
Bentrokan antar geng tak bisa dihindari. Black Mamba menjadi satu-satunya kelompok yang harus menerima serangan paling banyak.
Meski pada faktanya, antar geng yang lain pun juga saling serang. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang saling pukul, akibat bentrokan yang dipicu oleh sikap pengecut Sagara.
Ini bukan lagi perkara dendam perorangan. Namun, bentrok antar kelompok yang didasari rasa tak suka yang sudah lama menumpuk menjadi dendam.
Memang ada aturan tak tertulis di antara mereka bahwa siapa pun yang terlibat dalam geng motor, harus menghindari bentrokan antar geng. Aturan itu sudah lama dibuat demi menjaga perdamaian. Lebih tepatnya agar mengurangi permasalahan dengan pihak yang memiliki kewenangan.
Bahkan aturan tersebut sudah lama dipatuhi hingga membuat tak seorang pun berani bertindak macam-macam atau berjalan keluar haluan. Tapi sepertinya aturan itu juga sudah lama pula dilanggar oleh Black Mamba yang dipimpin Sagara.
Faktanya tak hanya Andromeda yang menjadi sasaran Black Mamba. Anggota geng motor lainnya pun tak sedikit yang turut menjadi korban. Namun, mereka lebih memilih membalas sewajarnya saja ketimbang berhadapan dengan Venus. Geng motor yang paling berkuasa dan ditakuti.
Aturan menghindari bentrokan pun mereka yang mencetuskan. Jauh sebelum Rendra yang menjadi pemimpin geng motor tersebut.
Keadaan menjadi kacau sekarang. Akibat ulah bodoh Sagara yang tak lebih dari seorang pengecut. Mereka yang selama ini diam saja tanpa berani membalas, menggunakan kesempatan tersebut untuk saling serang.
Bahkan tidak hanya ditujukan pada Black Mamba saja. Tapi juga pada geng motor yang lain. Tidak sedikit pula yang memanfaatkan momen tersebut untuk menyerang Andromeda ataupun Venus.
Suasana benar-benar kacau. Di saat para pemuda saling serang dan menghajar lawan, para perempuan berlari menjauh akibat ketakutan.
Tak jauh berbeda dengan Maura yang berusaha kabur ketika suasana tak lagi kondusif. Kenyataannya, kaki perempuan itu terpaku ketika melihat orang-orang saling menghajar.
Pemandangan di depannya menjadikan perempuan itu tertegun. Fungsi otaknya tiba-tiba berhenti dan tak sanggup berpikir jernih.
Adegan-adegan mengerikan yang tak pernah ia tahu dari mana asalnya, berputar dalam ingatan. Tubuhnya gemetaran. Hampir kehilangan keseimbangan.
Beruntung ia masih bisa menguasai diri sebelum tubuhnya ambruk ke atas tanah. Bersamaan dengan teriakan Kenzo yang memberinya peringatan.
"Kak Ara, awas!"
Demi mendengar teriakan Kenzo, perempuan itu bereaksi. Tapi tetap saja tubuhnya kaku seakan membeku. Ia hampir saja terkena pukulan nyasar ketika seseorang melindungi dengan punggungnya.
"Apa yang lo lakuin di sini?"
Kesadaran Maura dipaksa kembali. Telinganya berdengung hebat. Fokusnya menangkap sosok Sagara yang kini berdiri dengan wajah penuh luka di hadapannya. Namun, cowok itu segera menyingkir ketika orang lain menyeret kerah bajunya.
"Pinggir lo! Gue udah kasih peringatan supaya nggak deket-deket, Ara!"
__ADS_1
Suara itulah yang membuat Maura tersadar seketika. Ia melihat Mizar kembali baku hantam dengan Sagara yang sudah tak tertolong lagi bentuk wajahnya yang penuh luka.
Suara Maura tersekat di kerongkongan. Entah apa yang merasuki pikirannya ketika ia tiba-tiba menahan lengan Mizar untuk menghentikan pukulan.
"Stop, Zar. Cukup," ucap perempuan itu dengan suara lemah. Memohon kepada Mizar agar pemuda itu menghentikan perbuatannya.
"Nggak bisa, Ra. Aku mesti kasih dia pelajaran." Mizar berusaha melepaskan tangan Maura dari lengannya. Namun, sorot netra perempuan itu menghancurkan pertahanan dirinya yang lemah.
Terlebih lelaki itu memikirkan kondisi Maura sekarang. Bagaimanapun berada di tengah pertarungan bukanlah tempat yang aman.
Mizar menoleh ke arah Sagara yang tengah menertawakannya. Raut muka lelaki itu terlihat kecut cenderung sinis. Bahkan tampak jelas jika pemuda itu sedang menghinanya.
Seakan mengatakan,"Jadi cuma segini kemampuan Mizar yang ditakuti banyak orang?" lewat sorot matanya.
"Zar, please!" permintaan Maura lebih tegas kali ini. Meski sorot mata perempuan itu memancarkan ketakutan.
