My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Hai, Ra


__ADS_3

Mizar tak bisa tidur semalaman. Pemuda itu memutuskan untuk menginap di rumah Sky ketimbang menyusul sang mama ke hotel. Ia sudah memberikan kabar pada sang mama agar tak perlu menunggunya pulang. Mizar memang sengaja memberikan waktu sendiri pada wanita yang telah melahirkannya itu.


Mungkin memang itu pula yang diharapkan oleh Hana. Menikmati waktunya sendiri. Lagipula kemungkinan Anggara mencari sang istri malam ini akan sangat kecil. Itulah mengapa Mizar merasa tak perlu khawatir berlebihan.


Dan, berada di rumah Sky berarti memberikan jaminan untuk tidak tidur semalaman. Ya, dengan keberadaan Mizar di rumah pemuda itu, berarti menarik serta Arlan, Bastian, Raka, dan Jerome untuk ikut bersamanya.


Seperti yang sudah-sudah, momen berkumpulnya anggota inti Andromeda itu, bakal mereka habiskan untuk bergadang. Bermain gim atau sekadar memainkan gitar dan bernyanyi dengan nada sumbang. Alhasil, Mizar terbangun keesokan harinya dengan mata masih setengah berat.


Kalau saja tak ada kelas pagi yang harus ia hadiri, Mizar akan menggunakan waktunya lebih lama untuk memejamkan mata. Sayangnya, kenyataan memaksanya untuk segera pergi ke kampus begitu jam telah menunjukkan pukul tujuh.


Namun, bukannya menuju gedung Fakultas Teknik, Mizar justru membelokkan motornya ke area parkir gedung Fakultas Ilmu Budaya. Tepat saat seorang perempuan berambut sebahu turun dari mobil dan disambut oleh seorang gadis lainnya.


Mizar bergegas turun dari motor dan mengikuti keduanya. Berusaha memangkas jarak antara dirinya dengan Maura.


"Mau apalagi?" sengit perempuan itu ketika Mizar sudah berhasil menyusul kedua gadis tersebut.


"Aku cuma mau ngobrol sama kamu," ucap Mizar lirih.


Membuat Maura tersenyum sinis menanggapi ucapannya. Sementara perempuan lain yang berdiri di samping Maura tampak menunjukkan ekspresi terkejut.


Jelas saja. Semua orang juga bakal memiliki penilaian yang sama. Seorang Mizar Sirius Rigel yang terkenal dingin, angkuh, dan memiliki kesan tak mudah tersentuh, ternyata juga bisa bersikap lembut kepada wanita.


Jangankan berbincang, untuk menyapa saja membutuhkan keberanian ekstra. Dan, Maura tak memerlukan itu semua. Sebab, justru Mizarlah yang pertama kali menghampirinya.


"Gue nggak ada waktu." Jawaban Maura tentu sudah ia duga. Namun, ia tak akan menyerah begitu saja.


"Selesai kelas jam berapa? Aku bisa nungguin kamu."


Maura mendecih. Tak mengatakan apa pun, lantas meninggalkan Mizar begitu saja.


"Serius itu nggak perlu ditanggepin? Cewek lain rela ngelakuin apa pun demi ngobrol sama dia. Terus, lo tinggalin dia gitu aja?"


"Gue bukan cewek bodoh yang selama ini udah ketipu sama tampang cowok berengsek itu!"

__ADS_1


Mizar tersenyum kecut. Ia masih bisa mendengar percakapan kedua perempuan itu sebelum memutuskan untuk pergi dari sana.


"Mungkin memang masih perlu banyak waktu," gumam Mizar pada dirinya sendiri.


***


"Mau ke mana lo?" seru Raka ketika Mizar keluar kelas lebih dulu.


Dari mereka berenam, memang hanya Mizar dan Rakalah yang memilih jurusan yang sama. Karena berada dalam satu kelas di jurusan yang sama itu pula, yang menjadikan Raka akhirnya bergabung dengan Andromeda. Berbeda dengan Mizar, Sky, dan Arlan yang memang sudah berteman sejak SMA.


"Cabut!" Mizar menjawab singkat. Tanpa menoleh sedikit pun.


"Eh si Anjing! Ditinggal lagi gue!" umpat Raka sambil mengejar sang wakil ketua Andromeda.


Tadi pagi, cowok itu uring-uringan akibat tak dibangunkan oleh Mizar dan memilih ke kampus seorang diri. Sekarang, begitu kelas berakhir, secepat mungkin Mizar keluar kelas dan tak tahu entah ke mana.


