
Kedua anak muda beda jenis itu duduk. berhadapan di sebuah kedai ice cream yang mereka temukan secara random. Seperti waktu itu. Bedanya kedai ice cream kali ini cukup mewah dibandingkan kedai ice cream yang mereka temukan hampir lima tahun lalu.
Menu yang ditawarkannya pun beragam. Ada berbagai macam rasa dan ukuran.
Di depannya, Maura tanpa sungkan memilih semua jenis rasa yang ia suka dalam ukuran besar.
Mizar tak tahu apa yang perempuan itu rencanakan. Tapi ia memilih diam dan tak banyak tanya ataupun berkomentar.
Dulu Mizar tak cukup percaya diri mengajak Maura untuk makan di tempat yang lumayan berkelas. Bukan karena tak punya uang, tapi pemuda itu sengaja hampir tak pernah memakai uang yang diberikan Galang untuk berfoya-foya.
Kecuali uang yang diberikan oleh Hana. Itu pun tak semuanya ia gunakan dan justru dibiarkan menggendut dalam tabungan. Paling-paling digunakan jika ia kalah taruhan. Itu pun hampir tak pernah terjadi sampai saat ini.
Mizar justru sering kali menang dan membuat tabungannya kian menumpuk. Terlebih sekarang ia sudah bisa menghasilkan uang sendiri. Pemuda itu semakin tak pernah menyentuh uang yang diberikan oleh Galang.
Ia hanya berjaga-jaga, jika sang papa menunjukkan sifat aslinya dan menuntut semua biaya yang sudah dikeluarkan untuk membiayai Mizar. Dengan begitu Mizar bisa mengembalikan semua uang yang diberikan Galang tanpa kurang sepeser pun.
Itu pula yang menyebabkan Mizar diam saja ketika Maura memilih berbagai macam menu yang ia suka. Dirinya cukup percaya diri kali ini. Bahwa uang di dompet maupun ATM-nya cukup untuk membayar pilihan menu Maura.
"Udah?" tanya Mizar begitu Maura menyerahkan daftar menu pada seorang pramusaji yang berdiri tak jauh dari tempat duduk mereka.
"Udah."
"Perlu tambah yang lain?" Mizar kembali bertanya dan ditanggapi gelengan kepala oleh Maura.
"Kalau gitu tambah Chocolate Dipped Cone with Orea Creamble satu ya, Kak. Ice cream-nya mau yang rasa vanila," sambung Mizar pada sang pramusaji.
"Baik, Kak. Mohon ditunggu pesanannya ya."
Maura mengangguk singkat. Begitu juga dengan Mizar. Lantas keduanya saling diam. Berusaha menghindari tatapan satu sama lain. Sebelum Mizar memilih buka suara yang membuat Maura cukup tercengang.
"Kamu inget nggak sih, kita juga pernah ngalamin momen kayak gini waktu kelas satu SMA? Noah lagi ikut kelas tambahan. Kamu nungguin sampai bosan di lapangan."
__ADS_1
Mizar menunggu reaksi Maura sebelum melanjutkan. Imbuhnya,"Kamu waktu itu keliatan lemes banget tahu, Ra. Udah gitu, kejebak hujan pula waktu di jalan. Pikirku kamu bakal ajak makan bakso atau seblak. Seenggaknya yang bikin badan jadi hangat. Siapa yang sangka kalau kamu malah ajak makan ice cream. Kayak sekarang."
Perempuan itu sama sekali tak bereaksi. Bukan karena tak peduli. Tapi ia justru ingat betul peristiwa yang terjadi hampir lima tahun lalu.
Itu pula yang membuat Maura tiba-tiba mencetuskan ide untuk mengajak Mizar makan ice cream ketika si pemuda menawarkan bakal mentraktirnya.
Meski begitu, Maura tetaplah Maura. Mana mungkin ia mengatakan yang sejujurnya jika hubungan mereka di masa lalu mulai mengusiknya.
Perempuan itu bahkan bingung, apa yang membuatnya begitu menerima keberadaan Mizar? Apa mungkin itu hanya sebatas rasa bersalah saja, sebab kemarin sudah membuat si pemuda begitu marah?
Memang apa pedulinya? Bukankah selama ini Maura tak pernah peduli pada Mizar? Apa yang membuatnya sekarang tertarik untuk menanggapi pemuda itu?
