
Maura terbangun dengan mata sembab keesokan harinya akibat menangis semalam. Perasaan perempuan itu terasa hampa.
Ia bahkan tak tahu pasti kapan dirinya jatuh tertidur karena kelelahan. Perempuan itu baru terbangun ketika hari sudah berganti. Abigail yang membangunkannya.
Wajahnya sama sekali tak menunjukkan tanda kehidupan. Muram semenjak bangun tidur. Sorot matanya kosong. Bahkan ketika turun untuk sarapan bersama kedua sang kakak sekalipun, perempuan itu lebih banyak bungkam.
Di sisi meja yang berseberangan, Noah mulai tak sabar. Meja makan di rumah ini tak seperti kebanyakan di rumah gedongan milik orang-orang. Yang membuat penghuninya hanya bisa saling tatap tanpa bersentuhan. Namun, Noah merasa jarak antara dirinya dan sang adik begitu jauh.
Padahal jarak antara dirinya dan Maura tak sampai sepanjang tangan pemuda itu. Ini membuat Noah kesal. Ia bahkan mendapat peringatan dari si sulung agar tak mengganggu adiknya itu.
"Ara berangkat bareng Bang Noah, ya," ucap si adik membuat Noah mendongakkan wajah.
Netra mereka saling bertatapan. Lantas dengan cepat mengangguk tanpa berkomentar apa pun.
Barulah setelah aktivitas pagi itu dilewatkan dengan sarapan bersama - minus sang papa - kedua bersaudara itu berangkat lebih awal dari sang kakak pertama. Yang katanya masih harus menyiapkan berkas lain sebelum berangkat ke firma hukum milik keluarga mereka.
"Ra, lo nggak mau cerita apa gitu sama gue?" tanya Noah mulai bosan. Sepanjang perjalanan menuju kampus mereka hanya saling diam.
Gadis di sampingnya menoleh ke kanan. Menatap raut muka sang kakak yang tampak serius sekaligus khawatir.
"Cerita apa, Bang?"
Noah tampak ragu-ragu saat mengatakan,"Soal tadi malam mungkin?"
Maura menipiskan bibir. Ia mengalihkan pandangannya ke depan tanpa berminat menjawab pertanyaan sang kakak.
Jelas saja Noah merasa gemas. Bukan ini yang dia harapkan. Lelaki itu berharap, Maura mengatakan apa pun yang ada dalam pikirannya saat ini.
Biar bagaimanapun, ada rasa bersalah dalam diri Noah. Terlebih dengan sikapnya yang seolah menjebak sang adik untuk mengikuti kelasnya. Tak bisa dimungkiri, Noah memang memiliki tujuan khusus selain agar Maura memenuhi kuota. Namun, setelah apa yang terjadi, ia sedikit menyesal kini.
"Nggak ada, Bang. Ara baik-baik," ucap sang adik justru melukai perasaan Noah.
Bagaimana mungkin ia percaya bahwa Maura baik-baik saja? Penampilan perempuan itu sangat buruk. Anak kecil juga tahu, bahwa Maura sedang tak baik-baik saja, tapi bisa-bisanya sang adik membohongi dirinya. Yang bahkan bukan anak kecil lagi.
"Dek, lo pikir gue anak kecil yang bisa lo bohongi gitu aja?" Nada bicara Noah mulai berubah. Tingkat keseriusannya naik satu tingkat lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
Dengan memanggil Maura dengan sebutan 'Dek', itu sudah menjadi pertanda bahwa si bungsu tak bisa mengelak lagi.
Maura menghela napas panjang. Membalas tatapan Noah yang sesekali masih menoleh ke arahnya.
"Ya emang Ara mesti gimana, Bang? Kan nggak mungkin juga batal ikut kelas Bang Noah," ucap gadis itu tajam. Membuat sosok lelaki di sampingnya semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Bang Noah, minta maaf sekali lagi soal itu. Ini ...." Kalimat Noah tak tuntas.
Sang kakak menghela napas panjang dan merasa sia-sia melakukan pembelaan. Rasanya semua alasan hanyalah alibi untuk membela diri saat ini.
"Bang Noah, minta maaf soal kelas mata kuliah pilihan kamu. Abang ngaku salah. Nggak seharusnya Abang ikut campur urusan kamu, tanpa peduli sama perasaan kamu." Penyesalan itu terucap dengan tulus dari bibir sang kakak kedua. Namun, Maura hanya membalasnya dengan senyuman simpul.
Perempuan itu sedang tak memiliki tenaga lebih untuk berdebat saat ini. Lagipula apa yang perlu diperdebatkan dengan sang kakak? Toh, semuanya sudah terlanjur. Maura tak bisa lagi mundur.
Sekalipun ia kesal dengan cara licik yang digunakan oleh Noah, tetap saja Maura tak bisa marah. Lebih tepatnya, ia tak akan bisa marah lebih dari dua hari kepada kedua kakaknya. Mungkin itu salah satu warisan dari sang mama yang masih dipegang teguh hingga saat ini.
Dan, Maura akan selalu mengingatnya. Petuah sang mama yang sangat bermakna. Demi menjaga persaudaraan antara dirinya dan kedua kakaknya.
"Bang Noah nggak usah mikir macem-macem. Serius, Ara nggak papa kok," ucap perempuan itu berusaha menenangkan sang kakak ketika ia hendak turun dari mobil. Imbuhnya,"Nanti Ara pulang sama Andara. Bang Noah nggak perlu tunggu kalau pulang duluan."
