My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Jangan Temui Dia Lagi!


__ADS_3

Maura menyerah. Perbincangan ini sepertinya tak akan pernah memiliki akhir. Mizar tetap bersikeras memohon padanya agar diberikan kesempatan. Namun, bagi Maura tak ada yang benar-benar perlu dijelaskan lagi di antara mereka. Hingga akhirnya ia meminta bantuan sang kakak untuk menyelamatkannya dari situasi rumit ini.


Sialnya, baik Abigail ataupun Noah tak satu pun yang membalas pesannya. Pesan Maura hanya berakhir centang dua tanpa pernah berubah warna menjadi biru.


Meskipun gadis itu sudah mengancam sang kakak dengan mengatakan bahwa dirinya akan nekat naik taksi ataupun ojol jika kedua kakaknya itu tak segera membalas pesan darinya. Harusnya mereka segera membalas pesan Maura.


Bagaimanapun, mereka tak pernah mengizinkan Maura menaiki kendaraan umum sejak peristiwa buruk terjadi setahun lalu. Sopir taksi yang ditumpangi Maura dalam keadaan mabuk dan membuatnya hampir celaka.


Pria busuk itu hampir saja menggagahi Maura yang sedang tak berdaya. Beruntung aksinya dihentikan salah seorang pengendara yang lewat dan mendengar teriakan tolong Maura.


Hal itu pula yang membuat ketiga kaum hawa di rumahnya lebih posesif kepada Maura. Mereka tak mengizinkan gadis itu naik kendaraan umum. Faktanya dengan pesan ancaman yang dikirimkan perempuan itu tetap saja berakhir tanpa terbaca.


Andara? Jangan ditanya! Perempuan itu yang menjadi dalang di balik kecanggungan antara Mizar dan Maura saat ini. Perempuan itu yang mendorong agar Mizar mengambil kesempatan tersebut untuk berbincang dengannya.


Lebih parahnya lagi, entah pergi ke mana manusia itu setelah mengatakan pada Jerome jika dirinya butuh membeli sesuatu. Tentu saja itu hanya sebatas akal-akalan Andara saja.


Jangan kira Maura tak mengetahuinya. Meski mereka baru berteman setahun lebih beberapa bulan, Maura bisa memahami sifat Andara. Pasti ada hal yang membuat gadis itu mengambil langkah untuk mendukung Mizar. Sekalipun Maura tak mengerti apa yang membuat gadis itu berubah pikiran.


"Ra, tolong. Kasih aku kesempatan sekali saja." Mizar terus berusaha meski tahu hasilnya akan sia-sia. Maura tak akan pernah memberikan pemuda itu kesempatan bahkan hanya satu detik saja.


Pintu untuk menuju hati perempuan itu benar-benar tertutup dan bukanlah hal mudah untuk mencari letak kuncinya. Apalagi sembarangan terbuka bagi orang yang kini sama sekali asing bagi Maura.


Ia bahkan sama sekali tak peduli melihat Mizar bermonolog hanya untuk membujuk dirinya. Fokus Maura sama sekali tak tertuju pada pemuda itu. Hingga akhirnya ia menyerah ketika ponselnya berdering.


Perhatian perempuan itu teralihkan. Harusnya, ia tak berharap nama itu muncul di layar ponselnya. Namun, dalam situasi saat ini, sepertinya keberadaan si penelepon bisa dimanfaatkan.


Hampir saja Maura menggeser tombol hijau di layar ponsel, tapi benda pipih itu segera berpindah tangan. Mizar baru saja merebutnya dan langsung menggeser tombol merah untuk memberikan penolakan.


"Lo apa-apaan sih?" seru Maura tak terima ketika Mizar tiba-tiba merampas ponselnya. Perempuan itu mendelik ke arah Mizar yang kini meletakkan ponselnya di atas meja.

__ADS_1


"Aku nggak masalah kalau kamu nggak mau ngomong sama aku, Ra. Tapi, tolong jangan lakukan di depanku kalau kamu memang mau ngobrol sama Sagara."


Perempuan itu mendengus kesal. "Apa hubungannya sama lo, gue mau ngobrol sama siapa?!"


"Ra," panggil Mizar putus asa. Sepasang mata pemuda itu berkaca-kaca. Seakan menahan air mata yang hendak jatuh di pipinya.


Maura tertegun. Darah perempuan itu terkesiap ketika memperhatikan raut muka Mizar. Bagaimana bisa cowok yang selalu terlihat dingin, sekarang begitu menyedihkan?


