My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Kalian Pacaran?!


__ADS_3

Baru kali ini, Maura merasakan perjalanan yang begitu panjang dan menegangkan dari Jakarta ke Bandung. Perempuan itu bahkan masih termangu di tempatnya ketika mobil yang dikendarai Arlan - sampai tujuan - memasuki kawasan rumah sakit tempat Tante Vella dirawat.


Hingga Arlan mengguncang bahu perempuan itu cukup kencang. Demi membuat Maura sadar.


Harusnya Maura memang tidak pingsan, tapi perempuan itu tiba-tiba saja kehilangan fokusnya sejak beberapa menit lalu. Setidaknya ketika gendang telinga perempuan itu mendengar lagu Coldplay yang terputar dari pemutar musik di ponselnya.


Mungkin seharusnya Maura tak perlu sok inisiatif menyerahkan sebelah airbuds-nya kepada Mizar. Namun, itulah yang ia lakukan ketika intro pertama salah satu lagu yang dinyanyikan oleh Chris Martin tertangkap indra pendengarannya.


Perempuan itu memiliki refleks yang cukup bagus ketika menyerahkan airbuds-nya begitu saja. Tanpa memikirkan risiko yang bakal ditimbulkan setelahnya.


Dan, ya ... benar saja. Maura mendadak menjadi manusia yang kehilangan fokus akibat perbuatan impulsif yang ia lakukan.


Seharusnya bukan begini pula suasana di antara Mizar dengan dirinya. Dengan lagu favorit cowok itu, harusnya sudah cukup untuk mengembalikan perilaku si pemuda. Tapi kenapa sampai sekarang masih saja tak banyak bicara? Pikir Maura dalam bimbang.


Diam-diam ia menjadi semakin bersalah kepada Mizar. Sungguhkah sikapnya kali ini benar-benar kelewatan?


Maura menghela napas kasar. Lagipula mengapa ia harus repot-repot memikirkan cowok itu? Bukankah memang ini yang ia mau? Bahwa dirinya tak perlu terlibat terlalu dekat dengan Mizar?


"Ra, elah. Lo kenapa sih?" tanya Arlan yang berjalan paling belakang. Mengikuti Maura yang masih terlihat tak bersemangat.


"Eh?" Gadis itu menoleh, tapi sama sekali tak membuat dirinya terkoneksi dengan obrolan Arlan.


"Lo tiba-tiba jadi lemes gitu? Sakit?" Si pemuda masih berisik demi mengetahui kondisi Maura yang sebenarnya.


Perempuan itu kembali tergemap. Ia menoleh ke arah Arlan, tapi tak sanggup berkata-kata. Lantas kembali ke arah depan mengikuti Mizar dan Sky yang berjalan di depan.


Anehnya sosok pemuda yang berjalan tepat di depan Maura, sama sekali terlihat tak peduli ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh temannya. Padahal dalam kondisi normal, pemuda itu bisa saja langsung panik meski pada faktanya Maura tak benar-benar sakit.


Kening perempuan itu berkerut. Tampak heran dengan si pemuda yang sama sekali tak bereaksi. Lantas membuang jauh-jauh pikiran yang menganggu benaknya.


Untuk sesaat, Maura ingin fokus kepada Andara dan tak ingin memikirkan hal lainnya.


"Hei, udah sampai? Gimana perjalanan kalian? Nggak sangka jadi banyak orang yang ikut," sapa seorang perempuan muda ketika mereka memasuki salah satu kamar tempat Tante Vella dirawat inap.


"Kenapa lo, Ra? Sakit?" sambung Andara ketika menyadari sang teman terlihat lesu.

__ADS_1


"Hah? Oh, nggak." Perempuan itu menjawab singkat, lantas berjalan mendekat ke arah Andara yang langsung menyambutnya dengan pelukan.


"Nggak usah bohong lo sama gue. Keliatan tuh muka kecut banget." Andara masih tak percaya degan pengakuan gadis itu dan berusaha mendesak Maura.


"Serius, mana ada gue bohong. Kangen gue sama lo." Maura mengencangkan pelukannya pada Andara.


Lantas segera mendekat ke arah Tante Vella tanpa menunggu perempuan itu memberikan tanggapan. Toh sepertinya Andara juga tak ingin menanggapi kalimat Maura. Terbukti Andara langsung beralih kepada Mizar.


"Zar, lo apaan si Ara, sih?"


