My Possessive Badboy

My Possessive Badboy
Memaafkan? Tak Sudi!


__ADS_3

Abigail melirik sang adik yang lebih banyak diam. Gadis itu hanya terpaku keluar sambil menatap gulir air yang mengalir di jendala di sampingnya.


Sejak kembali dari toilet di restoran franchise tadi, sikap perempuan itu kian muram. Apalagi sang adik mengajaknya pulang tanpa menunggu Sagara kembali lebih dulu.


Padahal, Maura selalu sensitif apabila menyangkut cowok itu. Ia tak segan bersikap keras kepala hanya untuk membela Sagara. Namun, perempuan itu menunjukkan sikap yang sama sekali berbeda dari biasanya.


"Bang, ayo pulang!" ajak Maura begitu kembali ke meja mereka.


Tak lantas meninggalkan berbagai macam makanan yang masih tersisa di atas meja. Perempuan itu dengan sigap menyambar Chicken Bucket yang masih tersisa beberapa potong di dalamnya, serta sebuah burger yang masih utuh dan belum tersentuh sama sekali.


"Lah, terus itu si Sagara, gimana?" Abigail mempertanyakan si cowok yang masih tertinggal di belakang.


"Bodo amat! Udahlah, yok buruan pergi!"


"Ini, beneran kita tinggal Sagara gitu aja? Nggak biasanya!" gumam sang kakak sulung setengah heran tak percaya.


"Ck, serius ih, Bang! Emang Ara, keliatan lagi bercanda?"


"Ya nggak sih!"


"Ya makanya cepetan. Keburu dia balik ke sini!"


Tak ayal Abigail sangat senang mendengar ucapan sang adik. Tapi tetap saja merasa bingung dan heran dengan perubahan sikap gadis itu.


Dan, selama dalam perjalanan, Abigail semakin heran akibat sang adik yang biasanya banyak bicara, tiba-tiba menjadi manusia paling pendiam seantero jagat raya. Sungguh, Maura dalam mode pendiam sama sekali tak terlihat seperti dirinya.


Bahkan, ketika sang Mama meninggal lebih dari tujuh tahun yang lalu, Mauralah yang menghidupkan kembali suasana muram di antara mereka. Maura dengan segala tingkah absurd dan kecerewetannya yang sangat berbanding terbalik dengan sosok sang adik saat ini.


"Ra, kamu kenapa mendadak jadi diem gitu sih? Nggak kesurupan kan? Bang Agil jadi takut kalau kamu diem gitu."


Komentar sang kakak sama sekali tak mengalihkan perhatian Maura dari aliran air hujan di jendela. Gadis itu justru menggambar aliran air menggunakan ujung jari telunjuknya di atas permukaan kaca jendela.


"Ara!"


Panggilan sang kakak kali ini membuat gadis itu menoleh. Menatap sang kakak dengan raut muka yang tak bisa dijelaskan.


"Kenapa sih? Kamu kepikiran Sagara?"


Gadis itu menghela napas panjang. Lantas menggelengkan kepala sebagai jawaban.


"Terus, kalau bukan kamu lagi mikirin apa sekarang?"


"Ara juga nggak ngerti, Bang. Otak Ara rasanya penuh banget, tapi Ara nggak ngerti apa yang lagi dipikirin sekarang."

__ADS_1


"Apa ...." Abigail urung melanjutkan kalimatnya. Cowok itu merasa tak nyaman untuk mengajukan pertanyaan kepada Maura.


"Apa? Bang Agil mau ngomong apa?" Maura mengalihkan atensi pada sang kakak sulung.


"Nggak, nggak jadi. Ini kita langsung pulang atau mau mampir ke tempat lain?"


"Langsung pulang aja deh. Bang Noah pasti juga udah pulang. Ara harus kasih pelajaran buat asdos menyebalkan itu!" ucap Maura tampak uring-uringan.


Di sampingnya sang kakak hanya sanggup membuang napas panjang.


***


Benar saja dugaan Maura. Mobil sang kakak kedua sudah berada di garasi ketika gadis itu pulang bersama si sulung.


Gegas, Maura turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Mendapati Noah sedang berada di dapur sambil meneguk air mineral langsung dari botolnya.


Lelaki yang hanya beda dua tahun lebih tua dari Maura itu, tampak terkejut melihat kedatangan sang adik yang begitu tiba-tiba. Di luar masih hujan. Noah tak mendengar suara mobil si sulung ketika memasuki halaman.


"Astaga kaget gue!" seru Noah sambil menjauhkan botol air mineral dari mulutnya.


"Nggak usah pura-pura! Gue mau dengar penjelasan dari elo!


