
Kedua perempuan itu sedang duduk di taman rumah sakit setelah memastikan Vella beristirahat dengan nyaman. Keduanya menatap hamparan rumput taman di bawah kaki mereka. Tak saling bicara apa-apa setelah mengobralkan ulang tentang pertanyaan Vella kepada Maura beberapa saat lalu.
Sementara ketiga pemuda yang sebelumnya menemani Maura selama perjalanan dari Jakarta ke Bandung lebih memilih rehat sejenak ke coffee shop hanya demi bisa mengisap nikotin. Kata mereka mulut sudah mulai kecut dan tak ada smoking area di kawasan rumah sakit.
Itulah mengapa mereka memutuskan pergi ke coffee shop sambil menunggu kabar dari Maura untuk pulang ke Jakarta. Arlan sengaja membiarkan perempuan itu memiliki cukup banyak waktu agar bisa berbincang dengan Andara dan mengajak kedua temannya segera pergi.
"Kenapa lo jadi ngatur-ngatur sih?" Mizar sempat protes.
"Berisik. Udah lo ikut aja!"
Ucapan Mizar tak membuat Arlan peduli dan menyeret pemuda itu begitu saja. Meninggalkan ruang rawat inap tempat Vella beristirahat.
Barulah kedua perempuan itu duduk di taman sambil mengobrol sebelum akhirnya saling bungkam setelah Andara mempertanyakan hubungan Maura dengan Mizar.
"Huft!"
Di sampingnya, Andara membuang napas panjang. Menengadahkan kepala hanya demi melihat hamparan langit yang mulai redup di atas sana. Sedikit menyisakan warna biru yang dengan cepat berubah menjadi jingga.
Perempuan itu melirik sesaat ke arah Maura dan memperhatikan wajah sang teman. Tampak jelas jika ia sedang menanggung beban.
"Lo beneran nggak lagi pacaran sama Mizar, Ra?" ulang Andara setelah terjadi jeda di antara mereka. Cukup lama.
Perempuan itu tersentak. Sepanjang waktu duduk bersama Andara, Maura tenggelam dalam lamunan ketika tak terjadi obrolan di antara mereka.
"Ish, masih juga tanya gitu." Setidaknya Maura langsung terkoneksi dengan pertanyaan yang diajukan oleh Andara.
"Ya, gue heran aja. Makin ke sini sikap Mizar jadi makin terlihat posesif loh. Lo nyadar gak sih?"
"Hah? Gimana ceritanya lo bisa mikir gitu?" Maura menoleh ke arah perempuan yang duduk di sampingnya. Masih menatap hamparan langit luas di atas sana.
Andara mengubah posisi duduknya. Perempuan itu mengangkat kedua kaki ke atas bangku taman sambil menatap Maura yang berada di depannya.
"Lo nggak sadar apa gimana sih? Nyokap gue aja langsung bisa nebak gitu begitu lihat kalian pertama kali."
Maura semakin bingung. Ia sama sekali tak mengerti dengan arah pembicaraan Andara. Memang apa yang dilakukan olehnya ataupun Mizar hingga bisa membuat orang salah paham jika mereka pacaran?
Seingat Maura, ia tak melakukan apa pun hingga membuat orang lain berpikiran seperti halnya Tante Vella. Andara pun kini seakan tak percaya dan terus mendesak dirinya.
Huft! Si gadis kembali mengembuskan napas panjang sebelum menjawab pertanyaan Maura.
"Mizar sengaja berdiri di samping lo kayak tadi, karena nggak ngebiarin Arlan deket-deket sama lo."
"Hah?"
"Ck, lo kenapa sih, dari tadi hah heh mulu? Lo beneran nggak sehat apa gimana?"
Maura menggelengkan kepala sebagai jawaban. Tak tahu harus memberikan tanggapan bagaimana kepada Andara.
__ADS_1
"Ck, kalau bukan sakit terus kenapa? Sumpah, lo hari ini beneran aneh, Ra? Yakin nggak sih lo lagi baik-baik aja sekarang?" Nada bicara Andara berubah cemas. Apalagi ketika melihat sang teman terlihat begitu menyedihkan.
"Yakin, Dar. Kenapa lo jadi nggak percayaan gitu sih sama gue?"
"Ya gimana mau percaya, lo aja diajak ngobrol dari tadi cuma hah heh, hah heh doang."
"Gue ... cuma nggak paham aja sama ucapan lo. Maksudnya gimana Mizar berusaha ngalangin Arlan biar nggak deket-deket gue?"
Andara menepuk keningnya akibat terlalu gemes dengan perilaku Maura. Bagaimana bisa temannya itu berubah menjadi manusia lola hanya dalam waktu satu minggu lebih dua hari ketika mereka tak bertemu?
Sungguh rasanya Andara ingin mengeplak kepala perempuan itu sekarang juga, hanya untuk membuat Maura kembali ke mode semula.
"Kalau gue tahu, gue nggak bakal tanya sama lo," ucap Andara menahan kesal.