Apa betul hanya karena Maura sudah kehilangan akal untuk menghadapi tingkah Mizar? Atau justru ia mulai terpengaruh oleh ucapan sang kakak kedua? Atau mungkin juga ayahnya yang seakan menyimpan rahasia?
Sungguh, Maura tak ingin memikirkan hal-hal rumit semacam ini. Hanya saja semakin ia berusaha mengabaikan justru membuatnya semakin kepikiran. Setidaknya dalam beberapa hari terakhir. Terkhusus sejak kepulangannya dari Bandung kemarin.
"Yah, diem mulu sih diajak ngobrol juga."
Bukannya menurut, Mizar justru tergelak mendengar ungkapan Maura. Perempuan di depannya itu memang masih selayaknya si gadis yang ia kenal.
Dan, Mizar benar-benar mengikuti keinginan Maura begitu pesanan mereka datang. Di depan keduanya kini terhidang empat jenis ice cream yang berbeda. Tiga pesanan milik Maura dan satu pesanan milik Mizar.
Si gadis dengan antusias menyendok salah satu ice cream dan tampak girang begitu makanan bertekstur lembut dan dingin itu menyentuh lidahnya. Ia bahkan segera menghabiskan ice cream dengan ukuran besar itu dalam beberapa menit saja.
Mizar yang duduk di depannya terlihat kagum dengan ulah Maura. Bahkan ketika si gadis mulai memakan ice cream kedua, Mizar sama sekali tak mengalihkan pandangan.
"Kenapa lo liatin gue? Pasti ilfeel kan lo liat gue makan ice cream," ucap Maura di sela-sela menikmati menu ice cream-nya yang kedua.
Saat itulah Mizar memahami tujuan si gadis memesan tiga mangkuk ice cream untuk dirinya. Maura sengaja membuat Mizar ilfeel dengan menunjukkan sisi dirinya yang banyak makan kepada si pemuda.
Diam-diam Mizar justru menahan tawa. Sepertinya strategi Maura tak berhasil kali ini. Karena bukannya ilfeel, Mizar justru terpikat oleh Maura.
__ADS_1
Gadis itu tampak lucu dan menggemaskan ketika menyantap ice cream dengan lahap dan tanpa jaim di depan sang pemuda.
"Kamu sengaja ya?" tanya Mizar ingin mengonfirmasi apakah tebakannya keliru atau tepat sasaran.
"Sengaja apa?"
"Bikin aku ilfeel dengan makan banyak kayak gitu?"
"Uhuk ...." Maura tersedak makanannya sendiri hingga tersembur ke mana-mana.
Beruntung tak ada bekas ice cream yang menyembur ke arah Mizar.
Sementara Mizar dengan refleks mengambil tissu dan mengelap mulut Maura yang belepotan. Perempuan itu tertegun. Sebelum akhirnya sadar dan merebut tissu dari tangan Mizar.
"Gue bisa sendiri!" tegas si gadis dengan raut muka sebal.
Di depannya, Mizar lagi-lagi hanya sanggup menahan tawa. Sumpah, Maura membuat hatinya selalu berbunga-bunga.
"Makanya hati-hati kalau makan, Ra. Nggak usah buru-buru. Apalagi mau bikin orang lain ilfeel. Kejadian kan akhirnya, mulut kamu belepotan gitu," ucap Mizar dengan tenang.
Maura hanya melotot sebal. Ia benar-benar kesal dengan serangan Mizar yang tepat sasaran.
"Nggak usah buru-buru ya makannya. Santai aja, mau kamu bergaya kayak gimana pun kalau makan, tetep nggak bakal bikin aku ilfeel."
Si gadis menghentakkan tangan di atas meja. Siap berdebat dengan Mizar ketika ketika tiba-tiba si pemuda memintanya berhenti dengan isyarat tangan. Ada sebuah panggilan masuk ke ponsel pemuda itu.
"Ya, gimana, Sky?"
Dari perbincangan Mizar, Maura bisa tahu siapa orang yang menelepon pemuda itu meski ia tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan.
Yang jelas, raut muka Mizar berubah tegang dan mengajak Maura segera pergi bahkan sebelum sempat menghabiskan pesanan mereka.
__ADS_1