
Mizar mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya setelah mengakhiri panggilannya dengan Sagara.
Raut muka Maura semakin tak bisa dijelaskan. Perempuan itu marah. Jelas. Tak ada orang yang tak akan marah jika hak privasinya diterobos oleh orang luar.
Lagipula, apa hak Mizar melarang gadis itu untuk tidak menemui Sagara?
Meskipun secara sadar Maura memang sedang menjauhi lelaki itu, tapi bukan berarti tak ada kemungkinan ia bakal bertemu lagi dengan Sagara. Terlebih, ia harus mencari tahu dengan tangannya sendiri, apa yang membuat lelaki itu mengeroyok Mizar sampai babak belur.
"Lo nggak perlu ikut campur urusan gue sama Sagara!" tandas Maura sambil merampas ponsel dari tangan Mizar.
Pemuda itu tak sanggup berkata-kata. Ia memilih bungkam. Namun, tak lantas melepaskan tatapan yang sulit diterjemahkan dari Maura.
"Aku nggak mau kalau kamu sampai terlibat dengan Sagara, Ra."
"Itu kenapa gue bilang lo nggak perlu ikut campur!"
"Tapi, Ra ...."
"Lo nggak ada hak buat ngelarang gue buat dekat sama siapa pun, Zar!"
Ucapan Maura membuat pemuda itu merasa tertampar. Maura benar, siapa dia melarang gadis itu supaya tak dekat dengan Sagara? Namun, akibat pemikiran seperti itu pula, hal buruk terjadi di masa lalu hingga membuat Mizar menyesal sampai detik ini.
Apalagi buntut dari masalah ini membuat hubungannya dengan Maura kian renggang sampai sekarang.
Pemuda itu menghela napas dengan kasar. Ia kembali kehilangan kata-kata tak sanggup memberikan jawaban atas pertanyaan Maura.
Bagaimana seandainya jika ia mengatakan bahwa dirinya memiliki hak atas Maura? Apa perempuan itu bisa terima?
Mizar tahu jawabannya. Pernyataan itu hanya akan membuat hubungannya dengan Maura makin memburuk. Pemuda itu tahu, satu-satunya yang bisa memperbaiki keretakan hubungan mereka hanyalah meluruskan kesalahpahaman di masa lalu.
Dan, Mizar tak bisa melakukan hal itu selama Maura masih bersikeras bahwa dirinyalah yang bersalah dan tak memberikan kesempatan untuk menjelaskan.
Ya, pemuda itu bisa saja langsung mengatakan pada Maura apa yang terjadi sebenarnya. Namun, ia tak mau melakukan hal itu. Cara yang juga sempat disarankan oleh Sky hampir tiga tahun yang lalu, hanya akan memperburuk keadaan. Sebab, Maura pasti akan menyangkal.
Apalagi perempuan itu kini memiliki kedekatan dengan Sagara. Cara yang terpikirkan oleh Mizar, tentu tak akan berguna.
Huft! Pemuda itu kembali menghela napas panjang. Ia benar-benar kehabisan cara dan kata untuk meluluhkan sifat keras kepala Maura.
Tepat di saat yang sama, pintu apartemen Andara terbuka dari luar. Sang pemilik apartemen muncul diikuti Jerome dari belakang.
__ADS_1
Wajah perempuan itu tampak mendung dengan sisa air mata di pipinya. Maura yang menyadari kondisi perempuan itu langsung mendekat dan merangkul pundak sang teman. Berusaha menahan amarah dan mengesampingkan urusan pribadinya dengan Mizar.
Padahal perempuan itu berniat mengumpat di hadapan Andara. Karena akibat ulah gadis itu, ia harus terkurung dengan Mizar dalam suasana canggung. Namun, hal itu urung dilakukan ketika melihat wajah Suram Andara.
"Ada apa?" tanya Maura dengan suara dibuat selembut mungkin. Jujur saja amarah yang sebelumnya menumpuk, tak bisa redam sepenuhnya.
"Nyokap gue, dia kecelakaan. Sekarang dirawat di rumah sakit. Kondisinya sedang kritis. Gue mesti ke Bandung sekarang," ujar Andara dengan suara bergetar. Napas gadis itu masih tersengal dalam rangkulan Maura.
"Gu- ...."
Kalimat Maura rumpang. Suara perempuan itu tersekat. Tak ada kata yang sanggup ia ucapkan sekarang. Bahkan sekadar kalimat penghiburan.
Ia memahami kekacauan Andara. Pasti berat bagi Andara mengetahui kabar tersebut. Perempuan itu memang mengatakan dengan lantang bahwa dirinya tak perlu kasih sayang kedua orang tuanya. Yang memutuskan untuk berpisah dan tinggal bersama keluarga barunya masing-masing.