"Ya kan lo yang bilang kalau Mizar berusaha ngalangin Arlan buat deketin gue!"
"Tahu deh, Ra. Pundung gue. Udah lo, sana balik ke Jakarta. Pusing gue ngobrol sama lo dari tadi. Bisa-bisanya lo jadi lemot gini."
Bukannya memberikan tanggapan, Maura justru terbengong dan hal itu semakin membuat Andara naik pitam. Tanpa menunggu persetujuan Maura, perempuan itu mengambil benda pipih dalam saku kemeja dan menghubungi sebuah nomor kontak di ponselnya.
"Jemput Ara sekarang, Jer. Pundung gue. Ngobrol sama dia dari tadi nggak ngeh juga!" ucap Andara sebelum memasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku kemejanya.
***
Begitulah, akhirnya mereka melakukan perjalanan kembali ke Jakarta selepas petang. Akibat Andara terlalu kesal dengan Maura yang tak bisa diajaknya ngobrol seperti biasa. Entah apa yang mengganggu perempuan itu hingga membuatnya begitu menyebalkan.
"Nggak perlu, Ra. Sumpah deh. Makin kesel gue sama lo kalau maksa buat nginep sini. Sinyal lo ketinggalan nggak tahu gimana. Not connection mulu dari tadi," ucap Andara cukup kejam seperti biasa.
Memang perempuan itu selalu seenaknya sendiri ketika bicara. Tapi Maura tak perlu ambil pusing karena sudah tahu tabiat temannya itu.
Lagipula memang benar kata Andara, Maura lebih baik pulang. Istirahat dan melupakan penat yang memasung benaknya.
Sementara Jerome dan Arlan menahan tawa akibat melihat ulah Andara. Berbeda dengan Mizar yang tak ingin menunjukkan wajah peduli meski pada akhirnya tetap melirik ke arah Maura.
"Oke deh. Gue bakal Pangandaran akhir pekan nanti."
"Nggak, nggak usah Ra, sumpah. Gue nggak mau ya, kalau lo datang ke sana, tapi masih cengo kayak gini! Nyebelin tahu nggak. Bikin gue happy kagak, yang ada bikin gue makin pusing."
"Ck, jahat!" Bibir Maura mencebik. Tapi tetap memeluk Andara sebelum mereka berpisah.
"Makanya, jangan muram mulu!"
"Hmm ... iya deh, iya."
"Hati-hati ya kalian. Jagain Ara! Kasih kabar begitu kalian sampai Jakarta."
"Siap, Bos! Gue bakal jagain Ara dari dua manusia berdosa ini!"
__ADS_1
"Lah, kenapa gue jadi ikut-ikutan?"
"Ck, lo biang rusuh ya, Njing!"
"Udah, udah. Buruan balik sana! Keburu malam."
"Bye, Dar!"
"Bye. Jangan lupa kabarin gue begitu sampai rumah."
Maura mengacungkan ibu jari, sebelum akhirnya menutup jendela mobil ketika kendaraan yang dikemudikan oleh Arlan itu mulai bergerak.
Setelah perpisahan yang cukup lama, akhirnya keempat anak muda itu bertolak meninggalkan rumah sakit. Membelah padatnya jalan Kota Bandung selepas senja.
Tak ada banyak kata, tapi juga tak cukup sunyi seperti halnya ketika mereka berangkat tadi pagi.
"Kita makan dulu sebelum balik ya? Biar nggak perlu berhenti lagi di jalan," ucap Arlan ketika mereka sudah cukup jauh dari area rumah sakit.
"Boleh. Gue juga udah laper nih."
"Gimana, Ra? Lo nggak papa kan kalau kita berhenti makan dulu? Lo juga belum makan dari siang."
"Boleh aja sih. Mau makan kita?"
"Nah ini nih, biasanya cewek yang bakal kasih jawaban terserah. Ini inisiatif dulu apa gimana biar nggak jawab terserah?" Selain Andara, kini Maura juga harus menghadapi spesies yang sama serupa perempuan itu. Siapa lagi jika bukan Jerome.
"Njir, gue bukan orang yang nggak punya prinsip ya, Jer."
"Ya kali aja, Ra. Jadi mau makan apa kita?"
"Batagor kuah."
"Batagor kering."
Jawaban serempak terucap dari mulut Maura dan Mizar yang duduk di bangku belakang. Lantas keduanya saling berpandangan.
Menyadari bahwa keduanya menyebutkan makanan favorit mereka masing-masing.
"Sejak kapan lo suka batagor kuah, Zar?" tanya Jerome tak menyadari keadaan.
Mizar berdehem. Mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum menjawab pelan.
"Sejak tadi."
Sementara Arlan diam-diam menahan tawa di belakang kemudi. Pemuda itu sangat memahami kedua manusia yang berada di bangku belakang itu.
"Jadi, batagor kuah apa kering nih?" goda Arlan membuat Mizar maupun Maura kian mengalihkan pandangan.
__ADS_1