
"Bajingan!" Sagara berteriak kesal ketika kembali ke markas dan mendapati ketiga anak buahnya babak belur.
Bahkan salah satu di antara ketiganya dalam kondisi cukup mengenaskan.
Ia baru saja kembali setelah salah seorang gebetannya meminta untuk datang. Harusnya Sagara kembali dengan senyum cerah membingkai wajahnya. Yang ada pemuda itu justru menahan geram akibat mendapati anak buahnya sekarat.
"Siapa yang bikin ulah?!" tanya pemuda itu menahan amarah.
"Mi-mizar, Bos," ucap salah satu dari mereka dengan suara terbata.
"Berengsek! Beraninya cowok itu datang ke sini! Masih belum paham juga di mana letak kesalahannya?!"
Tak ada seorang pun di antara ketiga anak buahnya yang memberikan tanggapan. Mereka mengerang menahan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh.
Memang, sebelum meninggalkan markas Sagara beberapa saat lalu, Sky dan Jerome sempat melumpuhkan kedua anak buah Black Mamba hingga jatuh tersungkur tanpa sempat melawan.
"Kenapa kalian bisa kalah?" sentak Sagara tak percaya dengan kondisi anak buahnya yang menyedihkan.
"Ka-kami lengah, Bos. Maafkan kami."
Dengan geram, Sagara justru melayangkan pukulan pada salah satu anak buahnya yang berusaha bangkit untuk melampiaskan kekesalan. Pemuda bertubuh kurus dengan surai sedikit bergelombang itu, kembali ambruk di samping si gondrong yang bahkan tak bangun sedikit pun.
Menyisakan seorang pemuda lain yang tampak gemetar ketakutan. Pemuda itu bahkan tak sanggup menatap sorot mata Sagara yang berkilat tajam.
"Ke mana si Boy?!" sambungnya lagi ketika melihat orang kepercayaan tak berada di tempat.
Seharusnya cowok itu yang menjaga tempat ini agar tak ada penyusup yang berani mendekat. Faktanya, mereka justru kecolongan dan membuat Andromeda bisa menemukan tempat ini.
"Di-dia keluar cari rokok, Bos!" Anak buah Sagara yang lain - bertubuh gempal dengan sedikit luka dibandingkan yang lain - menjawab dengan suara gemetar.
"Setan! Apa cuma ini yang bisa kalian lakukan?" Sagara kembali mengamuk dan menendang tong yang digunakan sebagai tempat api unggun, hingga menimbulkan gema di seluruh ruangan.
"A-ampun, Bos!" Si kurus masih berusaha bangkit. Namun, detik itu juga kembali tersungkur ketika mendapat pukulan untuk kedua kalinya dari Sagara.
"Gue tahu lo nggak selemah ini, Jay! Kenapa lo bisa sampai babak-belur kayak gini?!" Sagara kian meninggikan suaranya. Sekarang ditujukan pada si gondrong yang masih terkapar di atas lantai bangunan.
"Bangun lo!" imbuhnya lagi sedikit menyeret tangan si gondrong untuk memaksanya bangun.
__ADS_1
Tubuh remuk si gondrong sempoyongan ketika Sagara memaksanya untuk tetap berdiri. Kalau saja si gempal tak menahannya dari belakang, mungkin tubuh pemuda itu kembali ambruk dalam sekejap.
"Mohon ampuni kami, Bos. Ka-kasihan Jay, Bos."
"Lo masih bisa mikir gitu? Kalau kalian jaga dengan benar, kondisi Jay nggak bakal seburuk ini!"
"Me-mereka menyusup diam-diam, Bos. Ka-kami sama sekali nggak siap waktu dia tiba-tiba mukul Jay sampai tumbang."
"Berengsek! Panggil Boy, sekarang! Kita harus balas perbuatan mereka malam ini juga!"
***
Ponsel Mizar berdering. Memunculkan sederet nomor yang sudah ditunggunya sejak tadi. Nomor tanpa nama kontak yang pemiliknya bahkan sudah diingat di luar kepala.
Dengan seringai samar, Mizar menekan tombol hijau dan membiarkan seseorang berteriak dari ujung panggilan pelantang suara.
"Bangsat lo! Beraninya lo datang ke tempat gue dan bikin kekacauan! Pengecut!" teriak Sagara dengan nada tinggi.
Mizar hanya terkekeh sebagai tanggapan. Membiarkan pemuda itu berteriak hingga napasnya tersengal. Sedangkan ia sendiri menanggapi sambil minum kopi yang baru saja diseduhnya beberapa menit lalu.
