My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Gandengan Tangan


__ADS_3

"Ra, nggak masalah kan kalau kamu ikut aku ke basecamp dulu?" tanya Mizar dengan raut muka yang tak bisa diterjemahkan.


Mereka baru saja keluar dari kedai ice cream dan berjalan dengan langkah cepat menuju tempat parkir.


Hujan baru saja reda dan menyisakan gerimis kecil-kecil. Juga genangan di beberapa titik lubang.


Harusnya bisa jadi momen romantis. Namun, Mizar cukup sadar diri dan tak berharap lebih dari ini.


Lagipula kemajuan hubungan mereka patut disyukuri ketimbang sebelumnya. Di mana Maura sama sekali tak menganggap keberadaannya.


"Awas!"


Mizar dengan sigap menarik tangan Maura ketika perempuan itu hampir saja terperosok ke dalam genangan akibat menoleh kepadanya saat sedang berjalan. Mungkin perempuan itu tak sepenuhnya fokus hingga membuatnya kehilangan keseimbangan.


Mungkin juga akibat mengikuti langkah kaki Mizar yang panjang dan lebar, hingga menjadikan Maura cukup kuwalahan dan membuatnya hampir terjatuh ke dalam genangan.


Yang pasti ajakan pemuda itu cukup mendadak dan sedikit tergesa-gesa. Langkah gadis itu sempat tertinggal sebelum akhirnya bisa berjalan sejajar dengan Mizar.


"Hati-hati," ucap pemuda itu dengan suara lembut.


Maura mengangguk panik dan berusaha membuat jarak dengan si pemuda. Sungguh berada dalam jarak sedekat itu membuatnya merasa tak nyaman.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya perempuan itu begitu bisa mengendalikan diri. Berusaha tampak biasa saja meski sebenarnya merasa sedikit canggung.


Pemuda itu tak langsung menjawab. Ia berhenti sejenak sebelum mencapai mobil Maura terparkir. Menatap si perempuan dengan raut muka yang tak bisa ia ungkapkan.


"Aku nggak bisa jelasin situasinya di sini." Mizar tampak menyesal.


"Oke, gue ngerti. Nggak masalah kalau gue ikut lo dulu," jawab si perempuan memberikan keputusan.


Senyum membingkai wajah Mizar. Pemuda itu mengangguk paham dan mengucapakan terima kasih atas pengertian Maura.


Lantas keduanya segera masuk ke dalam mobil tanpa banyak percakapan. Bahkan selama dalam perjalanan pun, tak ada obrolan di antara mereka dan lebih banyak diam.


Hanya satu dua kali Mizar mengajukan pertanyaan yang dijawab Maura dengan singkat. Tak bisa dimungkiri bahwa perempuan itu cukup tegang.


Ia masih tak tahu apa yang terjadi dan raut muka Mizar benar-benar terlihat tak baik-baik saja. Meskipun lelaki muda itu berusaha untuk menyembunyikannya.


Hampir setengah jam terlewati untuk mencapai tempat tujuan mereka. Barulah mobil yang dikendarai Mizar memasuki kawasan perumahan yang cukup elit di wilayah tersebut.

__ADS_1


Mobil benar-benar berhenti di depan rumah yang mereka sebut sebagai basecamp.


"Kita udah sampai," ucap Mizar kepada perempuan yang duduk di sampingnya.


Raut mukanya terlihat heran. Namun, tetap saja ia mengikuti Mizar yang lebih dulu turun dari dalam mobil.


"Ini rumah siapa?" tanya Maura sedikit ragu-ragu.


"Jerome. Bukan rumah utama. Bisa dibilang aset milik orang tuanya. Daripada nggak ditempati, Jerome bilang sama orang tuanya supaya rumah ini jadi basecamp anak-anak Andromeda."


"Andromeda?" Maura bukannya tak tahu tentang geng motor yang cukup terkenal di kampusnya itu.


Hanya saja ia berlagak tak tahu karena tak ingin Mizar beranggapan bahwa dirinya diam-diam memperhatikan ataupun mencari tahu tentang cowok itu.


"Ah, itu tongkronganku sama yang lain. Kamu pernah ketemu mereka waktu gantiin Andara. Tapi sebenarnya, anggotanya yang cuma enam orang itu saja."


