
"Ara, tungguin gue!" seruan Sagara tak menghentikan langkah kaki perempuan itu.
Maura justru mempercepat langkahnya. Menghindari seruan Sagara. Lebih tepatnya ketika jarak pandangnya dengan Mizar sudah cukup jauh. Maura sengaja mempercepat langkahnya agar Sagara tertinggal di belakang.
Meski begitu, Sagara tetap saja tak menyerah dan tetap mengikuti perempuan itu. Padahal pertemuan mereka berakhir tidak baik kemarin. Memang apalagi yang Sagara harapkan?
Seharusnya dengan melihat sifat Sagara, cowok itu tak akan ambil pusing dan bakal meninggalkan Maura begitu saja. Lagipula, Sagara yang lebih dulu mengambil keputusan untuk akhir hubungan mereka. Menjadikan Maura semakin yakin jika tak ada lagi urusan di antara keduanya.
Toh tidak hanya sekali dua kali Sagara melakukan hal yang sama kepada perempuan lain. Tidak hanya Maura. Mereka berakhir begitu saja setelah hubungan keduanya retak dan tak menguntungkan bagi Sagara.
Kenapa pemuda itu masih saja muncul di depan Maura dan mengejarnya sampai sejauh ini?
Dengan sifat Sagara, kejadian kemarin harusnya cukup mengakhiri hubungan mereka yang tak akan pernah memiliki ujung.
"Ra, kita mesti bicara!"
Perempuan itu menoleh cepat ke arah pemuda yang mengejarnya sejak tadi. Ia menyerah. Kali ini membiarkan Sagara mendapatkan apa yang dia inginkan.
"Cukup, Ga. Lo nggak perlu ikutin gue! Dan, kayaknya nggak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan!" tegas perempuan itu membuat Sagara tergemap di tempat.
Pemuda itu seakan tak mempercayai indra pendengarannya sendiri. Tidak biasanya Maura bersikap keras padanya. Mereka selalu memiliki hubungan yang baik. Perempuan itu selalu bersikap ramah dan hangat pada Sagara. Namun, sejak kemarin sikapnya berubah.
Bukannya mereka tak pernah berbeda pendapat. Hal itu justru sangat wajar. Namun, tidak pernah sekalipun Maura terlihat marah seperti kali ini.
Maura menjadi lebih dingin dan tak acuh pada Sagara. Hal itu pula yang membuat si pemuda berpikir semalaman. Lantas menyesali ucapannya saat bertemu dengan Maura sore harinya.
"Ra, lo serius ngomong gini?" tanya Sagara masih tak mempercayai ucapan perempuan di depannya.
"Ya. Ada masalah?"
Pemuda itu menyugar rambutnya hingga terkesan berantakan. Lantas menatap Maura dengan sorot tajam.
"Lo beneran buang gue gitu aja?"
__ADS_1
"Lo kan yang punya pikiran kayak gitu? Kenapa sekarang jadi lo yang nggak terima?"
"Bukannya gitu maksud gue, Ra. Lo keliatan suntuk dan gue cuma berusaha menghibur. Gue ...."
"Ga, please! Kayaknya lo nggak perlu usaha lebih dari ini. Gue capek. Terutama sama lo."
Mulut Sagara ternganga. Pemuda itu kembali menyugar rambutnya dengan wajah frustrasi. Lantas mendekap bahu Maura yang segera disingkirkan oleh perempuan itu.
"Ra, kita udah sama-sama dari lama loh. Lo ...."
"Sama-sama doang kan? Bukannya sama cewek lain lo juga gitu? Sama-sama dari lama, terus berakhir gitu aja? Itu kan hal biasa buat lo. Kenapa sekarang lo keberatan?"
Wajah Sagara terlihat gusar. Lantas kembali mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Ra, lo beda. Lo nggak kayak mereka yang nuntut mesti jadian. Lo ...."
"Oh jadi itu persoalannya? Kalau gue nuntut status hubungan dari lo kayak yang lain, lo juga bakal buang gue seenak yang lo mau dong? Nggak mau rugi banget lo jadi cowok!" tandas Maura sama sekali tak terlihat gentar. Padahal kedua tangan Sagara sudah mengepal. Menahan kesal.
