My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Rencana Cadangan


__ADS_3

Suasana berubah tegang di antara ayah dan anak itu. Diskusi mereka hampir tanpa hasil. Meskipun sudah ada Noah yang berada di samping si bungsu untuk meminta izin dari Barata agar Maura diizinkan pergi sendiri.


Raut muka Barata masih saja terlihat tegang. Pria itu sama sekali tak mengalihkan perhatian dari kedua anaknya yang masih tak beranjak. Mereka duduk berhadapan di meja makan. Mengabaikan menu makan malam yang seharusnya menjadi kesukaan semua orang.


Selepas pengakuan Maura jika gadis itu ingin mengajukan banding pada sang papa, mereka memutuskan untuk makan malam dan mendengarkan keinginan si bungsu di hadapan papa serta kedua kakaknya. Dengan salah satu kakak berusaha membela si bungsu dari pertanyaan serta argumentasi yang diucapkan Barata.


Meski begitu, tetap saja dia kekuatan yang bersatu itu, tak bisa mengalahkan Barata yang lebih andal menguasai kedua anaknya.


Maura mulai kesal. Tapi juga tak bisa menunjukkannya secara terang-terangan. Bakal lebih rumit urusannya jika ia melawan tanpa persiapan.


'Apa gue pakai cara terakhir aja?' bisik Maura dalam hati.


Gadis itu diam-diam menimbang dalam benaknya. Kira-kira kapan waktu yang tepat untuk menyampaikan pada sang papa bahwa ia masih memiliki rencana cadangan yang cukup pamungkas. Maura yakin pasti, jika ia menyampaikan rencana tersebut, Barata pasti akan langsung setuju.


Hanya saja justru dirinyalah yang ragu-ragu dengan rencana tersebut. Tahu alasannya bukan? Maura tak mau memasrahkan nyawanya yang berharga kepada orang yang telah merenggut nyawa Raisa.


Herannya semua orang yang ia kenal, seolah tak mempermasalahkan kejadian itu sama sekali. Mereka tak pernah sedikit pun beranggapan bahwa Mizar-lah penyebabnya. Bahkan termasuk kedua orang tua Raisa yang juga sahabat karib Barata dan Sekar.


Padahal jelas-jelas, malam itu mereka keluar bersama. Dan, Mizar sama sekali tak mendapatkan luka yang sama. Bukankah seharusnya pemuda itu juga terluka jika mereka mengalami peristiwa yang sama?


Kecuali jika memang Mizar-lah dalang di balik seluruh peristiwa yang terjadi malam itu.


Maura menghela napas panjang. Hingga membuat ketiga pasang mata di meja makan beralih memperhatikannya.


"Apa harus ketemu Andara besok, Dek?" Abigail yang bersuara.


Jujur saja, si sulung mulai tak tega melihat raut muka Maura yang terlihat buruk. Tampak jelas jika si adik perempuan menanggung beban.


"Iya, Bang. Ara pikir, mumpung Tante Vella belum dibawa pulang ke Pangandaran. Kalau udah dibawa ke sana, makin jauh perjalanannya."


"Bukannya Ara nggak mau jenguk ke sana, tapi kan sayang waktunya bakal habis di perjalanan."


Barata menghela napas panjang. Sebagai ayah sebenarnya ia tak mau menjadi sosok yang otoriter. Tapi, pria itu lebih tak tega melepaskan sang anak pergi jauh sendirian.


Mana mungkin ia tega membiarkan gadis itu berkendara seorang diri sampai ke Bandung? Lagian ayah mana yang tega mengambil keputusan tersebut? Tak akan pernah ada.


Pria itu cukup yakin dari sepuluh ayah delapan di antaranya pasti tak akan membiarkan anak gadisnya pergi jauh seorang diri. Apalagi dalam keadaan menyetir. Itu poin pentingnya.

__ADS_1


"Kalau gitu, Bang Agil bakal anterin kamu besok."


Satu-satunya makhluk Hawa yang berada di meja makan tersebut, tampak tergemap mendengar keputusan sang kakak. Ia sudah menduga jika bakal seperti ini jadinya.


Tegas, Maura menolak ide sang kakak.


"Nggak, Bang. Besok kan Bang Agil ada pengadilan penting. Bang Agil nggak boleh mangkir. Orang udah kasih kepercayaan ke Abang, masa Abang mau melukai perasaan mereka gitu aja."


"Masih ada tim pengacara yang lain. Bang Agil bisa minta tolong Berlian ataupun Baruna."


"Ck, tetep nggak boleh kayak gitu, Bang."


"Papa juga setuju sama, Ara. Kamu nggak bisa lepas tanggung jawab gitu aja, Bang. Mereka mengharapkan yang terbaik dari kamu."


Ruangan kembali sunyi. Di tempat duduk masing-masing ketiga makhluk Adam memikirkan cara untuk meluluskan keinginan Maura tanpa harus membuat gadis itu menyetir dari Jakarta sampai Bandung. Namun, belum ada satu pun yang menemukan jawabannya.


