My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Dukungan


__ADS_3

Wajah Maura terasa panas. Bukan akibat kesal seperti halnya yang biasa ia lakukan ketika menghadapi Mizar, melainkan menahan malu yang tak sanggup ditanggung.


Perempuan itu memilih menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang terasa panas. Maura tahu betul, dalam keadaan seperti ini wajahnya pasti bakal terlihat merah.


Benar, perempuan itu sudah salah paham dengan luka di wajah Raka yang ia kira akibat perbuatan Mizar. Setelah mendengar penjelasan Sky dengan sedikit paksaan, akhirnya membuat si perempuan paham, bahwa yang terjadi pada Raka akibat ulah Jerome.


Pemuda itu mengacungkan dua jari membentuk huruf V. Sementara cengiran kuda membingkai wajahnya.


"Sorry, gue muak aja sama tingkah Raka. Kalau nggak gitu, dia nggak mungkin bakal sadar."


"Haha ... mampus lo, Zar." Bastian menertawakan Mizar yang masih terlihat syok atas tuduhan Maura.


Pemuda itu hanya terduduk lemas di sofa tanpa banyak bicara. Ia bahkan hanya sanggup menatap Maura dengan sorot hampa.


"Sorry ya, Zar." Raka berkomentar dengan menahan tawa di wajahnya.


Ingin kesal, tapi Mizar tak punya tenaga. Ia sudah cukup lelah ketika Maura tiba-tiba menuduhnya.


"Sorry, Ra. Gue beneran nggak kepikiran kalau lo bakal marah sama Mizar begitu lihat muka Raka. Ya, dia memang pantes sih buat dikasarin." Jerome kembali menambahkan. Membuat Maura kian menunduk dalam.


Hendak marah pada Jerome pun rasanya percuma. Maura sudah kepalang malu dan tak mau mengakuinya. Bagaimana ia bakal mempertahankan harga dirinya di depan Mizar jika perempuan itu mengakui bahwa ia sudah merasa bersalah karena asal tuduh?


Tidak, tidak. Maura tak bisa melakukannya. Ia tidak mau membuat Mizar besar kepala.


Tentu saja, tingkah Maura mengundang tawa. Karena sikap perempuan itu sudah menempatkan Mizar pada posisi yang salah.


Hal itu membuat para pemuda di ruangan tersebut tertawa puas. Sebab selama ini tak ada orang yang berani menyalahkan Mizar kecuali Maura.


Lagipula siapa yang berani berurusan dengan manusia paket komplit seperti Mizar?


Arlan? Dia kapok setelah perjalanan dari Bandung kemarin. Pemuda itu bertekad tak ingin membuat masalah dengan Mizar daripada nyawanya yang melayang.


"Puas kalian?" tanya Mizar dengan raut muka tertekuk kesal.


Ia lebih tak terima karena Maura lebih mendengarkan penjelasan Sky ketimbang dirinya. Meski ia bersyukur dengan bantuan temannya itu membuat Maura tak lagi salah paham. Tapi tetap saja ia tak bisa terima.


Itu membuktikan bahwa perjuangannya mendapatkan kembali hati Maura masih sangat panjang.


Mizar menghela napas panjang sebelum akhirnya menoleh ke arah Maura yang masih menundukkan kepala. Pemuda itu sengaja tak menganggunya. Sebab, Mizar tahu jika Maura menahan malu. Hanya saja gengsi perempuan itu cukup tinggi untuk mengakui.


Tak masalah bagi Mizar. Asalkan Maura tak lagi salah paham dengannya. Tak masalah juga bagi pemuda itu, meski ia menjadi bahan lawakan teman-temannya.


Bagi Mizar cukup, asalkan Maura tak perlu salah paham dengannya.

__ADS_1


Diam-diam pemuda itu menarik garis bibirnya hingga membuat seulas senyum membingkai wajah tampannya.


Sementara dari semua manusia yang berada di ruangan yang sama, hanya Riandralah satu-satunya orang yang terlihat tak suka dengan tingkah Maura. Tampak jelas dari raut mukanya jika perempuan itu sebal sekaligus cemburu.


"Cih, apa sih bagusnya dia?!" gumam Riandra dengan sorot mata tajam tak lepas dari Maura.


Tak ada yang peduli. Keenam lelaki muda yang duduk mengelilingi Maura hanya fokus pada gadis itu saja. Membuat Riandra kian sebal dan mengepalkan tangan menahan geram.


Perempuan itu mencibir sebelum akhirnya pergi begitu saja. Tanpa pamit ataupun menoleh ke arah Maura yang berhasil membuat mood-nya berantakan.


Diikuti Kikan yang mengekori si perempuan berambut panjang keluar dari ruangan.


"Eh, Ndra, tunggu!" susul Kikan dengan tergesa.


"Mereka mau ke mana tuh?" Bastian yang menyadari kedua cewek itu keluar ruangan bertanya pada yang lain.


Sky menoleh. Menatap punggung Riandra yang kian menjauh dengan tatapan datar.


"Biarin aja," ucap pemuda itu singkat tanpa mempermasalahkannya lebih panjang.


Lantas ruangan kembali diisi dengan obrolan serius ketika ponsel salah satu dari semua manusia berjenis kelamin jantan itu berdering.


***


Maura memutuskan untuk menjauh ketika para manusia jantan di ruang keluarga rumah Jerome ketika mereka sibuk membicarakan tentang kondisi Ade dan apa yang bakal dilakukan untuk membalas dendam.