Setelahnya, Maura benar-benar pergi meninggalkan sang kakak dan berlari kecil menuju gedung kuliahnya.
***
Andara menyambut Maura dengan heboh begitu perempuan itu muncul di pintu kelas. Dengan cekatan ia menggeser tas punggung yang sebelumnya diletakkan di samping tempatnya duduk. Sengaja menyimpan space kosong untuk Maura.
"Tumben pagi bener. Lo mau nyalin tugas gue?" tanya Maura setelah berusaha menetralkan mimik wajahnya agar tak terlihat buruk.
Setidaknya Maura tak ingin berbagi cerita sedih sepagi ini kepada Andara. Atau lebih tepatnya, ia sedang berusaha menghindar dari pertanyaan 'kenapa' yang membuatnya merasa lelah hanya dengan memikirkannya saja.
"Gue denger dari anak teknik, katanya Mizar abis digebukin Sagara. Itu bener?"
Kening Maura mengerut. Bukannya menjawab, ia justru menoleh ke arah Andara dengan tatapan curiga.
Dari mana gadis itu tahu kalau Mizar abis dikeroyok oleh Sagara dan teman-temannya? Hanya Maura yang berhasil menemukan korban dan kelima teman cowok itu yang mengetahui kejadian tadi malam.
Raut muka Maura kian curiga ketika melihat tingkah Andara makin salah tingkah. Jelas saja, lagian siapa yang tak bakal salah tingkah apabila ditatap dengan sorot mata tajam oleh Maura.
Dan, sorot mata itu seakan-akan mengucapkan,"Lo tahu dari mana?" yang membuat Andara kian merasa kecil di hadapan Maura.
"Ehm ... gu-gue ada kenal sama salah satu anak Andromeda. Je-jerome, dia tetangga di apartemen gue."
"Kok lo nggak pernah cerita?" tanya Maura lebih mirip menginterogasi ketimbang bertanya.
"Ck, siapa yang tahu kalau lo punya masa lalu yang rumit sama Mizar. Selama ini juga lo nggak keliatan kalau kenal sama Andromeda."
Maura tak memberikan tanggapan. Sebelum kejadian tadi malam, Maura memang sudah menceritakan semuanya pada Andara. Bagaimana ia bisa saling kenal dengan Mizar dan bagaimana hubungan mereka berakhir menjadi musuh bebuyutan.
__ADS_1
Ia hanya tak menduga jika lingkup pertemanan mereka ternyata cukup berkaitan selama ini.
"Oh." Maura menjawab singkat. Membuat perempuan yang duduk di sampingnya mendengus kesal.
"Ck, sial. Kenapa kesannya gue jadi kayak abis ngelakuin kesalahan? Ini gara-gara sorot mata lo, Ra. Sadis. Berasa nembus ke tulang sum-sum."
Maura sama sekali tak beraksi. Perempuan itu justru mengeluarkan buku dari dalam tas sebelum mata kuliah pertama dimulai.
"Lah, kan lo emang udah bikin salah."
Sepasang netra Andara melebar. "Gue salah apalagi, Ra? Astaga!"
"Nggak pernah bilang dari awal kalau kenal Andromeda."
"Lah, kita kan nggak pernah bahas mereka. Kenapa jadi gue yang kena getahnya? Jawab pertanyaan gue dulu ih! Itu bener Mizar abis digebukin Sagara?" Andara mendesak sang teman untuk menceritakan kejadian sebenarnya.
Maura menghela napas. Pertanyaan Andara membuat perempuan itu kembali mengulang reka adegan tadi malam dalam benaknya. Adegan yang membuat Maura diliputi kebimbangan.
Bagaimana ia begitu panik melihat Mizar tergeletak tak berdaya. Seakan ada bagian dalam dirinya yang ikut merasakan sakit. Namun, bayangan masa lalu menguat dan kembali menghadirkan mimpi buruk yang bahkan tak pernah terbayangkan.
Gejolak emosi yang bahkan sampai kini tak bisa ia terjemahkan. Padahal, jika atas dendam, harusnya Maura puas melihat Mizar terluka. Faktanya perempuan itu semakin tak tenang. Bahkan menunggu kabarnya hampir semalaman.
Diam-diam Maura menertawakan dirinya sendiri. Ya, ia semalaman tak tidur hanya demi menunggu pesan singkat dari Sky yang mengatakan,"Mizar udah siuman. Besok boleh pulang jika kondisinya sudah memungkinkan."
Apa semudah itu dendam luntur dari hatinya? Ia bahkan belum sempat membalaskan rasa sakit atas kehilangan Raisa.
Heh, harusnya Muara membalaskan rasa sakit itu lebih dulu, sebelum merasa iba dengan apa yang menimpa Mizar.
Huft! Maura kembali mengembuskan napas lebih kasar dibandingkan sebelumnya. Pikiran perempuan itu kembali sesak. Seakan banyak hal yang mendesak.
Meski begitu, Maura benar-benar tak sepenuhnya memahami apa yang sebenarnya terjadi. Antara dendam dan bimbang sedang menggerogoti hatinya. Ia benar-benar tak harus berbuat apa.
"Ck, Ara. Ngelamun sih. Jawab dulu pertanyaan gue. Itu bener si Sagara yang bikin ulah?"
"Gue nggak tahu. Itu baru asumsi mereka. Gue belum tanya sama Sagara."
"Hah? Lo mau konfirmasi sama Sagara?"
"Iya."
"Buat apaan, Njir?"
__ADS_1
"Karena cuma gue yang boleh bikin Mizar menderita!"
"HAH?!"