
Bangunan satu lantai yang menjadi tongkrongan Andromeda itu terdengar ribut ketika Mizar datang. Kemungkinan terbesar para penghuninya sedang bermain PS ataupun gim online. Apalagi tengah hari dengan panas cukup menyengat seperti saat ini.
Mana mungkin kumpulan pemuda itu berani melangkah keluar rumah. Meski biasanya mereka tak jarang memainkan gitar di teras rumah ketika sore menjelang. Namun, akan beda cerita jika cuaca panas menyerang.
Mizar mematikan mesin dan bergegas turun untuk menghindari terik matahari yang memanggang bumi. Berada cukup lama di bawah sinar matahari membuat pandangannya mengabur. Itulah mengapa ia buru-buru masuk ke dalam rumah.
Ya, di sinilah tempat yang biasanya mereka gunakan untuk menghabiskan waktu, selain rumah Sky.
Bangunan ini merupakan salah satu aset milik keluarga Jerome yang tidak ditempati. Dengan alasan itu pula, Jerome meminta izin pada sang papa untuk menjadikan rumah tersebut sebagai basecamp. Selain rumah Sky tentu saja.
Orang tua Jerome tak keberatan dan justru mendukung keinginan sang anak. Dengan begitu rumah yang tak terpakai itu bisa tetap terawat karena ada yang menempati.
Meski pada faktanya tak ada satu pun dari para pemuda itu yang mau merawat bangunan tersebut. Palingan juga Si Mbak yang disewa orang tua Jerome yang membersihkan rumah tersebut setiap dua hari sekali.
Bagi mereka yang paling penting mendapatkan tempat yang layak itu sekadar melepas lelah seperti sekarang. Jika di rumah Sky bisa mendapatkan banyak stok makanan, maka di sini mereka bisa mendapatkan kebebasan. Jadi, tergantung mana yang mereka butuhkan. Semua bisa disesuaikan sesuai kebutuhan.
"Baru keliatan lo. Dari mana aja? Kita tungguin dari tadi nggaK muncul juga. Raka bilang lo ngilang gitu aja." Berondong Sky dengan berbagai pertanyaan.
Pemuda itu menghela napas panjang. Membuat Sky yang duduk di sampingnya menoleh.
Sorot matanya menelisik sang teman yang baru saja datang. Bahkan belum sempat melepas jaket ataupun tas punggung yang tersampir di pundak kanannya.
"Ck, nemuin Ara, kan lo pasti?" Sky sengaja berbisik saat mengucapkan kalimat terakhirnya.
Mizar tak memberikan tanggapan. Benak pemuda itu terlalu sesak dengan berbagai macam hal. Termasuk pertanyaan yang baru saja Sky lontarkan.
Padahal Mizar bisa saja menjawab asal. Namun, ia memilih bungkam.
Sedangkan di sampingnya Sky tersenyum simpul. Paham betul dengan kelakuan sang teman. Bahwa sikap diam Mizar berarti ia tak menyangkal.
__ADS_1
"Woi Zar, lo abis bikin ulah apalagi sama Sagara?" Dari ruangan terpisah, terdengar seruan Raka.
Kedua pemuda yang duduk berdampingan itu menoleh ke arah Raka yang sekonyong-konyong muncul dari dalam ruangan.
"Apaan sih, berisik banget?" Sky bertanya dengan kedua alis menukik tajam.
"Dia tuh. Kenapa melotot ke gue?"
"Lo yang teriak-teriak bikin telinga budek ya, Njing!"
"Ck, liat nih! Rendra baru aja ngabarin gue. Sagara nantangin lo nanti malam!" Raka berapi-api mengucapkan kalimat itu. Bahkan tak lepas dari Mizar yang tampak santai sebagai tanggapan.
"Gue lagi ngomong sama lo, Anjir! Kasih perhatian kek. Apa gitu."
"Gue dengerin." Mizar menjawab singkat. Tanpa menoleh ke arah Raka yang masih berapi-api.
"Ya udahlah, terima aja tantangannya. Ribet banget sih." Arlan yang baru saja keluar mengambil pesanan makanan memberikan tanggapan dengan nada santai.
