
Rupanya Mizar tak main-main ketika merencanakan balas dendam kepada Sagara dan kawan-kawannya. Rencana itu disambut antusias anggota Andromeda yang lain. Yang notabene mereka merupakan para pemuda yang suka mencari keributan.
Apalagi jika berkaitan dengan Sagara yang memang suka mencari gara-gara.
Terutama Raka yang ingin sekali menghajar orang sejak Ade tertusuk senjata tajam milik Sagara. Pemuda itu yang paling antusias dan tak mau tinggal diam ketika Mizar merencanakan pengintaian.
"Gue ikut!" tegas Raka beberapa waktu lalu.
"Nggak! Lo bakal jadi pengacau kalo maksa ikut malam ini!" larang Jerome tanpa basa-basi.
Lelaki itu tahu pasti, Raka hanya akan merusak rencana dengan kondisi emosinya yang tak stabil.
"Biar gue yang temenin, Mizar. Lo jaga-jaga di sini aja!" titah Sky menambahkan.
Wajah Raka murung seketika. Aksi balas dendamnya bakal tertunda. Namun, Mizar memastikan bahwa Raka bakal mendapat bagian paling banyak, jika mereka menyerang markas Sagara kelak.
Setelahnya, malam ini juga Mizar segera bergerak ke tempat yang diyakini sebagai markas Sagara dan antek-anteknya. Ditemani Jerome dan Sky, ketiganya mengintai markas yang cukup jauh dari pemukiman warga itu.
Bahkan bisa dibilang, tempat itu berada tak jauh dari gang-gang kumuh di balik gedung-gedung pencakar langit yang berdiri kokoh di kejauhan sana.
"Gila, apa yang mereka lakukan di tempat kayak gini?" keluh Jerome ketika tubuhnya habis menjadi makanan nyamuk.
"Gue yakin, mereka juga pasti nyembunyiin sesuatu di sini," ucap Sky menambahkan.
Tak salah jika Sky berpikiran demikian. Tempat persembunyian Sagara dan antek-anteknya merupakan bangunan mangkrak lima lantai yang tak dilanjutkan lagi pembangunannya.
Kulit luar bangunan tersebut mengelupas di sana sini hingga menjadikan kesan menyeramkan. Namun, cukup representatif jika digunakan sebagai tempat persembunyian.
Apalagi jika memang Sagara dan antek-anteknya benar-benar melakukan tindakan yang menyimpang. Bangunan yang kini berdiri di depan mereka sangat cocok menjadi tempat eksekusi ataupun apa pun itu yang disembunyikan oleh Sagara.
Belum lagi tak ada cukup penerangan di sekitar gedung. Hanya ada sebuah lampu jalan yang nyalanya pun tak seberapa.
"Apa rumor tentang mereka itu benar?" Sky berbisik tanpa mendapatkan jawaban.
Lagipula siapa di antara mereka yang benar-benar mengenal Sagara dan antek-anteknya? Kalaupun mengenal, mereka lebih memilih untuk tak peduli.
Sebagaimana Mizar yang memilih bersikap hati-hati, sekalipun ia tahu masa lalu Sagara yang paling kelam. Sekalipun itu hanya dugaan. Mizar tetap tak mau membuat kesimpulan yang justru bisa saja berbalik menyerang dirinya.
"Gue sependapat sama lo, Sky. Kayaknya rumor tentang mereka mungkin aja benar," ucap Jerome tiba-tiba.
Pemuda itu baru saja menangkap sekelebatan bayangan yang baru saja masuk ke dalam gedung. Tak lama kemudian, seseorang keluar dengan gerak-gerik mencurigakan.
"Rekam, rekam. Itu bisa jadi bukti kalau kita mau ngancurin Sagara dan anak buahnya."
Sebenarnya cowok itu memiliki nama gengnya sendiri. Misi mereka adalah menjadi geng nomor satu yang ditakuti semua orang. Black Mamba merupakan nama yang mereka pilih.
__ADS_1
Meski begitu, anggota Andromeda tak mau mengakuinya. Karena dengan begitu artinya mereka mendukung Sagara dan antek-anteknya untuk menjadi geng yang mungkin kelak benar-benar bakal ditakuti semua orang.
Demi mencegah hal itu terjadi, Andromeda memilih untuk tak mengakui keberadaan Sagara.
"Gimana, dapet nggak?" Sky kembali bertanya pada Jerome yang masih memegang kameranya dalam posisi standby.
"Dapet. Cukup jelas sih ini."
"Bagus."
"Kita masuk sekarang?" bisik Jerome yang mulai tak sabar. Selain tubuh pemuda itu sudah habis dimakan nyamuk, ia mulai tak tahan untuk mengetahui fakta yang disembunyikan oleh Sagara.
"Tunggu!" Mizar mengucapkan titah yang tak bisa terbantah.
"Kenapa?"
"Ada orang mendekat!"
Ketiga anak muda itu menajamkan pendengaran dan saling berpandangan dalam jarak dekat. Seakan mereka sedang berbicara melalui sorot mata masing-masing. Terlebih, ketika sesosok yang cukup mereka kenal keluar dari dalam bangunan. Anak buah Sagara.
"Jadi benar ini tempatnya?" bisik Mizar lebih tepat untuk dirinya sendiri.
Cowok itu berjalan mendekat. Di saat yang tepat, ketiga pemuda tersebut menyembunyikan diri di balik reruntuhan dinding yang gelap.