Tanpa menunggu tanggapan Sagara, perempuan itu memutar badan dan pergi begitu saja. Masih ada tempat yang harus ia kunjungi sekarang.
***
Me: Gue ada keperluan sebentar. Lo kasih kabar aja begitu selesai rapat. Gue bakal langsung nyusul ke tempat janjian.
Maura mengirim pesan itu kepada Andara. Sesaat setelah ia sampai ke sebuah pemakaman umum yang tampak sepi. Kalau saja bukan siang hari, Maura juga pasti bakal merinding hanya demi melewati jalan ini saja.
Andara: Oke. Nggak lama lagi bakal rampung kayaknya.
Perempuan itu menyimpan ponsel dalam tas setelah membaca balasan dari Andara. Lantas keluar dari mobil tak lama kemudian.
Dengan langkah pelan, Maura menapaki jalan setapak yang membawanya ke sebuah makam yang sudah ia hafal di luar kepala.
Hampir setiap bulan, Maura selalu menyempatkan pergi ke pemakaman tersebut. Hanya sekadar bercerita dengan sang sahabat yang telah lama pergi dalam pelukan bumi.
__ADS_1
Ujung mata perempuan itu berembun. Faktanya kehilangan Raisa bukanlah hal mudah bagi perempuan itu.
Ya, Raisa yang sudah menemani perempuan itu melewati hampir tujuh belas tahun hidupnya di dunia. Sayang, sahabatnya itu harus lebih dulu pergi di usia yang begitu muda.
Katanya, mati di usia muda merupakan nasib baik. Namun, hal itu tidak berlaku bagi Maura jika dirinya harus kehilangan Raisa.
Ya, bisa jadi Raisa mendapatkan nasib baik, tapi Maura tentu tak mendapatkan bahkan setengah dari nasib baik yang diterima sang sahabat.
Setelah kehilangan wanita yang telah melahirkannya, tentu tak mudah bagi Maura yang juga harus kehilangan Raisa. Sahabat yang menjadi kekuatannya di saat ia hancur dan terpuruk.
"Huft ...."
Gadis itu menghela napas. Menghapus air mata yang menggenang di ujung netranya. Lantas mengusap nisan yang mengukir nama Raisa. Namun, netra perempuan itu tetap saja basah.
"Haha ... gue tetep aja cengeng kalau berkaitan sama lo, Sa. Parah banget nggak sih? Lo sih, tiba-tiba aja pergi ninggalin gue," gumam Maura seorang diri sambil terus mengusap nisan Raisa.
"Sorry ya Sa, dateng-dateng udah ngeluh. Lo apa kabar, Sa? Udah bahagia ya di sana." Sorot mata Maura lekat memperhatikan batu nisan sang teman.
Setiap kali datang, Maura selalu menanyakan kabar Raisa. Meski ia tahu, jawabannya akan tetap sama. Bahwa seperti juga Mama, Raisa pun pasti merasa bahagia karena telah kembali dalam pelukan bumi.
Lantas tangannya kembali bergerak untuk meletakkan buket bunga yang berisi mawar, daisy, seruni kuning, hingga bunga matahari. Bunga-bunga yang selama ini menjadi kesukaan Raisa.
"Sa, gue lagi kesel banget tahu nggak. Coba tebak siapa yang gue temui setelah sekian lama nggak ketemu?" lirih Maura tertelan angin lalu.
Perempuan itu menghela napas. Berusaha melepaskan sesak yang mendesak dalam dada.
"Gue mesti gimana Sa, kalau gue ketemu lagi sama Mizar? Setelah sekian lama kami nggak pernah ketemu. Gue kira semua bakal aman-aman aja. Tapi, gara-gara si Noah sialan, gue mesti satu kelas sama Mizar. Gue ... gue ...."
Kalimat perempuan itu tak tuntas. Sebab berganti isak yang mendesak dari dalam jiwa.
Maura tak sanggup mengakui, bahwa dirinya sudah lelah menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan ini.
"Kalau saja lo masih di sini nemenin gue, Sa," gumam Maura sebelum air mata kian tumpah membasahi pipinya.
__ADS_1