My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Area Balapan


__ADS_3

Mizar menyetir dalam diam. Di sampingnya, sang mama tampak menyusut air mata yang tak juga berhenti mengalir sejak meninggalkan rumah hantu itu.


Ini pertama kalinya bagi Hana membantah ucapan Anggara. Selama ini, Hana selalu menjadi wanita penurut hanya demi menjaga martabat serta citra sang suami sebagai kepala keluarga yang baik.


Sekalipun sikap Hana dibalas pengkhianatan oleh sang suami hingga melahirkan seorang anak dari hasil perselingkuhan pria itu.


Meski begitu, Hana seakan menutup mata. Seolah tak terjadi apa pun dalam hubungan pernikahan mereka. Meskipun hanya pura-pura.


Tak jarang mereka harus terlihat dekat dan akrab. Tampil berempat selayaknya keluarga bahagia hanya untuk menunjukkan bahwa mereka merupakan keluarga harmonis di kalangan banyak orang. Terutama di depan rekan bisnis Anggara.


Meski wanita itu tak pernah benar-benar mau menjalankan perannya sebagai istri yang diharapkan Anggara. Mizar tahu itu. Sekalipun sang Mama jarang mengajaknya berbincang serius tentang hal tersebut.


"Mama mau makan apa?" Lelaki muda itu menawarkan pada sang wanita yang telah melahirkannya.


"Nggak perlu. Kita cari penginapan aja dulu," tukas sang mama sambil menoleh ke arah putra semata wayangnya.


"Oke, tapi begitu sampai hotel, Mama harus makan ya?" imbuh Mizar dibalas senyum hambar oleh sang mama.


"Maaf ya, Cal. Selama ini Mama terlalu abai sama kamu. Cuma demi melarikan diri dari rasa sakit yang Mama redam. Sampai mengabaikan kamu.


Tahu-tahu, kamu udah segede ini dan pada akhirnya cuma kamu yang bisa jadi tempat sandaran, Mama."


Lelaki di balik kemudi itu tampak tersentak ketika mendengar ucapan sang mama. Terutama ketika wanita itu memanggilnya "Cal".


Sepertinya sudah lama sekali, Mizar tak pernah mendengar nama panggilan itu. Namun, Mizar dengan cepat bisa mengendalikan diri dan tak terlarut dalam perasaan haru itu.


"Mama nggak perlu ngomong gitu ih. Siapa bilang Mama selama ini abai sama aku.


Buktinya, siapa yang nemenin aku setiap kali sakit? Mama kan? Sekalipun sibuk, Mama tetap aja stay di rumah tiap kali aku sakit."


Hana kembali tersenyum hambar. Ucapan sang anak justru membuat perasaannya kian redam.


"Harusnya bukan cuma itu yang dilakukan seorang ibu, Cal."


Mizar meraih tangan sang ibu dan menggenggamnya erat ketika lampu lalu lintas di depannya berubah warna menjadi merah.


"Aku cuma pengen Mama jalani hidup dengan bahagia. Kalau dengan cara itu Mama bisa bahagia, aku nggak akan merasa keberatan."

__ADS_1


Dan, memang itulah yang dilakukan Mizar selama ini. Ia berusaha menjadi anak yang tegar karena tidak ingin melihat sang mama terpuruk tiap kali berada di rumah hantu itu.


"Eh ya, ini kita nggak ke Ritz aja?"


"Nggak, jangan! Kalau kita ke sana, bakal memancing kecurigaan para staf."


"Mama masih aja mikirin pria berengsek itu!"


Harusnya, Mizar mengucapkan kalimat tersebut agar tak menyesakkan dada. Yang ada ia justru menelan kembali kalimat yang sudah berada di ujung lidahnya.


Ia tak kuasa melihat sang mama kembali sedih hanya karena mendengar ucapan yang tak semestinya. Dengan meninggalkan rumah hantu itu saja, sudah menjadi keputusan luar biasa bagi Hana. Dan, Mizar menyadari hal itu.


Sejak dulu, hubungan kedua orang tua Mizar tidak pernah baik. Sepanjang ingatan cowok itu, tak pernah sekalipun ia mendapatkan kasih sayang dari Anggara selayaknya seorang ayah.