"Besok aku bakal minta izin. Bang Noah yang bakal anterin kamu."


"Ish, Abang gimana sih? Bukannya besok Abang justru ada seminar? Itu sama aja nggak bisa ditinggal, Bang. Udah bener Ara tuh berangkat sendiri. Nggak perlu dianterin sama kalian." Maura masih ngotot mempertahankan keinginannya.


"Dari semua sifat baik kamu, kenapa justru sifat keras kepala kamu yang kamu turunkan kepada Ara, Ma," gumam Barata menjadikan Maura merasa bersalah.


Jika sudah demikian, mana mungkin perempuan itu bakal diam saja tanpa menggunakan jurus terakhirnya.


Gadis itu menghela napas. Memantapkan tekad dalam hati sebelum berucap,"Oke, jadi persoalannya adalah Ara nggak boleh ke Bandung sendirian kan? Berarti Ara boleh ke Bandung kalau ada temannya?"


Sang papa tak langsung menjawab. Ia tampak menimbang sebelum memberikan jawaban. Jelas saja, ia tak mau terjebak dalam rencana Maura.


Sebagai seorang ayah yang sudah mendampingi Maura selama hampir dua puluh tahun, Barata cukup mengenal putrinya. Juga termasuk fakta bahwa Maura cerdas dan banyak akal.


"Tergantung siapa teman yang bakal dampingi kamu. Jelas dalam hal ini Andara nggak termasuk karena dia yang bakal kamu tuju. Sagara? Setelah kejadian terakhir, Papa makin hilang respek sama dia. Ada lagi teman yang bisa Papa percaya buat temenin kamu ke Bandung?"


Maura sempat mendengus kesal. Sejak kapan lingkup pertemanannya menjadi begitu sempit? Sang papa bahkan hanya bisa menyebutkan dua orang teman yang biasa Maura sebutkan namanya ketika berada di rumah.


Apa ia sekarang menjadi sekuper itu bahkan hanya dua nama yang bisa disebutkan Barata?


"Harusnya banyak. Kan masih ada Erika sama Salma. Mereka bisa temenin Ara ke Bandung," jawab Maura tanpa berpikir panjang. Menyebutkan dua nama teman SMA-nya yang bahkan saat ini tak berada di Jakarta.

__ADS_1


Lantas gadis itu menepuk kening ketika menyadari kebodohannya.


"Mereka kuliah di Yogyakarta kan? Kamu mau minta mereka pulang demi nemenin kamu ke Bandung?" Telak. Maura tak bisa menjawab pertanyaan Barata kali ini.


Perempuan itu mendengus pasrah. Sungguh, hanya ada satu jalan yang bisa ia tempuh sekarang.


"Oke, tunggu. Ara bakal ajak satu orang lagi yang udah Papa kenal dengan 'baik'," ucap Maura penuh penekanan ketika menyebutkan kata terakhir.


Gadis itu meraih ponsel yang sebelumnya disimpan di saku celana training yang ia kenakan. Lantas menghubungi sebuah nomor yang entah sejak kapan tak pernah dihubungi lagi.


Tak membutuhkan waktu lama, panggilan telepon terhubung. Disambut seruan berisik dari ujung sana.


Maura sengaja mengeraskan pelantang suara agar semua orang yang duduk mengelilingi meja makan, mendengar percakapan mereka.


"Heh, si cewek galak itu beneran telepon lo?" Sekalipun Maura tak melihat orangnya, tapi ia tahu betul itu suara milik siapa. Raka.


Cowok yang menjadi teman sekelasnya di mata kuliah yang diajarkan Noah itu, menyebutnya sebagai cewek galak - entah sejak kapan. Yang jelas baru hari ini Maura mendengarnya ketika berada di kelas siang tadi.


"Sstt!! Suara lo kedengeran bego! Diem lo pada." Suara lain menyusul kemudian. Ini jelas suara pemilik telepon.


"Halo, Ra. Ada perlu apakah?" sambungnya setelah meminta teman-teman di belakangnya untuk diam.


"Gue nggak akan basa-basi. Besok, lo bisa anterin gue ke Bandung? Jenguk Mamanya Andara." Maura benar-benar tak basa-basi dan langsung mengatakan tujuan gadis itu repot-repot menelepon Mizar.


"Oh, jam berapa?"


"Berangkat pagi aja kalau bisa. Jam lima."


"Oke, aku bakal anterin kamu."


"Oke, makasih. Sampai jumpa besok pagi."


Klik. Sambungan telepon terputus. Tatapan Maura kini fokus kepada sang papa dan juga kedua kakaknya.


"Beres kan. Papa nggak punya alasan lagi buat nggak ngizinin Ara ke Bandung besok kan?" ucap Maura hampir tanpa ekspresi.


Sementara ketiga orang yang duduk di depan Maura hanya menatap gadis itu dengan pandangan tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2