
Mungkin inilah mengapa Mizar tak pernah bisa marah kepada Maura. Mungkin sebab ini pula yang menjadikan pemuda itu selalu mengusahakan agar hubungannya membaik dengan si gadis. Sebab terlalu banyak momen indah yang tak bisa terlupakan.
Buktinya, perempuan itu juga masih mengingat sepotong kenangan yang pernah mereka lewati bersama. Salah satunya melalui lagu Coldplay yang kini terputar melalui ponsel Maura.
Mengapa Mizar bisa menyimpulkan demikian? Sebab ada momen yang mereka lewati berdua tanpa melibatkan orang lain.
Benar, pernah ada momen di mana Mizar berbagi pada Maura bahwa lagu inilah yang menjadi favorit pemuda itu.
"Kamu dengerin lagu ini juga?" tanya Mizar ketika mereka baru saja selesai berlatih basket. Hampir lima tahun lalu.
Maura masih duduk di tribun sambil menunggu sang kakak yang masih sibuk berlatih basket di lapangan. Pemuda yang kala itu masih remaja, ingin melatih tambakan three point yang terus meleset sejak awal latihan mereka pada hari itu.
Sementara Mizar baru saja menuntaskan panggilan alam ketika melihat Maura duduk seorang diri sambil mendengarkan musik. Kebetulan Mizar juga memiliki selera musik yang sama dengan yang diputar oleh Maura saat itu. Tak begitu keras, tapi cukup untuk terdengar indra pendengaran Mizar.
Pemuda itu sengaja menunda tujuannya kembali ke lapangan dan justru berjalan mendekati Maura.
I don't care, go on and tear me apart
I don't care if you do, ooh ...
Lirik lagu itu membuat Mizar seketika ikut bernyanyi. Tepat ketika Maura menoleh padanya.
"Nggak juga. Kebetulan aja masuk playlist. Mungkin Bang Noah," ucap Maura pada waktu itu.
Mizar sempat termegap. Berpikir sejenak mengapa playlist Noah - kakak kelas sekaligus kapten basketnya itu - bisa nyasar ke playlist Maura. Baru ia tahu bahwa mereka menggunakan akun yang sama untuk mengakses aplikasi pemutar lagu di ponsel masing-masing. Begitu juga dengan aplikasi nonton. Semuanya menggunakan satu akun.
Jadi, sangat mungkin jika playlist mereka tercampur. Juga tidak jarang anak-anak Barata Dewa Bumantara - yang kemudian menyebut diri mereka Sirius bersaudara - bertukar ponsel untuk waktu-waktu tertentu. Yang menyebabkan semakin memungkinkan apabila playlist mereka tercampur.
Lagipula ia selalu kagum dengan keluarga besar Bumantara. Mereka bisa begitu kompak tanpa ada yang harus ditutup-tutupi. Tak seperti keluarganya yang berantakan dan hanya menampilkan kekompakannya di depan banyak orang untuk menarik perhatian simpatisan saja.
"Apa yang bikin lo suka lagu ini?"
Mizar yang waktu itu hendak melangkah pergi, menunda niatnya demi mendengar pertanyaan si gadis yang duduk di depannya.
Senyum membingkai wajah si pemuda. Ia berjalan mendekati pembatas tribun dan menyandarkan punggungnya ke pagar besi.
__ADS_1
"Lagu itu ingetin aku sama seseorang. Liriknya juga pas banget sih. Haha ...."
"Aku nggak ingat kapan terakhir kali ketemu dia, tapi yang jelas sosok itu berkesan banget sih buat aku. Dia akan selalu ada di sini." Tunjuk Mizar ke arah dadanya sendiri.
Maura hanya mendecih sebagai jawaban dan tak lagi memberikan tanggapan.
"Serius, Ra. Coba deh artiin liriknya. Aku nggak peduli, teruslah dan hancurkan aku. Dia memang selalu begitu. Nyiksa banget sama rasa rindu."
"Aku nggak peduli jika kamu melakukannya. Karena di langit, di langit yang penuh bintang. Kurasa aku melihatmu," sambung Mizar sambil mengenang masa yang lebih silam.
"Ini kita lagi ngomongin mantan lo apa gimana sih?" tanya Maura dengan kening berkerut heran.
"Eh, btw ... kamu tahu nggak sih, kalau nama kamu tuh juga nama bintang?" Mizar justru mengajukan pertanyaan sebagai tanggapan. Jelas sekali jika ia berusaha menghindar.
Maura yang masih tak beranjak dari tempatnya menatap Mizar dengan sorot heran. Mungkin pikirnya, kenapa tiba-tiba jadi bahas nama? Sengaja mau menghindar apa gimana?
