
Basecamp para pemuda itu tak begitu ramai ketika Mizar datang. Ia baru saja mengantar Maura pulang, lantas bergegas menyusul yang lain ke basecamp tempat mereka biasa nongkrong.
Selain Raka dan Sky yang bermain PS tak ada tanda-tanda manusia lainnya membuat keributan. Bahkan bisa dibilang cukup tenang.
Mungkin ini ada pengaruhnya dengan peristiwa terakhir yang menyebabkan bentrok antar geng motor beberapa hari lalu. Mizar juga tak yakin pasti, tapi mereka memang terlihat lebih kalem setelah melampiaskan amarahnya.
Bahkan ketika Mizar memasuki ruangan dan duduk di samping Arlan, tak ada pergerakan yang sama sekali berarti. Semuanya datar-datar saja kecuali Raka dan Sky yang masih beradu gim PS.
"Tumben tenang-tenang aja kalian," ucap Mizar gatal untuk tidak berkomentar.
"Bosen nggak sih, gini-gini doang. Ini Riandra yang nggak kasih info ke kita, apa emang nggak ada yang ngajakin tanding sih?" ucap Jerome memberikan tanggapan.
Dibandingkan yang lain, memang wajah cowok itu yang terlihat paling menyedihkan.
"Gue tanya Rendra, katanya emang nggak ada anak-anak yang ngajakin turun. kayaknya lagi pada instrospeksi diri setelah kejadian terakhir deh." Bastian ikut memberikan tanggapan.
"Yakin lo mereka pada instrospeksi diri? Yang ada, gue yakin Sagara lagi susun rencana buat bikin ulah selanjutnya. Kayak nggak kenal aja sama curut satu itu," tegas Arlan sambil membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Ketimbang lo tanya gitu, mending lo jawab pertanyaan gue, Zar," sambung Arlan sambil memainkan ponsel.
Cowok itu tengah berselancar di aplikasi bersimbol kamera demi melihat cewek-cewek seksi. Tanpa sedikit pun bertukar tatap dengan orang yang tengah diajaknya berbicara.
"Apaan?" Mizar menanggapi dengan sedikit malas.
"Lo mau kapan ngaku sama, Ara?"
__ADS_1
Kening pemuda itu mengerut. Kini sepenuhnya fokus pada Arlan yang masih berada dalam posisi rebahan di atas sofa.
"Kenapa lo pengen tahu?"
Jari tangan Arlan berhenti berselancar di atas layar ponselnya. Pemuda itu meletakkan ponselnya di atas meja, lantas menegakkan punggung hingga berhadapan dengan Mizar yang masih berada di posisi semula.
Netra keduanya bertemu. Sama-sama menunjukkan sorot yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Demi mendengar percakapan sang sepupu dan kawan baiknya, Sky memilih menghentikan aktivasinya bermain PS dan berjalan ke arah keduanya. Berjaga-jaga jika terjadi hal yang tak diinginkan.
"Gue cuma ingetin lo sebagai teman, Zar. Nggak ada maksud lain," ucap Arlan begitu merasakan suasana tegang di sekitarnya.
"Emang sepenting itu?"
"Terus lo anggap hal itu nggak penting? Zar, hubungan lo sama Ara bakal jadi bom waktu kalau dia tahu semuanya. Setelah kejadian terakhir, apa lo pikir Sagara bakal diem aja?"
"Nggak, Zar. Dia pasti bakal mencari cara yang lebih menyakitkan buat ngancurin lo. Lo yakin kali ini dia nggak bakal manfaatin simpati, Ara? Kalau hal itu sampai terjadi dan lo belum bilang apa pun, bakal gimana lagi lo ngomong sama, Ara?" Arlan menegaskan kalimat yang membuat Mizar tampak berpikir keras.
"Gue ngomong gini bukannya apa-apa. Gue cuma peduli sama lo. Gue nggak mau lihat hancur buat kedua kali."
Mizar sepenuhnya terbungkam. Ucapan Arlan memang benar. Ia tak bisa diam lebih lama untuk mengungkapkan apa yang terjadi selama ini pada Maura.
Kesalahpahaman di antara mereka harus segera dituntaskan. Namun, di satu sisi Mizar juga merasa sayang.
Hubungannya dengan Maura mulai membaik, meski ia tahu itu hanyalah kesemuan belaka. Faktanya Mizar selalu ketakutan setiap kali hendak mengungkapkan kebenaran yang ia tahu kepada Maura.
__ADS_1
Arlan mungkin juga benar, bahwa ia hanya menumpuk bom waktu yang siap meledak kapan saja. Lantas bagaimana jika pemicu meledaknya bom itu bukanlah Mizar, melainkan Sagara?
Tentu, itu hal yang harus diwaspadai oleh Mizar.
"Ini bukan waktunya buat dijalanin dulu ataupun pelan-pelan aja, Zar. Bukan cuma lo, kita semua harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Lo tahu maksud gue kan?"
Mizar makin bungkam. Ia berpikir keras dalam benaknya tentang apa yang diucapkan oleh Arlan.
Lantas menoleh kepada Sky yang tampak setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang sepupu.
"Gue rasa ucapan Arlan ada benernya, Zar. Lo nggak bisa diem lebih lama lagi. Sebelum Sagara bertindak dan membuat lo semakin hancur ke depannya. Gue yakin dia nggak bakal diem aja setelah kejadian terakhir."
Ruangan itu mendadak sunyi seketika. Bahkan Raka yang semula masih bermain PS, memilih menghentikan aktivitasnya dan berkumpul dengan yang lain di atas sofa. Berdesakan dengan Jerome dan Bastian yang sama seriusnya seperti Mizar ataupun Arlan.
"Gue ...." Suara Mizar tersekat di kerongkongan.
Tak ada kalimat yang kemudian terucap dari mulut pemuda itu.
"Lo boleh ngomong pelan-pelan. Gue rasa Ara juga sudah mulai mengerti. Kalaupun dia nggak mau mengerti, seenggaknya lo udah ngomong kejadian sebenarnya. Dia juga pada akhirnya bakal mikir kok." Sky menambahkan setelah mengambil jeda cukup panjang.
"Jadi, menurut kalian gue harus ngomong sekarang?" Mizar masih membutuhkan penegasan meski tahu bagaimana jawaban teman-temannya.
"Mau nunggu lebaran monyet? Nggak bakal ada juga kan?" celetuk Raka cukup tiba-tiba. Namun, cukup menampar sisi kesadaran Mizar hingga terguncang.
Pemuda itu kembali bungkam. Benar-benar diam. Tenggelam dalam pikirannya yang tiba-tiba mendadak rumit dan penuh sesak.
__ADS_1
Padahal ia sudah memutuskan untuk bergerak pelan-pelan saja. Tapi, apa mungkin memang benar ini waktunya?
Mizar menghela napas panjang, sebelum akhirnya memilih pergi dari basecamp.