My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Cemburu!!


__ADS_3

Mizar semakin banyak diam sepanjang sisa perjalanan. Setidaknya sebelum mereka memutuskan berhenti untuk sarapan.


Lebih tepatnya pemuda itu memilih bungkam setelah kecerobohan yang dilakukan hingga membuat kedua orang di bangku belakang menjadi kian akrab. Tangan pemuda itu mencengkram setir dengan kencang. Sambil sesekali melirik ke bangku belakang melalui spion tengah.


Pada dasarnya, Arlan memang akrab dengan Maura sejak lama. Namun, mungkin karena satu atau dua hal yang tak dapat Mizar mengerti, hubungan keduanya mulai renggang ketika mulai berkuliah.


Setahu Mizar, kedua orang itu memang cukup dekat hingga akhir masa lulus SMA. Jadi wajar jika sebentar saja merek mulai akrab sekalipun di awal seakan seperti orang bermusuhan.


Pemuda itu cukup tahu diri, bahwa ialah yang sedang dimusuhi oleh gadis itu. Namun, keakraban Arlan dan Maura tak bisa dimungkiri jika membuat hatinya bergejolak.


"Zar, makan dululah kita. Laper juga perut gue." Arlan berkomentar dari bangku belakang.


"Masih di tol. Mau sarapan di mana lo?" Pemuda itu menjawab tajam. Sebelum kembali bungkam.


"Astaga, galak bener temen lo, Jer? Kesambet dedemit apa gimana?"


"Lo kali demitnya, Lan." Jerome menanggapi tak peduli. Setidaknya pemuda itu tak mau terlibat dalam perang dingin di antara kedua temannya.


Jerome memang menyadari bahwa sikap Mizar berubah seketika setelah kejadian yang membuat Maura membentur dada Arlan. Pemuda itu juga tahu bahwa peristiwa yang terjadi memang tanpa disengaja.


Sebuah motor menyerobot memotong jalan mobil yang dikendarai Mizar hingga terpaksa membuat pemuda itu menginjak tuas rem. Guncangan mengakibatkan kedua orang di bangku belakang bertubrukan.


Tentu Jerome bisa memahami hal itu. Tapi akan berbeda rasa jika berada di posisi Mizar. Jelas, pemuda itu pasti bakal geram. Apalagi dengan tak tahu malunya, Arlan sama sekali tak menangkap perubahan sikap sang teman.


Jika Jerome berada di posisi pemuda itu, sudah pasti ia juga ingin rasanya menonjok muka Arlan.


Lebih parahnya, Mizar tak bisa melakukan hal itu. Apalagi protes atau berbuat apa pun karena memang tak ada hubungan spesial di antara dirinya dengan Maura.


Perlu diingat, gadis itu menaruh dendam. Bukan harapan.


"Ra, bisa nggak sih lo bilang sama tuh cowok buat berhenti sebentar buat makan? Bisa mati gue kalau sampai telat makan."


"Kenapa mesti gue?" Di sampingnya Maura menolak permintaan Arlan.


"Ya karena cuma lo bisa bikin dia nurut."


"Nggak. Gue juga belum laper."


"Ck, elah, Ra. Serius nih kata gue, bisa mati beneran gue kalau sampai telat makan. Tanya Sky kalau lo nggak percaya." Arlan merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainan.


"Ya udah, lo bujuk aja sendiri. Bukannya kalian teman ya?"


"Ck, ini urusannya bukan lagi teman atau nggak, Ra. Tapi emang cuma lo yang bisa bikin dia nurut."


Di tempatnya, Mizar menahan geram. Tangan pemuda itu kembali mengepal. Bahkan ia semakin kuat mencengkeram setir mobil.

__ADS_1


Ucapan Arlan benar-benar membuat pemuda itu melayangkan pukulan. Sungguh, baru kali ini Mizar merasa ingin memukul seseorang hanya karena persoalan sepele yang ia tahu, itu pun bukan akibat kesengajaan. Namun, mendengar ucapan Arlan barusan seakan menginjak-injak harga diri Mizar.


Tentu saja hal itu kian menjadikan Mizar geram. Sialnya, di saat seperti sekarang perempuan itu justru mengikuti permintaan Arlan.


Lihat saja, wajah si pemuda yang duduk di samping Maura terlihat kegirangan.


"Bisa kan kita berhenti dulu buat sarapan? Tolong."


Sungguh, Mizar mencapai batas amarahnya. Ia ingin mengabaikan ucapan Maura. Tapi, ia juga tak ingin membuat perempuan itu kecewa.


Hubungannya dengan Maura baru saja membaik, sekalipun tak pernah benar-benar baik. Setidaknya perempuan itu sudah mau berbicara dengannya. Walaupun tak lebih dari satu kalimat panjang.


Mana mungkin Mizar bisa mengabaikan perempuan itu begitu saja? Ia menggunakan seluruh kemampuannya agar bisa kembali dekat dengan Maura. Tapi, jika hanya perkara ini hubungannya kembali memburuk, tentu usahanya bakal sia-sia.


Sedangkan Jerome yang menyadari raut muka Mizar semakin suram, menepuk pelan pundak pemuda itu. Mencoba memberikan pemahaman jika Arlan memang tak cukup peka untuk membaca situasi.


"Santai, berhenti dulu. Gue bakal gantiin lo nyetir setelah sarapan."


Tanpa menanggapi pernyataan Maura ataupun Jerome, pemuda itu menambah kecepatan. Mizar lebih rela memberi makan egonya ketimbang membuat Arlan puas akibat merasa menang.


