My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Nggak Apa-apa, Pelan-pelan Saja!


__ADS_3

Sebenarnya mengajak Maura ke mall untuk mencari kado buat sang mama hanyalah akal-akalan Mizar. Memang, Hana bakal berulang tahun, tapi tak bisa dibilang dalam waktu dekat juga. Mungkin sekitar dua minggu lagi.


Mizar juga bukan termasuk tipe anak yang romantis yang bakal selalu ingat ulang tahun sang mama. Apalagi menyiapkan kado untuk wanita yang telah melahirkannya itu.


Ya, semua itu hanyalah alasan supaya ia bisa mendekati Maura secara wajar.


'Maafin, Ical ya, Ma,' bisik pemuda itu dalam hati sambil menstarter motor sebelum meninggalkan kawasan kampus.


Mereka sengaja meninggalkan mobil Maura di kampus untuk memudahkan mobilisasi keduanya. Bakal terlihat aneh jika mereka pergi ke tempat yang sama menggunakan dua kendaraan yang berbeda.


Sebenarnya itu pun hanya akal-akalan Mizar saja. Lagi, Mizar hanya ingin lebih dekat dengan Maura dan memperbaiki kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu.


Tanpa membuat si gadis mengungkit masa-masa sulit yang ia lewati.


"Lo mau cari kado apa buat nyokap?" tanya Maura ketika mereka menyusuri butik-butik merek terkenal yang berada di salah satu mall.


"Nggak tahu. Nggak kepikiran juga. Selama ini, aku nggak pernah bener-bener mikirin apa yang Mama suka atau yang Mama butuhin."


Maura menoleh ke arah pemuda yang berjalan di sampingnya.

__ADS_1


"Jangan bilang, ini pertama kalinya lo beliin kado buat nyokap?"


Mizar tergemap. Pertanyaan Maura benar-benar membuatnya salah tingkah. Bagaimana Maura bisa tahu? Apa sikapnya begitu terlihat bahwa ia tak pernah memberikan hadiah pada sang mama?


Untuk beberapa waktu, Mizar membiarkan kesunyian menggantung di antara mereka. Pemuda itu memilih menggaruk bagian belakang kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal.


Sementara Maura menelisik pemuda itu dengan seksama. Menyadari jika tebakannya benar kali ini.


"Serius baru kali ini lo ngasih nyokap hadiah ultah?"


"Ehm ... bisa dibilang gitu sih. Tapi, kalau dibilang baru kali ini, nggak juga karena faktanya aku juga pernah kasih kado kok buat Mama. Mungkin waktu aku umur enam atau tujuh tahun," ucap Mizar membela diri.


"Lo bukannya ngasih mahkota bunga sama coretan doang kan?"


Pertanyaan Maura membuat pemuda itu reflek berhenti di tempat. Netranya menatap si gadis dengan sorot tak percaya.


"Kenapa?" Perempuan itu bertanya heran kepada si pemuda yang masih tak juga bergerak dari tempatnya.


"Kamu ...." Ucapan Mizar tak tuntas.

__ADS_1


Pemuda itu memilih menelan kembali kalimat yang berada di ujung lidahnya.


"Lo mau ngomong apa sih?"


Mizar menggeleng sebagai jawaban. Sudut bibirnya menahan senyuman.


"Bukan apa-apa. Lanjut yuk!" ajak si pemuda sambil menarik tangan Maura yang seketika disentakkan dalam sekejap.


"Nggak usah pegang-pegang."


"Galak banget sih, Ra."


"Gue cuma mau bantuin lo cari kado ya. Nggak ada maksud atau tujuan lain."


Tawa membingkai wajah Mizar. Tak lagi merasa canggung ataupun terbebani oleh sikap Maura yang suka di luar nalar. Maksudnya, galaknya minta ampun. Sudah seperti kucing besar yang kelaparan.


"Kan kita lagi cari kado, Ra. Nggak ada maksud lain kok, tapi kalau kamu mau kencan ... aku juga nggak keberatan."


"Mimpi!" pungkas Maura sambil mempercepat langkah. Meninggalkan Mizar yang masih menahan senyum di ujung bibirnya.

__ADS_1


'Mungkin memang bukan sekarang. Nggak papa, Ra. Aku bakal pelan-pelan. Sampai kamu menyadari keberadaanku seutuhnya.' Mizar membantin sebelum akhirnya menjajari langkah Maura.


__ADS_2