
Dering ponsel mengalihkan perhatian Maura. Sejak percakapan terakhir dengan sang kakak kedua, gadis itu tak lagi keluar dari kamar. Bahkan ketika sang ayah datang sekalipun. Maura sama sekali tak beranjak dari kasur dan hanya fokus menatap hampa langit-langit kamar.
Pikiran perempuan itu penuh sesak, hingga dering telepon mengalihkan perhatiannya.
"Halo." Maura menjawab malas saat membaca nama kontak yang muncul di layar ponselnya. Andara.
"Ra, gue butuh bantuan lo!" ucap suara dari seberang panggilan telepon tanpa basa-basi.
Ya, begitulah mereka. Tak akan sungkan untuk saling meminta bantuan. Terlebih Andara yang lebih sering merepotkan Maura ketimbang membantu perempuan itu.
"Ck, apalagi kali ini?" Gadis itu masih saja menjawab asal-asalan.
Dari ujung telepon, Andara mendegus. Lantas terdengar suara derap kaki yang berlari.
"Gue diare."
"Ya, terus?"
"Ck, bentar. Ini gue di kamar mandi. Lagi."
"Ish, jorok!" teriak Maura sambil menjauhkan ponselnya dari telinga.
Perempuan itu tak sanggup mendengar bunyi dari ujung telepon yang membuat perutnya ikut teraduk. Hingga suara Andara kembali terdengar memanggil namanya. Barulah Maura mendekatkan benda pipih itu ke daun telinganya.
"Gue serius bantuan lo, Ra. Ini tentang hidup dan mati."
"Kelamaan lo! Banyak drama. Jelas nggak mungkin kan, lo minta gue beliin obat diare di apotek? Ojol banyak, minta tolong aja sama mereka."
"E buset, temen gue satu ini, teganya nggak ketolongan!"
"Ck, ya udah buruan. Minta tolong apaan sih?"
"Gantiin gue turun dong malam ini."
"Hah?! Gila lo! Nggak ya. Gue udah lama nggak pernah ngejoki, Monyet. Yang ada bisa nyungsup gue!" Maura menolak mentah-mentah permintaan temannya.
__ADS_1
Andara memang terkadang tak pakai otak jika meminta bantuan. Begitu juga saat ini. Bisa-bisanya cewek yang hobi balapan itu, meminta Maura menggantinya.
Bukannya Maura tak bisa. Hanya saja, sudah lama sekali perempuan itu tak menaiki motor besar. Apalagi membawanya dengan kecepatan tinggi. Jelas saja Maura menolaknya mentah-mentah.
Terkahir kali ia mengendari motor sport hampir dua tahun yang lalu. Itu pun terpaksa berhenti akibat sang papa terlalu khawatir dengan keselamatan sang putri semata wayang.
Sekalipun motor yang dulu sering kali ia pakai kini berpindah kepemilikan kepada Kenzo - sepupunya. Bahkan lebih sering berada di garasi rumahnya, sebab tak cukup tempat apabila ditaruh di rumah sang paman. Lagipula rumah mereka hanya terpisah jalan perumahan. Alias saling berhadapan.
Jadi, sebenarnya mudah saja bagi Maura menerima permintaan tolong temannya itu. Tapi, tetap saja Maura tak cukup nyali mengambil risiko.
"Ayolah, Ra. Kali ini doang!" bujuk Andara dari ujung telepon.
"Nggak ada ya, Anjir. Lo mau gue nyungsup gara-gara udah lama nggak bawa motor?"
Maura masih ngeri membayangkan kecanggungannya, tapi Andara sama sekali tak terdengar memiliki beban. Temannya itu justru dengan entengnya meminta Maura untuk menggantikan cewek itu. Sungguh tak masuk akal.
"Ayolah, Ra. Kita kan, Bestie."
"Heh, Bestie juga kira-kira kali, Andara!" omel cewek itu sambil mengacak rambutnya hingga berantakan. Heran, bagaimana bisa ia menemukan manusia ajaib seperti Andara.
Ah ya, kecuali mata kuliah pilihan yang benar-benar dihindari oleh Andara. Itulah mengapa mereka pisah kelas.
