My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Penyamaran yang Terbongkar


__ADS_3

"Papa!" seru Maura.


Tubuh perempuan itu membeku di atas motor ketika pria paruh baya yang baru saja menghentikannya, membuka helm full face yang dikenakan dan mendekati sang putri.


Perempuan itu tertegun. Ia mengira bahwa sang kakak kedualah yang menyusulnya hingga ke tempat ini. Karena memang motor yang dipakai sang papa adalah milik Noah.


Selain itu, Barata dan anak keduanya memang memiliki postur tubuh yang hampir serupa. Dari tinggi badan hingga bentuk tubuhnya. Siapa yang bakal mengenalinya jika pria itu juga mengenakan jaket kulit hitam yang biasa dipakai sang kakak.


Maura bahkan tak mengira bahwa Barata sendirilah yang menjemputnya.


"Ngapain Papa di sini?" imbuh Maura bingung harus bereaksi bagaimana.


Saat ini, jelas ia menjadi pusat perhatian. Beberapa orang tengah melirik ke arah anak dan bapak itu. Yang lain jelas sedang berbisik. Tampak mempertanyakan apa yang sedang terjadi.


"Siapa tuh? Kayak gak asing deh mukanya." Seseorang bertanya. Cukup jelas tertangkap indra pendengaran Maura.


"Kayak Pak Barata. Bener bukan sih?"


"Masa sih? Terus ngapain dia di sini? Cewek itu anaknya?"


"Mungkin nggak sih kalau sugar baby-nya."


"Woi, jangan asal ngomong! Jatuhnya ntar jadi fitnah."


"Gila, Papanya hot daddy gitu. Gue juga mau punya Papa, kayak dia."


Tak hanya kaum adam, para perempuan pun tertarik untuk membicarakan Barata. Bahkan mereka lebih heboh dan secara terang-terangan curi-curi pandang.


Kalau saja dalam keadaan normal, Maura pasti bakal membanggakan sang papa. Meski beliau duda beranak tiga, tetap saja masih terlihat muda.


Sayangnya saat ini bukanlah dalam kondisi normal. Bisik-bisik itu membuat Maura semakin tak nyaman. Dengan gelisah, ia turun dari motor dan berusaha meminta pengertian sang papa.


"Pa, Papa pulang dulu ya," pinta Maura dengan wajah memelas.


Ia harus segera menjauhkan sang papa dari area sebab fokus semua orang kini tertuju pada mereka. Maura tak bisa menghindari hal itu begitu saja. Bahkan bisa jadi, penyamarannya bakal terbongkar saat ini juga.


Lagian siapa yang tak mengenal Barata Dewa Bumantara. Pengacara kondang yang memiliki firma hukum paling terkenal seantero Jakarta. Wajahnya sering kali muncul di berbagai media atas kasus yang sedang ia tangani.


Bahkan pria itu tak hanya memikirkan klien berduit saja, tapi juga masyarakat kelas bawah. Dengan artinya ia tak segan membantu kepentingan masyarakat bawah yang terlibat dalam kasus hukum.


Ia bahkan tak jarang bersikap tajam ke atas jika memang menemukan ketimpangan keadilan bagi klien yang sedang dibelanya. Tak peduli bagaimana latar belakang orang tersebut.


Itulah mengapa namanya sering dibicarakan banyak orang. Beliau termasuk pengacara yang tak bisa dianggap remeh keberadaannya bagi para penegak hukum ataupun oknum yang suka bermain-main demi kepentingan mereka sendiri.

__ADS_1


Dan, saat ini pria itu sedang berada di tengah-tengah pertandingan balap liar hanya demi memergoki sang anak yang kabur dari rumah.


"Kamu pikir ngapain Papa di sini? Kamu tuh ya, Papa pulang nggak mau keluar kamar. Tapi bisa-bisanya kabur dari rumah.


Udah gitu, bisa-bisanya kamu suruh Papa pulang gitu aja!" Nada bicara Barata sama sekali tak santai. Maura kian bingung harus berbuat apa.


Perempuan itu tampak panik. Ia berusaha menghentikan sang papa yang sedang memarahinya. Walaupun itu bukanlah hal mudah.


"Pa, bi-bisa nggak kita ngobrolnya di rumah aja. Biar Ara, selesaiin ini dulu. Plis," bisik Maura dengan nada panik.


Jujur saja, dibandingkan malu, ia justru tak mau ketahuan sekarang oleh penyelenggara. Perempuan itu tak bisa membayangkan, sanksi apa yang bakal diberikan pada Andara jika cewek itu ketahuan meminta orang lain untuk menggantikannya.


Paling penting, Maura tak ingin Mizar tahu bahwa dialah yang sedang bertanding dengan cowok itu beberapa saat lalu.


"Kamu pikir Papa ke sini mau denger pembelaan kamu? Nggak ada, pulang sekarang!" tegas Barata tak terbantahkan.


Maura kian panik. Ia benar-benar menjadi pusat perhatian sekarang. Bahkan beberapa di antaranya mulai mendekati mereka.


"Sial," gumam Maura hampir tak terdengar.


Ia berusaha mendorong sang papa agar segera menjauh dari arena. Setidaknya jangan sampai Mizar tahu keberadaan pria itu.