"Aku harus lakuin apa supaya kita bisa kayak dulu lagi?" ucap pemuda itu dengan suara pelan. Hampir tak terdengar.


Perempuan itu tak memberikan jawaban. Ada sesak yang kembali menghimpit dada. Melihat raut muka Mizar yang begitu tertekan menimbulkan perasaan tak tega.


Kalau ia mau jujur pada dirinya sendiri, ada masa-masa di mana mereka berdua layaknya teman pada umumnya. Namun, semuanya berubah sejak peristiwa kelam itu tak bisa terhindarkan. Maura tak akan pernah bisa lupa bahwa Mizarlah yang sudah menyebabkan dirinya kehilangan sahabat baik.


Sesak itu kembali menghimpit dada dan tak sanggup membuat Maura bernapas lega.


"Ra," panggil Mizar semakin terdengar menyedihkan.


"Nggak ada hal yang bisa lo lakuin, Zar. Gue udah pernah bilang kan, apa pun yang lo lakuin nggak akan pernah bisa bikin Raisa kembali. Itu yang perlu lo ingat!" Ucapan Maura tajam.


Pemuda di depannya hanya menghela napas. Ia tahu tak akan mudah mengambil hati Maura yang sudah terlanjur beku. Mizar terlalu menyia-nyiakan waktu.


Seandainya dulu ia memaksa Maura untuk mendengarkannya sekali saja, mungkin hubungan mereka tak akan seburuk ini. Harusnya Mizar lebih berani mengambil keputusan dan mengatakan pada Maura bahwa dirinya tak pernah membunuh Raisa. Seperti yang dituduhkan pada gadis itu.


"Lo cuma buang-buang waktu. Pandangan gue ke lo nggak pernah berubah. Selamanya lo bakal tetap sama di mata gue. Lo yang udah bikin Raisa mati. Balikin ponsel gue sekarang!" tegas Maura membuyarkan lamunan singkat pemuda itu.


Nada bicara gadis itu penuh penekanan dan membuat Mizar sadar bahwa Maura sedang menahan amarah. Tak hanya itu, gadis itu pun terdengar sangat lelah. Mungkin benar, bertemu dirinya hanyalah sebuah kutukan bagi Maura.


Tanpa banyak bicara, Mizar menyerahkan ponsel itu kepada Maura. Tepat ketika benda pipih itu kembali berdering dan menampilkan nama kontak yang sama.

__ADS_1


Raut muka Mizar kembali menegang. Ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikan ponsel itu kepada Maura. Tanpa meminta izin pemiliknya, Mizar menekan tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.


"Apa yang lo lakuin?" seru Maura dengan suara lantang.


Gadis itu refleks bergerak dari tempat duduknya dan hendak merebut ponsel itu dari tangan Mizar. Di saat yang sama pemuda itu berdiri dan membuat jangkauan Maura menjauh.


Ia memang lumayan tinggi untuk ukuran rata-rata seorang perempuan, tapi tetap saja tak sebanding jika dibandingkan dengan Mizar. Tinggi pemuda itu mencapai 185 centimeter. Sementara Maura hanya 163 centimeter.


"Balikin HP gue!" teriak Maura mulai geram.


Gadis itu masih berusaha merebut benda pipih itu dari tangan Mizar. Meski begitu usahanya tetap saja sia-sia. Mizar justru sengaja merentangkan tangannya hingga membuat ponsel itu tak bisa diraih oleh Maura.


Pemuda itu menekan tombol pelantang suara dan berbicara dengan seseorang di seberang sana.


"Jangan pernah ganggu dia lagi!" ucap Mizar dengan nada penuh penekanan.


"Siapa lo? Di mana, Ara?" Suara di ujung panggilan suara tak kalah mencekam.


"Lo nggak bisa ngenalin suara gue? Atau lo terlalu percaya diri bisa hancurin gue gitu aja setelah kejadian tadi malam?!"


"Berengsek! Lo yang harusnya jangan pernah ganggu dia lagi! Gue udah kasih peringatan!" teriakan seseorang di seberang sana tak pernah Maura dengar sebelumnya.


Mizar menipiskan bibir. Sinis. Tak peduli bahwa orang di seberang sana tak bisa melihat senyumannya.


"Ini juga bukan permintaan, Ga, tapi peringatan buat lo! Jangan pernah ganggu dia lagi!" Mizar kembali menegaskan.


"Berengsek! Balikin ponselnya ke Ara!"


Bukannya menuruti permintaan Sagara, Mizar justru terkekeh. Lantas memutus panggilan tanpa mengatakan apa pun.

__ADS_1


__ADS_2