Bukan apa-apa. Andara cuma tak mau terlibat lebih jauh dengan Noah. Begitulah, gadis itu menyimpan rasa suka pada kakak sang teman. Namun, dia tak cukup memiliki percaya diri untuk menunjukkan perasaannya.
Ketimbang berharap pada hal semu, Andara lebih memilih untuk membatasi diri.
"Lo nggak perlu menang deh. Lo cukup datang dan gantiin gue doang. Abis gitu, langsung pergi juga gak papa. Yang penting lo datang, biar gue nggak disangka pengecut."
"Ck, yaudah deh. Sini alamatnya."
"Serius lo mau?"
"Lo mau gue berubah pikiran?"
"Nggak, nggak! Jangan! Udah bener lo mau gantiin gue!" Andara berseru keras dari ujung telepon hingga membuat Maura lagi-lagi menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.
__ADS_1
"Thanks, Ra. Gue bakal kasih apa pun yang lo!" cewek itu menambahkan di ujung panggilan teleponnya.
Dan, di sinilah Maura sekarang. Bertukar peran dengan Andara hanya demi agar cewek itu tak dilabeli pengecut oleh lawan tandingnya. Maura bahkan capek-capek memakai wig untuk menyamar sebagai temannya itu.
Secara rambut Maura hanya sebatas bahu, sedangkan rambut Andara hampir menyentuh pinggang. Heran juga Maura, sekelas cewek yang bisa disebut tomboy - bahkan hampir menyerupai laki-laki, tapi betah memanjangkan rambutnya. Hingga membuat Maura sempat curiga apabila gadis itu memiliki kehidupan yang lain seperti dalam drama.
"Hei, lo ... AJ?" sapa seorang cowok seumuran Maura ketika ia menepikan motor di area balapan.
Gadis itu membuka helm full face sebatas mulutnya saja. Tak mau ambil risiko jika wajahnya dikenali orang lain.
Sebatas info saja, Sagara juga termasuk cowok yang memiliki hobi balapan. Itulah pertama kali mereka bertemu sekitar dua tahun lalu. Sebelum Maura memutuskan benar-benar berhenti dari dunia yang kembali ia geluti malam ini.
"Ya, Andara Wijaya." Maura mengulurkan tangan untuk berkenalan. Sekadar basa-basi untuk mengakrabkan.
Toh, Andara tak berpesan apakah ia boleh mengungkapkan identitas cewek itu atau tidak. Jadi, Maura bisa seenaknya menggunakan identitas barunya itu.
"Rendra dari Venus. Yang lo hubungi buat turun malam ini. Gimana, udah siap?" Orang yang mengaku sebagai Rendra itu membalas uluran tangan Maura. Lantas mereka berjabat tangan.
"Ya, mana mungkin gue di sini kalau nggak siap."
"Oke, bagus." Rendra menggaruk ujung hidung mancungnya. Lantas menelisik Maura dengan sorot siaga. "Gue nggak sangka kalo lo cewek, btw," imbuhnya tampak ragu-ragu.
Lantas menepuk punggung tangan Maura yang berada di stang motor.
"Haha ... ini bukan area yang perlu bahas gender kan?" Gadis itu menimpali dan membuat Rendra ikut tertawa.
"Tentu saja. Di sini area bebas gender. Udah tahu lawan lo kan?" Merasa bahwa sosok di depannya merupakan anak baru di kawasan tersebut, Rendra memberikan sedikit penjelasan.
"Sayangnya, gue belum tahu."
"Dia belum datang. Tapi, teman-temannya ada di sana. Geng Andromeda. Cowok di atas motor hitam itu ketuanya." Rendra menunjuk ke arah gerombolan yang tampak familiar.
'Sky?!' seru gadis itu dalam hati saat menyadari sosok yang ditunjuk oleh Rendra.
Bersamaan dengan itu, muncul pengendara motor lain yang mendekati gerombolan tersebut. Maura tahu betul siapa lelaki yang baru saja menepikan motornya itu sebelum melepas helm dari kepalanya sekalipun.
__ADS_1
Mizar Sirius Rigel!