Pemuda itu bisa membayangkan bagaimana raut muka Sagara di ujung sana. Membayangkannya saja sudah membuat Mizar tertawa puas.
Berbanding terbalik dengan Sagara yang makin menggila di ujung panggilan sana.
"Berengsek lo, Zar! Gue bikin perhitungan karna lo udah berani main-main sama gue! Lo kira gue bercanda waktu gue minta sama lo buat jauhin, Ara?!"
Rahang Mizar seketika mengeras. Tangan pemuda itu mengepal. Meski begitu, ia tetap berusaha untuk tetap tenang.
Sebuah kesalahan jika Sagara meminta Mizar untuk mundur. Perkara Maura ia tak akan tinggal diam begitu saja. Dan, Sagara benar-benar telah memilih lawan yang salah.
"Sayangnya lo yang harus jauhin dia, Bro! Dia sama sekali nggak selevel sama lo!"
"Oh ya? Apa dia bakal tetap diam saja kalau tahu lo seorang pembunuh?!" balas Sagara dengan iringan tawa yang menghina.
"Lo ngancam gue dengan cara murahan kayak gini? Haha ... sorry, Bro. Lo harus terima kekecewaan kalau semua itu bakal terungkap."
"Bangsat! Kita tuntaskan sekarang, gue tunggu lo di tempat biasa!"
__ADS_1
Panggilan telepon terputus begitu saja tanpa salam perpisahan. Ketika Mizar menjauhkan benda pipih tersebut dari daun telinganya, beberapa pasang mata yang serius mengamati pemuda itu sejak tadi, langsung menanyakan apa yang diinginkan Sagara.
"Tempat biasa. Sekarang," ucapan Mizar disambut antusias oleh yang lain.
"Nah, gue demen nih kalau sat-set sat-set gini!" seru Raka yang paling antusias dibandingkan yang lain.
Lantas sekumpulan anak muda itu meninggalkan basecamp demi menuju tempat yang dijanjikan oleh Sagara.
Butuh waktu tak lebih dari dua puluh menit untuk sampai di kawasan tersebut. Sagara sudah berada di sana bersama beberapa anak buahnya.
Sementara Rendra - yang mendadak dihubungi Sagara untuk mempersiapkan area balapan malam ini - tampak pucat ketika gerombolan Andromeda mendekat.
Pemuda itu buru-buru mendekati Mizar saat gerombolan Andromeda meminggirkan motor mereka ke badan jalan.
"Lo ada masalah apalagi sama Sagara? Dia minta gue buat bikin area dadakan. Bisa gila gue. Akhir-akhir ini lagi nggak aman, Bro. Banyak petugas keamanan yang berkeliaran." Rendra berkata dengan raut muka panik.
Mizar menepuk pundak cowok itu sebagai tanggapan. Lantas meminta Rendra untuk tetap tenang.
"Apa yang dia mau?" tanya Mizar sama sekali tak terlihat gentar meski pemuda di depannya gemetar ketakutan.
"Nantangin lo balapan. Yang menang, boleh pakai cara lama buat kasih pelajaran pada yang kalah." Rendra semakin cemas setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Cara lama yang baru saja ia sebutkan merupakan tradisi yang sudah sekian lama ditinggalkan. Di mana yang menang bisa menghajar lawan yang kalah hingga benar-benar berada di ambang kehancuran.
Mizar sudah siap dengan itu semua. Namun, Rendra keliru jika ia berpikiran apabila persoalan tersebut bakal berhenti sampai di situ saja.
Menang ataupun kalah, Sagara dan antek-anteknya bakal tetap melawan. Lihat saja, mereka sudah bersiap dengan berbagai macam persenjataan. Bahkan lebih dari lima belas orang berkumpul di tempat yang sama.
"Berengsek, licik juga dia!" Sky yang berada di samping Mizar memberikan tanggapan.
"Cih, dia cuma ngajak duel. Ngapain pakai istilah tradisi lama segala? Kelamaan. Serang ajalah mereka," ucap Raka memprovokasi.
Rendra menatap pemuda itu dan Mizar bergantian.
"Maksud lo apa, Rak?"
Mizar turun tangan. Pemuda yang masih berada di atas motornya itu, memilih turun dan berdiri di samping Rendra. Ia berbisik dengan suara pelan.
__ADS_1
"Ada satu hal yang perlu lo dan nggak bisa kita hindari malam ini, Ren. Sagara cuma mau kita adu ketangkasan, bukan adu kecepatan. Siapa pun yang menang, bentrok nggak mungkin bisa dihindari."
"Saat itu, lo tahu apa yang mesti lo lakukan kan?!" Mizar memberikan peringatan sekaligus penekanan.