
Mizar mempercepat langkah. Mengejar Maura yang tak memberikan kesempatan untuk berbicara dengannya. Adegan serupa terulang kembali ketika mereka selesai mengikuti kelas mata kuliah pilihan beberapa hari lalu.
Bedanya, Mizar mudah putus asa pada saat itu. Namun, sekarang ia tak akan mundur. Tekadnya semakin kuat untuk merebut kembali hati gadis itu setelah peristiwa tadi malam.
Keyakinan yang diam-diam ia aminkan dalam hati, bahwa Maura masih memiliki sikap peduli. Dengan begitu ia akan memanfaatkan peluang tersebut untuk memperbaiki hubungannya dengan Maura.
"Ara, tunggu! Sebentar aja. Aku mesti ngomong sama kamu." Mizar berusaha meraih tangan Maura, tapi gadis itu menangkis tangannya dengan cepat.
Tanpa peduli pada pemuda itu, Maura kian mempercepat langkah. Meninggalkan Mizar dan Andara jauh di belakang.
Kalau saja Andara tak segera menyusul temannya itu, pasti akan membuatnya jauh tertinggal.
Meski begitu, Mizar tetap tak menyerah. Sudah ia bilang, kali ini dirinya tak akan mundur begitu saja, sekalipun Maura sudah menolaknya.
Pemuda itu mempercepat langkah. Mengiring Maura yang kini kembali terkejar dan meminta perempuan itu untuk mendengarkannya.
"Ra, please! Sebentar aja. Aku janji nggak akan lama menyita waktu kamu."
"Lo itu batu atau gimana sih? Lagian apalagi yang mesti kita omongin? Nggak ada!" Maura tetap bersikeras menolak permintaan pemuda itu.
Sedangkan Andara yang kembali terjebak dalam perdebatan sengit itu, masih saja heran dengan sikap Mizar yang sama sekali berbeda setiap kali berhadapan dengan Maura. Bisa dikatakan, pembawaan cowok itu lebih kalem dan lembut. Bahkan ia menggunakan istilah 'aku-kamu' ketimbang 'gue-elo'.
Benar-benar kesan yang tak cocok bagi Mizar, kalau Andara boleh jujur. Namun, tetap saja hal itu tak membuat Maura bertekuk lutut. Jangankan cewek lain, Andara juga pasti meleleh jika diperlakukan seperti itu.
"Ara, please! Aku perlu bicara sama kamu. Aku janji ini nggak akan lama." Mizar memohon entah untuk yang ke berapa kali. Namun, perempuan itu tetap saja keras kepala.
Kalau saja ia tak bertekad dalam hati, mungkin dirinya akan kembali kalah dengan sikap keras kepala perempuan itu. Namun, Mizar sudah bertekad, tak akan menyerah dengan mudah kali ini.
Tak peduli, jika dirinya saat ini menjadi pusat perhatian banyak orang. Bahkan beberapa di antaranya jelas-jelas menatap Mizar dengan raut muka heran.
Ya, tentu saja, si cowok yang dikenal sedingin pegunungan Alpen, bisa bersikap setengah tolol di hadapan Maura. Lihat saja, Mizar tak hanya merendahkan suaranya, tapi juga menahan kesal yang sesekali terlihat di wajah cowok itu.
"Ra, sekali ini aja. Setelah itu, kamu mau benci aku lagi terserah. Aku nggak peduli. Tapi kali ini, tolong dengerin aku sekali ini," mohon Mizar dengan mengorbankan harga diri yang selama ini ia junjung tinggi-tinggi.
Seandainya, cewek lain yang diperlukan sebagaimana Maura sekarang, pasti bakal rela melakukan apa pun yang Mizar mau. Tentu, itu karena semua kaum hawa di kampus ini selalu mengharapkan Mizar bakal luluh dan menjadikan mereka hanya satu-satunya.
Biar bagaimanapun, Mizar tetaplah Mizar. Hal itu tak akan terjadi, sekalipun para perempuan tersebut menggunakan segala cara untuk mendekati dirinya. Mizar tetap akan bersikap dingin dan tak akan peduli sama sekali.
"Gue nggak ada waktu buat ngobrol sama lo!" tegas Maura tak memberikan kesempatan bagi Mizar untuk menjelaskan.
Lelaki itu kelabakan. Wajah Maura tampak serius. Bukan tidak mungkin perempuan itu akan benar-benar tak memberinya kesempatan. Kecuali Mizar menggunakan cara lain untuk menarik simpati Maura.
__ADS_1
Dan, satu-satunya cara ia pikirkan sekarang hanyalah meminta bantuan Andara untuk membujuk perempuan itu.
"Lo temen Ara, kan?" tanya Mizar sambil menahan tangan Andara yang berjalan di samping Maura.
Gerakan tersebut membuat cewek itu terkejut dan terpaksa berhenti akibat Mizar menahan tangannya terlalu kencang.
"A-apa urusannya sama gue?" tanya perempuan itu tergagap.
Andara terlihat panik. Pasalnya dia tak menduga jika Mizar tiba-tiba melibatkan dirinya. Padahal ia berusaha untuk tak terlihat mencolok di depan pemuda itu.
