dirinya yang malu-malu.
"Siapa sih namanya, Riandra atau Kikan?" Hana kembali menggoda sang bujang.
"Hah? Kok Riandra sama Kikan sih? Mereka itu cuma temen, Ma."
"Yakin cuma temen? Kayaknya Riandra suka tuh sama kamu."
"Ck, itu sih cuma gurauan Arlan doang, Ma." Mizar sengaja menghindar.
"Terus kalau bukan Riandra, siapa dong? Mungkinkah ...?"
"Ssttt ... ini rahasia anak bujang. Nanti deh Mizar bawa ke Mama, kalau udah jadian," ucap Mizar menyela ucapan sang mama.
"Berarti bener dia?"
"Rahasia, Ma. Nanti ya. Mizar pasti bakal bawa dia ke Mama, kok." Mizar bersikukuh sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar. Meninggalkan sang ibu yang masih menatapnya dengan kening berkerut akibat menahan heran.
Di dalam kamar, Mizar bukannya segera bersih-bersih ataupun berganti pakaian, justru berjalan ke arah meja belajar. Netranya tak lepas menatap pigura yang membingkai foto seorang gadis manis berkepang dua.
Senyum pemuda itu kembali merekah. Kini lebih cerah.
Sambil mengusap foto gadis itu, ia berujar sangat pelan. Hampir bergumam,"Kalau sekarang, gue udah boleh jatuh cinta lagi kan?"
__ADS_1