My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Percakapan Abang dan Adik


__ADS_3

Kelas terakhir - yang merupakan kelas Noah- baru saja selesai beberapa menit lalu. Maura sengaja keluar kelas paling akhir karena ada hal yang ingin dibicarakan dengan sang kakak. Ia sengaja agar tak ada orang lain yang mendengar perbincangan mereka.


Tak banyak yang tahu, jika mereka saudara kandung. Maura tak ingin mengatakan pada semua orang bahwa Noah Sirius Vega merupakan kakak kandungnya.


Bukannya tak bangga memiliki kakak yang juga merupakan asisten dosen begitu lanjut S2. Hanya saja, Maura tak ingin hidupnya semakin ribet.


Jujur saja, ia tak mau mengulang sejarah kelam dalam hidupnya. Gadis itu bosan selalu menjadi kurir bagi cewek-cewek yang berusaha mendekati sang kakak, sehingga membuat masa SMA-nya dikorbankan.


Sekalipun hanya pada tahun pertama, tetap saja Maura lama-lama bosan akibat menjadi perantara. Apalagi menghadapi tipe-tipe yang lebih nekat dibandingkan Andara yang memilih untuk sadar diri ketimbang menyusahkan dirinya. Sekalipun hadiah yang mereka kirimkan pada akhirnya hanya memenuhi loker milik sang kakak.


Maura sendiri heran, sejauh ini entah siapa orang yang bisa membuat pemuda sedingin Noah menunjukkan sisinya sebagai manusia. Dan bukannya kulkas dua pintu.


Padahal, Noah bisa bersikap menyenangkan ketika mengajar. Ataupun ketika pemuda itu berada di tengah-tengah keluarganya. Namun, sikapnya menjadi dingin dan tak tersentuh ketika berhadapan dengan seorang wanita.


Ya, meski akan berbeda cerita jika berkaitan dengan prinsip ataupun kesepakatan yang sudah disepakati bersama. Seperti halnya saat ini. Maura butuh perjuangan lebih untuk membujuk sang kakak agar Barata mengizinkannya pergi menjenguk Tante Vella.


"Bang, bantu Ara buat bujuk Papa, dong. Biar Ara diizinin pergi ke Bandung. Lusa Tante Vella udah diizinin pulang ke Pandeglang. Ara mana tahu jalan kalau ke sana."


Perempuan itu mulai membujuk sang kakak yang tengah membereskan buku serta kertas-kertas di atas meja. Demi mendengar ucapan sang adik, Noah menghentikan aktivitasnya dan menatap sang adik.


"Ra, kita udah sepakat soal ini ya. Kamu nggak boleh pergi selain sama Papa, aku, ataupun Bang Agil. Tunggu urusan kami selesai. Baru, siapa pun yang urusannya selesai lebih dulu, dia yang akan nganterin kamu.


Lagian kamu ke sana kan sama kami, kenapa pusing ngurusin jalan sih? Alasan kamu sama sekali nggak masuk akal, Ara."


Wajah Maura memberengut. Yakin negosiasi mereka bakal alot ke depannya.


Lagipula, bisa-bisanya ia tak menyiapkan alasan sebelum menemui sang kakak. Sekalipun Noah memilih jalur yang berbeda dengan keluarga besarnya, tetap saja ada darah Barata Dewa Bumantara dan Sekar Kinanti yang juga mengalir dalam dirinya. Kombinasi pasangan duo pengacara hebat yang dimiliki negeri ini, tetaplah menjadi bagian dari darah dan daging Noah.


"Gimana, udah bisa terima?" tanya Noah kepada sang adik yang masih tampak cemberut.


"Nggak."

__ADS_1


Noah menghela napas. Kali ini perhatiannya benar-benar teralihkan sepenuhnya pada Maura.


"Gini deh, jujur sama Bang Noah, sebenarnya apa alasan kamu pengen cepet-cepet jenguk, Tante Vella?" Noah melemaskan otot wajahnya dan duduk berhadapan dengan sang adik.


"Kamu sama Andara pacaran apa gimana sih? Baru juga seminggu nggak ketemu udah kayak orang bingung gitu?" imbuh Noah tanpa berpikir panjang ketika mengucapkan kalimat tersebut.


"Ish, Abang! Ngarang banget sih kalau ngomong. Araa masih normal ya. Bang Noah tuh yang perlu dipertanyakan!" Gadis itu balas menyerang ucapan sang kakak yang tidak kira-kira.


Noah tertawa sebagai tanggapan. Lantas kembali memasang wajah serius untuk mendengar pengakuan si bungsu dalam keluarga Barata Dewa Bumantara. Sebab, si bungsu sebenarnya dalam keluarga Bumantara adalah Keenan - adik Kenzo.


"Jadi gimana, apa yang bikin kamu buru-buru mau nemuin Tante Vella?"


"Abang bakal ngerti nggak sih kalau Ara, cerita?"


"Coba aja dong. Kan kamu belum cerita, gimana Bang Noah bisa ngerti kalau kamu ngomong aja belum?"


