My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Rumah Hantu


__ADS_3

Mizar tersenyum puas ketika melihat perseteruan antara Maura dan Sagara di tempat cuci tangan. Lelaki itu tak perlu memikirkan cara bagaimana menjauhkan Maura dari Sagara.


Lelaki itu tak tahu bagaimana Maura bisa kenal dengan Sagara. Namun, satu hal yang ia ketahui dengan pasti, Sagara merupakan cowok berengsek yang tak pantas bersanding dengan Maura. Apalagi jika keduanya sampai terlibat hubungan romantis.


Sungguh, Mizar benar-benar tak rela dan akan menggunakan segala cara untuk memisahkan mereka. Lelaki itu tahu dengan pasti, bagaimana buruknya Sagara dan perlakuan cowok itu kepada wanita.


Mizar sungguh-sungguh tak akan membiarkan Maura menjadi salah satu korban.


Melihat kedekatan mereka saja, sudah membuat Mizar was-was setengah mampus. Ia bahkan sudah menyiapkan strategi bersama Sky dan Arlan untuk menghadapi kemungkinan terburuk hubungan Sagara dan Maura.


Namun, setelah perdebatan di tempat cuci tangan tadi, tentu Mizar tak perlu repot mencari cara untuk memisahkan mereka. Kini, tinggal bagaimana cara untuk meluluhkan hati Maura agar memaafkannya.


"Kenapa lo senyum-senyum?" tegur Sky ketika Mizar kembali ke tempat duduk mereka.


"Ada tontonan seru," ucap lelaki muda itu menjadikan kedua temannya mengerutkan kening.


Sementara kedua cewek yang ikut bergabung dengan mereka melirik dengan sorot mata penasaran.


"Udah kayak Andra, aja lo!" timpal Arlan disambut tonyoran di kepala cowok itu. Bukan berasal dari Mizar, melainkan dari Riandra.


"Apa maksudnya tuh?" tanya cewek itu dengan nada ngegas.


"Nggak ada maksud. Kan tapi emang bener kalau lo suka banget liat kerusuhan." Arlan menambahkan tanpa merasa bersalah hingga membuat cewek itu kian kesal.


"Ck, ribut mulu sih. Katanya ada yang mau lo obrolin, Ndra? Apa?" Sky memisahkan perdebatan kedua temannya.


"Oh, gue baru aja dapat kabar dari Venus. Katanya, ada yang nantangin Mizar malam ini. Gimana, turun nggak?"


"Siapa?" Sky bertanya lebih cepat dibandingkan kedua teman cowoknya. Sebagai ketua Andromeda ia ingin memastikan lawannya aman.


"Belum tahu. Venus lagi cari identitas orang itu. Kayaknya pemain baru."


Venus yang disebut Riandra merupakan salah satu geng motor kenalan mereka yang sering kali mengadakan event balap motor. Namanya saja yang mengambil sosok sang dewi kecantikan. Tapi aslinya mereka tetap sekumpulan cowok yang tak jauh berbeda dengan Andromeda.


"Gimana, turun nggak?" Arlan mengulang pertanyaan Riandra ketika melihat Mizar kehilangan fokus.


"Hah?"

__ADS_1


"Ngelamun lo? Itu tawaran dari Venus. Belum ada identitas aslinya siapa orang yang bakal lo hadepin.


Bisa jadi seperti sebelum-sebelumnya. Gimana, ambil nggak?" Sky memberikan penjelasan kepada sang wakil yang tampak ragu-ragu.


Mizar tampak berpikir sejenak. Biasanya ia tak ragu mengambil tantangan dari geng motor lain yang ingin adu kecepatan dengannya.


Apalagi jika lawan yang ia hadapi tak memiliki identitas pasti. Cowok itu justru semakin tertantang. Semakin misterius sosok yang mengajak taruhan, semakin Mizar berminat menghadapi orang tersebut.


Dengan begitu, si lawan biasanya memiliki berbagai macam trik yang perlu ia taklukkan. Biasanya semakin misterius sosok tersebut, semakin tinggi juga skill yang dimiliki.


Namun, bisa saja hal itu juga justru kebalikannya. Biasanya mereka memang benar-benar pendatang baru yang penasaran dengan kemampuan Mizar seperti yang dibicarakan banyak orang. Bahwa cowok itu merupakan raja jalanan. Tapi hari ini ...


"Gue nggak janji, tapi bakal gue usahain. Bisa nggak lo gantiin gue kalau ada kemungkinan gue nggak bisa datang?" Mizar bertanya kepada Sky yang dibalas dengan anggukan.


"Oke, gue bakal usahain urusan gue cepat kelar."


"Di rumah aman kan?" Pertanyaan Arlan menjadikan Mizar tersenyum kecut.


"Gue bakal cek kondisi rumah lepas ini."