Meski begitu Andara tetaplah seorang anak dari wanita yang telah melahirkannya. Hubungan itu tak akan pernah terputus oleh apa pun. Bagaimanapun perempuan muda itu pasti bakal merasakan sakit ketika mendengar kabar buruk tentang kondisi ibunya.
"Kalau gitu, gue bakal temenin lo ke Bandung."
Andara menggeleng. Sebagai tanda penolakan. "Nggak perlu. Gue nggak tahu bakal berapa lama di sana, Ra."
"Tapi dengan kondisi lo kayak gini, gimana lo mau nyetir?" Maura khawatir dengan kondisi Andara yang terlihat sangat buruk sekarang.
"Apa jaminan lo bisa anterin dia dengan selamat?" serang Maura overprotective. Kilasan buruk masa lalu kembali terulang dalam benaknya.
"Gue nggak punya jaminan, tapi gue bakal mengupayakan semua yang gue bisa."
Maura mendecih. Meragukan kalimat yang terucap dari mulut Jerome.
"Kalau gitu, biar gue yang anterin Andara balik."
"Jangan keras kepala! Kalian berdua cewek. Bakal bahaya perjalanan jauh menjelang malam." Nada bicara Jerome tak lagi rendah.
"Kalau gitu apa jaminannya lo bisa anterin Andara selamat sampai tujuan?" Maura sepenuhnya berteriak sekarang.
Gadis itu kembali merasakan trauma atas kehilangan yang pernah terjadi di masa lalu. Bahkan cukup membuat Jerome tampak kaget akibat seruan yang tiba-tiba.
Mizar yang tak berbuat apa-apa, memberinya tanda untuk menekan emosi pemuda itu dan bicara baik-baik dengan Maura.
"Gue akan upayakan apa pun yang gue punya supaya Andara selamat sampai tujuan. Gue bakal jaga kepercayaan lo sebagai jaminan."
__ADS_1
Maura menoleh cepat ke arah si pemuda. "Serius lo?"
"Apa gue keliatan bercanda? Lagian itu lebih mungkin dan masuk akal ketimbang lo yang nganterin dia."
Perempuan itu tertegun. Menurut penilaiannya, cowok itu terlihat kalem dan sedikit pendiam, tapi siapa sangka jika mulutnya cukup tajam ketika berbicara.
"Oke. Gue bantuin lo berkemas," putus Maura kemudian. Lantas menggiring Andara masuk ke dalam kamar.
Tangis perempuan itu belum sepenuhnya mereda. Setelah bercerita kepada Maura tentang kondisi ibunya, setitik air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
"Tante Vella pasti bakal baik-baik aja," ucap Maura berupaya memberikan temannya itu kekuatan.
Andara mengangguk pasrah. Meski raut wajahnya menunjukkan jika perempuan itu tidak sepenuhnya yakin dengan ucapan Maura.
"Sorry, gue jadinya nggak bisa nganterin lo pulang," bisik Andara sedikit menyesal.
Maura menggeleng pelan. Tangan perempuan itu tak henti mengepak beberapa potong baju milik Andara ke dalam tas ransel.
"Nggak usah lo pikirin. Gue bisa minta jemput Bang Noah. Yang paling penting sekarang, lo mesti berangkat ke Bandung."
Air mata Andara kembali rebas. Gadis itu memeluk Maura cukup erat.
"Thanks, Ra."
"Gue nggak ngelakuin apa pun, Dar. Lo harus lebih kuat. Oke? Kabari gue begitu lo sampai sana. Jangan lupa kasih tahu gue sekecil apa pun perubahan Tante Vella."
Andara hanya mengangguk sebagai jawaban. Lantas mengurai pelukannya dari Maura dan menghapus sisa air mata di pipinya. Dibantu Maura yang juga berusaha menahan air mata.
Perempuan itu pernah merasakan ditinggalkan orang yang paling ia sayang dalam hidupnya. Tentu saja kehilangan seorang ibu bukanlah hal mudah Maura. Maka, ia tak ingin Andara merasakan hal yang sama.
"Gue pergi sekarang," pamit Andara. Sekali lagi memeluk sang teman sebelum mereka keluar ruangan.
"Gue titip Dara, Jer. Jangan sampai dia kenapa-napa!" tandas Maura dengan sungguh-sungguh. Sorot matanya menatap tajam ke arah pemuda itu.
Jujur, Maura tak ingin mengulang kejadian yang sama seperti yang pernah terjadi tiga tahun lalu.
"Gue janji bakal bawa Andara selamat sampai tempat tujuan. Lo nggak perlu khawatir."
Maura menghela napas. Meloloskan sesak yang tiba-tiba kembali menghimpit dada.
__ADS_1
Setitik air mata membasahi pipi perempuan itu. Dalam hati mengharapkan agar peristiwa kelam itu tak kembali terulang.