Terlambat. Sebab, dari arah berlawanan, Mizar mulai mendekat ke arah mereka dan segera mengenali sosok Barata. Memotong kalimat Barata yang baru saja hendak memarahi putri semata wayangnya.


Netra pria itu menelisik. Menatap lelaki muda yang berpakaian tak jauh berbeda darinya. Celana jeans hitam, kaus putih, berbalut jaket kulit hitam yang melekat pas di tubuhnya.


"Mizar?" tanya Barata ragu-ragu. Menangkap sedikit raut muka yang tak terlupakan dari pemuda itu.


"Iya, Om," jawab Mizar sambil mengulas senyum di wajahnya. "Om Barata, ngapain di sini?" imbuh pemuda itu heran ketika menyadari Papa Maura berada di tempat yang tidak seharusnya.


Namun, sebelum Barata sempat menjawab, Rendra dan dua temannya yang lain mendekat ke arah mereka. Pemuda itu bertanya pada Maura a.k.a Andara dan Mizar bergantian. Lantas beralih pada sosok pria paruh baya di hadapannya.


"Malam Om, Papa Andara?" tanya pemuda itu kian membuat Maura gelisah.


Sementara Barata dan Mizar tampak keheranan.


"Andara?" tanya mereka bersamaan.


Dihadapkan pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda justru membuat Rendra mengerutkan kening. Berbeda dengan Maura yang kian gelisah di tempatnya.


"Iya, dia Andara kan? Berarti Om, papanya Andara," tunjuk Rendra kepada Maura yang sama sekali tak melepaskan ataupun membuka kaca helm-nya.


"Bukan, dia ini Pak Barata. Pengacara terkenal itu. Emang punya anak cewek, tapi namanya bukan Andara." Mizar memberikan penjelasan. Namun, justru membuat Rendra maupun Barata tampak bingung.

__ADS_1


"Lo kenal, Zar? Berarti kenal Andara kan?" Rendra masih bertanya akibat tak memahami ucapan Mizar.


"Lah, saya memang kenal Andara. Dia teman anak saya. Tapi yang ini anak saya, Maura. Bukan, Andara," imbuh Barata sambil menunjuk ke arah satu-satunya perempuan di antara mereka.


Rendra kian bingung. Sementara wajah Mizar tampak memucat. Ia menatap si gadis yang tak juga bicara sejak kedatangannya.


"Jadi, maksud Om, dia bukan Andara tapi Maura, anak, Om?" tanya Rendra membuat kesimpulan meski tak juga memahami situasi saat ini.


Pria paruh baya itu cuma mengangguk sebagai jawaban. Sama halnya dengan Rendra yang juga tak memahami situasi yang sedang terjadi.


"Lo beneran, Maura?" Rendra bertanya pada Maura yang tak juga menunjukkan identitas aslinya.


Jika sudah begini, bagaimana mungkin Maura bisa berbohong? Apabila cewek itu tetap memaksa mengatakan bahwa dirinya Andara, sang papa pasti bakal semakin murka. Namun, jika ia mengakui sebagai Maura, bagaimana dengan nasib Andara?


Perempuan itu berusaha berpikir keras. Pada faktanya ia tetap tak menemukan jawaban yang pas.


"Kamu beneran, Ara?" Kali ini, Mizar memberanikan diri buat bertanya. Dengan harapan Maura bakal terprovokasi dan menunjukkan identitas aslinya.


Meski begitu, tak semudah yang ia bayangkan. Maura masih saja bersikeras bungkam.


"Kamu ke sini pura-pura jadi Andara?" Pertanyaan sang papa kali ini menggoyahkan pertahanan Maura.


Gadis itu tak bisa berbohong lebih lama. Dengan tekad terakhir yang tersisa, Maura melepas helm dan menunjukkan wajah.


'Dahlah, adepin dulu masalah malam ini! Gimana besok, pikir nanti!' bisik Maura membulatkan tekad.


Sorot mata perempuan itu tampak menyesal menatap sang papa.


"Maaf, Pa," ucap perempuan itu singkat.


Lantas beralih ke arah Rendra yang tampak tercengang ketika melihat wajah Maura untuk pertama kali. Tentu saja, baru kali ini ia bertemu cewek secantik Maura. Kecantikan alami yang tak dibuat-buat seperti cewek kebanyakan saat ini.


"Heh, liat apaan lo!" sentak Mizar hingga membuat cowok itu tersadar.


"Eh, sorry," bisik Rendra mengalihkan perhatian.


"Gue minta maaf. Soal hari ini, gue pasti bakal bertanggung jawab penuh." Tak ada yang bisa Maura katakan selain permintaan maaf itu. Lalu, melirik ke arah sang papa.


"Papa, bakal izinin Ara bertanggung jawab karena udah bikin kerugian kan?" tanya perempuan itu sedikit diliputi perasaan takut.


Barata tak mengatakan apa-apa. Namun, lewat sorot mata pria itu, Maura tahu, bahwa sang papa mengharuskannya bertanggung jawab atas perbuatan yang sudah ia lakukan.


'Ck, bego! Kenapa mesti ketahuan sekarang sih?!' imbuhnya kesal dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2