Pemuda yang disebut namanya hanya menoleh sekilas dan kembali menatap ke arah lain. Sengaja menghindari bertatapan dengan Maura.


"Nggak ada. Gue nggak ngapa-ngapain dia kok."


Maura tak memberikan jawaban. Gadis itu sudah berdiri di samping Tante Vella dan bertukar pelukan. Sama sekali berusaha tak peduli dengan ucapan Mizar.


"Tante, gimana kondisinya?" bisik Maura pelan sambil mengusap punggung tangan Vella.


Ia sama sekali tak acuh dengan suara-suara sumbang yang berada di belakangnya. Andara dan yang lain masih berusaha mendesak Mizar agar mengakui perbuatannya.


"Ra, kamu sampai jauh-jauh datang ke sini loh. Tante udah semakin membaik kok. Besok kayaknya Tante udah boleh pulang ke Pangandaran."


"Makasih ya udah mau datang," sambung Tante Vella sambil membalas usapan tangan Maura.


"Ara pengen tahu keadaan, Tante."


"Jatuhnya malah ngerepotin sih ini."


"Nggak kok, Tan. Sama sekali nggak repot."


Wanita yang berbaring di atas tempat tidur itu tersenyum menanggapi kalimat Maura. Wajahnya masih terlihat pucat, tapi jauh lebih baik ketika terakhir kali mereka melakukan panggilan video hampir satu minggu yang lalu.


"Kamu kalau balik ke Jakarta, ajak si Andara juga ya. Tante nggak betah kalau ada dia. Berisik banget anaknya," celetuk Tante Vella tiba-tiba. Membuat Andara yang masih berusaha mendesak Mizar menoleh dengan cepat ke arah sang mama.


"Apa sih si Mama, ih. Nggak ada ya, aku udah bilang sama Ayah kalau bakal ikut pulang ke Pangandaran. Lagian siapa yang bakal nungguin Mama kalau Ayah kerja?

__ADS_1


Seenggaknya biarin aku di sana sampai Mama benar-benar pulih."


"Tuh kan, Ra. Berisik banget dia. Gimana Tante bisa istirahat kalau dia berisik gitu?"


Maura menipiskan bibir. Memahami kekhawatiran yang ditunjukkan Andara maupun Tante Vella.


"Nggak papa, Tante. Kalau Ara bisa, Ara juga pasti bakal nemenin Tante sama Andara."


"Ck, kamu mah sama aja kayak Andara. Mending kuliah yang bener. Biar cepet lulusnya."


"Eh, ngomong-ngomong, siapa nih bujang berdua? Kok nggak dikenalin sama Mama, sih, Dar?"


Demi mendengar pertanyaan Tante Vella, kedua pemuda yang masih berdiri tak jauh dari sofa di ruangan VVIP itu, mendekati Tante Vella untuk mengenalkan diri.


Sungguh, Maura merasa bahwa tempat di sampingnya masih cukup luas. Namun, entah kenapa Mizar tiba-tiba berdiri di sampingnya dan membuat gadis itu bergeser ke tepi dinding. Hingga tak cukup ruang baginya untuk bergerak. Selain terpaksa berdiri di samping cowok itu hingga ia selesai berkenalan dan mengobrol sebentar dengan Tante Vella.


Barulah Mizar menggeser tubuhnya ketika Tante Vella menyadari betapa dekatnya jarak Maura dengan dinding di atas kepala wanita itu.


"Ah, maaf Ra, aku nggak sengaja," ucap Mizar begitu datar. Seolah yang ia lakukan memang tanpa kesengajaan.


Padahal Maura tahu pasti, cowok itu sengaja melakukannya ketika berdiri di sampingnya.


"Ya, nggak masalah kok." Gadis itu menjawab cukup singkat. Lantas kembali mengobrol dengan Tante Vella. Hingga Mizar menyerahkan sebuah kursi agar Maura bisa lebih nyaman ketika ngobrol dengan Mama Andara.


"Eh?"


"Duduk, biar kaki kamu nggak capek berdiri terus," jawab Mizar menanggapi keterkejutan Maura.


"Kalian ini pacaran?" Pertanyaan Tante Vella mengagetkan keduanya.


"Eh? Ng-nggak, Tante."


Vella justru menahan senyum di ujung bibirnya ketika mendengar jawaban Maura.


"Kalo nggak, kenapa jawabnya gugup gitu, Ra?"

__ADS_1


"Eh?" Maura kelagapan. Tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang cukup mengejutkan.


__ADS_2