Sementara temannya yang lain mulai tampak berpikir. Termasuk Jerome yang kini bergabung dengan yang lain.
"Gue nggak masalah kalau Mizar mau turun. Kita bisa atur ulang strategi biar kejadian kayak gini nggak terulang lagi."
Raka hendak membantah. Namun, kalah cepat dengan Bastian yang menyela.
"Asal nggak ada manusia goblok yang mendadak sakit perut, gue rasa bakal aman," ucap Bastian jelas menyindir seseorang.
Dari keenam pemuda yang berada dalam satu ruangan itu, hanya Raka satu-satunya yang tidak menahan tawa. Jelas, orang yang disebut Bastian adalah dirinya.
Ya, kalau saja malam itu Raka tak mendadak sakit perut, mungkin pertarungan antara Andromeda dan Sagara beserta antek-anteknya bakal dimenangkan oleh mereka. Sayangnya, di tengah pertarungan, perut Raka tiba-tiba mulas dan kabur begitu saja. Padahal di antara mereka berenam, cuma Rakalah satu-satunya yang memiliki penguasaan bela diri di atas yang lain.
__ADS_1
Dengan keabsenan Raka membuat mereka timpang dan mudah dikalahkan oleh Mizar beserta antek-anteknya. Kalau saja kebetulan tak ada anggota polisi yang patroli, mereka pasti bakal habis di tangan Sagara dan yang lain. Mereka akhirnya terpaksa bubar hanya demi menghindari masalah yang lebih besar.
"Ck, sial. Gue apes aja hari itu."
"Nah, kalau gitu nggak usah ribut ngatain Mizar segala!" Arlan membela sang wakil ketua yang tak banyak bicara.
"Ck, gue kesel anjir! Udah lama kita nggak bersinggungan sama Sagara. Hidup rasanya tenang, damai. Nggak melulu soal baku hantam. Tiba-tiba aja dia muncul sambil kasih tantangan. Kan kesel gue."
"Kan belum tentu juga Mizar yang provokasi dia duluan." Sky ikut mendukung Mizar hingga menjadikan Raka mendengus kesal.
"Heran, teman kalian Mizar doang apa gimana sih? Perasaan gue mulu yang jadi kalah-kalahan."
Bukannya memberikan tanggapan, kelima pemuda itu justru tertawa menanggapi pernyataan Raka. Sebelum akhirnya tawa itu dihentikan oleh ucapan Mizar yang begitu tiba-tiba. Membungkam mulut-mulut sang teman.
"Urusan Sagara sama gue. Biar kali ini gue yang ngadepin dia sendirian!"
***
Hubungan Mizar dengan Sagara memang tak pernah baik sejak pertama kali mereka saling kenal. Ia pun tak ingat pasti apa yang membuatnya tak pernah akur dengan Sagara. Satu hal yang Mizar ingat, Sagara tak terima ketika cowok itu mengalahkannya dalam suatu pertandingan adu kecepatan.
Saat itu, Sagara yang kalah telak dari Mizar dikuasai emosi hingga memukul wajah si pemuda tanpa ampun. Mizar yang tak siap dengan serangan, jelas terkapar. Namun, hal itu pun dengan mudah dibalikkan. Membuat Sagara dia kali lipat menerima kekalahan.
Lebih dari itu, ada kisah kelam yang tak sanggup Mizar ungkapkan. Kisah yang selama ini masih menjadi tanda tanya besar. Sebab, tak adanya bukti yang menguatkan dugaan pemuda itu.
Kisah kelam yang membawa serta nama Raisa hingga membuat gadis itu menemukan ajalnya.
Pemuda itu menghela napas panjang. Sepasang netranya terpejam. Ada penat yang semakin kuat membayang. Lantas memaksa pemuda itu meraih ponsel yang berada di atas meja.
Me: Nggak perlu libatkan yang lain. Urusan lo sama gue. Temuin gue sendiri kalau lo punya nyali!
__ADS_1
Mizar tak bisa lagi tinggal diam. Kali ini ia harus benar-benar menuntaskan dendam masa lalu antara dirinya dengan Sagara.