My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
A Sky Full of Stars


__ADS_3

Mizar menghela napas panjang. Pemuda itu benar-benar telah mencapai batasnya. Matanya memejam dengan kepala tersandar di bantalan kursi kemudi.


Ingin rasanya ia menjerit. Membatah semua tuduhan Maura kepadanya. Mengatakan yang sebenarnya tentang semua peristiwa yang sama sekali berbeda. Namun, ia menyadari sebuah fakta, Maura tak akan bisa menerimanya.


Setidaknya untuk saat ini. Ketika dendam untuk Mizar tak juga pudar. Maka yang bisa dilakukan pemuda itu sekarang hanyalah membuang napas dengan kasar. Dengan harapan, apa yang ia lakukan bisa membuang semua emosi yang menumpuk dalam jiwa.


"Aku mengakui kalau maaf aja nggak akan cukup, Ra. Sampai kapan pun nggak akan pernah cukup dan itu juga nggak akan mengubah pandangan kamu tentang aku."


"Ya, aku memang seburuk itu. Itulah mengapa aku hanya bisa dan selalu meminta maaf padamu. Karena aku berharap suatu saat nanti kamu bisa memahami diriku," sambung pemuda itu dengan suara bergetar.


Sungguh, demi apa pun, perasaan Mizar begitu redam ketika mengucapkan kalimat tersebut. Air mata bahkan rebas membasahi pipi. Itu bukan hanya sekadar ucapan tak bermakna. Namun, juga ada harapan yang benar-benar ia aminkan. Bahwa kelak Maura benar-benar bisa memahami dirinya.


Di tempat duduknya, Maura tak memahami apa yang terjadi. Namun, suara serak Mizar cukup menampar dirinya. Perempuan itu tergemap. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana memprihatinkannya wajah pemuda yang duduk di belakang kemudi itu. Sama sekali tak terlihat seperti Mizar yang ia kenal.


Ke mana perginya lelaki yang selalu bersikap dingin dan hampir tak pernah peduli dengan apa pun yang terjadi selama ini? Bahkan sejak mengenal Mizar hingga mereka berkuliah di tempat yang sama, Maura tak pernah absen mendengar rumor tentang pemuda itu. Bahwa Mizar tak lebih dari manusia dingin selayaknya kulkas dua pintu.


Mizar bahkan tak akan pernah peduli jika ada seorang perempuan menangis di depannya, hanya untuk meminta belas kasihan pemuda itu. Ya, sosok yang seperti itu, kenapa tiba-tiba begitu terlihat menyedihkan hanya karena ucapan Maura.


'Apa gue terlalu keras?' bisik perempuan itu dalam benaknya.


Maura diliputi perasaan bersalah. Gadis itu mulai berpikir dalam benaknya, apakah perilakunya terlalu kasar kepada Mizar hingga membuat pemuda itu menitikkan air mata pilu?


Bibir perempuan itu terbungkam. Ada kata yang tak sanggup ia ucapkan. Lantas mengembuskan napas dengan kasar.


'Buktinya gue nggak lebih bijak ketimbang lo, Zar. Minta maaf doang nggak bisa gue ucapkan.' Maura membatin dalam hati.


Perempuan itu membuang pandangan ke arah lain. Sengaja tak melihat pantulan wajah putus asa Mizar yang tertangkap spion mobil.


Suasana di antara mereka menjadi dingin. Tak ada lagi percakapan yang sebenarnya hanya saling melukai satu sama lain.


Sementara kedua pemuda yang semula berada dalam rombongan kecil itu, masih menunggu tak jauh dari mobil pajero yang terparkir di tepi jalan. Mereka tak banyak bicara. Seakan memberi ruang satu sama lain untuk menyadari posisi mereka.

__ADS_1


Hingga Arlan memutuskan untuk angkat bicara lebih dulu akibat mulai tak tahan dengan panasnya matahari yang memanggang bumi.


"Gue udah nggak tahan. Masuk ajalah, yuk!" ajak Arlan kepada Jerome.


"Lo masih belum paham juga apa masalahnya, Lan?" tanya Jerome sedikit memberikan penekanan.


"Ck, lo serius tanya gitu? Gue justru yang paling paham."


"Maksud lo?"