"Ada yang lain juga. Mungkin beberapa dari mereka sedang ada di dalam sekarang," sambung Mizar sambil menunjuk ke dalam menggunakan isyarat dagu.


"Oh." Maura menjawab singkat. Lantas mengikuti Mizar yang lebih dulu berjalan memasuki rumah.


Tak terdengar satu pun suara ketika mereka datang. Padahal di depan ada beberapa motor besar yang terparkir berjajar. Mungkin ada tujuh atau delapan. Menandakan bahwa seharusnya ada lebih banyak orang di dalam.


Faktanya tak terdengar sedikit pun suara yang terdengar dari dalam.


Bahkan sejak tadi, Mizar pun bersikap sama. Tak banyak bicara, seolah memang ada yang terjadi dengan mereka.


Sementara di tempatnya, Maura diliputi kebimbangan. Haruskah ia mengikuti pemuda itu masuk ke dalam rumah?


Maura berhenti di depan pintu. Ia tampak ragu-ragu untuk melangkah maju. Hingga membuat Mizar ikut berhenti di depan pintu.


Pemuda itu menoleh ke arah Maura yang kini berjalan di belakangnya.


"Ada apa, Ra?" tanya Mizar dengan kening berkerut heran.


"Eh?"


Perempuan itu tampak gelagapan. Ia menatap Mizar dengan sorot mata yang tak sanggup diungkapkan.


Mizar berjalan mendekat. Mengikis jarak di antara keduanya hingga menjadi semakin dekat.

__ADS_1


Refleks, Maura menghindar dan membuat jarak di antara mereka kembali terbentang.


"Ada yang ganggu pikiran kamu?" Pemuda itu mengulang pertanyaannya dan tak juga mendapatkan jawaban.


Maura justru tampak kesulitan ketika menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan.


"Gue tunggu di sini saja," ujar Maura membuat kening Mizar berkerut heran.


"Kenapa gitu?"


"Nggak papa sih. Nggak enak aja sama yang lain."


Kening si pemuda semakin berkerut mendengar jawaban Maura. Tidak biasanya gadis itu malu bertemu banyak orang.


Tidak, ketimbang malu, Maura lebih terlihat seperti orang tertekan.


'Apa dia nggak nyaman?' bisik Mizar dalam benaknya. Namun, ia tak bisa berdiam diri lebih lama sementara ada urusan yang sudah menantinya di dalam.


"Masuk aja. Ada Sky dan Arlan juga di dalam. Kamu bisa bareng mereka kalau emang nggak nyaman deket aku."


"Bukan, bukan gitu. Kayaknya urusan kalian penting banget. Gue nggak enak aja kalau ikut campur urusan kalian."


"Gue cuma orang luar. Di sini bukan tempat gue nggak sih?" sambung Maura setelah menjeda kalimat sebelumnya.


Senyum membingkai wajah Mizar. Pemuda itu makin mendekat ke arah Maura yang terus bergeser setiap kali Mizar mendekatinya.


"Ra, bisa-bisa kita sampai ke halaman kalau kamu geser terus. Sini tangan kamu. Biar nggak jadi orang luar," ucap Mizar sambil mengulurkan tangan.


"Hah?"


"Udah, sini tangan kamu." Tangan Mizar masih terulur. Menunggu perempuan itu menyambutnya.


"Buat apa?"


"Kan udah kubilang. Biar kamu nggak jadi orang luar. Kamu dateng sama aku. Jadi, kamu nggak mungkin dianggap di orang luar."


Tak punya pilihan lain. Ragu-ragu Maura menyambut uluran tangan Mizar.


Menunggu di luar, tentu juga bukan ide yang menyenangkan. Alhasil, Maura memutuskan untuk ikut masuk ke dalam. Tanpa mengabaikan tangan Mizar yang kini menggenggamnya dengan lembut.

__ADS_1


Keduanya berjalan dengan tenang. Meski tak bisa dimungkiri bahwa jantung Mizar berdegup tak karuan.


Pemandangan itu bahkan tak luput dari perhatian semua orang ketika mereka muncul sambil bergandengan tangan.


__ADS_2