
Harusnya Maura mengakhiri hari ini dengan tenang. Mengistirahatkan pikiran setelah melewati hari penuh ketegangan. Terlebih ketika baru saja menerima kabar, bahwa Tante Vella - Mama Andara - harus menjalani oparasi malam ini juga.
Kecelakaan yang dialami wanita itu membuatnya mengalami pendarahan serius. Tak beruntung, mama Andara sedang mengandung lima bulan dan mengharuskan tim medis mengangkat janin yang meninggal dalam perutnya.
Ada kemungkinan rahimnya pun akan diangkat bersamaan dengan pengangkatan janin yang sudah tak lagi bergerak.
Jelas, itu sebuah operasi yang cukup berisiko. Andara tak henti menangis ketika bercerita pada Maura. Dan, tak ada hal yang bisa dilakukan perempuan itu selain memberikan kekuatan pada Andara melalui panggilan telepon.
Setelahnya, Maura berencana untuk mengistirahatkan pikiran serta tubuhnya yang terasa begitu lelah luar biasa. Namun, hal itu tak bisa ia lakukan ketika Sagara tiba-tiba muncul di rumahnya.
Bahkan pemuda itu tak memberikan kabar sebelum datang. Alhasil, di sinilah mereka sekarang. Di sebuah kafe tak jauh dari rumah Maura sambil duduk berhadapan. Dengan sedikit paksaan.
"Lo jauh-jauh datang ke rumah gue, maksa gue ke sini, bukan cuma buat duduk santai gitu aja kan?" Maura melontarkan pertanyaan ketika ia mulai tak tahan.
Mereka hampir setengah jam duduk diam. Tak membicarakan apa pun selain sama-sama termenung. Tentu hal itu makin melelahkan bagi Maura.
Sungguh ia hanya ingin beristirahat sekarang juga. Namun, Sagara membuat gadis itu menunda segalanya. Dan, setelah ia menyempatkan waktu untuk bertemu pemuda itu, Sagara justru menyia-nyiakan waktu begitu saja.
"Gue pergi!" ucap Maura tak tahan lagi. Namun, di saat yang sama, Sagara menahannya.
"Ra, tunggu. Tunggu sebentar. Jangan pergi dulu."
Maura urung melakukan niatnya. Bagaimanapun ia pernah memiliki hubungan baik dengan pemuda itu dan memberinya kesempatan untuk bicara.
Wajah pemuda itu terlihat sangat tegang. Sorot matanya sama sekali tak teralihkan dari Maura yang malam ini lebih banyak diam. Setidaknya sampai gadis itu benar-benar buka suara untuk menyampaikan keberatannya pada Sagara.
"A-ada hubungan apa lo sama Mizar?" tanya Sagara pada akhirnya setelah cukup lama terdiam.
"Apa urusannya sama lo?"
Sagara menghela napas panjang. Pemuda itu berusaha meraih tangan Maura yang berada di atas meja. Namun, ia mendapatkan penolakan dengan tegas.
"Nggak usah pegang-pegang!" tandas Maura sama sekali tak bersikap lunak pada Sagara.
"Lo kenapa jadi berubah gini sih, Ra?" Pertanyaan Sagara terdengar tak santai. Nada bicara lelaki itu meninggi hingga membuat Maura tersentak dibuatnya.
Jelas, perempuan itu terkejut dengan perubahan sikap Sagara. Maura memang bukannya tak pernah melihat Sagara meninggikan nada bicaranya. Tapi hal itu tak pernah dilakukan pada Maura.
Paling pemuda itu mengumpat ketika ada hal yang tak sesuai dengan keinginannya. Atau hal lain yang memicu emosinya. Selebihnya Sagara hampir tidak pernah meninggikan nada bicaranya selama berada di depan Maura.
Dan, baru saja pemuda itu menunjukkan sifat aslinya di hadapan Maura.
__ADS_1
"Jadi begini sifat lo asli lo yang selama ini lo tutupin?" sengit Maura sama sekali tak terlihat gentar.
Dengan cepat Sagara mengatur ekspresi wajahnya. Pemuda itu berusaha menipiskan bibir sebelum membujuk perempuan yang duduk di depannya.
"Nggak, bukan gitu maksud gue sebenarnya, Ra. Gue ... nggak suka kalau lo deket-deket sama Mizar."
"Kenapa?" Pertanyaan singkat Maura membuat pemuda itu bungkam.
Susah payah ia menelan saliva sebelum membuat alasan yang masuk akal. Ya, memang apa alasannya ia melarang Maura dekat dengan Mizar?
Ketika menyadari bahwa dirinya tak memiliki alasan yang tepat, Sagara hanya sanggup menelan ludah tanpa bisa berkata-kata.
"Nggak bisa jawab kan? Terus kenapa gue mesti dengerin omongan lo?"
Sagara mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Ra, gue pernah bilang sama lo kan. Kalau lo beda. Gue nggak bisa kalau nggak sama lo, Ra. Gue ... suka sama lo, Ra. Gue sayang sama lo. Dan, gue nggak mau kalau lo deket sama cowok lain selain gue."
Senyum sinis membingkai wajah Maura. Kalau saja Sagara mengucapakan kalimat itu jauh sebelum hari ini, mungkin Maura bakal percaya saja. Sayangnya, cowok itu mengatakan kalimat tersebut di saat perasaan Maura kepada Sagara telah mati. Alias ia sama sekali tak peduli.
