
Hampir seminggu tanpa kehadiran Andara, membuat hidup Maura terasa hampa. Perempuan itu belum pulang dari Bandung akibat kondisi ibunya yang belum pulih pascaoperasi.
Andara mengabarkan jika operasinya berjalan lancar. Tante Vella juga mulai siuman tak lama setelah operasi dijalankan. Hanya saja kondisi mental wanita yang telah melahirkan Andara itu, belum benar-benar pulih. Itulah mengapa Andara masih tinggal di Bandung untuk menemani sang ibu.
Sementara Maura belum bisa menjenguk Tante Vella akibat kesibukan papa dan juga kedua kakaknya. Sayangnya mereka juga tak mengizinkan Maura untuk pergi seorang diri ketika ia nekat meminta izin.
"Nanti tunggu kerjaan Papa, rampung. Papa bakal anterin kamu jenguk Mama Andara."
"Kapan, Pa? Kelamaan ih. Keburu Tante Vella, udah pulang."
"Ya bagus dong. Kamu bisa sekalian main ke Pangandaran. Bukannya mereka tinggal di sana?"
Maura mencebik kesal. Memang benar yang diucapkan sang ayah bahwa Tante Vella bersama keluarga barunya tinggal di Pangandaran. Ketika mengalami kecelakaan, wanita itu sedang melakukan perjalanan bisnis. Alhasil Tante Vella sengaja dirawat di Bandung yang lebih memadai alat kesehatannya ketimbang dibawa ke daerah.
Meski begitu, bukan tidak mungkin wanita itu bakal segera dibawa pulang mengingat kondisi jiwa Tante Vella-lah yang belum sepenuhnya pulih.
Setelah perdebatan itu, Maura memilih berangkat ke kampus. Mengikuti kelas sang kakak yang pasti lebih membosankan baginya. Apalagi mesti berada dalam satu ruangan dengan makhluk Adam yang selalu menyebalkan.
Lihat saja, pemuda itu sudah tebar pesona begitu memasuki kelas dan tanpa sengaja netranya bertatapan dengan Maura. Bahkan tanpa diminta, Mizar mengempaskan bobot tubuhnya di samping Maura yang mencebik kesal.
Baru saja perempuan itu hendak bertukar tempat dengan Sara - yang makin akrab setelah pertemuan pertama mereka - Mizar lebih dulu mencekal tangannya.
"Di sini aja bisa kan?" pinta Mizar dengan sepasang mata berbinar selayaknya anak anjing.
"Lepas nggak!" sentak Maura dengan wajah galak.
"Nggak." Mizar menjawab dengan senyum jenaka membingkai wajahnya.
Pemuda itu sedang mengatur strategi baru untuk mendekati Maura. Ia tak lagi gencar meminta maaf seperti sebelumnya, tapi memanfaatkan momen yang ada untuk mendekati gadis itu.
Setidaknya, selama satu minggu masa percobaan yang dilakukan Mizar, Maura tak berusaha menghindar dengan gencar seperti sebelumnya. Ada beberapa momen yang membuat perempuan itu sedikit luluh dan menanggapi sapaan ataupun obrolan yang dilontarkan Mizar.
Begitu juga dengan kali ini. Meski Maura terlihat sebal dan ingin sekali melenyapkan Mizar, tapi perempuan itu tak bisa berbuat apa-apa.
Padahal, Mizar berencana melepaskan tangan Maura jika perempuan itu menunjukkan penolakan untuk kedua kali. Namun, Maura tak berusaha menarik tangannya. Dengan begitu, Mizar semakin berharap jika Maura lambat laun bisa memaafkan dirinya.
__ADS_1
Diam-diam senyum Mizar membingkai wajahnya. Pemuda itu melirik ke arah Maura. Lantas beralih kepada perempuan lain yang duduk di samping kiri Maura.
"Sar, lo nggak mau tukeran tempat sama Ara, kan?" tanya pemuda itu dengan senyum masih membingkai wajahnya.
"Cih!" Maura mendecih sebal.
Dengan sorot tajam, ia menghujani Mizar dengan tatapan galak. Bisa-bisanya pemuda itu menekan lawan dengan wajah seakan tanpa dosa. Seolah meminta persetujuan perempuan di samping Maura yang jelas menganggukkan kepala. Sama sekali tak berniat menolak.
Lagian siapa yang bakal berani cari perkara dengan Mizar? Lebih baik, Sara mengangguk mengiyakan ketimbang berurusan dengan pemuda itu.
"Ck, Sar, tukeran tempat duduk plis!" pinta Maura sedikit memaksa.
Jelas saja, Sara semakin tak mengindahkan keinginan Maura.
"Sorry nih Ra, tapi gue masih mau kuliah dengan selamat sampai lulus nanti."