Sekalipun Mizar tak mengatakannya dan Maura tak mengajukan pertanyaan yang sama, pemuda itu merasa bahwa dirinya tahu saja. Tanpa berusaha untuk terlihat sok tahu.
"Tahu. Sirius itu bintang biner. Perlu gue jelasin nggak sih bintang biner itu apaan? Kayaknya nggak perlu deh. Males gue ngomong lama-lama sama lo."
Senyum membingkai wajah Mizar. Yang diucapkan Maura memang benar. Bintang Sirius yang berada di rasi bintang Canis Major itu juga dikenal dengan sebutan bintang ganda. Mizar tentu paham betul dengan hal tersebut, sebab ia juga memiliki Sirius sebagai nama tengahnya.
"Terus, kalau Algol?"
Gadis itu mendengus kesal. Ucapnya,"Lo sengaja jebak gue terus bikin gue kesel ya?"
Mizar mati-matian menahan tawa. Sejujurnya ia tak ada niat menggoda ataupun berusaha membuat Maura kesal. Mizar hanya berusaha memancing, apakah gadis itu benar-benar mengetahui arti namanya.
"Setan!" umpat Maura menahan kesal. Ia melirik ke arah Mizar dengan raut muka sebal.
Pemuda itu tak bisa menahan tawa. Ia tergelak saat melihat betapa kesalnya wajah Maura.
"Yang setan itu kamu loh, Ra."
"Ck, nggak usah ngomong sama gue. Sana lo balik ke lapangan!" tegas Maura benar-benar terlihat kesal. Sementara Mizar hanya tertawa saja.
__ADS_1
Benar, Algol yang tersemat sebagai nama tengah Maura merupakan nama sebuah bintang yang berada di rasi Perseus. Demon Star atau Bintang Setan merupakan julukan lain yang diberikan kepada bintang tersebut.
Jelas, gadis itu merasa tak terima ketika tahu ke mana arah perbincangan Mizar. Itulah mengapa ia kesal.
"Haha ... itu bukti otentik yang nggak bisa disangkal loh, Ra."
Gadis yang sejak dulu selalu berambut pendek itu hanya sanggup mendengus sebal akibat terlau kesal. Mungkin ia pun sedang berpikir, apa yang membuat sang kakek memberinya nama Algol?
Soal itu, Mizar baru tahu beberapa waktu kemudian. Ketika pembicaraan tentang nama kembali menjadi topik perbincangan di antara mereka. Hari di mana Mizar melihat gadis itu serius membaca sebuah buku tentang bintang-bintang di langit malam.
"Siapa sih yang kasih kamu nama? Noah juga punya nama Sirius? Emang itu nama keluarga?"
"Bukan. Harusnya nama keluarga gue Bumantara. Tapi Papa bukan orang yang bakal memberikan kemudahan bagi anak-anaknya hanya dari sebuah nama keluarga."
"Nah, lo aja kaget kan kalau nama keluarga gue Bumantara?" imbuh Maura ketika melihat reaksi Mizar. Ada sorot mata yang tak akan bisa diterjemahkan oleh si perempuan.
Bahkan oleh remaja lelaki yang duduk di sampingnya. Sebagai tanggapan, Mizar memilih membuat guyonan.
"Kok sama sih? Namaku juga pemberian, Eyang Kakung loh. Jangan-jangan kita jodoh lagi, Ra." Mizar berkelekar pada saat itu.
Tentu saja Maura menanggapi dengan kesal. Sepertinya memang tak ada hari bagi gadis itu untuk tak terlihat kesal dengan Mizar. Bahkan si gadis jelas-jelas menunjukkan sorot mata yang seolah mengatakan,"Emang gue peduli?"
Tanpa sadar, bibir pemuda itu menipis ketika kenangan masa silam kembali berjubel di kepalanya.
Mizar rindu? Tentu saja. Meski hubungan mereka tak pernah benar-benar akrab, tapi keduanya sering berbagi kenangan yang tak mudah terlupakan. Dan, kalau Mizar boleh jujur, pemuda itu sudah sejak lama menyimpan rasa suka pada Maura.
Pada faktanya hubungan mereka sekarang tak ubahnya tikus dengan kucing yang saling bermusuhan. Jangan bayangkan Tom and Jerry yang lucu-lucu menggemaskan jika saling kejar.
Kucing yang ini, benar-benar ingin memburu tikus hingga membuat si tikus berkeinginan mengalungkan lonceng di leher si kucing. Agar ia tahu, kapan kucing itu mendekat dan bersiap menerkamnya.
Faktanya lagi, si tikus tak sempat mengalungkan lonceng di leher kucing hingga membuatnya terjebak dalam situasi rumit ini.
Huft ...
Mizar menghela napas panjang. Bersamaan dengan habisnya lagu yang diputar Maura.
__ADS_1