Jujur saja, Maura pernah berharap kedekatannya dengan Sagara berbeda dengan cewek-cewek lain yang selama didekati oleh lelaki itu. Maura berharap hubungan mereka bakal ada ujungnya. Faktanya, Sagara tetaplah Sagara yang tak mau terikat hanya pada satu wanita saja.
"Ra ...." Kalimat Sagara tak rampung. Gadis itu lebih dulu memberikan tanda agar pemuda di depannya tutup mulut.
"Kita udah bahas soal ini kan? Kenapa lo nggak ngerti juga?" tandas Maura cukup tajam.
Perempuan itu sama sekali tak mengalihkan pandangan dan menatap Sagara dengan sorot mata tajam.
"Kita nggak pernah benar-benar membahas soal ini, Ra."
"Menurut lo kenapa kita nggak pernah benar-benar bahas persoalan ini?" Maura menantang balik ucapan Sagara.
Pemuda itu menelan saliva dengan kasar.
"Lo kira dua tahun kita dekat, nggak cukup buat bahas masalah ini lebih serius? Selalu ada waktu dan kesempatan buat kita bahas persoalan ini, Ga. Tapi pada faktanya lo nggak pernah serius. Sampai gue nggak lagi mempersoalkan status asalkan gue bisa deket sama lo.
Apa alasan itu masih lo anggap kurang, kenapa gue bisa berubah sekarang?" Maura sengaja memberikan penekanan pada kalimat terakhir.
Di depannya Sagara tampak tak terima. Lihat saja, lelaki itu sedang berusaha berkelit demi memberikan alasan yang bisa membenarkan sikapnya.
Sialnya, ia harus berhadapan dengan Maura. Tentu saja perempuan itu tak akan memberikan kesempatan pada Sagara untuk membela diri dan menganggap bahwa tindakannya sesuatu yang bisa dibenarkan.
__ADS_1
"Kalau lo ajak gue ketemu cuma mau bahas masalah ini, jawaban gue masih sama. Kita udah berakhir. Bahkan dalam ikatan pertemanan sekalipun.
Oh, satu lagi! Lo nggak perlu larang-larang gue buat deket sama siapa pun!" Maura memberikan penegasan untuk terakhir kali. Sebelum perempuan itu bangkit dari kursi dan berniat meninggalkan Sagara seorang diri.
Namun, gerakan Sagara lebih cepat ketika menahan tangan Maura. Pemuda itu mencekal pergelangan tangan Maura hingga membuatnya mengaduh kesakitan. Bahkan perempuan itu sampai dibuat meringis menahan sakit.
"Kalau gue nggak bisa dekat sama lo, itu artinya nggak akan gue biarkan siapa pun dekat sama lo. Termasuk Mizar!" ucap Sagara penuh penekanan. Nadanya mengancam. Sama sekali tak terlihat jika pemuda itu bermaksud main-main.
"Argh ... sakit! Lepasin tangan gue!" sentak Maura berusaha melepaskan diri. Namun, cengkeraman tangan Sagara terlalu kuat hingga membuat Maura tak berkutik di bawah kendali pemuda itu.
"Gue bakal lepasin kalau lo janji buat jauhin Mizar dan jadian sama gue!" tandas Sagara setengah berbisik.
"Sinting! Lo pikir gue mau terima permintaan konyol lo itu?!" Maura sama sekali tak terlihat gentar dan tetap melawan pemuda di hadapannya itu.
"Itu tawaran yang masuk akal, Ra. Apa lo nggak memikirkan keselamatan lo sekarang?"
"Lo udah gila, Ga!"
Sagara tersenyum dingin. Bersamaan dengan mengencangkan cengkeraman di pergelangan tangan Maura.
"Gue bakal teriak!"
"Coba aja. Mereka nggak bakal peduli sama kita!"
Maura mengedarkan pandangan. Berusaha meminta tolong pada siapa pun yang bisa menyelamatkan dirinya dari manusia gila bernama Sagara.
Sia-sia. Keributan itu memang mengalihkan perhatian semua orang. Namun, tak ada satu pun di antara pengunjung kafe yang berusaha menyelamatkan Maura. Mungkin saja, mereka beranggapan jika itu merupakan pertengkaran antar kekasih saja.
Bugh!!
Dari arah yang tak terduga, tiba-tiba seseorang memukul wajah Sagara hingga tersungkur di bawah kursi. Pegangan tangannya terlepas. Berhasil menyelamatkan Maura yang cukup syok dengan peristiwa yang baru saja terjadi.
"Kamu nggak papa?" tanya lelaki itu kepada Maura yang masih tertegun. Membuatnya kehilangan fokus dan berhasil membuat Sagara membalas pukulannya.
Bugh!!
"Mizar!" refleks Maura menyerukan nama pemuda itu ketika tubuhnya terhuyung ke belakang.
"Lo memang cari mati ya!" Sagara balas berseru dan berusaha meraih kerah kemeja Mizar.
Namun, pertengkaran itu berhasil dihentikan oleh seseorang yang segera membawa Sagara keluar ruangan. Meninggalkan Maura yang kini menatap Mizar dengan sorot nanar.
__ADS_1