My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Peringatan!


__ADS_3

Kalau saja tak berada di perpustakaan, Maura pasti bakal mengumpat pemuda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu kaget setengah mampus dengan kemunculan Mizar yang tiba-tiba.


Terlebih pemuda itu menunjukkan raut muka sok polos dengan senyum jenaka membingkai wajahnya. Seakan-akan pertemuan mereka di tempat ini bukanlah sesuatu yang mereka sengaja. Alias kebetulan. Campur tangan semesta.


"Hai, Ra." Sapaan Mizar jelas membuat gadis itu kesal.


Jangankan mendengar suaranya, melihat wajahnya saja sudah membuat Maura geram.


Perempuan itu mendengus kesal. Menutup buku di depannya dengan kasar, lantas bersiap meninggalkan ruangan. Namun, Mizar lebih dulu mencegahnya dengan menahan tangan gadis itu.


Ia tak bisa berteriak. Tentu saja. Melakukan hal itu akan mengganggu kenyamanan di perpustakaan. Maka satu-satunya cara hanyalah melirik cowok itu dengan tatapan tajam.


"Lepas!" desis Maura dengan nada tegas meski lebih mirip seperti bisikan.


Senyum yang membingkai wajah Mizar masih terlihat jenaka. Sama sekali tak terpengaruh oleh lirikan tajam Maura.


Sumpah, kalau saja tidak berada di perpustakaan, ingin rasanya gadis itu mencakar wajah Mizar yang tampak menyebalkan.


"Janji dulu satu hal, kamu nggak bakal lari begitu kulepaskan."


Maura diam. Lagipula siapa yang mau membuat kesepakatan. Ia hanya ingin pergi dari sini tanpa terlibat dengan Mizar lebih lama lagi.


"Kalau gitu, aku nggak bisa lepasin tangan kamu." Mizar menambahkan dengan raut muka yang perlahan berubah datar.


Hampir tanpa ekspresi selain kerutan yang tiba-tiba muncul di keningnya. Tak ada lagi senyuman menggoda yang sejak semula membingkai wajahnya.


"Kamu ada janji sama Sagara?" Pertanyaan itu terucap begitu saja dari bibir Mizar.


Bersamaan ketika dari arah pintu, seorang pemuda berkemeja beige dipadu celana jeans coklat tua berjalan memasuki perpustakaan. Pemuda itu tampak celingukan sebelum memutuskan untuk masuk lebih jauh ke dalam ruangan.


Maura menghela napas panjang. Kalau saja hubungannya tak memburuk dengan Sagara, ia ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk melarikan diri dari Mizar. Perempuan itu sudah muak tertahan dengan orang yang sama sekali membuatnya tidak tahan.


Sebelum ia menyadari sesuatu yang terasa janggal. Perempuan itu diam-diam melirik Mizar dengan ekor matanya.


Sagara bukanlah mahasiswa di tempat mereka berkuliah. Cowok itu tercatat sebagai salah satu mahasiswa di sebuah kampus swasta yang berbeda. Bahkan bisa dikatakan berada cukup jauh dari wilayah mereka.


'Gimana ceritanya Mizar bisa kenal Sagara?' bisik perempuan itu dalam hati.


Raut muka Maura terlihat curiga. Ia menatap pemuda di depannya dengan sorot waspada.


"Dari mana lo kenal Sagara?" Maura bertanya dengan nada yang sama sekali tak terdengar santai. Meski tetap menekan suaranya agar tak mengganggu banyak orang.

__ADS_1


"Oh, bukan. Harusnya pertanyaan gue, dari mana lo tahu kalau gue kenal sama Sagara?"


Mizar tergagap. Ia tak bisa memberikan alasan dengan tepat. Padahal, pemuda itu benar-benar tak sengaja ketika mengetahui bahwa Maura dan Sagara saling kenal.


"Aku lihat dia nyamperin kamu kemarin. Di tempat kita makan."


"Oh ya?"


"Nggak masalah kalau kamu nggak percaya, Ra. Tapi aku penasaran, dari mana kamu kenal cowok berengsek itu?"


Maura tersenyum sinis mendengar pertanyaan Mizar. Kata-kata tajam yang diucapkan Mizar justru lebih tepat ditujukan padanya. Bisa-bisanya cowok berengsek justru menuduh orang lain berengsek!


"Kalau Sagara berengsek, lo apa? Oh ya, gue lupa. Lo kan pembunuh!" ucapan tajam Maura membuat rahang pemuda itu mengeras.


Tanpa sengaja ia mencengkram keras tangan Maura yang berada dalam genggamannya. Hingga membuat perempuan itu mengaduh.


"Aww! Sakit gila!" seru Maura tak bisa mengendalikan diri.


Beberapa pasang mata menoleh ke arah mereka. Termasuk Sagara yang baru saja memasuki perpustakaan beberapa menit lalu untuk mencari keberadaan Maura. Cowok itu berjalan ke arah si perempuan saat menemukan sosok yang dia cari.


"Ra, lo di sini?" Sagara menyapa Maura yang masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Mizar.