Lebih dari itu, ada urusan yang belum selesai di antara mereka. Bagaimana bisa Andara hendak melibatkan diri dalam urusan Mizar dengan Maura? Lagipula, Andara bukannya berutang budi pada Mizar, melainkan pada Maura.
"Lo punya urusan sama gue. Bukannya gitu, Nona AJ? Atau gue perlu bilang sama Joshua kalau ada anggotanya ada yang ikutan balapan liar?"
Senyum membingkai wajah Mizar ketika berhasil membuat langkah perempuan itu berhenti. Kini mereka saling berhadapan. Andara menatapnya dengan sorot tajam.
Mizar tahu betul, sebagai ketua BEM, Joshua - teman satu kelasnya itu - membuat aturan yang tak boleh dilanggar oleh para anggota. Termasuk untuk tak terlibat dalam balapan liar.
Kalau Andara sampai ketahuan terlibat dalam balapan liar, perempuan itu pasti bakal mendapat hukuman. Dan, jelas dia akan mempertimbangkan untuk membantu dirinya. Begitulah yang dipikirkan Mizar. Namun, yang terjadi benar-benar di luar dugaan.
"Sorry, gue bukannya nggak mau bantuin lo. Tapi, urusan lo sama Ara, nggak ada kaitannya sama gue ikut balapan liar ataupun nggak. So, silakan cari cara lain tanpa harus libatin gue."
Mizar tercengang. Sama sekali tak menduga jawaban yang diberikan oleh perempuan itu. Bahkan ketika Andara meninggalkan cowok itu, Mizar masih saja terpaku di tempatnya.
***
Mizar mondar-mandir di tongkrongan. Wajahnya sama sekali terlihat tak santai. Keningnya berkerut. Sementara raut muka pemuda itu benar-benar terlihat keruh.
Sesekali ia menggigit ujung kuku ibu jari. Kebiasaan yang tak bisa ia tinggalkan ketika sedang berpikir serius. Itulah sebabnya ia tak bisa duduk santai begitu saja. Ada hal yang mengganggu pikiran pemuda itu hingga membuatnya terus bergerak akibat gelisah.
Bahkan ulahnya membuat Jerome yang semula fokus bermain gim online, kini mulai terganggu dengan perilaku pemuda itu.
"Ngapain sih, udah kayak setrikaan mondar-mandir depan gue?" tegur Jerome pada Mizar yang tampak tak peduli.
Pemuda itu tak memberikan tanggapan. Ia masih memikirkan cara untuk menaklukkan Maura. Setidaknya untuk kali ini saja.
"Astaga, Zar! Lo ambien apa gimana sih?" Jerome kembali protes ketika Mizar tak juga berhenti mondar-mandir di hadapannya.
"Gue yakin harusnya cara itu bakal manjur. Kenapa dia berani nolak gue?"
"Ck, apalagi sih kali ini? Ara nggak mau ngomong sama lo? Mampus! Emang bener kayak gitu sih!"
__ADS_1
Jerome yang merasa kesal akibat ulah Mizar justru menyumpahi pemuda itu. Kali ini dia benar-benar kalah bermain game online akibat terganggu oleh Mizar.
"Lo nyumpahi gue?" Pemuda itu meninggikan suaranya. Tersulut oleh ucapan Jerome. Meski begitu tak ada hal yang benar-benar bisa ia lakukan.
"Ya menurut lo?"
"Tahulah. Kesel gue. Bantuin gue dong, Jer!"
Akhirnya pemuda itu pasrah juga. Duduk di samping Jerome yang sudah tak antusias memainkan ponselnya.
"Ck, apaan?" Jerome menjawab asal-asalan.
"Temennya Ara, yang malam itu harusnya tanding sama gue, ternyata dia anak BEM."
Jerome menoleh ke arah Mizar. Kening pemuda itu berkerut.
"Oh ya? Siapa sih dia sebenarnya? Gue nggak gitu ngeh waktu itu."
"Ck, heran. Pikiran lo di mana sih waktu momen-momen penting gitu?"
"Nggak tahu. Ketinggalan di apart mungkin. Lagi di-charger. Nggak bisa mikir apa-apa."
"Sinting. Namanya Andara."
"Oh, Andara. Gue kenal tuh."
Kini Mizar sepenuhnya berhadapan dengan Jerome. Pernyataan kawannya itu tak hanya membuat Mizar kaget, tapi juga syok.
"Terus, kenapa lo baru bilang sekarang?"
"Apa pentingnya kalau gue bilang kemarin? Gue juga nggak tahu kalau dia ternyata juga punya hobi balap. Lagian waktu itu kan dia nggak kasih tahu identitasnya.
Dan yang datang sama sekali berbeda sama Andara yang gue kenal. Mana tahu kalau ternyata AJ itu orang yang gue kenal."
"Ck, udahlah nggak penting lagi sekarang. Ayo ikut gue!" Mizar tiba-tiba berseru ketika sebuah rencana muncul dalam benaknya.
Ia bahkan menarik tangan Jerome agar mengikutinya. Sekalipun temannya itu malas bergerak dari posisi ternyamannya saat ini.
"E buset, mau ke mana elah?"
"Apartemen lo!"
__ADS_1
"Hah, ngapain?"
"Nemuin, Andara!"