
Maura harap-harap cemas di kamarnya. Perempuan itu berjalan mondar-mandir hanya demi menekan perasaan gugup dalam dirinya.
Setelah percakapan sore tadi dengan sang kakak, Maura berusaha mencoba peruntungan sekali lagi. Jika melalui jalur negosiasi bersama Noah pun berakhir gagal, Maura terpaksa menggunakan cara terakhir yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.
Yang paling penting, ia harus segera menemui Andara secepatnya. Setidaknya, besok ia harus pergi ke Bandung untuk memastikan bahwa semuanya benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.
Maura tak akan merasa tenang jika belum melihat sendiri bagaimana keadaan sang teman.
"Bakal berhasil gak ya?" gumam Maura seorang diri. Ia masih mondar-mandir di dalam kamar.
Bimbang akan keputusannya meminta bantuan Noah untuk menjadi sekutu agar membela dirinya di hadapan sang papa.
Kalau Noah tak berhasil membela dirinya untuk mendapatkan izin dari Barata, apa mungkin ia benar-benar bakal memakai cara terakhir?
'Gue nggak bisa bayangin bakal gimana jadinya kalau sampai benaran pakai cara terakhir. Tapi itu satu-satunya yang mungkin gue lakuin supaya dapat izin.' Gadis itu berbisik dalam hati.
Maura masih tak yakin dengan pikiran yang tiba-tiba melintas dalam benaknya. Namun, hanya itu satu-satunya cara yang ia pikirkan saat ini.
Lagipula mana bisa gadis itu mempercayakan nyawanya kepada orang yang sudah merenggut nyawa Raisa. Ya, opsi terakhir Maura adalah meminta bantuan Mizar untuk mengantarnya ke Bandung.
Demi apa pun, Maura juga tak tahu apa yang membuatnya memiliki pemikiran demikian. Hanya saja, tiba-tiba ia memiliki ide gila tersebut, apabila sang papa masih menolak hasil negosiasinya bersama Noah.
Setidaknya pemuda itu memiliki nilai plus di mata sang papa supaya memberikan izin pada Maura untuk pergi bersamanya. Meski pada faktanya Maura tak bisa memercayakan nyawanya pada pemuda itu.
Kalaupun cara itu yang bakal diizinkan Barata, Maura hanya perlu kedok agar Mizar menjemputnya di rumah. Bagaimana nantinya Maura pergi ke Bandung, bakal dipikirkan kemudian.
"Sial, kenapa urusannya jadi rumit gini sih? Lagian kenapa sih, Papa nggak izinin buat ke Bandung sendiri? Biasanya kan juga gue ke mana-mana sendiri?" keluh Maura semakin frustrasi.
Perempuan itu berdiri di depan cermin. Menatap dirinya yang terpantul di dalam cermin dan tampak menyedihkan. Sungguh, Maura kini benar-benar terlihat sangat kacau.
Sebenarnya, Maura bisa saja membujuk Abigail untuk meminta izin kepada Barata agar dirinya berangkat seorang diri menemui Andara. Dengan cara diplomasi yang sesungguhnya. Namun, hal itu lebih tak mungkin mengingat betapa si sulung cukup overprotective terhadap Maura.
Bang Agil pasti tak akan membiarkan Maura berangkat seorang diri. Lebih parahnya lagi, Abigail bisa saja menunda pekerjaannya hanya demi mengantar sang adik. Dan, tentu saja Maura yang bakal keberatan jika demikian.
Pekerjaan Agil menyangkut nasib orang lain yang harus diperjuangkan. Jika pemuda itu tak bisa bersikap profesional, tentu Maura-lah yang bakal merasa bersalah.
Gadis itu menghela napas panjang sebelum keluar kamar. Ia mengembuskannya perlahan seiring memutar kenop dan mendorong pintu hingga terbuka lebar. Tepat saat si sulung baru saja keluar dari kamar yang terletak di seberang kamarnya.
__ADS_1
Kening pemuda itu berkerut menangkap wajah Maura yang tak seperti biasa. Ada raut tegang di muka si bungsu yang bahkan hanya tersenyum kaku ketika menyapanya.
"Kamu sakit, Dek?" tanya Abigail hanya demi melihat kekehan Maura yang terlihat sangat terpaksa.
"Lah, malah nyengir? Ada apa?" ulang Bang Agil sama sekali tak membuat Maura bicara.
"Nggak ada." Si bungsu menjawab singkat dan menjadikan Abigail makin curiga.
Pemuda itu menelisik wajah Maura yang tampak menghindari tatapan sang kakak.
"Yakin? Wajah kamu kok bilang yang sebaliknya ya?"
Maura tergeragap. Sebelum akhirnya berlari menuruni tangga demi menghindari Abigail.