Mereka tampil selayaknya menjadi keluarga hanya di waktu yang diperlukan saja.


Puncak dari segala persoalan itu, Anggara tiba-tiba pulang membawa seorang anak lelaki yang lebih muda dua tahun darinya. Lebih dari sepuluh yang lalu.


"Aku adikmu." Begitulah yang diucapkan bocah itu tanpa rasa berdosa.


Mizar tumbuh menjadi sosok yang dingin dan penuh dendam. Terutama pada sang papa dan juga anak dari hasil perselingkuhannya.


Dan, itu pula yang dirasakan sang mama. Hana berubah menjadi sosok yang sama sekali tak dikenal oleh Mizar sejak kedatangan bocah lelaki itu ke rumah mereka.


Wanita yang dulu sering kali bersikap hangat itu, tiba-tiba memutuskan kembali ke perusahaan milik sang kakek setelah memutuskan resign ketika melahirkan Mizar.


Cowok di belakang kemudi itu menghela napas panjang. Melirik sang mama yang masih terdiam.


"Ma, Mama kenapa sih nggak pisah aja sama, Papa?"


Pertanyaan itu tiba-tiba terucap begitu saja dari mulut Mizar dan menjadikan Hana kian terlihat putus asa. Sesaat ia menyesal dan tak lagi buka suara selama sisa perjalanan.


***


Area yang menjadi langganan balap liar sudah mulai ramai sejak setengah jam yang lalu. Dua kubu dari geng motor yang bakal turun malam ini, sudah memenuhi badan jalan. Juga geng lain yang ikut meramaikan hanya sebagai penonton.


Termasuk Venus yang menjadi langganan penyelenggara event tersebut.

__ADS_1


"Mizar belum dateng juga. Nomornya juga nggak aktif." Raka memberikan laporan pada Sky yang sudah siap duduk di atas motor.


"Gue udah koordinasi sama Rendra. Kalau Mizar belum juga datang, gue yang bakal turun lawan si penantang."


"Udah tahu siapa dia?" Arlan yang berdiri tak jauh dari mereka terlibat dalam perbincangan.


"Belum ada info. Rendra juga berusaha buat cari tahu siapa dia, tapi nggak ada sedikit pun informasi tentang orang itu." Sky memberikan penjelasan cukup panjang.


"Buset. Individu?" Raka menyimpulkan.


"Bisa jadi. Dia juga belum datang."


"Hah? Dia yang nantangin, tapi juga belum datang?" Bastian yang semula diam ikut dalam obrolan.


Sang ketua Andromeda hanya mengendikkan bahu sebagai jawaban. Selebihnya tak ada lagi obrolan sampai deru sebuah motor memecahkan kesunyian yang tiba-tiba tercipta begitu saja.


Segerombolan pemuda itu menoleh ke arah datangnya suara. Berharap bahwa sosok yang datang merupakan teman mereka. Namun, yang mereka dapati justru motor sport merah menyala yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.


Kelima pemuda itu kian tergemap ketika menyadari bahwa pengendara motor sport tersebut merupakan seorang perempuan. Terlihat dari rambutnya yang dibiarkan tergerai panjang.


"Itu siapa, Anjir?!" teriak Bastian dibarengi langkah Rendra yang mendekati mereka.


"Gimana, Mizar jadi datang?" Cowok yang merupakan ketua geng Venus itu bertanya pada Sky.


"Di jalan, bentar lagi nyampe. Gue baru dapet kabar dari Mizar." Jorome - satu-satunya orang yang paling irit bicara - memberikan jawaban.


"Oke, gue bakal tunggu. Btw, dia yang bakal lawan Mizar malam ini." Rendra menambahkan sambil menunjuk ke arah perempuan yang baru datang.


"Gila! Dia cewek?" seru Raka antara kaget sekaligus tak percaya.


"Gue juga baru tahu malam ini. Dia beneran baru terjun ke dunia balap."


"Terus, nggak papa tuh?" Sky tampak berminat.


"Kita bakal tahu setelah malam ini kan?" Rendra tersenyum sebelum meninggalkan gerombolan tersebut.


"Njir, kenapa nggak tanya siapa nama cewek itu?!" seru Arlan ketika baru menyadari sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2