"Emang siapa yang jahat sama lo, Sar? Sini, bilang sama gue biar gue yang ngadepin dia!" Bahkan pada Sara, Mizar tampak berusaha akrab.
Apalagi motifnya jika bukan untuk memohon pengertian cewek itu. Padahal seumur-umur - sejak mereka bersekolah di SMA yang sama saat pertengahan kelas dua - Mizar tak pernah akrab dengan Sara. Namun, hanya perkara tempat duduk, Mizar bahkan membujuk perempuan itu.
"Nggak perlu sungkan, Sar. Lo bisa bilang sama gue kalau ada yang sakitin lo." Mizar kembali menambahkan. Tangannya sama sekali tak berniat melepas genggaman tangan Maura.
Di tempatnya, Sara menatap pemandangan itu dengan raut muka heran.
"Daebak! Bisa kayak gitu ya efeknya? Hebat bener sampai bisa bikin Mizar berubah gitu?" ucap Sara hampir tanpa suara. Meski begitu tetap saja Maura bisa mendengarnya.
"Btw, gue bisa denger suara lo, Sar."
Perempuan itu hanya cengengesan sambil menggaruk bagian belakang kepalanya.
"Hehe ... heran aja gue. Kalian pasti udah saling kenal dari lama kan?" Sara berbisik di telinga Maura. Sengaja agar percakapan mereka tak didengar oleh Mizar. Namun, Maura memilih bungkam sebagai jawaban.
"Emang Sara ngomong apa sih?" Di tempatnya, Mizar kembali berulah. Terlihat jelas jika pemuda itu ingin menunjukkan bahwa dirinya peduli.
"Lo berisik banget sih! Dan lagi, bisa nggak lo cari tempat lain?! Nyebelin banget jadi orang!" Maura yang tak tahan lagi dengan keberadaan Mizar mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
Otomatis, suara perempuan itu menarik perhatian semua orang. Kini, berpasang-pasang mata yang berada di dalam kelas menjadikan mereka sebagai pusat perhatian.
"Sial!" Maura mengumpat sebal.
"Ra, kamu bikin yang lain melihat ke arah kita," bisik Mizar dengan senyuman tak lekang dari wajahnya.
Sementara pemandangan itu membuat semua orang yang berada di dalam kelas, menatap Mizar dengan sorot mata tak percaya. Demi apa pun yang pernah disaksikan oleh para mahasiswa, mereka sama sekali tak menduga jika Mizar bisa berlaku begitu menggemaskan sekaligus posesif di depan seorang cewek.
"Itu beneran, Mizar?"
"Dia bisa bersikap manis juga? Gue kira selama ini dia beneran kulkas dua pintu."
"Gue kira dia nggak bisa senyum. Ternyata bisa senyum juga."
"Beruntung juga gue ambil kelas ini. Bisa lihat tingkah Mizar yang menggemaskan gitu."
"Gila sih, si Ara. Dia bisa bikin seorang Mizar jadi luluh gitu."
Obrolan-obrolan di kelas mulai terdengar. Mizar terlihat tak peduli. Ia justru semakin berulah hingga membuat para kaum hawa di kelas mereka menjerit tertahan akibat kegirangan.
Berbeda dengan Maura yang tampak menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Sungguh, kali ini ia malu menjadi pusat perhatian.
Maksudnya, Maura terbiasa menjadi pusat perhatian ketika berada di atas panggung. Bahkan jika perlu, Maura bakal menggunakan seluruh kemampuan yang ia miliki agar seluruh perhatian penonton tak teralihkan. Pada dirinya, juga pada seluruh pemain yang terlibat dengannya.
Ini sama sekali berbeda. Maura tidak sedang berada di atas panggung dan menjadi pusat perhatian sangat memalukan. Apalagi harus berkaitan dengan Mizar yang bahkan cuek-cuek saja menjadi bahan obrolan banyak orang.
Baru kali ini, Maura merasa salah tingkah berada di tengah-tengah sekumpulan manusia. Padahal biasanya ia tak begitu peduli. Namun, berbeda cerita jika manusia yang tengah dihadapi saat ini adalah Mizar Sirius Rigel.
Sungguh, Maura ingin lenyap dari tempatnya sekarang juga.
Kalau saja sang asdos yang masih menggantikan dosen utama tak segera memasuki ruangan, Maura benar-benar tak tahu harus bersikap bagaimana. Ia mati kutu di tempatnya.
"Santai aja, Ra. Jangan tegang! Kita cuma pegangan tangan kok."
Seketika, Maura menoleh ke arah Mizar dan menyentakkan tangan pemuda itu. Namun, senyum di wajah Mizar justru semakin mengembang.
__ADS_1
"Menyebalkan!"