Wajah pemuda itu tampak frustrasi dengan tangan berkacak pinggang. Rambutnya sedikit acak-acakan. Tercium samar bau alkohol dari mulutnya.
"Tahu gini, gue nggak mau terlibat sama mereka sejak awal. Sagara udah benar-benar gila!"
Baik Mizar ataupun kedua temannya yang lain kian menajamkan indra pendengaran. Masing-masing dari mereka saling pandang. Dengan kamera ponsel Jerome yang masih mengarah ke sasaran target mereka.
"Sial!" umpatan penuh penekan itu menghilang bersamaan dengan si pemuda yang entah pergi ke arah mana.
Bukan ke dalam bangunan, melainkan pergi meninggalkan tempat tersebut.
"Dia pergi," bisik Mizar kepada kedua temannya. Disambut anggukan kepala Jerome dan Sky bersamaan.
"Sekarang?"
"Ya."
Pelan-pelan ketiga anak muda itu keluar dari reruntuhan dinding dan bergerak di bawah bayangan gedung yang cukup gelap. Mereka hanya memanfaatkan penerangan dari lampu jalan yang berpendar redup di kejauhan.
Sebentar saja, mata mereka sudah terbiasa melihat dalam gelap dan mulai bergerak lebih cepat. Masing-masing merapatkan hoodie dan menggunakannya untuk menutupi kepala. Menyamarkan pandangan jika orang lain menangkap gerakan mereka yang mencurigakan.
Mereka berjalan dengan Mizar berada di depan. Diikuti Sky dan Jerome berada paling belakang.
__ADS_1
Sepi. Sunyi. Hingga lantai tiga, tak ada tanda-tanda bahwa ada kehidupan di tempat ini. Mizar mulai ragu jika gerakan mereka cukup efektif kali ini.
Hingga, ia bisa menangkap suara-suara yang berasal dari lantai di atas mereka.
Mizar mengangguk. Memberikan tanda pada yang lain untuk bergerak ke atas sana. Mereka sudah separuh tangga saat melihat sebuah api unggun dinyalakan di tengah ruangan. Bayangannya memantul ke dinding bangunan yang terlihat dari tangga.
Ada tiga orang apabila dilihat dari bayangan yang terpantul. Jika beruntung, mereka bisa menemukan Sagara di antara ketiganya. Namun, jika tak beruntung, mereka hanya bakal bertemu dengan para cecunguk pengecut yang bahkan tak berani satu lawan satu.
"Woi, Boy?! Udah balik lo?!" seru salah satu dari gerombolan yang berada di lantai empat. Merujuk pada seorang pemuda yang meninggalkan bangunan beberapa saat lalu.
Itu artinya ketiga orang yang berada di lantai empat menyadari kedatangan para penyusup ke tempat mereka. Atau sama sekali bukan.
"Boy?!" ulang salah satu dari mereka dengan nada suara lebih keras dari sebelumnya.
"Sekarang!" Mizar berbisik dan membuat kedua teman yang berada di belakangnya bergerak mengikuti.
Mereka mempercepat langkah, tapi tetap berusaha menjaga ritme dengan cukup hati-hati. Hingga menimbulkan kesan seolah hanya satu orang yang menaiki tangga menuju tempat persembunyian para cecunguk Black Mamba.
"Bangsat!" seru ketiga pemuda yang duduk melingkari api unggun ketika Mizar muncul bersama Sky dan Jerome di kanan-kirinya.
"Apa mau kalian?!" seru seorang berambut gondrong di antara ketiga anak buah Sagara dengan raut murka.
"Oh, ternyata si pengecut itu nggak ada di sini?! Sayang sekali. Padahal tempat ini cocok banget buat duel," balas Mizar sama sekali tak memberikan tanggapan atas pertanyaan si gondrong.
Mereka berdiri saling berhadapan meski cukup memberikan jarak aman. Bagaimanapun masing-masing dari mereka tak ingin mendapatkan serangan tiba-tiba.
"Sial! Lo cuekin gue?!" Si gondrong berteriak tak terima.
"Bacot!!" umpat Mizar disusul gerakan yang cukup cepat dan akurat.
Bugh!
Mizar melayangkan pukulan tanpa peringatan. Membungkam mulut si gondrong yang kini meludah ke atas tanah. Ujung bibirnya berdarah. Dia bahkan terhuyung dan hampir tumbang jika tidak ditahan oleh kedua temannya yang lain.
"Berengsek!" umpat cowok itu menahan geram.
Dia hendak membalas pukulan Mizar. Namun, di saat yang sama pemuda itu kembali melepaskan pukulan dan tepat sasaran. Si gondrong tak diberinya kesempatan hingga dia benar-benar jatuh tersungkur kali ini. Mengerang kesakitan.
"Itu balasan karena lo udah bikin gue masuk rumah sakit!" ucap Mizar dengan nada tajam.
Sorot matanya tak lepas kepada cowok yang sudah membuatnya babak belur lebih dari satu minggu yang lalu.
Mizar bahkan tak peduli dan menginjak si gondrong yang sudah tak berdaya di atas lantai bangunan mangkrak tersebut. Ia mencondongkan badan hingga berada cukup dekat di atas si pemuda.
"Katakan sama Sagara, kalau dia mau duel, pakai cara yang elegan! Nggak ada yang bakal bilang dia keren selama masih menggunakan cara kampungan!" tegas pemuda itu sebelum menekan injakan kakinya di atas tangan si pemuda dan pergi meninggalkan bangunan itu begitu saja.
__ADS_1