"Cepet banget ngilangnya? Dia manusia apa jin?" gumam Raka, tanpa sadar jika orang yang dicari berbelok ke kamar mandi. Sengaja menghindari agar Raka tak mengikutinya. Mizar memiliki rencana. Masih berkaitan dengan Maura.


"Halo, gue ke markas sekarang."


Suara itu masih terdengar dari luar. Mizar menajamkan pendengaran. Setelah tak ada lagi tanda-tanda percakapan dari luar, pemuda itu memutuskan keluar.


Saat yakin Raka tak lagi terlihat, pemuda itu bergegas meninggalkan bangunan gedung Fakultas Teknik.


"Eh Zar, lo mau ke mana?" seruan Diandra saat mereka bersimpangan sama sekali tak menghentikan langkah Mizar. Ia terus berjalan ke tempat parkir dan segera membawa motornya kembali ke gedung Fakultas Ilmu Budaya.


Urusan Maura, ia tak bisa lagi menunggu. Cukup tiga tahun ia tersiksa oleh perasaan yang tak bisa diungkapkan.


Bahkan Mizar begitu buru-buru ketika turun dari motor dan menuju gedung FIB.


"Gue masih ada rapat sama anak BEM. Lo mau ke mana?"


"Perpus. Ada refrensi buat tugas yang mesti gue cari."

__ADS_1


Percakapan kedua perempuan itu tertangkap jelas oleh indra pendengaran Mizar. Namun, ia segera bersembunyi di balik tiang agar keberadaannya tak diketahui oleh mereka.


Saat ini cukup berisiko jika ia menunjukkan keberadaannya secara langsung. Bisa jadi, Maura memilih pergi sebelum gadis itu mendengarkan ucapannya.


"Nggak papa kan gue ke sekretariat dulu?"


"Santai aja, Dar. Nggak buru-buru juga gue."


'Dar? Dia kah yang namanya Andara? Jadi dia anak BEM? Pantes nggak asing begitu liat wajahnya. Jadi dia yang harusnya ngelawan gue semalam?'


Mizar bergumam dalam hati. Sambil menimang-nimang, kira-kira apa yang bisa dimanfaatkan dari cewek itu untuk mendapatkan kembali Maura. Untuk urusan Maura, Mizar pasti bakal melakukan segala cara agar bisa menerima maafnya. Termasuk memanfaatkan orang terdekat Maura sekalipun.


"Oke deh. Kita ketemu nanti siang begitu gue selesai rapat. Gue bakal traktir lo sesuai janji. Sekalipun gue gagal menang."


"Emang lo yakin bakal menang?"


"Ya, nggak juga sih. Yang penting kita makan ice cream. Oke?"


Setelah percakapan itu, mereka berpisah arah. Maura menuju perpustakaan dan Andara ke arah sebaliknya untuk menuju ruang sekretariat BEM.


Sementara Mizar mengikuti Maura dari belakang. Tetap menjaga jarak agar perempuan itu tak menyadari keberadaannya.


Pada faktanya, Maura benar-benar fokus dan tak membiarkan hal sekecil apa pun merebut konsentrasinya. Bahkan ketika mencari buku materi tambahan untuk tugasnya, fokus perempuan itu sama sekali tak teralihkan. Mizar memperhatikan dalam diam.


Padahal, saat ini Mizar berada cukup dekat dengan Maura. Hanya berjarak beberapa meter saja. Mereka berjalan di sisi rak yang berseberangan. Dan, harusnya Maura bisa melihat Mizar jika perempuan itu tak terlalu fokus pada buku yang ia cari.


Sampai Maura menemukan buku yang ia cari dan duduk di salah satu kursi. Perempuan itu sama sekali tak menyadari keberadaan Mizar.


Pemuda itu tersenyum. Tidak pernah menyangka sebelumnya jika ia akan berada sedekat ini dengan Maura. Sekalipun mereka tak saling bicara.


Mizar mengambil salah satu buku dari rak di dekatnya. Lalu berjalan mendekat ke arah Maura yang sudah mulai terlarut dalam buku bacaannya.


Lagi-lagi senyum membingkai wajah pemuda itu. Kali ini saat menyadari betapa cantiknya perempuan yang sedang fokus membaca buku itu. Tanpa ia sendiri sadari jika perempuan yang sedang diperhatikan, kini menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Mizar tergemap ketika sorot mata tajam itu menatapnya.


"Hai, Ra," sapa si pemuda hanya demi menekan Kekagetannya.


__ADS_2