***


Sebenarnya salah apabila dikatakan sebagai bangunan tak berpenghuni. Pada faktanya kedua orang tuanya pun tinggal di bangunan tersebut. Hanya saja mereka tak pernah menunjukkan eksistensinya.


Atau Mizar yang tak pernah menjumpai eksistensi mereka di rumah ini? Sebab, mereka bakal pergi sebelum matahari lahir dan pulang ketika bulan hampir hilang.


Cowok itu menghela napas panjang. Ia mendorong pintu kayu berukir yang seakan mengucapkan selamat datang. Pada kehampaan. Begitulah setidaknya yang Mizar rasakan.


Gelap. Belum ada satu pun lampu yang menyala. Pasti si Bibi lupa lagi menyalakan lampu sebelum pulang ke rumahnya.


Ya, keluarga itu memang memiliki seorang asisten rumah tangga yang tak tinggal di sana. Setiap subuh wanita paruh baya lebih itu bakal datang dan pulang sebelum petang.


Dan, salah satu kebiasaannya adalah lupa menyalakan lampu ketika hendak pulang. Padahal dapat dipastikan jika penghuni rumah ini bakal pulang ketika hari sudah jauh malam.


Seperti halnya saat ini. Rumah dalam keadaan gelap ketika Mizar datang.


Cowok itu berjalan lebih ke dalam. Mencari saklar lampu untuk menerangi ruangan. Tak lama, bangunan yang semula gelap tak ubahnya rumah hantu - seperti yang selalu Mizar bilang - mendadak benderang.

__ADS_1


Tidak membutuhkan waktu lama, deru kendaraan di luar mulai terdengar. Datang beriringan. Itulah mengapa Mizar memutuskan pulang lebih awal dibandingkan biasanya yang selalu lewat tengah malam.


Hari ini, kedua orang yang mengaku sebagai orang tuanya itu, memintanya pulang lebih awal. Demi merayakan peringatan tahunan yang tak boleh dilewatkan.


"Inget rumah juga kamu," ucapan sinis seorang pria disambut sindiran tajam wanita yang terdengar sampai dalam.


"Kamu kira saya seperti kamu yang inget rumah seperlunya saja? Kalau hari ini bukan ulang tahun Anggara, apa kamu juga bakal inget pulang?"


"Aku pulang ke rumah ini setiap hari, Hana! Jangan kira aku seperti orang yang kamu tuduhkan!"


"Oh ya benar. Kamu memang pulang ke rumah ini setiap hari. Tapi yang kamu pikirkan selalu Anggara!"


Plak!!


Ucapan wanita itu disusul suara tamparan yang cukup keras. Bahkan hingga terdengar dari ruang tamu di mana Mizar masih berdiri menunggu.


Cowok itu bergegas keluar ruangan. Betapa terkejutnya ia saat mendapati sang ibu sedang memegang pipinya yang memerah.


Hati Mizar ikut tertampar melihat wanita yang melahirkannya itu dilukai oleh pria tak punya hati seperti Galang Narendra. Pria yang mengaku sebagai papanya padahal tak pernah bersikap layaknya seorang ayah.


"Apa yang Anda lakukan pada Mama saya!" Nada bicara Mizar meninggi. Kalau saja sang mama tak menghalangi, Mizar pasti akan memukul pria itu sekarang juga.


"Jadi ini yang kamu bilang mendidik anak lebih baik seperti yang kamu bicarakan?! Bersikap kurang ajar pada Papanya sendiri!" Suara Galang menggelegar. Memenuhi teras rumah tempat mereka bertiga berdiri mematung.


Tepat di saat yang bersamaan seorang lelaki yang lebih muda tiga tahun dari Mizar berjalan pelan mendekati mereka. Wajah lelaki itu menunduk. Menyembunyikan wajah sendu yang tak pernah bisa membodohi Mizar.


"Pa," panggil lelaki itu membuat Galang menoleh. Tak jadi melampiaskan amarahnya pada Mizar maupun Hana.


"Hei, anak Papa. Sudah pulang?" Pria paruh baya itu berubah menjadi orang lain yang sama sekali tak pernah Mizar kenal.


"Papa nyalahin Kakak sama Mama lagi? Jangan Pa, Anggara nggak mau Papa benci mereka!"


"Cih, si pemeran figuran mulai berulah!" gumam Mizar dengan nada tajam. Sengaja mengeraskan suara agar mereka mendengar.


Sementara raut muka Hana tampak semakin kecewa. Untuk pertama kalinya, ia membantah ucapan sang suami dan menarik Mizar pergi dari rumah itu.


"Kamu benar, Zar. Rumah ini memang rumah hantu. Cuma setan yang pantas tinggal di rumah ini!" Hana menegaskan kalimatnya sebelum pergi.

__ADS_1


"Hana! Mau ke mana kamu! Kembali!" seruan Galang sama sekali tak mereka pedulikan.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran.


__ADS_2