Ya, menang atas kendali Mizar yang hanya bisa dipatahkan oleh Maura. Jelas, Mizar tak terima jika hal itu sampai terjadi. Urusannya cukup dengan Maura saja. Arlan tak perlu ambil bagian.


Ia memilih mengambil risiko ketimbang terlihat tolol akibat ulah Arlan. Hingga membuat satu-satunya makhluk Hawa di dalam mobil tersebut menjerit ketakutan.


Meski begitu, indra pendengaran Mizar cukup peka menangkap nama panggilan yang disebutkan Maura. Namun, bukannya mematuhi permintaan Maura, Mizar justru semakin menambah kecepatan.


"Mizar!!" teriakan Maura semakin kencang.


Sekarang bukan hanya Maura yang berteriak ketakutan. Melainkan juga kedua orang lainnya yang berada di dalam mobil.


"Zar, Zar. Santai woi. Jalan kita masih panjang ya, anjir. Jangan macem-macem lo, Monyet!" teriakan Arlan tak terkendali.


Jerome yang duduk di bangku depan bahkan mencengkeram hand grip kuat-kuat. Wajah pemuda itu tak bisa lagi digambarkan. Pucat. Sepucat mayat.


"Lo mau bikin gue mati kayak, Raisa?"


Dari bangku belakang, Maura berteriak sekeras yang ia bisa. Bahkan urat-urat wajahnya tampak menonjol. Memperlihatkan jika ia sedang murka.


Sementara di belakang kemudi, wajah pemuda itu hampir tanpa ekspresi. Tampak tak peduli.


Mizar memilih tuli dan tak sudi menanggapi. Meski kata-kata Maura kali ini sangat menyakitkan bagi dirinya. Batin pemuda itu menjerit kecewa.


Apa bagi Maura selama ini, ia hanya seorang manusia yang sudah membunuh temannya?


Sungguh, jiwa Mizar remuk redam. Pemuda itu berada dalam kungkungan amarah saat ini.

__ADS_1


"Mizar Sirius Rigel! Berhenti sekarang juga!" Suara Maura terdengar lagi. Kali ini gadis iru menambah intonasi suaranya ketika mengucapkan kalimat terakhir.


Ciittt!!!


Di saat yang sama, Mizar menginjak tuas rem secara mendadak. Beruntung mereka berada di ruas jalan tol yang cukup lengang dan berada di kawasan yang diperuntukkan bagi pengguna jalan yang ingin beristirahat dalam perjalanan.


"Lo beneran udah gila?!" amuk Maura begitu mobil sudah benar-benar berhenti.


Suasana dalam mobil mendadak tegang seketika. Rahang pemuda itu mengeras. Sama kerasnya dengan raut muka Maura yang menonjolkan urat wajahnya.


Tak ada kata yang terucap dari mulut pemuda itu. Mizar memilih bungkam dan hanya melirik ke arah Maura melalui spion tengah.


Jelas saja, Maura menyadari hal itu. Bukannya gentar, perempuan itu justru makin menantang.


"Apa, lo nggak terima?!" ucap Maura kian membuat urat wajahnya menonjol.


"Lo pikir ulah lo barusan udah paling bener? Lo hampir bikin kita semua celaka. Apa itu emang rencana lo dari awal?" tuduh Maura sama sekali tak memikirkan perasaan Mizar.


Tangan pemuda itu kembali mengepal. Mizar bisa terima jika perempuan itu salah paham padanya tentang Raisa. Tapi menuduhnya merencanakan ini semua adalah ucapan paling menyakitkan yang pernah ia dengar.


Bagaimana mungkin Mizar bakal melukai perempuan yang ia sayangi?


Ulah Mizar barusan hanya untuk membuat Arlan jera. Tak ada pikiran sama sekali untuk membuat Maura ataupun yang lain celaka.


"Lo mau bikin pembelaan apa?!" desak Maura sama sekali membuat Mizar tak bereaksi.


Suasana yang kian tak terkendali, membuat Jerome diam-diam keluar dari mobil setelah memberi tanda pada Arlan untuk mengikuti. Baik Mizar ataupun Maura sama sekali tak peduli. Mereka terlalu sibuk dengan emosi masing-masing yang makin menggerogoti.


"Heh, ini yang lo bilang menyesal dan tulus mau lakuin apa pun demi permintaan maaf dari gue? Kalau kayak gini jadinya, yang ada gue makin benci sama lo, Zar."


Di bangku depan, Mizar menghela napas panjang. Sepeninggalan Arlan, membuat pemuda itu lebih mudah menguasai emosinya. Ia berusaha setenang mungkin sebelum mengatakan dengan nada penuh penyesalan.


"Aku minta maaf, Ra. Ini salahku."


"Heh, dan pertanyaan gue masih tetap sama, apa permintaan maaf bisa menyelesaikan semuanya?"


Mizar memejamkan mata. Sejujurnya ia sangat dilema. Bagaimana mungkin pemuda itu mengatakan bahwa dirinya cemburu pada Arlan?


Ingat, ia dan Maura tak memiliki hubungan apa pun hingga membuatnya layak untuk cemburu pada lelaki itu.


Jika mengatakan hal tersebut, hanya akan membuatnya terlihat tolol di depan Maura. Lantas ia harus bagaimana?


Pemuda itu mengacak-acak rambutnya hingga berantakan. Kalau saja ia lebih bisa menahan emosinya. Faktanya Mizar tak bisa menahan diri jika itu berkaitan dengan Maura.


Mizar tak akan memungkiri bahwa ia benar-benar tak bisa menahan cemburu kali ini.

__ADS_1


__ADS_2