Jangan berusaha bohong! Gue tahu elo udah ngerencanain ini sebelumnya," ucap Maura tegas tak mengalihkan sorot matanya dari sang kakak.


"Eh ... ma-maksudnya apa, Dek?" Noah gelagapan. Tatapan si bungsu benar-benar terasa mengintimidasi.


"Ck, udah gue bilang nggak usah pura-pura nggak tahu!"


"Ta-tapi beneran deh. Gue nggak tahu lo ngomongin apa." Noah masih saja mencoba berkelit.


Tentu saja ia tahu maksud pertanyaan Maura dari awal. Abigail sempat mengirimkan pesan sore tadi. Mengatakan bahwa Maura sudah mengetahui alasan di balik lelaki itu memintanya untuk mengikuti kelas yang dia ajar.


Hanya saja, Noah sedang berusaha mencari celah agar Maura bisa menerima alasannya yang sedikit tak masuk akal, mungkin?


Yang jelas, Noah melakukan hal itu hanya demi membuat hubungan sang adik dan musuh bebuyutan - atau apa pun itu Maura menyebutnya - kembali akur.


Jika Noah ditanya mengapa dirinya melakukan hal itu, maka ia bisa memberikan seribu satu alasan yang tak perlu disebutkan satu per satu. Setidaknya Noah bisa mengatakan beberapa di antaranya jika Maura mau.


"Ngaku aja deh, Bang. Gue capek main tebak-tebakan sama elo." Maura terdengar putus asa.


"Ini beneran, Bang Noah nggak ngerti sama maksud kamu, Maura! Jelasin dulu apa maksud kamu." Noah tak berhenti berkelit.


Lelaki itu bahkan mengubah panggilannya menjadi aku-kamu dan menyebut nama sang adik. Cara yang selalu diajarkan sang papa apabila mereka perlu bicara baik-baik.

__ADS_1


Emosi Maura justru kian menjadi mendengar ucapan Noah. Sang adik menatap lelaki itu dengan sorot mata kian tajam. Kini, ia melangkah mendekati sang kakak dan berdiri saling berhadapan.


"Lo masih berusaha buat bohong?"


"Nggak ada. Bang Noah nggak ada maksud bohong. Abang cuma mau kamu jelasin maksud kamu apa. Kita lagi ngomongin soal apa? Bisa?" Nada bicara Noah merendah.


Gadis di hadapannya mendengus kesal. Namun, tetap menuruti permintaan sang kakak kedua.


"Duduk!" titah Maura. Gadis itu benar-benar melebihi sikap ibu ratu jika dalam mode serius.


Mereka duduk di kursi meja makan. Saling berhadapan.


"Jadi, apa maksud Bang Noah, ngerencanain supaya Ara sekelas sama cowok pembunuh itu?" Nada bicara Maura merendah meski menahan kesal.


Lelaki itu menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan sang adik.


"Pertama, Bang Noah nggak kamu terus-terusan dikuasi sama dendam. Itu bisa bikin kamu nggak nyaman.


Kedua, Jakarta nggak seluas yang kamu bayangin, Dek. Bisa saja kamu ketemu sama Mizar di lain waktu. Nggak harus di kelas Abang."


"Selama ini faktanya bisa tuh, Ara nggak ketemu sama dia!"


"Itu karena kamu menghindar. Apa selamanya bakal terus seperti itu? Kamu nggak capek main kucing-kucingan gitu sama dia?"


Maura berdecak. Membuang tatapannya ke arah lain.


Noah tak akan memahami perasaan gadis itu pada Mizar. Cowok itu adalah orang yang sudah membunuh sahabat dekatnya lebih dari tiga tahun lalu. Bahkan rasanya peristiwa tersebut masih membekas dalam benak Maura seperti baru terjadi kemarin.


Lantas mengapa Maura harus bersikap baik pada cowok itu?


"Heh, jadi Abang mau Ara maafin si pembunuh itu?" Pertanyaan Maura terdengar tajam.


"Nggak harus sekarang, Ra. Tapi kamu bisa coba pelan-pelan buat memaafkan."


"Cih. Pelan-pelan memaafkan? Ara nggak sudi!"


"Inilah kenapa Abang akhirnya membuat rencana ini.


Abang cuma nggak mau kamu terus-terusan terkungkung dalam dendam, Ra. Pasti capek. Iya kan?"


"Abang sok tahu!" ucap Maura tegas sebelum meninggalkan meja makan.


Membuat Noah menatap punggung sang adik dengan raut muka bersalah sekaligus gelisah.

__ADS_1


__ADS_2