Tak ada pilihan lain. Untuk saat ini, ia harus melepaskan Sagara demi mengamankan Maura lebih dulu. Mizar tak ingin kejadian di masa lampau terulang kembali dan menenggelamkannya dalam mimpi buruk tak bertepi.
***
Tubuh Maura masih setengah gemetar. Keduanya - diikuti Kenzo dari arah belakang - mencari tempat yang cukup jauh dari kerusuhan.
Lantas mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah mini market 24 jam yang bersandingan dengan apotek yang masih menyala penerangannya. Demi meredakan panik yang masih menguasai Maura.
Sementara Kenzo memilih untuk pamit pulang sebelum ibunya ataupun kedua kakak sepupunya yang lain menaruh curiga. Apalagi saat mendapati adiknya tak berada di rumah ketika hari sudah lewat tengah malam.
Di sanalah peran Kenzo diperlukan. Ia bisa memberikan penjelasan seperlunya apabila dibutuhkan.
"Perlu aku belikan yang lain selain air?" tanya Mizar sebelum masuk ke mini market. Meninggalkan Maura yang duduk di bangku depan toko.
Perempuan itu menggeleng sebagai jawaban. Sejujurnya ia masih tak memahami apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Ini pertama kalinya Maura kehilangan kendali di tengah pertarungan antar geng.
Perlu diingat, Maura dulunya juga cukup aktif dalam pergaulan malam. Dunia yang lantas membuatnya bertemu Sagara dan sudah ditinggalkan hampir dua tahun yang lalu.
Cukup banyak hal yang Maura saksikan selama menggeluti dunia tersebut. Bentrokan antar geng bukanlah peristiwa yang baru sekali dua kali ia hadapi.
Faktanya hampir setiap malam ia melihat berbagai macam keributan. Namun, baru kali ini ia tak bisa mengendalikan diri. Seakan apa yang terjadi malam ini merupakan potongan kisah yang tak sanggup ia maknai.
__ADS_1
"Ra, are you okay?" tanya Mizar membuyarkan lamunan si perempuan.
Ia menoleh dan mendapati wajah cemas Mizar tengah menatapnya. Pemuda itu duduk tak jauh di sampingnya sambil mengulurkan air mineral yang telah terbuka tutup botolnya.
Maura menerimanya tanpa banyak bicara. Perempuan itu meneguk air mineral di tangannya hingga hampir tandas sebagian.
"Perlu aku antar pulang sekarang?" Mizar kembali bertanya. Namun, Maura tetap tak memberikan tanggapan.
Gadis itu justru melamun. Menatap di kejauhan yang tak jelas apa yang menjadi fokusnya.
"Ra," panggilan Mizar mengalihkan perhatian perempuan itu.
Maura tersentak. Kaget. Lantas kembali menoleh ke arah Mizar yang kian terlihat panik.
Barulah saat itu Maura menyadari, bagaimana buruknya penampilan lelaki yang duduk berhadapan dengannya itu. Wajah Mizar penuh luka. Bahkan di beberapa bagian cukup parah dengan darah segar yang masih merembes keluar.
"Astaga, Zar! Wajah lo luka-luka!" seru Maura tanpa bisa menahan keterkejutannya.
Tangan perempuan itu refleks bergerak menyentuh wajah si lelaki.
Bagaimana bisa, wajah dengan penuh luka seperti itu sampai bisa lolos dari perhatian Maura? Padahal mereka berhadapan cukup lama sebelum akhirnya Mizar membawa perempuan itu menjauh dari pusat kerusuhan.
"Kita harus obatin luka lo dulu," gegas Maura berusaha bangkit dari tempat duduknya.
Mizar menahan tangan Maura. Menatapnya dengan sorot paling teduh yang tak pernah ia lakukan pada orang lain. Kecuali sang mama.
"Aku nggak papa, Ra. Ketimbang luka ini, keadaan kamu jauh lebih penting."
"Apa sih? Emang gue kenapa? Gue nggak ada luka. Kita harusnya obatin luka lo dulu. Kalau nggak bisa-bisa jadi infeksi!" Maura terlihat panik.
Perempuan itu mengedarkan pandangan. Lantas netranya tertuju ke sebuah apotek yang berdampingan dengan mini market.
"Gue beli obat dulu buat lo," ucap Maura sambil beranjak dari tempat duduknya sekali lagi. Namun, secepat mungkin pemuda itu menahannya.
"Ra, nggak perlu. Tenangin aja dulu diri kamu."
"Gimana bisa? Lo luka parah gitu. Kalau lo mau peduli sama orang lain, seenggaknya lo juga peduli sama diri lo sendiri! Urus luka lo baru peduli sama gue!" teriak Maura dengan nada kesal.
__ADS_1
Napas perempuan itu tersengal. Dengan tangis tertahan, ia kembali duduk ke tempat semula. Menyembunyikan tangis yang diam-diam menganak sungai di pipinya.
Pada titik ini, Maura benar-benar tak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sendiri.