"Bang Agil sok tahu!" teriak Maura yang sudah hampir mencapai anak tangga terakhir.
Lantas menuju dapur untuk mengecek keberadaan Bi Darmi - asisten rumah tangga yang menangani rumah ini sejak Maura masih balita.
Wanita menjelang paruh baya itu sedang menyiapkan makan malam yang belum dihidangkan di atas meja makan. Bahkan Bi Darmi baru saja mengangkat panci berisi sayur yang masih mengepul.
"Papa belum pulang, Bi?" tanya Maura sambil menghidu aroma sayur lodeh yang baru saja disajikan ke dalam mangkuk besar.
"Belum, Non. Non Ara, udah lapar?" tanya wanita itu yang kemudian menyajikan lauk lainnya ke atas piring. Ada ikan, ayam, tahu-tempe, dan sambal terasi kesukaan Maura.
"Iya." Gadis itu menjawab singkat. Namun, tak benar-benar menyampaikan apa yang sebenarnya ia rasakan. Maura tak begitu merasa lapar akibat terlalu tegang.
"Iya-nya kok nggak semangat gitu, Non? Nih ada sambal terasi, lalapan, sama ayam goreng kesukaan, Non Ara. Bibi bakal siapin kalau Non Ara, mau makan dulu. Tuan juga pesen, nggak papa kalau Non Ara sama Den Agil dan Den Noah mau makan duluan."
Maura menggeleng sebagai tanggapan. Bukan itu yang ia inginkan sekarang.
Perempuan itu ingin sang papa cepat-cepat pulang hanya demi agar dirinya bisa mengajukan banding. Kali ini, ia sudah lebih siap dibandingkan dua hari kemarin ataupun pagi tadi, ketika meminta izin. Maura berperang sendirian. Tapi kali ini, ia sudah mendapatkan sekutu yang bisa mendukungnya.
"Non Ara, mau nungguin Tuan Besar, pulang?" Suara Bi Darmi mengalihkan perhatian Maura.
Gadis itu menoleh, lalu menganggukkan kepala dengan ringan.
"Iya, Bi."
__ADS_1
"Kalau gitu, Bi Darmi siapin meja makan dulu ya. Palingan bentar lagi Tuan juga sudah pulang."
Mungkin Bi Darmi memang cenayang. Buktinya, tak berselang lama, Barata memang benar-benar datang.
Wajah Maura berubah riang. Secepat mungkin, gadis itu melesap cepat ke pintu depan untuk menyambut kedatangan sang papa.
"Pa!!" jerit Maura kegirangan. Gadis itu sigap mengambil alih tas kerja sang papa dan menggiring Barata masuk ke dalam rumah.
Ia bahkan sudah menuangkan air dalam gelas dan segera disodorkan kepada sang papa ketika pria itu melepas lelah sejenak di ruang tengah.
"Tumben? Kamu mau apa dari Papa?" tanya Barata seakan menebak kemauan anak gadisnya.
Yang ditanya hanya nyengir kuda. Duduk di samping ayahnya hanya demi menyampaikan kalimat yang sudah ia susun seharian.
"Ara mau ajuin banding," ucapnya dengan wajah serius tanpa canda.
Barata hampir saja tersedak air yang tengah ia teguk. Sepasang matanya menatap sang anak perempuan semata wayang dengan sorot tak percaya.
"Banding? Memang apa yang kamu inginkan sampai mengajukan banding segala? Terus, siapa yang mau belain kamu? Bang Agil?" Raut muka lelah yang sebelumnya tercetak di wajah Barata lenyap tanpa sisa.
Lagian, ada-ada saja ulah Maura yang ingin mengajukan banding kepadanya.
"Nggak. Bang Noah, dia yang bakal belain, Ara."
"Kamu yakin?"
"Iyalah. Ara percaya sama, Bang Noah."
"Oke, jadi apa yang ingin kamu ajukan banding sama Papa?"
Maura menelan saliva dengan susah payah. Padahal ia belum mengatakan apa-apa, tapi tekanan yang diberikan seorang Barata Dewa Bumantara sangatlah luar biasa. Pria itu tampak serius bahkan tanpa garis senyum menghiasi wajahnya.
Perempuan itu membulat tekad. Demi menemui Andara, ia rela melakukan apa pun termasuk menaklukkan sang papa melalui jalur negosiasi yang cukup rumit.
Huft! Maura menghela napas sebelum menyampaikan kalimatnya.
"Sekali ini saja, izinkan Ara ke Bandung tanpa harus menunggu kalian!" ucapnya cukup cepat dengan mata setengah terpejam.
__ADS_1
Maura tak sanggup melihat reaksi Barata.