Ralat, sebenarnya Sagara-lah yang membuang dirinya sendiri. Maura hanya menangkap umpan yang dilemparkan dan membuatnya menjadi kenyataan.


Lagipula siapa yang tahan lama-lama dengan lelaki yang mau menahannya, tapi tak pernah memberikan kepastian apa pun. Sungguh, itu hanya ucapan bohong jika dulu Maura selalu mengatakan,"Jalanin aja dulu!" setiap kali ada teman yang menanyakan hubungannya dengan Sagara.


"Hei, nggak masuk?" sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Maura.


Perempuan itu menoleh dan mendapati Arlan sedang berdiri tak jauh darinya. Mereka kini berada di teras samping rumah yang menghadap ke arah kolam renang.


"Nggak dingin di luar?" sambung Arlan ketika Maura tak juga memberikan tanggapan.


Ia menggelengkan kepala sebagai jawaban. Kapan Jakarta pernah menawarkan hawa dingin? Rasanya meski hari selepas hujan seperti saat ini pun, tetap saja panas tak tertahankan.


Ya, mungkin Maura berlebihan, tapi aslinya ia memang tak merasa kedinginan ataupun kegerahan. Suhu saat ini terasa pas di kulit arinya.


"Ra, gue boleh ngobrol sama lo kan?" Arlan kembali mengajukan pertanyaan.


Kali ini fokus Maura sepenuhnya tersita kepada Arlan.

__ADS_1


"Ngobrol aja. Kenapa pake izin segala sih?"


Senyum membingkai wajah si pemuda.


"Ya, nggak gitu juga, Ra. Gue belum lupa kali gimana sebelnya lo sama gue gara-gara kasus, Mizar."


Pikiran Maura menerawang. Di masa lalu, perempuan itu memang sempat memusuhi Arlan dan juga Sky akibat perbuatan Mizar. Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba saja, Maura menghindar setiap kali bertemu dengan kedua manusia itu.


Meskipun sering kali kesempatan membuat mereka tetap bersinggungan, tapi Maura sebisa mungkin membatasi diri dari Arlan dan Sky. Bahkan ia pernah berada dalam situasi di mana dirinya benar-benar membenci kedua saudara sepupu itu.


"Kalau kalian bisa cegah Mizar buat nggak deket sama Raisa, dia nggak bakal ngalamin kejadian kayak gini!" Maura bahkan ingat kalimat yang pernah diteriakkan kepada Arlan dan Sky pada saat itu.


Ya, mungkin itu awal hubungan mereka menjadi renggang. Ditambah kesibukan masing-masing yang tak lama menginjak kelas tiga SMA. Lantas berlanjut ke bangku kuliah dengan mengambil jurusan yang sama sekali berbeda.


Mereka semakin jarang bertemu. Hanya beberapa kali dan itu selayaknya orang yang tak saling kenal.


"Sorry," ucap Maura dengan suara pelan ketika mengingat betapa kejamnya ia di masa lalu.


"Gue pernah sejahat itu sama lo dan Sky. Padahal gue tahu itu nggak ada kaitannya sama kalian." Maura menyambung kalimatnya. Raut mukanya benar-benar terlihat menyesal.


"Gue ngerti perasaan lo waktu itu, Ra. Nggak gampang kehilangan orang yang sangat penting buat lo. Gimanapun lo sama Raisa udah berteman sejak dalam kandungan. Bahkan gue curiga, orang tua kalian janjian dulu waktu mau bikin kalian. Bisa bareng gitu lahirannya."


Maura tertawa. Mengenang kelahirannya dengan Raisa yang sering kali diceritakan oleh sang mama ataupun Tante Ratih - Mama Raisa. Mereka lahir di hari yang sama bahkan hanya selisih beberapa detik saja.


Itulah mengapa Maura merasa ada yang hilang dari hidupnya ketika kehilangan Raisa. Rasanya hampir sama ketika ia kehilangan sang mama yang lebih dulu pergi beberapa tahun sebelumnya.


Dan ya, hampir semua orang tahu cerita tentang persahabatan mereka yang mungkin sudah direncanakan sejak dalam bentuk benih. Raisa selalu bangga menceritakan hal itu kepada semua orang. Bahkan termasuk teman-teman mereka sejak zaman TK.


Tidak, Maura tak yakin soal hal itu, tapi sepanjang ingatannya ia mengenang bahwa Raisa memang sering kali menceritakan kelahiran mereka kepada semua orang.


"Thanks, Ar."


"Nggak perlu bilang makasih kali." Senyum Arlan mengembang.


"Btw, gue cuma mau saranin satu hal sama lo. Kalau lo nggak keberatan buat dengerin sih," sambungnya sedikit ragu-ragu.


"Ya?"


"Gue nggak minta lo buat maafin, Mizar. Seenggaknya sekarang, tapi ...." Arlan menjeda kalimatnya. Menangkap perubahan raut muka Maura meski tak begitu terlihat.


Setelah yakin Maura tak hendak mengatakan apa pun, baru ia menambahkan. Imbuhnya,"... coba buat memahami perasaan Mizar, Ra. Gue tahu, dia selalu tulus sama lo. Sejak dulu."


Maura tergemap di tempatnya. Menatap lekat raut muka Arlan yang penuh harap.

__ADS_1


"Gue nggak maksa dan nggak mau pengaruhin pikiran ataupun perasaan lo. Gue bakal tetep jadi pendukung lo."


"Sebagai teman, sampai kapan pun," imbuhnya dengan cepat ketika melihat kelebat Mizar yang mendekat.


__ADS_2