"Gue sengaja bikin Mizar cemburu. Biar dia sadar kalau tindakannya itu nggak lebih dari seorang pengecut."


Jerome yang tak bisa memahami ucapan Arlan hanya sanggup terbengong.


"Ck, udahlah. Lama-lama lo juga bakal tahu. Ayo masuk, biar gue yang gantiin bocah sialan itu," ucap Arlan diikuti Jerome yang berjalan di belakang.


***


Radio yang memutar lagu-lagu manca pun sengaja diputar dengan volume yang rendah saja. Jerome tak ingin memperkeruh suasana hanya karena mempertahankan egonya saja. Lebih baik ia mendengarkan musik dengan lirih ketimbang mengganggu manusia lain yang berada dalam mobil yang sama.


Terlebih di bangku belakang, Maura sama sekali tak menolehkan pandangan. Ia sengaja menatap keluar agar tak perlu bertatapan dengan Mizar yang duduk di sampingnya.


Perempuan itu kembali tenggelam dalam irama musik yang mengentak melalui airbuds. Tak peduli jika ketiga lelaki di dekatnya terlibat dalam perang dingin.


Ya, setidaknya dua di antara ketiga lelaki itu. Sebab Jerome memilih untuk tidak memihak pada siapa pun.


"Gue gantiin lo. Rehat di belakang!" ucap Arlan beberapa saat lalu sebelum mereka melanjutkan perjalanan.


"Nggak perlu." Mizar menjawab tajam. Sepasang netranya masih terpejam. Sengaja agar tak perlu bertatapan dengan Arlan.


"Nggak usah ngeyel. Emosi lo gitu gimana bisa nyetir."

__ADS_1


"Gara-gara siapa gue emosi?"


"Lah, emang gara-gara siapa lo emosi? Nggak nyadar kalau itu gara-gara ulah lo sendiri?"


Ucapan Arlan membuat tangan Mizar mengepal. Ia hampir saja menonjok muka Arlan jika tak dihalangi oleh Jerome dari sisi lainnya.


"Udah, turun lo. Gue bakal gantiin lo!" Arlan meminta sekali lagi dan tetap ditolak oleh Mizar.


"Nggak perlu. Gue masih bisa bawa mobil. Lo mau makan kan? Gue bakal cari restoran supaya lo bisa makan!"


"Nggak bisa. Tetep harus gue yang bawa mobil. Atau lo mau kejadian kayak tadi keulang lagi?"


Setelah berdebat alot dengan Arlan, akhirnya pemuda itu mengalah juga. Ia membiarkan Arlan mengambil alih kemudi. Sementara dirinya sendiri duduk di bangku belakang bersama Maura.


Jelas, mereka tak saling buka suara. Bahkan Mizar sendiri pun terlihat tak begitu peduli dengan perempuan yang duduk di sampingnya.


Ada rasa sakit yang tak kunjung redam, jika mengingat ucapan Maura. Sungguh, ia benar-benar kecewa. Sikap Maura menunjukkan betapa ia tak ada artinya di mata perempuan itu.


Huft!


Tanpa sadar, Mizar menghela napas panjang. Perbuatannya itu membuat perempuan di sampingnya menoleh. Mungkin terganggu atau mungkin benar-benar ingin tahu dengan apa yang terjadi pada pemuda itu.


Mizar tak mau percaya diri. Hal itu hanya akan membuatnya merasa sakit lagi. Namun, yang terjadi justru tak pernah Mizar bayangkan.


Maura menyerahkan sebelah airbuds yang sebelumnya tersemat di telinga kiri. Tanpa banyak kata. Hanya menyerahkannya pada pemuda itu begitu saja.


"Buat apa?" Mizar pada akhirnya bersuara. Meski terdengar dingin seperti halnya ketika ia menghadapi para perempuan yang selalu mengejar dirinya.


Perempuan itu lebih tak peduli. Tanpa menunggu persetujuan, ia memasangkan airbuds di telinga Mizar begitu saja.


Mizar sempat tergemap, sebelum akhirnya membiarkan Maura memasang airbuds di telinganya. Pemuda itu lebih terkejut ketika mendengar intro lagu yang begitu ia sukai.

__ADS_1


Coldplay - a sky full of stars.


__ADS_2