Maura menghela napas panjang sebelum menceritakan keresahannya pada sang kakak. Netra mereka bertatapan dengan sorot mata serius.


Dari awal juga Tante Vella sama suami barunya selalu ngajak Andara buat tinggal bareng. Tapi, cewek itu sok-sokan bilang nggak butuh mereka dan biarin mereka tinggal sama keluarga barunya.


Ara nggak mau kalau sampai Andara terpukul dan menyesal dengan kejadian yang menimpa Tante Vella. Ara mau pastiin langsung kalau dia beneran baik-baik aja. Nggak cukup kalau lewat video call doang."


Jeda cukup panjang, sebelum Maura menambahkan.


"Lagian, dia baru aja kehilangan sosok yang harusnya bakal jadi adiknya di masa depan. Abang juga tahu gimana rasanya kan?"


Bagaimana mungkin Noah bisa lupa. Hari itu adalah hari di mana penyangga hidupnya runtuh. Ya, Sekar Kinanti meninggal akibat kecelakaan yang kurang lebih sama dengan Tante Vella.


Bedanya, wanita yang telah melahirkan Noah dan kedua saudaranya yang lain, terjatuh dari tangga akibat terburu-buru untuk menghadiri persidangan. Ia baru saja menemukan bukti baru yang mengatakan bahwa kliennya yang dituduh sebagai pembunuh sama sekali tak bersalah.


Akibat kurang hati-hati, Sekar tergelincir dari tangga dan mengalami pendarahan hebat di kepala juga daerah kewanitaannya. Barulah ketika hasil diagnosis keluar diketahui bahwa Sekar sedang hamil empat bulan.

__ADS_1


Tak ada yang mengetahuinya. Mungkin juga Sekar sendiri akibat aktivitasnya yang menumpuk di luar sana. Wanita itu sering kali mengabaikan dirinya sendiri untuk memperjuangkan hak-hak orang lain yang harus ia bela.


"Bang Noah ngerti kan sekarang, kenapa Ara mesti cepet-cepet ketemu Andara? Ara sengaja nggak bilang karena nggak mau bikin suasana rumah jadi suram.


Lagian, Ara udah janji sama Andara kalau bakal selalu ada buat dia. Masa perkara gini aja mesti tertunda karena nggak ada yang nganterin Ara? Kan Ara bisa bawa mobil sendiri."


Pemuda di depan Maura mendengarkan dengan serius setiap kalimat yang diucapkan sang adik. Diam-diam ia kagum dengan sikap sang adik yang membuatnya selalu tampak bersinar. Perempuan itu memang selalu memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi sejak dulu.


Noah selalu dibuat kagum dengan sifat adiknya yang satu itu. Ia begitu tulus berteman dengan siapa pun tanpa memandang latar belakang orang itu.


Bahkan ada satu momen yang tak pernah Noah lupakan saat mereka masih duduk di bangku SMP. Salah seorang teman sekelas Maura memiliki keterbatasan dalam segi perekonomian. Uang beasiswa belum juga turun dengan alasan yang terdengar mengada-ada.


Maura tak hanya membuat gerakan pengumpulan koin untuk anak itu, tapi juga membantu mengusut di balik macetnya uang beasiswa yang seharusnya diterima sang teman. Gadis itu pula yang menggerakkan massa begitu tahu jika uang beasiswa yang seharusnya diterima oleh si teman, ternyata disalahgunakan oleh salah satu oknum di sekolah tersebut. Lengkap dengan bukti-bukti yang tak terelakkan lagi.


Sang adik berakhir di ruang BK. Barata Dewa Bumantara datang ke sekolah untuk pertama kali karena anaknya bermasalah. Namun, kasus itu justru menjadi serangan balik pada pihak sekolah dengan adanya bukti yang dikumpulkan Maura.


Pada akhirnya, oknum yang menyalahgunakan uang beasiswa itu, diberhentikan akibat sudah mencoreng wajah sekolah.


Setelah kejadian itu, masih banyak hal yang menunjukkan ketulusan Maura dalam berteman. Meski tidak jarang, sang adik juga dimanfaatkan oleh teman-temannya yang tak punya perasaan.


Gadis itu justru dengan enteng menjawab,"Biarin aja. Anggap aja amal. Mereka bersikap kayak gitu karena nggak punya uang. Ya udah, kenapa nggak Ara kasih aja. Ara punya. Lagian Ara, ikhlas kok. Itu poin pentingnya kan?"


Jawaban yang membuat Barata dan juga Sekar - yang masih hidup pada saat itu - geleng-geleng kepala. Tak sanggup membantah ucapan sang anak bungsu mereka.


"Bang Noah, ih. Kok malah ngelamun sih?" Ucapan Maura membuyarkan lamunan pemuda yang duduk di depannya.


"Eh?"


"Jadi gimana, bisa bantuin Ara buat ngobrol sama Papa, nggak?"


Noah menghela napas sebelum menjawab pertanyaan sang adik.

__ADS_1


"Bang Noah usahain deh." Ia menyerah kalah.


__ADS_2