"Loh, Zar! Lo kenal juga sama Maura?" imbuh Sagara ketika menyadari keberadaan orang lain di antara mereka.


***


"Lo sinting?! Lepasin tangan gue!" Maura memaki begitu keluar dari perpustakaan.


"Nggak! Kamu harus ikut aku, kita ngobrol, baru aku lepasin tangan kamu!"


Mizar masih menyeret tangan Maura dengan paksa. Tangan perempuan itu terasa sakit, tapi tenaga Mizar terlalu kuat hingga membuatnya tak bisa melepaskan diri. Tangan Maura terkunci, hingga mereka sampai di taman kampus yang cukup sepi.


"Lepasin tangan gue!" seru Maura lebih keras dari sebelumnya.


Kali ini, Mizar menurut. Ia melepaskan tangan Maura yang tampak merah akibat ulahnya. Namun, cowok itu segera menangkapnya sekali lagi begitu Maura berusaha melarikan diri.


"Mau lo apa sih? Nggak cukup lo udah bikin sahabat gue mati? Lo mau apalagi dari gue?" teriak Maura frustrasi. Ia benar-benar lelah menghadapi sikap Mizar yang dianggapnya kelewatan.


"Ra, bisa nggak kamu dengerin penjelasan aku dulu. Dari awal sampai akhir. Biar kamu nggak terus-terusan salah paham sama aku," ucap Mizar begitu lirih.


Sorot mata pemuda itu terlihat sendu. Tak lepas dari sepasang netra Maura yang berusaha mati-matian menghindarinya.

__ADS_1


Perempuan itu tersenyum kecut. Sungguh, ia tak ingin berurusan dengan Mizar sekarang. Bisakah pemuda itu membiarkan saja dirinya pergi?


"Ra, apa yang kamu tahu nggak sepenuhnya seperti yang kamu pikirkan. Tolong, kasih aku kesempatan buat jelasin semuanya." Mizar berusaha membujuk Maura yang terlihat begitu keras kepala.


"Gue nggak butuh dan gue nggak mau tahu! Semua yang lo omongin sekarang, nggak bakal bisa ngubah keadaan. Pembelaan lo juga nggak bisa ngembaliin Raisa hidup lagi! Buat apa gue mesti dengerin?" ucap Maura dengan nada tajam.


Perempuan itu masih berusaha melepaskan cengkraman dari tangan Mizar.


"Lepasin tangan gue nggak!" bentak Maura. Suaranya mulai serak. Ia kehilangan banyak tenaga.


"Oke, oke. Aku bakal lepasin tangan kamu. Tapi, tolong dengerin aku kali ini!" pinta Mizar dengan raut muka memelas.


"Kamu boleh nggak percaya kata-kata aku, Ra. Kamu boleh benci aku kalau memang itu yang kamu mau. Tapi aku mohon satu hal, Ra. Aku mohon banget sama kamu. Jauhi Sagara. Aku nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa."


"Apa peduli lo?"


"Ak- ...." kalimat Mizar tak tuntas. Ia kehilangan kata untuk menjawab pertanyaan Maura.


'Gue peduli sama lo, Ra. Dari dulu sampai sekarang gue selalu peduli sama lo!'


Harusnya kalimat itu ia ucapkan dengan suara lantang. Namun, Mizar hanya sanggup mengungkapkannya dalam hati.


Cowok itu menghela napas panjang. Sorot matanya tak lepas memperhatikan si perempuan.


"Aku nggak mau kamu kenapa-napa, Ra. Jadi kumohon, jauhi Sagara. Demi baikan kamu."


Maura tersenyum sinis. Ucapnya,"Lo bahkan nggak tahu kenapa lo mesti peduli sama gue! Ngapain lo susah-susah kasih gue peringatan?"


"Ra ...." Mizar menghela napas panjang entah untuk ke berapa kali. Imbuhnya,"Ini terlalu rumit untuk dijelaskan. Aku cuma nggak mau kalau kamu sampai kenapa-napa. Jadi, please, jauhin Sagara!"


Mizar terlihat serius. Namun, Maura tetap tak mau mendengarnya. Ia terus berontak hingga cengkraman tangan Mizar benar-benar terlepas.


"Orang yang harusnya gue jauhin itu lo, Zar! Dan, gue sama sekali nggak mau peduli tentang Sagara!" tegas Maura sebelum memutuskan pergi dari sana.


"Ara!"


Saat itulah, Sagara muncul dari arah yang berlawanan dan mendekati keduanya. Cowok itu segera memburu Maura dan menuntunnya meninggalkan taman.


"Ayo, gue anterin pulang," ucap Sagara pelan.


Maura bungkam. Sengaja tak memberikan jawaban. Sementara Mizar hanya sanggup mengumpat kasar. Ia tak mau mengambil risiko lebih dari ini. Konsekuensinya Maura bakal semakin marah dan ia tak mau jika hal itu sampai terjadi.

__ADS_1


Sedangkan Sagara menjadi satu-satunya orang yang tertawa melihat kekalahan Mizar.


__ADS_2